Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Tidak Bisa Melupakan


__ADS_3

"Mau ke mana kamu Er?"


Pertanyaan dari Papah Bram membuat Erva menghentikan langkah kakinya seketika. Ia memang tau kalau Papahnya sudah pulang, tetapi... tidak tau kalau ada di ruang tengah.


Erva mengambil nafas panjang. Gadis itu bingung mau mengatakan sejujurnya atau tidak. Ragu ragu untuk mengatakan jujur, takut kalau Papah Bram marah dan menghajar Keenan nantinya.


Tetapi, sudah ketangkap basah...Erva tidak mungkin bisa bohong apalagi ia membawa payung yang pasti tujuannya ke depan.


"Ke depan sebentar Pah...", jawab Erva jujur meski belum mengatakan apa alasan nya ke depan.


Erva memang sejak kecil sudah di ajarkan untuk jujur, tidak boleh bohongan sekecil apapun. Jadi, untuk kali ini dan seterusnya juga kemarin kemarin..gadis itu menjadi gadis penurut dan selalu jujur.


"Ke depan??"


Papah Bram yang tadinya membaca koran, langsung saja melipat koran dan menaruhnya di atas meja. Seperti nya, pembicaraan nya dengan Erva lebih penting dari pada berita hari ini. Padahal, Papah Bram baru saja membuka koran itu dan membaca halaman depannya saja.


"Iya Pah...."


Masih belum mengatakan alasan ke depannya, Erva menunggu reaksi Papah Bram bagaimana setelah itu ia akan katakan yang sebenarnya.


"Nemuin si Keenan brengssekkkk itu??"


Deg


Erva menghela nafasnya, ternyata Papahnya sudah tau kalau Keenan ada di depan dan ia ingin menemui nya. Padahal sejatinya, Erva juga tidak mau bertemu dengan Keenan, hanya ia terpaksa dan merasa kasihan dengan apa yang dilakukan oleh Keenan saat ini.


"Pah....."


Erva tidak bisa menjawab, ia menunduk karena takut Papahnya marah. Yah, dari nada bicaranya saja sudah jelas kalau Papah Bram marah dengan Keenan.


Ini belum bertemu, apalagi kalau sudah bertemu dan bertatap muka langsung, pasti Papah Bram akan memberikan bogeman kepada Keenan.

__ADS_1


Orang tua mana yang tidak sakit hati ketika anaknya di khianati lalu ditinggalkan begitu saja. Keenan, laki laki yang berpendidikan...tega tega nya memperlakukan itu kepada Erva , putri tunggal dari Bramantyo Gunawan.


Tidak perduli, dulunya Keenan sangat mencintai Erva bahkan juga ingin menikahi putrinya, yang ada kini...hanya emosi dan benci kepada laki laki itu...laki laki yang membuat Erva tidak dapat hidup dengan nyaman dan hanya batang bayang Erva yang selalu hadir dalam ingatan nya.


Papah Bram ingat betul, bagaimana Erva hancur, bagaimana Erva terpuruk setelah kejadian itu....dan bagaimana perlahan lahan Erva mulai bangkit dan melupakan Keenan, tetapi kini...setelah semuanya baik baik saja....Keenan datang lagi...


Untuk apa?? apa ingin membuat Erva jatuh dan hancur sehancur hancurnyq???


Erva menundukkan kepala nya, ia tau ini adalah bencana besar jika ia tetap memilih untuk keluar, tetapi..di depan ada anak orang...yang saat ini masih dibawah guyuran hujan dan dapat dipastikan kalau setelah ini Keenan akan sakit.


"Pah...biarkan saja."


Bukan Erva yang meminta, tetapi Mamah Hana ... beliau tau kalau Keenan saat ini kehujanan di depan. Dan bukan karena Mamah Hana ingin membela Keenan, tetapi...lagi lagi....Keenan adalah manusia biasa yang pastinya tidak tahan dengan air hujan.


"Biarkan bagaimana?? anak itu berani datang ke sini, untuk apa??"


Nada suara Papah Bram semakin meninggi, beliau bahkan sudah mengeluarkan semua jurusnya untuk menghadapi Keenan.


Sementara Erva hanya diam saja, ia tidak berani berbicara kepada Papahnya...karena Papah Bram terlihat serius dan tidak main main dengan ucapannya.


"Tapi Mah....."


Papah Bram yang tadinya berdiri, langsung duduk kembali dan berusaha tenang. Papah Bram mengambil nafas panjang, dan mencoba untuk menahan emosinya.


"Er.... keluar lah ...kasihan Keenan.", ucap Mamah Hana. Beliau paham dengan Erva yang saat ini ingin keluar dan menemui Keenan.


Mamah Hana juga tau kalau Erva bukan masih masih mencintai Keenan, tetapi karena kasihan dengan laki laki itu.


"Ya Mah...."


Lega, Mamah Hana bisa menolong Erva saat ini. Erva tidak menyia nyiakan , dan langsung saja keluar.

__ADS_1


Erva menggeleng, ia masih berdiri di depan pintu utama rumah nya dan melihat ke arah luar, di mana Keenan masih berdiri di depan dengan guyuran hujan yang sangat deras.


Tidak tahan melihat Keenan yang basah kuyup, Erva dengan cepat membuka payung dan berjalan menuju ke luar.


"Pak buka saja.", ucap Erva kepada pak satpam.


Pak satpam itu langsung saja membuka pintunya, dan Erva segera menghampiri Keenan.


"Bodoh kamu, Kak!!!", seru Erva dengan menyodorkan payung untuk Keenan.


"Mas memang bodoh... tetapi semua ini demi kamu."


Keenan tersenyum. Ia mengambil payung yang diberikan oleh Erva... tetapi tidak lantas membuka nya. Laki laki itu malahan menarik payung Erva dan juga tubuh Erva, hingga mereka berada satu payung.


"Seperti ini saja... boleh masuk?? sepertinya aku butuh kehangatan...."


"Hacin....hacin...."


Erva mengangguk, meski ia tidak suka dengan ucapan Keenan, tetapi melihat Keenan yang sudah bersin bersin membuat Erva merasa kasihan.


"Mas tau, kamu masih peduli dengan Mas....bahkan Mas tau kalau kamu juga masih cinta sama Mas.."


Erva diam, ia berjalan dengan sedikit berjarak dengan Keenan, meskipun harus sedikit basah tetapi tidak mengapa..yang pasti Erva bisa menjaga jarak dengan Keenan.


Melihat Erva yang sedikit menjauh, Keenan langsung menarik tubuh Erva dengan sebelah tangan nya, hingga membuat Erva kembali mendekati Keenan.


"Jangan jauh jauh, dingin dan basah sayank..m"


"Dan jangan omong, atau aku lempar lagi keluar pagar..."


Tidak mau kalah , Erva juga mengancam Keenan. Tetapi, bukannya takut ... Keenan malahan tertawa....ia merasa Erva saat ini terlihat menggemaskan.,dan itu yang membuat Keenan tidak bisa melupakan Erva satu tahun terakhir ini.

__ADS_1


__ADS_2