
"Lepaskan tangan istriku??"
Teriak dokter Anjas ketika kalau ia melihat Dokter Keenan yang saat ini menarik tangan Erva, ia tahu jika itu semua adalah ulah Dokter Keenan bukan karena istrinya.
Sebelum Dokter Anjar pergi ke toilet untuk menyusul Erva, ia sudah ber firasat yang tidak tidak, Dokter Anjar baru tersadar ketika ia sudah ngobrol dengan teman-temannya tetapi ia tidak melihat dokter Kinan berada di acara itu bahkan Eva saudari tadi yang izin ke toilet tidak kunjung kembali.
Khawatir, itu yang dirasakan oleh Anjar. Laki-laki itu bergegas untuk menuju ke toilet, menjemput istrinya karena ia takut jika terjadi sesuatu kepada erfa.
Hingga akhirnya apa yang ditakutkan benar kalau Dokter Keenan berniat untuk menemui istrinya dan ingin membawa Erva entah ke mana. Untung saja Dokter Anjar langsung bergerak cepat untuk menyusul istrinya kalau tidak pastinya sudah dibawa oleh Keenan.
"Mas..."
Merasa lega, sebab suaminya sudah menyusul ke sini , saat ini dan tentang penjelasannya nanti saja yang penting saat ini ia sudah terbebas dari Keenan.
"Aku peringatkan kepada kamu, jangan coba-coba mendekati istriku, kalau tidak kamu bisa rasakan sendiri akibatnya."
Ya Anjar bukan hanya sekedar mengancam, tetapi ia akan melakukan tindakan yang tegas jika melihat Keenan yang kembali mendekati istrinya bahkan kalau Keenan nekat untuk membawa kabur Erva.
Dokter Keenan tersenyum, ia kemudian menghampiri Anjar yang saat ini berada di samping Erva kemudian menatap lekat-lekat wajah Anjar dengan tatapan yang sangat tajam.
"Aku tidak takut dengan ancaman kamu. Apalagi aku lihat kalau Erva masih sangat mencintaiku dan aku yakin jika cepat atau lambat Erva akan kembali lagi padaku."
Keenan mengucapkan itu dengan tersenyum ia sengaja ingin membuat Anjar marah dan memukulnya dan itu akan membuat Erva jadi berpikiran buruk terhadap suaminya lalu meminta cerai kepada Anjar.
"Kau!!"
__ADS_1
Anjar mengepalkan tangannya, tentu saja benar seperti apa dugaan Keenan jika Anja saat ini marah dan ingin memukulnya, tetapi Erva yang melihatnya dengan cepat menggenggam tangan Anjar dengan sebagai isyarat kalau meminta suaminya untuk tidak emosi menghadapi apa yang diucapkan oleh Keenan barusan.
"Tidak usah diambil hati Mas, sebaiknya kita pulang saja."
Tidak ingin suaminya dan mantan pacarnya itu berantem gara-gara dirinya, Erva mengambil tindakan untuk membawa Anjar keluar dari toilet itu dan tanpa pamit kepada semuanya, Erva langsung saja keluar dari acara pertunangan itu dengan tujuan untuk langsung pulang ke rumah.
Mereka berdua sudah sampai di mobil dengan Anjar yang masih emosi dengan Dokter Keenan yang pastinya ia sendiri ingin memberi pelajaran terhadap Keenan yang bisa-bisanya mendekati istrinya padahal Keenan sendiri tahu kalau Erva sudah mencintainya dan tidak mungkin kembali pada Keenan.
"Mas, maafkan Aku seharusnya tadi aku mendengarkan apa kata Mas kalau Mas mau menemani aku ke toilet, tetapi."
Shuttt ..
Anjar yang sudah melajukan mobilnya tiba-tiba menghentikan mobilnya dan menempatkan mobil itu di pinggir jalan.
Sama sekali ia tidak menyalahkan Erva, malahan ia menyalahkan dirinya sendiri kenapa tadi tidak bisa mengontrol emosi dan ingin menyerang Keenan, Anjar takut jika Erva nanti berpikiran yang negatif dan berubah rasa kepadanya.
"Aku tahu dek, kamu tidak ada apa-apa dengan Keenan, aku malah minta maaf karena aku tidak bisa mengontrol emosiku dan aku takut jika kamu berubah pikiran terhadapku."
Erva menggeleng tidak mungkin ia menyalahkan suaminya, jika ia berada di posisi Anjar pastinya ia akan melakukan yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Anjar mengingat mulut Keenan memang benar-benar lemes, benar-benar ingin dirobek dan juga wajahnya ingin dihajar.
"Mas juga tidak salah, aku tidak apa-apa dan jangan takut kalau aku berubah rasa pada Mas, rasaku sama Mas itu tetap sama, kalau aku masih sangat mencintai Mas dan tidak akan berubah sedikitpun, aku tahu apa yang Mas rasakan dan tentu saja kalau aku berada di posisi mas, aku juga akan melakukan seperti itu suami mana yang akan diam saja melihat istrinya digoda oleh laki-laki lain begitu juga dengan Mas, aku tahu kalau Mas tidak berniat untuk mencari gara-gara di acara ini dan aku pun tidak akan menyalahkan Mas jika memang tadi Mas benar-benar memukul Dokter Keenan."
Grepp
Mendengar ucapan yang keluar dari bibir Erva, Anjar langsung saja memeluk istrinya ia benar-benar kaget dengan Erva yang tidak menyalahkan dirinya sama sekali.
__ADS_1
Padahal Anjar sedari tadi sudah ketar ketir takut juga kalau Erva marah karena tidak bisa mengontrol emosinya dan tentunya ketakutan itu masih ia rasa sampai saat ini sebelum benar-benar mendengar sendiri dari mulut Erva kalau istrinya tidak sama sekali marah ataupun kecewa padanya.
"Terima kasih sayank, Aku sangat-sangat mencintaimu sampai kapanpun tidak pernah berubah rasa ini untuk kamu."
"Aku juga Mas."
Anjar kembali memeluk tubuh Erva, ia merasakan kenyamanan ketika berada di samping Erva dan merasa ketakutan itu hilang seketika saat dirinya bersama dengan Erva saat ini.
"Aku jadi males pulang, pengen menghabiskan malam ini sama kamu di Hotel.
Erva melototkan matanya manakala ia mendengar apa yang diucapkan oleh suaminya. Yang pasti Erva masih tidak menyangka jika seorang Anjar yang dingin itu bisa mengatakan hal yang mesum padanya bahkan dengan terang-terangan mengajak Erva untuk ke hotel tentu saja bukan hanya sekedar ingin main-main tetapi ingin merasakan kembali surga dunia sebagai pasangan yang sah.
"Di rumah kan bisa Mas,.apa Mas nggak kasihan sama Mama nanti, dia sendirian nyariin kita."
"Tidak masalah, aku sudah hubungi Mama katanya Mama juga akan bergabung dengan saudara-saudaranya bahkan malam ini mama tidak pulang jadi kita bisa bebas bermalam di hotel."
"Mas ini aneh, sudah tahu mama nggak pulang dan di rumah kan bebas tapi malah ke hotel menghabiskan uang saja."
"Sayank, apa kamu lupa aku itu punya hotel bintang 5 yang pastinya kita tidak akan kehabisan uang jika menginap di sana meskipun itu bukan hotel aku tetapi tentunya menginap beberapa hari di sana juga tidak akan membuat aku bangkrut, kamu tahu kalau suamimu ini selain tampan dan juga kaya raya."
"Astaga, pede sekali kamu Mas, Aku tidak menyangka jika kamu sepede ini."
"Haruslah, apalagi di depan kamu yang pastinya sampai kapanpun aku tidak akan melepaskanmu."
Cup
__ADS_1
Anjar menyambar bibir Erva dan melu_matnya sebentar, setelah itu ia langsung saja melajukan mobilnya untuk menuju ke hotel terdekat dari tempat di mana ia berada saat ini.