Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Penolakan


__ADS_3

"Duduk dek, aku keringkan rambut kamu."


Erva menurut saja apa yang dikatakan oleh suaminya ia juga melihat kalau Anjar mengambil sesuatu dari sebuah laci dan pastinya ia tahu benda apakah itu.


"Nah, aku sudah membeli hair dryer kan." tunjuk Anjar pada sebuah benda yang digunakan untuk mengeringkan rambut tentunya agar tidak mau jika istrinya nanti ngomel-ngomel setelah ia melakukan sesuatu hal yang menyenangkan dan Anjar juga sudah mempersiapkan ini sebelumnya.


Erva tersenyum rupanya suaminya memang sudah mempersiapkan ini dan tidak mau kalau dirinya nanti marah-marah mana kalah rambutnya masih terlihat basah.


Tidak ada ucapan yang keluar dari mulut Erva z ia menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh suaminya tentu saja selain Anjar mampu untuk membuat ia tidak berdaya ternyata suaminya juga berbakat untuk mengeringkan rambut dan menata rambut Erva.


Hingga beberapa menit kemudian Anjar sudah selesai untuk merapikan rambut Erva dan tentu saja Erva langsung berdiri dan menatap ke arah Anjar.


Cup


"Terima kasih Mas."


Bukan hanya sekedar ucapan terima kasih saja yang nyatanya Erva malah mencium bibir Anjar meskipun sebentar tetapi laki-laki itu sudah tersenyum senang bahkan ingin meraih bibir Erva lagi supaya cumanya tidak hanya sebatas lewat saja.


"Udah stop, jangan di terusin nanti yang ada kita tidak jadi keluar dari ruangan ini."


Erva menahan tubuh Anjar, ia tahu kalau suaminya ingin menciumnya lagi tetapi sadar dengan waktu yang membuat mereka tidak bisa berbuat lebih jauh lagi dari sekedar ini.


"Awas aja nanti malam kalau aku sudah sampai, habis lagi kamu, dek."


"Hehehe tidak takut Mas yang nyatanya memang tiap hari Mas melakukan itu, udah yuk bentar lagi aku kuliah."


"Awas aja nanti kamu, aku antarin ke bawah ya."


Dengan senang hati Erva mengangguk kemudian tangannya diraih oleh Anjar dengan tangan Anjar saat ini yang menggenggam lembut tangan Erva keduanya keluar dari ruangan pribadi Anjar dan langsung saja menuju ke bawah tentu saja menuju ke tempat di mana mobil Erva terparkir.


Seperti sebelum-sebelumnya jika pasangan Erva dan Anjar terlihat bersama maka tidak jarang orang yang tidak berkedip untuk melihat ke arahnya dan tentunya mereka merasa bahwa pasangan ini sangat serasi.


Hingga akhirnya Erva dan Anjar sudah berada di parkiran dan tentu saja mau tidak mau agar melepaskan istrinya untuk menuju ke kampus.


"Cie cie basah rambutnya, hayo kalian pasti habis ngapa-ngapain?"

__ADS_1


Anjar dan Erva menoleh ketika mendengar suara yang terdengar berisik namun menggoda dan mereka tahu suara siapa itu.


"Berisik!! mau tau aja!"


"Ya jelas lah siang-siang begini yang lain pakai sibuk beraktifitas kalian berdua malah enak-enak kan ngamar, apa nggak ada waktu untuk nanti malam? bisa bisanya itu loh kalian."


"Kami juga sedang melakukan aktivitas, dasar jomblo nikah sana biar tahu rasanya!"


"Ckkk lupa aku siapa? yang pastinya aku lebih berpengalaman daripada kamu."


Anjar lupa saat ini berhadapan dengan siapa dan tentu saja Dokter Rico lebih berpengalaman daripada dirinya bahkan walaupun Dokter Rico itu belum menikah tetapi ia sudah menjelajahi semua wanita.


"Aku mau ke kampus Mas daripada melihat kalian berdua pada ribut."


Erva meraih tangan suaminya kemudian salim dan dibalas dengan Anjar yang saat ini mencium kening Erva, laki-laki itu tampaknya sudah tidak malu malu lagi menampilkan kemesraan dengan istrinya.


"Ckkk... Kalian berdua membuat aku pengen saja. Lagian mau ke mana sih dek cepat-cepat banget?"


Mungkin saja telinga Dokter Rico tadi sedikit terganggu hingga tidak mendengar saat Erva berpamitan untuk ke kampus.


"Mau cari cogan lagi yang lebih muda."


"Jangan macam-macam dek, kamu sudah punya suami!"


Dan Anjar sepertinya terpengaruh dengan apa ucapan Erva, ia sudah merubah ekspresinya menjadi menyeramkan.


"Ih Mas Anjar takut, kasihan." ledek Erva lagi dengan ekspresi wajah nya yang sengaja dibuat memelas mungkin dengan tujuan supaya suaminya tidak marah-marah.


"Ervania berani kau macam-macam awas saja!!"


Cup


"Sayangnya aku tidak takut Mas, bye..."


Erva melambaikan tangannya sebelumnya ia menghampiri suaminya yang semakin emosi saja lalu mencium bibir lembut Anjar dan seketika suaminya melototkan matanya, entahlah sikap istrinya yang seperti ini membuat dirinya tidak berdaya padahal tadinya ia marah karena Erva mengatakan seperti itu tetapi melihat perlakuan Erva yang manis Anjar seketika langsung luluh.

__ADS_1


"Hahaha cari saja cowok ganteng yang lainnya dek, aku dukung!!" teriak Dokter Rico yang memang sengaja ingin membuat teman baiknya itu tambah emosi lagi.


"Tenang saja kak Dokter, pasti aku akan bawakan satu ke sini!"


Erva juga sama, pastinya tidak mau kalah dengan Dokter Rico itu, ia juga ikut menggoda suaminya.


Di lain tempat Dokter Keenan yang hari ini malas-malasan langsung pulang ke rumah padahal ia masih ada pekerjaan di rumah sakit tetapi ia memutuskan untuk pulang saja karena tidak mempunyai semangat lagi dalam bekerja.


"Ken, Mami mau bicara?"


Keenan yang baru saja tiba di rumah langsung Maminya mencegah laki-laki itu untuk tidak ke kamar dan tentunya ada hal serius yang ingin bicarakan pada Keenan


"Nanti malam saja Mi, aku capek."


Padahal sedari tadi Keenan di rumah sakit juga tidak ngapa-ngapain, hari ini tidak ada jadwal operasi tetapi mengapa Keenan capek dan tentu saja capek karena Keenan capeknya marah-marah entahlah laki-laki itu sekarang lebih berdiam dan juga tambah emosinan.


"Sebentar saja, tidak ada nanti-nanti duduklah."


Keenan mencebikkan bibirnya kesal, tetapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa dan tentunya Keenan langsung duduk dengan menyandarkan punggungnya ke kursi.


"Minggu depan Mami dan Papimu sudah sepakat untuk menyelenggarakan acara pertunangan kamu dengan Kinara."


"Aku nggak mau Mi, sudah aku bilang aku tidak mau dijodohkan apalagi dijodohkan dengan anak bau kencur itu."


"Mami juga sudah bilang tidak ada penolakan Keen,  meskipun dia masih kecil tetapi dia cantik sekali dan juga seksii loh!"


"Ckk... Percuma saja seksii dan juga cantik kalau sudah dipakai."


"Maksud kamu apa? jangan ngomong yang sembarangan!"


Ia juga tidak bisa menuduh seseorang hanya lewat ucapannya saja yang pasti dirinya memang tidak mau dijodohkan terlebih lagi dengan Kinara yang Keenan anggap sebagai gadis usil yang tidak bisa diatur bagaimana nanti rumah tangganya jika ia menikah dengan Kinara.


"Pokoknya mau tidak mau Minggu depan kamu tunangan dengan gadis itu, untuk soal menikah bisa dibicarakan lagi nanti yang jelas status kamu minggu depan itu sudah berubah kamu tunangan dari Kinara."


"Pokoknya aku tidak mau Mi, titik!"

__ADS_1


Keenan langsung saja meninggalkan Maminya, kemudian ke atas untuk segera masuk ke dalam kamar.


Ia yang sedari tadi sudah emosi tambah emosi lagi manakala Mami Arin memaksanya untuk bertunangan dengan Kinara, gadis barbar yang tidak bisa diatur.


__ADS_2