Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Menjenguk Keenan


__ADS_3

"Aku turun ya Mas, makasih.."


Erva membuka sabuk pengaman nya, ia tidak ingin berlama lama di dalam mobil, bukan karena ingin cepat cepat bertemu dengan Keenan, tetapi ia tidak mau sampai Anjar terlambat ke Rumah Sakit.


Tidak ada jawaban dari Anjar yang berarti mengiyakan saja, dan Erva segera membuka pintu mobil untuk keluar, tetapi....


"Dek...."


Tangan Anjar memegang tangan Erva dan berniat untuk menghalang gadis itu untu keluar.


Erva menoleh, "Ada apa Mas?"


Ia sebenernya tau apa yang ingin ditanyakan oleh Anjar, tetapi....ia sendiri tidak mungkin untuk mengatakan nya.


"Tidak... pergilah!"


Ada rasa yang berkecamuk di dalam dada Anjar, ia tau..kalau melarang Erva itu salah dan tidak benar, apalagi dengan status nya yang entah apa saat ini, Anjar sendiri juga bingung.


"Ya sudah kalau begitu, Mas hati hati."


Merasa tidak ada lagi yang perlu di bicarakan, Erva langsung saja keluar dari mobil untuk menuju ke ruangan di mana Keenan di rawat.


Sedangkan Anjar, hanya melihat Eeve yang seperti nya buru buru untuk menemui Keenan, laki laki itu juga menutup matanya sesaat.


"Seperti nya kamu ingin cepat cepat bertemu dengan dia...apa kamu masih mencintai dia, Er??"


Pertanyaan yang entah ia sendiri tidak tau dengan jawaban nya, Anjar mengira kalau Eeva ingin cerita bertemu dengan Keenan.


Anjar menggeleng pelan, apakah memang ia ditakdirkan untuk tidak memiliki pasangan jika tidak berjodoh dengan Erva? jika gadis itu lebih memilih Keenan? entahlah...semua belum jelas....Anjar sendiri belum menyatakan cinta dengan terang terangan, hanya lewat perhatian saja.


Setelah punggung Erva yang tidak terlihat lagi , Anjar langsung saja melajukan mobil nya lagi untuk ke Rumah Sakit. Sejenak ia menepis rasa tentang Erva dan fokus pada pasien nya, yah meskipun pikiran laki laki itu sudah ke mana mana.


Sementara Erva, ia mencoba menata hatinya lagi...ia tidak ingin sisa cinta yang masih ada di dalam hati nya untuk Keenan tumbuh subur, gadis itu tidak mau mengulang kesalahan untu kedua kali nya dengan orang yang sama, yang tidak menutup kemungkinan akan mengulangi kesalahannya yang sama lagi.

__ADS_1


Erva tidak perlu lagi bertanya di mana ruangan Keenan berada, karena Mami Arin sudah memberitahukan ruangan Keenan.


"Nona Erva, silahkan masuk..sudah di tunggu dengan Dokter Keenan.", ucap Anto, asisten Keenan yang saat ini berjaga di depan ruangan Keenan.


Sedikit banyak Anto tau tentang siapa Erva dan apa yang terjadi antara Bos nya dengan gadis cantik didepannya saat ini.


"Terimakasih, Om...", jawab Erva sopan.


Erva langung saja masuk kedalam, dengan membuka pelan pelan pintu ruangan, supaya tidak mengganggu Keenan jika saat ini sedang istirahat.


"Sayank.."


Sapa Mami Arin ketika tau Erva yang masuk, beliau memeluk Erva dengan sangat erat dan berharap tidak akan melepaskan gadis cantik mantan calon menantu nya itu.


Erva membalas pelukan Mami Arin, ia juga senang bertemu dengan wanita yang seumur dengan Mamahnya. Meskipun anaknya menyebalkan dan sudah membuat nya sakit hati, tetapi...ia tidak mungkin juga membenci orang tuanya.


"Bagaimana kabarmu?? lama kita tidak bertemu???"


Mami Arin melepaskan pelukan nya, beliau melihat ke arah Erva terutama wajah Erva yang sangat cantik dan bertambah dewasa.


Masih ingat jelas, kapan terkahir Erva bertemu dengan Maminya Keenan itu satu tahun yang lalu, waktu acara pernikahan Keenan dan itupun Erva tidak menampakkan diri di depan Mami Arin, hanya melihat nya dari jauh saja, dan kini setelah satu tahun... mereka di pertemukan kembali.


"Iya, Mami kangen sayank, ingin hubungi kamu tetapi tidak bisa..Mami juga takut kalau kamu sibuk...kuliah kan??"


Erva mengangguk, memang ia lebih memilih untuk menjauh dari keluarga Keenan setelah kejadian itu dan memang berharap tidak bertemu lagi, bukan benci dengan keluarganya Keenan tetapi tidak mungkin lagi seperti dulu, apalagi Keenan sudah mempunyai istri.


"Tambah cantik banget kamu sayank...pantas saja Keenan ingin bertemu dengan kamu...", puji Mami Arin jujur.


Beliau melihat perbedaan Erva dulu dan sekarang , dulu memang sudah cantik tetapi sekarang malahan tambah cantik lagi...dan tambah dewasa.


"Mami bisa saja, Tante juga tambah cantik ...."


Bukan juga Erva hanya pura pura, yang nyatanya memang Mami Arin masih begitu cantik dan awet muda.

__ADS_1


"Benar nak, kamu tambah cantik...Papi saja pangling loh!"


Papinya Keenan jug ikut ikutan bicara, padahal beliau tidak suka memuji, tetapi entah mengapa didepan Erva rasanya berbeda.


"Om...om juga tambah ganteng..."


Erva salim dan memeluk Papinya Keenan, sama seperti Mami Arin.. Erva juga menganggap Papi sudah seperti orang tuanya sendiri.


"Ehem....."


Merasa tidak diperhatikan, Keenan berdehem. Mungkin saja ia cemburu dengan apa yang dilakukan kedua orang tua nya, tanpa memperhatikan dirinya yang masih terbaring lemas.


Erva juga, datang datang main peluk pelukan... tidak tau apa kalau dirinya cemburu melihat adegan peluk pelukan yang meskipun itu dengan orang tuanya sendiri.


"Mas tidak dipeluk??"


Protes, ternyata memang benar kalau Keenan cemburu dan ingin dipeluk oleh Erva. Sudah lama ia tidak merasakan hangatnya pelukan Erva, yah meskipun semalam juga sudah merasakan nya, tetapi paksaan, tidak tulus dari dalam diri Erva.


Erva menoleh , kemudian menggelengkan kepala nya. Rasanya percuma saja ia di sini, toh Keenan juga sudah baik baik saja


"Mas kangen beb,.peluk donk!!"


Lagi lagi, ucapan Keenan membuat Erva melototkan matanya... ia tau kalau Keenan hanya memanfaatkan keadaan saja, tetapi...apa boleh buat, ia harus berada di sini dan mungkin tidak lama.


"Oh ya sayank, Keenan belum makan dan minum obat...Mami minta tolong bujuk Keenan....", pinta Mami Arin serius. Ia tidak ingin melihat Keenan tidak berdaya dan tidak lekas sembuh, dan jalan satu satunya adalah meminta Erva untuk menyuapi Keenan.


Erva memejamkan mata, setelah itu mengangguk pelan. Memang kedatangan disini pastinya di minta untuk menyuapi Keenan makan dan juga memaksa untuk meminumnya obat.


Tidak bisa mengelak, Erva mengiyakan saja, dan lebih cepat Keenan makan lebih cepat pula ia pergi dari sini.


"Iya, Tante...."


Mami Arin tersenyum, ia pun mengambil makanan untuk Keenan dan meletakkan nya di tangan Erva, sembari mata Mami Arin melirik ke arah Papi, memberikan kode untuk pergi dari tempat itu.

__ADS_1


"Papi dan Mami tinggal dulu, kebetulan ada acara...titip Keenan sebentar ya?"


Erva melongo, ia lagi lagi tidak bisa berpikir, kenapa orang tua nya Keenan malahan meninggalkan nya sendiri an hanya dengan Keenan saja., apa tidak takut kalau terjadi sesuatu yang tidak tidak.


__ADS_2