Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Seseorang


__ADS_3

"Mau jalan-jalan nggak dek?"


Tawar Anjar yang saat ini masih berada di atas ranjang dan ternyata sedari tadi ia hanya tidur berdua bersama Erva, tidak melakukan sesuatu mengingat keadaan Erva yang belum begitu pulih.


Dan melihat Erva sudah bangun sepertinya istrinya itu membutuhkan suasana yang baru. Tentu saja tidak berdiam diri di kamar, siapa tahu memang istrinya ingin jalan-jalan ke mana atau menginginkan suasana sore ini di tempat yang berbeda.


"Boleh Mas, bagaimana kalau kita jalan-jalan makan es krim gitu?"


"Bisa, bagaimana ... apa sudah baikan?"


"Lumayan sepertinya obat yang Mas berikan itu manjur."


"Berarti nanti malam bisa ya di gas lagi.?"


"Maunya, aku siap-siap dulu mas."


"Mau aku bantu nggak?"


Kali ini Anjar memang benar-benar menawarkan bantuan tidak ingin macam-macam lagi dengan Erva karena waktunya yang tidak pas, dan ia sudah mengajak Erva untuk pergi jalan-jalan tidak mungkin mengurungnya lagi di kamar.


"Tidak perlu Mas, aku sudah bisa berjalan dan pakaian Mas juga sudah aku siapkan."


Erva langsung saja turun dari atas ranjang dan benar apa yang katakan kalau kakinya sudah lemas tidak kaku seperti tadi dan juga rasa perih di bawah sana sudah menghilang meskipun masih ada sedikit rasa ngilu dan sebenarnya masih ada sesuatu yang tertinggal di sana tetapi jika air hanya diam saja maka rasa itu akan semakin terasa saja kalian tidak bisa ngapa-ngapain nanti hanya bergantung kepada suaminya.


Setelah keduanya siap kemudian Anjar dan Erva langsung keluar dari kamar dan benar dibawa suasana masih sepi dengan Mama Risa yang belum pulang dan juga asisten rumah tangga yang mungkin sedang beristirahat, tapi tidak masalah mereka juga tidak perlu disiapkan apa apa lagi dan antara Anjar maupun Erva tidak membutuhkan apa-apa , mungkin malahan mereka akan makan malam di luar sekalian jalan-jalan.


"Jadi kita ke mana? Mau langsung jalan-jalan atau kamu mau ke rumah dulu siapa tahu kangen dengan mama dan papa."


Keduanya saat ini sudah berada di dalam mobil dan tentu saja Anjar sudah mengemudikan mobilnya pelan baru saja ia keluar dari rumahnya tetapi untuk ke mana selanjutnya ia terserah kepada istrinya.


"Tidak usah Mas, baru aja kemarin ketemuan dan kita langsung jalan saja."

__ADS_1


Kangen tentu saja iya, tetapi baru saja sehari kenapa Erva sudah pulang nanti dikiranya ia tidak bahagia hidup bersama dengan Anjar.


Dan pastinya masalah main ke rumah bisa besok-besok saja lagi pula juga masih ada beberapa buku yang tertinggal di rumahnya bisa diambil besok setelah pulang kuliah.


Anjar melajukan dengan kecepatan sedang tangan kanannya meraih kemudi dengan tangan kiri mengambil tangan Erva dan digenggamnya.


Entahlah mengapa mendadak laki-laki dingin itu bisa bersikap romantis dan tentu saja Erva menyukai suaminya yang sekarang tetapi ia juga menyukai sifat Anjar yang dulu bahkan dengan sikapnya yang dingin bisa terbebas dari perempuan yang akan mendekati suaminya nanti.


"Jadi makan es krimnya? Aku punya suatu tempat yang sepertinya cocok untuk kamu di sana bukan hanya menyediakan es krim saja tetapi berbagai macam kue juga ada."


Anjar memang orangnya tidak suka jajan tetapi matanya tidak pernah lepas memandang ke sebuah tempat di mana tempat itu begitu menarik tetapi sayang sekali untuk berkunjung di sana Anjar belum ada seseorang yang diajaknya, maka dari itu ini kesempatan setelah ia mempunyai istri maka Anjar akan mengajak Erva untuk menuju tempat yang diri dulu ingin Ia kunjungi.


"Boleh, memangnya ada tempat itu mas? Aku aja baru mendengarnya loh padahal aku yang penyuka es krim daja sukanya pergi ke kedai yang di jalan Simpang Lima itu saja dan di sana tidak tersedia kue-kue seperti yang Mas ceritakan."


"Ada, tapi tidak tahu bagaimana rasanya semoga saja enak karena aku juga tidak pernah ke sana."


"Aneh sekali merekomendasikan tetapi tidak pernah pergi ke sana."


Bagi Erva, Anjar memang sangat lucu tahu semua tempat makanan yang sepertinya enak tetapi laki-laki itu belum pernah sama sekali mengunjunginya.


"Kalau minuman kekinian sudah ada tetapi untuk menambah menu belum kepikiran."


Bisnis Anjar memang sangat banyak, di samping ada beberapa perusahaan yang ditinggalkan oleh Papahnya, Anjar juga memiliki beberapa restoran bintang 5 dan juga cafe yang tentunya kualitas dan masakannya tidak perlu diragukan lagi.


"Oh ya bolehlah kapan-kapan Mas aja aku ke sana.."


"Tidak perlu sama Mas sepertinya kamu juga sering mengunjungi tempat itu."


"Eh di mana?"


"Seberang kampus kamu?"

__ADS_1


"Astaga cafe gaul itu yang minumannya setiap hari selalu berganta-ganti dan selalu ramai? aku aja kalau ke sana sering tidak mendapatkan tempat jika tidak memesan tempat terlebih dahulu."


Anjar mengangguk, memang salah satu cafe terkenalnya ada di seberang kampus Erva, dan ia juga tahu kalau Erva juga belum tahu jika kafe itu adalah miliknya.


"Dan mulai besok kamu tidak perlu antri karena kamu adalah pemiliknya. Semua karyawan yang di yang di sana sudah tahu bahkan seluruh restoran yang aku punya dan yang di punya Mama sudah tahu kalau kamu adalah istri aku."


"Ah Mas, Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan juga tidak bisa berkata-kata lagi begitu beruntungnya Aku mempunyai suami yang kaya.."


"Tapi jangan lupakan kewajiban kamu. Aku tidak meminta banyak dari kamu, aku hanya ingin kamu setia tidak neko-neko tidak macam-macam dan juga melayani Aku dengan sepenuh hati dan jiwa kamu."


"Pasti dong jangan kuatir aku orang yang setia meskipun yang naksir banyak..."


Anjar menggelengkan kepalanya tidak dipungkiri memang yang suka dengan Erva itu banyak bahkan sudah tidak terhitung lagi tetapi ia juga beruntung karena Erva memilihnya dengan semua kekurangan yang ada pada dirinya saat ini.


Hingga obrolan mereka terhenti manakala Anjar sudah memarkirkan mobilnya ke sebuah tempat di mana tempat itu benar-benar nyaman dan enak untuk ngobrol dan menghabiskan waktu sore ini.


"Ayo dek, kamu bisa memesan apa saja di sana."


Anjar turun kemudian disusul oleh Erva lalu pasangan pengantin baru itu langsung saja menuju ke tempat di mana memang Anjar sudah memesan sebelumnya.


Tetapi tiba-tiba baru saja mereka masuk dan melangkahkan kakinya, Erva maupun Anjar melihat seseorang yang sangat ia kenali dan tentunya orang itu juga melihat ke arah Erva dan Anjar.


Mengapa dia ada di sini?


Aduh bagaimana ini? Aku takut jika dia mengacaukan acaraku dengan Mas Anjar...


Keduanya terdiam sesaat dan sama-sama menoleh. Anjar yang tidak enak langsung saja membawa istrinya menuju tempat yang sudah ia pesan.


"Bagaimana? mau meneruskan makan di sini atau kita pergi saja aku takut kalau kamu tidak nyaman?"


"Aku bukan tidak nyaman Mas tetapi aku takut kalau dia melakukan sesuatu sama kamu."

__ADS_1


"Tenang saja dek, aku yakin kalau dia tidak akan berani macam-macam."


Erva mengangguk dan sejenak mereka melupakan kejadian yang baru saja dialami bukan dialami tetapi baru saja mereka lihat dan tentunya Anjar juga sudah memerintahkan orang-orangnya untuk waspada di sekitar tempat itu ia tidak ingin kecolongan dan terjadi sesuatu kepada istrinya.


__ADS_2