
"Di Rumah Sakit mana?? kenapa bisa seperti itu???"
Kaget, Dokter Keenan kaget ketika mendapatkan berita kalau Erva saat ini masuk Rumah Sakit, dengan penyakit yang sama yang pernah di derita Erva.
Apalagi, Keenan tidak menyangka kalau Erva malahan dirawat di Rumah Sakit lain, bukan di Kusuma Hospital.
"Centra Medika.", jawab Mona sedikit takut dengan ekspresi wajah Keenan, antara marah, kecewa dan juga khawatir.
"Centra Medika?? Astaga...kenapa ke sana??"
Bukan masalah Rumah Sakit nya, tetapi letaknya yang lumayan jauh dari Rumah Erva, apalagi kondisi kesehatan Erva yang menghawatirkan kalau tidak langsung ditangani.
Memang, Centra Medika adalah salah satu Rumah Sakit yang terbaik di kota ini, tetapi. .. riwayat penyakit Erva bukan berada di sana, dan Dokter yang menangani pun berbeda.
"Kenapa?? seharusnya Dokter bisa menjawab sendiri, kenapa Erva tidak mau ditangani oleh Dokter..."
Jelbb...
Ucapan Mona menusuk jantung, seharusnya memang Keenan sadar diri, kenapa Erva tidak mau di rawat di Rumah Sakit nya, yang jelas jelas lebih dekat dengan Rumah Erva, yang pasti...hanya satu alasan nya, tidak mau bertemu dengan Keenan lagi.
"Tidak mungkin..."
Masih saja mengelak, ia yakin kalau Erva masih mencintai nya. Ini hanyalah waktu dan juga komunikasi saja.
Tidak lagi bertanya kepada Mona, Dokter Keenan segera meninggalkan gadis itu untuk menuju ke Centar Medika.
Sedangkan Mona, ia hanya melihat langkah kaki Dokter Keenan yang terburu buru, dan terlihat begitu mengkhawatirkan Erva.
"Gawat!! aku harus ikut ke sana!!"
Sadar, Mona baru sadar kalau Dokter Keenan akan pergi ke Centra. Mona yang hafal betul bagaimana Keenan dan juga Erva, tidak mau nantinya terjadi sesuatu masalah di sana, apalagi kalau di sana ada Dokter Anjar... yang seperti nya juga menyimpan rasa untuk Erva.
Seperti hal nya dengan Dokter Keenan, Mona juga berlari untuk sampai di parkiran. Ia tidak mau terlambat sampai di Centra.
Di dalam mobil, Keenan mengumpat kesal. Sedari tadi ia berusaha untuk mempercepat laju kendaraan nya, tetapi sayang sekali.... jalanan macet.
Keenan tidak sabar untuk segera bertemu dengan Erva, dan mengetahui bagaimana kondisi gadis itu
Dan ia juga akan merujuk Erva untuk dirawat di Rumah Sakit nya, bukan apa apa...hanya saja....ia yang tau bagaimana seluk beluk penyakit Erva dan ia akan kembali menjadi Dokter pribadi nya Erva.
__ADS_1
Tiga puluh menit berlalu, mobil yang dikemudikan Dokter Keenan sudah sampai di area parkiran Rumah Sakit.
Tidak ada parkir khusus di sana, dan Keenan tidak mempermasalahkan itu
Keenan berlari, ia yang memang tidak tau di mana ruang perawatan Erva, bertanya dulu di resepsionis.
"Mona Ervania, dan di ruangan khusus kelas super eksekutif, ada di lantai Lima...."
Kaget lagi, kenapa Erva bisa berada di ruangan yang khusus untuk keluarga dari pemilik Rumah Sakit ini?? ia tidak bodoh, karena di Rumah Sakit nya juga ada ruangan seperti itu.
Apalagi, ia kenal dengan pemilik Rumah Sakit ini, dan benar benar tidak ada hubungan keluarga dengan Erva, lalu apa??
Di dalam hati Keenan bertanya-tanya, sembari langkah kaki nya menuju ke ruangan Erva
"Ada hubungan apa Erva dengan Anjar??"
Meskipun tidak begitu akrab, Keenan tua siapa pemilik tunggal Rumah Sakit ini, Apalagi...Anjar juga datang pas pernikahan nya kemarin.
Keenan sudah berada di depan ruangan Erva, di mana memang suasana nya sangat berbeda.
Beruntung sekali siang ini, tidak ada yang berjaga di luar ruangan dan Keenan bisa langsung masuk ke dalam
Laki laki tampan itu membuka pintu dengan sangat pelan, ia takut kalau mengganggu Erva yang sedang istirahat.
"Beby.....", panggil Keenan lirih.
Panggilan kesayangan yang dulu ia berikan untuk Erva, dan sampai saat ini masih tersimpan rapat di dalam hatinya.
"Dia??"
Erva menghela nafas, hampir saja ia menjatuhkan ponsel nya ketika kaget melihat Keenan yang tiba tiba datang dan masuk ke dalam ruang inapnya.
Erva berusaha bersikap tenang, meskipun dadanya kini bergemuruh hebat, antara senang tetapi juga kecewa.
Keenan tersenyum, ia mendekati Erva dan berada di samping nya, menggenggam tangan Erva dengan sangat lembut.
"Hai, mengapa tidak kasih kabar?? apa yang kamu rasakan???"
Erva menggeleng, berusaha melepaskan tangan Keenan tetapi tidak bisa. Ia pun langsung pasrah saja, tetapi...sadar kalau di samping nya adalah suami orang dan kedatangan nya ke sini, hanya karena profesinya sebagai Dokter saja.
__ADS_1
Jangan gEer apalagi baper Erva...ingat... dia sudah punya istri....dan kamu hanyalah sang mantan yang sudah disakiti nya....
"Baik Dokter, dan tolong lepaskan tangan saya.. saya tidak nyaman.", ucap Erva yang masih mencoba melepaskan tangan nya, tetapi kalah dengan tangan kekar Keenan.
Keenan menggeleng, panggilan Erva sangat menyakitkan untuk nya, kenapa berubah tidak seperti dulu lagi....
"Tidak, kalau kamu masih menganggap aku sebagai Dokter... aku tidak akan melepaskan kamu..."
Erva melongo, kalau tidak sebagai Dokter...lalu mau sebagai apa lagi?? bukannya profesi nya Dokter, atau sudah ganti jadi Dukun???
"Kan emang Dokter?? apa sudah ganti profesi??"
"Suami kamu....", ucap Keenan dengan yakin nya, bahkan tidak ada keraguan sama sekali.
"Ngaco!!", Erva menggeleng...ia juga tidak tuli dan mask mendengar jelas apa yang dikatakan oleh Keenan. Yang benar saja, laki laki sudah beristri bisa bisanya meminta untuk menjadi suami nya, apa tidak gila???
"Calon suami lebih tepatnya..."
Lagi dan lagi, Erva bingung. Ia dibuat gila dengan apa yang dikatakan oleh Keenan. Perasaan, yang sakit perut nya tetapi kenapa yang eror otaknya.
"Jangan dipikirkan, Mas sebenarnya mau cerita banyak sama kamu, tetapi... tidak sekarang... kesehatan kamu lebih penting...", ucap Keenan lagi.
Memang, Keenan sudah ingin menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi dengan diirinya selama satu tahun ini, tetapi... melihat kondisi Erva sekarang...ia akan menunda nya.
"Lepaskan dulu Dokter...eh Om...."
Yah, kaya Om memang lebih pantas dan lebih tepatnya untuk Keenan, mengingat Keenan adalah suami orang dan tidak lagi mempunyai hubungan spesial dengan laki laki itu.
"Om...lucu sekali kamu sayank, malahan mengingatkan Mas dengan pertemuan pertama kita..."
Cup
Keenan mencium lembut punggung tangan Erva, dengan tatapan mata yang mengarah pada Erva saat ini, senyum yang menawan dan tajam nya mata membuat Erva memalingkan wajahnya ke samping.
Tidak boleh baper, geer atau apalah. Ingat status Keenan yang tiba lagi sendiri.
Pelan pelan Keenan melepaskan tangan Erva, setalah beberapa detik mencium punggung halus tangan itu, tetapi...ia tidak sama sekali beranjak dari samping Erva dan malahan melihat keadaan disekitar ruangan Erva.
"Ada hubungan apa kamu dengan Dokter Anjar, Beby???"
__ADS_1