
Sementara di dalam ruangan dokter Keenan, laki-laki itu tersenyum penuh kemenangan setelah mendapatkan kabar yang begitu luar biasa dari asistennya.
"Aman kaan To?", tanya Dokter Keenan lagi.
"Aman Bos, sudah bisa dipastikan kalau dokter Anjar tahu tentang berita ini."
Dokter Keenan mengangguk, ia tersenyum lalu membuka ponselnya dan melihat postingan yang sudah Anto kirimkan ke akun media sosialnya.
Memang benar kalau postingan itu Keenan lah yang sengaja untuk menyebarkan berita pertunangan dan juga pernikahannya dengan Erva.
Bukannya main-main, karena Keenan memang saat ini serius ingin menikahi Erva tetapi gadis itu selalu menolaknya dan dengan cara seperti ini Erva akan menerima dan mau menikah dengan dirinya.
Semua persiapan sudah dilakukan oleh dokter Keenan, ia tidak menunggu lama lagi untuk bisa memiliki Erva karena satu minggu ini hubungannya dengan Erva baik-baik saja dan Erva terlihat senang dan nyaman bersama dengan dirinya dan tidak ada raut kebencian sedikitpun di wajah Erva.
Oleh karena itu, Keenan memutuskan untuk menyebarkan informasi pernikahannya dengan Erva yang akan dilakukan minggu depan.
Di samping akan membuat Erva langsung mengiyakan pernikahan, Keenan juga mempunyai rencana untuk membuat dokter Anjar tau dan tidak berharap lagi kepada Erva.
"Bonusmu sudah Aku transfer."
Kinerja Anto benar-benar sangat membuat Keenan puas, laki-laki itu tidak tanggung-tanggung untuk memberikan bonus yang luar biasa kepada Anto sang asisten.
"Makasih Bos, kalau ada lagi seperti ini saya mau."
Tentu saja Anto mau, karena uang yang diberikan oleh Keenan sangatlah besar, lagian ia melakukan seperti ini bukan suatu kesalahan hanya menyebarkan foto dan tulisan saja mengenai pernikahan dokter Keenan dengan Erva dan bukan pula membunuh atau menyulik seseorang.
"Lalu bagaimana dengan dokter Anjar apa dia sudah melihat postingan yang kamu bagikan tadi?"
"Sudah dokter, bahkan keadaan dokter Anjar saat ini sangat kacau, seseorang yang saya kirimkan untuk memata-matai dokter Anjar sudah memberikan informasi kalau dokter Anjar saat ini sedang uring-uringan di rumah sakit tempatnya bekerja."
"Oke, sekali lagi terima kasih dan kamu boleh pergi..."
"Baik dokter, lalu bagaimana dengan Nona Erva? saya yakin sebentar lagi nona Erva akan datang ke sini?"
Ya, terkadang otak Anto memang sangatlah cerdas bahkan lebih cerdas dari dokter Keenan. Anto berpikir dengan adanya berita seperti ini pastinya Erva akan menemui dokter Keenan karena dokter Keenan sengaja tidak mengangkat atau membalas pesan dari Erva.
__ADS_1
"Biarkan saja, aku sudah siap menunggunya di sini, kalau kamu tidak ada pekerjaan lagi turunlah ke bawah mungkin Erva saat ini sudah berada di lobby."
Bukan hanya saja Anto yang berpikir seperti itu, tetapi Keenan juga mempunyai pikiran yang sama dengan Anto, ia tahu bagaimana watak dari Erva dan pastinya gadis itu akan segera menemuinya untuk bertanya tentang kejadian yang menimpanya saat ini.
"Siap Bos saya ke bawah dulu."
.
.
.
.
.
.
Tidak lama , mobil yang dikemudikan oleh Mona sudah sampai di sebuah rumah sakit terkenal di kota ini. Mona pun langsung memarkirkan mobilnya di tempat yang telah disediakan di sana.
Erva sudah tidak sabar untuk bertemu dengan dokter Keenan, ia pun turun dulu setelah Mona berhasil mematikan mesin mobilnya
"Hati-hati, ingat jangan emosi menghadapi laki-laki seperti Keenan itu, tidak boleh memakai kekerasan tetapi jangan di lembutin, ya datar datar aja."
Erva mengangguk, lalu ia membuka pintu mobil dan segera keluar dari mobil Mona.
Entah suatu kebetulan atau tidak, setelah Erva masuk ke dalam rumah sakit ia melihat Anto, asisten dari dokter Keenan berada di lobby dan dengan cepat gadis itu menghampiri Anto, tentunya untuk menanyakan di mana dokter Keenan berada saat ini.
"Om Anto.", panggil Erva dengan suara lantang.
"Nona Erva."
Anto pura-pura saja kaget ketika melihat Erva padahal tujuannya ke lobby adalah untuk menjemput Erva bilamana gadis itu tiba-tiba datang ke rumah sakit ini.
"Dokter Keenan ada kan Om?", tanya Erva langsung, dan ia tidak mau basa basi lagi, lebih cepat bertemu dengan dokter Keenan lebih cepat ia mendapatkan penjelasan, pikir nya begitu.
__ADS_1
"Ada Nona, mau bertemu?"
Laki-laki itu malahan basa-basi dulu ia tidak ingin terlihat seperti menunggu Erva yang pastinya Anto juga pura-pura sibuk atau mengerjakan sesuatu di lobi.
"Iya Om, bisa Om antar aku ke sana?"
Tidak mau langsung masuk ke dalam ruangan dokter Keenan, meskipun di luar sana bahkan di dalam rumah sakit ini berita pernikahan dirinya dengan dokter Keenan sudah tersebar luas tetapi ia juga tidak mau langsung menemui dokter Keenan tanpa ada yang membawanya.
"Mari Nona saya antar tetapi sebentar saya berikan berkas ini ke resepsionis dulu."
Kalau yang ini memang bukan pura-pura, di samping Anto memang ditugaskan untuk menjemput Erva di lobby, laki-laki itu juga mempunyai tugas lagi untuk menyerahkan berkas kepada resepsionis.
Erva tidak menjawab, ia menunggu Anto sebentar kemudian setelah laki-laki itu menghampiri resepsionis barulah Anto mengajak Erva untuk ke ruangan dokter Keenan yang tentunya berada di lantai atas.
Tok....tok...
"Masuk...", jawab Dokter Keenan dari dalam ruangannya,. Ia pun tersenyum tetapi berusaha menahan senyumannya supaya Erva tidak curiga kalau dirinya saat ini memang sedang menunggu gadis itu.
Setelah mendengar suara bosnya, Anto segera membukakan pintu dan mempersilahkan Erva untuk masuk , sedangkan dirinya menutup pintu lalu pergi meninggalkan mereka berdua di dalam.
"Beb, ada apa siang-siang begini, kangen ya sama mas?"
Keenan pura pura saja tidak tahu, bahkan ia masih bisa tersenyum dan menyapa Erva dengan gaya bicaranya yang masih seperti itu , beb...beb tidak pernah diganti, padahal Erva sendiri geli mendengar panggilan dari Keenan bahkan ia ingin muntah jika Keenan masih terus memanggilnya beb.
Dilarang, tetapi Keenan punya seribu alasan untuk masih terus memanggil Erva dengan panggilan beb sehingga gadis itu membiarkannya saja.
"Jangan pura-pura Kak apa maksud dari postingan yang Kakak upload tadi pagi?"
Keenan tersenyum, lalu ia berdiri dari duduknya dan menghampiri Erva yang saat ini masih berdiri di depannya dengan wajah yang marah tetapi masih terlihat sangat cantik.
"Duduk dulu, Mas bisa jelaskan."
Erva duduk, entah mengapa ia seperti tersihir oleh apa yang dikatakan dokter Keenan... padahal sedari tadi emosinya sudah meluap-luap dan ingin melempar sesuatu ke wajah dokter Keenan. Tetapi setelah sampai di ruang ini dan ia telah melihat wajah dokter Keenan rasanya Erva seperti luluh.
"Tolong jelaskan Kak mengapa sampai ada berita seperti itu dan sejak kapan aku memutuskan untuk menikah dengan Kakak, aku hanya menganggap Kak Ken sebagai teman saja tidak lebih..."
__ADS_1