
Sama yang dilakukan oleh Erva saat ini, Keenan pun tidak bisa memejamkan matanya kembali setelah ia menerima telpon dari Erva.
Rasa salah kini menghampiri nya, bahkan ia menepuk bibirnya sendiri yang tidak sengaja mengucapkan nama Rara, meskipun ia sendiri tanpa sadar mengucapkan nya.
Setidaknya, ia bertemu dan menjalin hubungan baik baik dengan Erva awalnya, dan kemungkinan kalau terjadi hal hal yang tidak diinginkan, dan harus mengakhiri hubungan, Keenan ingin berpisah secara baik baik saja.
"Arghhhh.... kenapa aku malahan memikirkan tentang perpisahan..."
Keenan menatap cincin manis yang bertengger di jarinya, mengusap lembut cincin itu dan mencium nya. Mengingat bagaimana bahagia diirinya dengan Erva beberapa hari yang lalu, saat penyematan cincin itu.
"Kenapa seperti ini??".
Ia yang memaksa untuk menjalin hubungan dengan Erva dan ia juga yang bimbang untuk saat ini.
"Maafkan aku sayank..."
Memang tidak adil untuk Erva, di saat gadis itu sudah mulai mencintai Keenan, ia akan dipatahkan dengan kenyataan kalau di dalam hati Keenan masih menyimpan cinta yang besar kepada Amira, apalagi mereka bertemu lagi.
Tidak ingin berlarut larut rasa penasaran nya, Keenan memutuskan untuk bangun dari tidur nya, dan ingin bersiap siap untuk segera ke Rumah Sakit.
Mungkin memang masih terlalu pagi, tetapi....ia harus melakukan nya, demi rasa penasaran yang sudah mencapainya puncak.
Beberapa jam kemudian, Keenan sudah terlihat rapi. Ia sudah memutuskan untuk berangkat ke Rumah Sakit, tidak perduli hari masih terlalu pagi.
Diraih nya jas dan juga beberapa keperluan lainnya, hingga akhirnya Keenan keluar dari kamar hotel dan bertepatan dengan Dimas yang baru saja pulang.
"Bro!! ini masih jam empat pagi, mau ke mana??"
Dimas sendiri tidak percaya dengan apa yang dilihat, Keenan sudah rapi padahal masih jam empat pagi, bukannya seminar itu mulai jam delapan?? pikir Dimas dengan perasaan yang tidak enak.
"Keluar sebentar, ah...iya kebetulan Lo sudah sampai,....tolong bawakan ini, nanti langsung saja ke Rumah Sakit......"
Keenan memberikan jas Dokter kebanggaan nya, dan perlengkapan lainnya. Ia tidak perlu repot-repot lagi untuk membawa nya pagi pagi buta ini.
Dimas mengangguk, ia tidak dapat mencegah Keenan lagipula ia sendiri harus membersihkan diri dan istirahat sebentar, tetapi...di dalam hati...Dimas sedikit penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Keenan pagi pagi buta ini.
"Awas saja kalau Lo sampai macam macam Kenn, orang pertama yang akan membogem Lo adalah gue..."
__ADS_1
Dimas menggeleng, ia merasa kalau Keenan sedang menyembunyikan sesuatu dari nya, yang pastinya berhubungan dengan Amira, yah... Dimas baru saja... tentang cerita Keenan semalam.
"Apa mungkin Keenan ke Rumah Sakit untuk memastikan semua nya??"
"Ah sial!! kalau gue sudah rapi, pasti akan gue susul, sayang sekali... masih bau wanita....."
...****...
Sampai di Rumah Sakit, tepat pukul lima pagi. Karena Keenan memang sengaja untuk mampir dulu ke sebuah cafe dua puluh empat jam, ngopi dan sedikit menguyah roti untuk mengganjal perut nya.
Tidak mau menunggu lama, Keenan dengan penampilan rapi dan sangat tampan berhasil membuat perawat di sana kagum dan tidak berkedip melihat nya.
"Pagi Dokter Keenan.", sapa seorang perawat dengan bahsa Inggris, yang sudah paham dengan siapa Keenan.
"Pagi..."
Setelah membalas sapaan, Keenan bergegas ke resepsionis dan menanyakan tentang apa yang ada selama ini mengganjal di dalam hatinya.
"Permisi Sus, ada pasien yang bernama Amira Larasati??", tanya Keenan dengan bahasa Inggris.
"Sebentar ya Dokter..."
"Maaf Dok, nama Amira Larasati tidak ada di dalam daftar nama pasien", ucap suster itu dengan sopan nya.
Keenan mengeryitkan alisnya, ia berpikir sejenak. Kalau tidak ada nama Amira, lalu kenapa Amira ada di sini, dan ini bukan suatu kebetulan saja bukan??
Amira hanya punya satu keluarga saja, dan satu satunya yang ia punya adalah ibunya...yah ibunya.
"Kalau Sasmita Dewi ada??"
Keenan berharap ada nama Ibunya Amira di Rumah Sakit ini, meskipun ia tidak mau terjadi apa apa dengan wanita yang sudah tidak muda lagi.
"Sasmita Dewi, dari Indonesia ya Dokter???"
Dokter Keenan tersenyum, meskipun ditemukan nama itu, tetapi hatinya kini malahan ketar ketir sendiri. Yang ia tau, ibunya Amira tidak menderita suatu penyakit apapun juga.
"Ada Dokter, beliau di rawat di ruangan 215 dari sini lurus langsung belok kanan...."
__ADS_1
Dan benar, apa yang di pikirkan... ternyata malahan ibunya Amira yang sakit, lalu sakit apa???
"Kalau boleh tau, Tante Mita sakit apa sus??"
Sengaja menekan kan dan memanggil dengan sebutan Tante, supaya memang dikira kenal baik dengan ibunya Amira.
"Kanker hati stadium akhir , Dok..."
Jedarrr
Keenan menghela nafas nya, selama menjalin hubungan dengan Amira, Amira tidak pernah menceritakan tentang penyakit ibunya, bahkan selama berkunjung ke rumah Amira dan terakhir datang melamarnya...Tante Mita terlihat baik baik saja.
"Dan kebetulan sekali, putri ibu Sasmita baru saja keluar Dokter...."
Dokter Keenan tersenyum, ia melihat jam yang melingkar di tangannya, masih banyak waktu untuk ngobrol sebentar dengan Tante Mita, pikir nya.
"Terimakasih suster...."
Yah, Keenan memutuskan untuk mengunjungi Tante, selain melihat kondisi nya, Keenan juga ingin mendengar lebih jauh lagi apa yang menyebabkan Amira melakukan seperti itu dengan nya dulu, karena Keenan yakin...Amira tidak akan melakukan seperti itu kalau tidak ada paksaan dan ancaman.
Keenan melangkahkan kakinya menuju ke ruangan 215 seperti yang dikatakan oleh suster tadi, dan setelah ketemu dengan ruangan yang dimaksud, Keenan mengambil nafas berat nya dan memberanikan diri untuk masuk ke dalam ruangan Tente Mita.
Ceklek....
Keenan memejamkan mata nya sebentar, ketika ia melihat ke depan.. di mana seorang wanita yang sudah tidak muda lagi itu berbaring lemah dengan selang infus dan oksigen ditubuh nya.
Keenan yang sudah membuka matanya, melihat ke arah depan...merasa kasian dengan apa yang dialami oleh Tante Mita.
"Keenan.....", ucap Tante Mita dengan membuka oksigen yang menempel.
Wanita itu kaget melihat Keenan, laki laki yang baik yang pernah mencintai putri nya, tetapi...karena suatu hal... harus mengakhiri hubungan yang manis itu.
"Tante,.... berbaring saja....."
Melihat Tante Mita yang lemah, Keenan tidak sampai hati untuk membiarkan wanita itu duduk, dan Keenan memilih mendekati mantan calon mertuanya.
"Keenan...maafkan Tante, sudah lama Tante ingin bertemu dengan kamu, tetapi...kata Mira...kamu tidak mau bertemu dengan nya lagi ...."
__ADS_1
Keenan terkejut, ia tidak tau apa yang dimaksud oleh Tante Mita, dan kata maaf tadi ... apa arti nya ...