
Ternyata rombongan dari keluarga Anjar yang tiba dulu di hotel bukan karena dari keluarga Erva terjadi masalah di jalan tetapi memang jarak yang ditempuh lebih dekat dari rumah Anjar daripada rumah Erva.
Tetapi Anjar sudah memastikan kalau tidak ada halangan dan rintangan yang terjadi nanti dengan rombongan keluarga Erva.
Semua pengamanan super ketat, dari mobil Anjar masuk ke halaman hotel sudah disambut dengan beberapa pengawal bersenjata dan juga Aris yang sudah standby di sana.
Hingga Anjar dan keluarga inti sudah masuk ke sebuah ruangan yang memang didesain khusus untuk acara ijab qobul nanti dan tentu saja hanya bisa dimasuki oleh keluarga inti dari kedua calon mempelai itu.
Hingga 5 menit kemudian mobil dari rombongan keluarga Erva sudah datang dan tentu saja semua menyambut kedatangan dari calon mempelai perempuan itu.
Erva langsung saja di bawa untuk bertemu dengan Anjar ke sebuah ruangan yang memang sudah ada Anjar dan keluarga intinya di sana.
Deg
Cantik sekali...
Anjar dari tadi tidak berkedip ketika melihat Erva yang baru saja masuk ke ruangan begitu cantik dan mempesona.
Memang benar kalau laki-laki itu tidak salah memilih calon istri meskipun ia menikah dengan usia yang sudah terbilang tua tetapi Anjar mendapatkan calon istri yang diidam-idamkan.
"Nanti saja lihatnya fokus An..."
Dokter Rico yang menemani Anjar dari tadi langsung saja menyenggol lengan sahabatnya itu ia tahu kalau Anjar begitu terpesona dengan kecantikan Erva yang memang hari ini begitu cantik.
Jangankan Anjar, Dokter Riko saja juga tidak berkedip memandang ke arah Erva tentunya ia mendapatkan sorotan matanya tajam dari Anjar karena kedapatan memandang wajah cantik Erva.
Erva langsung saja duduk di samping Anjar yang memang sudah menantinya sedari tadi.
Nampak gadis itu malu-malu ketika ia melihat calon suaminya yang saat ini memandangnya tanpa berkedip.
"Terlalu menor ya Mas?"
Tentunya Erva berbicara dengan nada yang pelan kepada Anjar dan bertanya apakah dandanannya itu terlalu menor sehingga Anjar menatapnya tidak berkedip.
"Bukan, tapi kamu cantik sekali..."
Erva tersipu malu ketika mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh dokter Anjar entahlah makan apa laki-laki itu pagi ini sehingga bisa memujinya seperti itu.
Sebelum acara dimulai tentu saja pembawa acara itu membacakan susunan acara ijab qobul pagi ini, yang tentunya sudah dihadiri oleh kedua keluarga inti dari masing-masing cara mempelai saksi dan juga penghulu yang ada yang sudah datang di sana.
Berbeda dengan Erva dan juga Anjar yang saat ini telah berbahagia, seorang laki-laki tampan yang sudah berada di depan hotel Itu tampak mengepalkan tangannya.
Ia baru tahu kalau penjagaan di sekitar hotel itu sangat ketat dan juga ia tidak diperbolehkan masuk untuk melihat acara sakral itu.
Brengssekkkk!!
Keenan mengumpa kesal padahal Ia sudah menyiapkan beberapa orang khusus untuk ikut melancarkan aksinya dan tentu saja aksinya itu sangat dekat ia akan menculik Erva dan membawa kabur Erva pergi jauh dari Indonesia.
Tetapi baru saja Ia turun dari mobil nyatanya beberapa orang bersenjata lengkap sudah berada di depan dan pastinya orang-orang itu melihat ke arah Keenan dengan tatapan yang sangat tajam seolah-olah mereka tahu kalau Keenan lah target utama yang sudah dikatakan oleh Anjar.
Orang-orang bersenjata lengkap itu tidak menghadang Keenan dan membiarkan masuk Keenan yang hanya berada di sekitar ruangan tempat diadakan resepsi saja tetapi mata mereka selalu mengawasi ke arah Keenan.
Jika saja apa yang dikatakan oleh Anjar benar Keenan nantinya akan berulah dan mereka sudah siap untuk membawa Keenan keluar dari tempat itu.
Anjar berpesan supaya tidak boleh menimbulkan kegaduhan di acara pernikahan nya ini dan tentu saja dengan pengawasan yang ekstra ketat dan juga mata yang jeli untuk melihat gerak-gerik Keenan di sana.
Deg
Keenan memegangi dadanya, rasanya sakit sekali melihat perempuan yang masih ia cintai bersanding dengan laki-laki lain dan tentu saja wajah Erva saat ini terlihat cantik dan mempesona.
Untung saja Dimas yang memang mendapatkan undangan itu langsung saja meluncur pagi ini ke hotel, ia yakin kalau Keenan akan membuat ulah di sana dan Dimas akan memastikan kalau acaranya ini berlangsung dengan baik tanpa adanya keributan dari Keenan nantinya.
"Mengapa rasanya sakit sekali?"
Keenan meneteskan air matanya ketika lantunan ayat suci terdengar sebagai pembukaan acara ijab qobul Erva dan juga Anjar.
__ADS_1
Bahkan sampai Keenan tak sanggup menopang kaki nya dan Keenan duduk bersimpuh di lantai dan tentu saja kejadian ini berhasil membuat semua mata teralih memandang ke arah Keenan.
"Apakah kesalahan ku waktu itu terlalu dalam, hingga kamu tidak bisa menerima aku kembali, Er?"
Entahlah dengan siapa Keenan berbicara saat ini yang jelas ia sudah meneteskan air mata dan juga mengeluarkan semua yang ada di dalam isi hatinya yang tentu saja ia menyesal kenapa dulunya ia meninggalkan gadis sebaiknya Erva memilih bersama kembali dengan mantan tunangan nya yang pada akhirnya wanita itu malahan menghianati dirinya.
Tentu saja penyesalan itu datang terlambat. Keenan benar-benar menyesal saat ini mengapa dulu dia tidak mempertahankan Erva dan malah memilih meninggalkan Erva.
"Sabar Keen, Erva bukan jodohmu. Mungkin Tuhan sudah menyiapkan jodoh yang terbaik untuk kamu. Ikhlaskan Erva dan biarkan dia bahagia dengan laki-laki lain."
Dimas dan Anto yang berada di samping Keenan langsung saja membawa Keenan untuk duduk di kursi, mereka tahu Keenan saat ini rapuh dan membutuhkan seseorang untuk menyadarkan dirinya.
"Bagaimana aku bisa mengikhlaskan Erva, kamu tahu sendiri bagaimana rasa cintaku kepada dia dari dulu sampai sekarang bahkan tidak ada wanita lain di dalam hatiku selain Erva."
"Aku tahu, tetapi kamu lihat sendiri Erva begitu bahagia dengan Dokter Anjar dan tentunya kamu harus mengikhlaskan karena ini memang jalannya terbaik untuk kalian yang berarti kamu dan Erva belum berjodoh"
"Tidak, aku tidak bisa!! Apakah dulunya Erva juga sesakit ini? apakah dulunya juga Erva menangis seperti ini sama seperti yang aku rasakan ketika melihat aku menikah dengan Amira?"
Dimas menghela nafasnya panjang, tentu saja apa yang dikatakan oleh Keenan barusan adalah benar bahkan Dimas sendiri yang menjadi saksi bagaimana terpuruknya Erva saat itu.
Dan Dimas lah yang menenangkan Erva saat Keenan dan Amira telah melangsungkan pernikahan hingga perempuan itu tidak kuat untuk berada dalam acara itu dan memilih untuk keluar saja meninggalkan acara yang sudah berlangsung.
"Kamu pasti tahu jawabannya. Dan tentu saja apa yang kamu rasakan, juga sudah pernah dirasakan oleh Eva. Aku sudah bilang pada kamu satu tahun yang lalu sebelum kamu memutuskan hubungan mu dengan Erva dan memilih kembali dengan Amira, kalau nantinya kamu akan menyesal. Dan benarkan apa yang aku katakan kalau Erva adalah perempuan yang terbaik yang pernah kamu miliki , tetapi sayang sekali kamu menyia-nyiakan sebuah permata demi batu kerikil yang ada di jalanan."
Keenan terdiam, merenungi nasibnya sendiri... ia merenungi apa yang baru saja dikatakan oleh Dimas yang kenyataannya memang benar. Kalau dirinya saja bisa sesakit ini melihat Erva bersanding dengan laki-laki lain bagaimana dengan Erva dulunya?
Pastinya kondisi gadis itu dulu bakal jauh lebih mengenaskan daripada dirinya. Apalagi 1 tahun yang lalu Erva masih seorang gadis ABG yang masih berusia 16 tahun dan tentu saja gadis itu labil pikirannya, tetapi beruntung saja Erva tidak seperti Keenan yang memutuskan ingin bunuh diri ketika melihat pernikahan Keenan dengan Amira dulunya.
Beberapa menit kemudian....
Sah....
"Tidak!!!!"
Keenan menjerit setelah ia mendengar kata sah terucap dari para saksi dan itu berarti Erva dan juga Anjar sudah resmi menjadi sepasang suami istri.
Tetapi belum juga ia sampai di sana, Anto dan Dimas langsung saja menarik Keenan dan membawa laki-laki itu untuk keluar dari hotel.
Kedua laki-laki itu tidak mau kalau nantinya Keenan berbuat nekat setelah acara ijab qabul yang pastinya antara Anjar dan Erva saat ini sudah sah menjadi sepasang suami istri tinggal acara resepsinya saja.
"Aku salah, aku hancur...Bagaimana aku bisa hidup tanpa kamu Er,.. kamu sekarang sudah menjadi milik laki-laki lain dan itu tandanya aku tidak bisa mendapatkan kesempatan untuk memiliki kamu lagi."
Bugh...
Keenan memukul tembok dengan pukulan yang sangat keras hingga membuat tangannya mengeluarkan darah. Laki-laki itu tidak peduli bagaimana nanti nasibnya, kalau perlu ia ingin mati saja karena sudah kalah dengan Dokter Anjar dan tidak bisa mendapatkan Erva yang kini sudah resmi menjadi istri dari Dokter Anjar itu.
"Kamu jangan gila!!"
"Lebih baik aku gila daripada aku harus melihat kenyataan hidupku seperti ini!!!"
Arghhhhh.....
Keenan langsung saja melepaskan diri dari cengkraman tangan Dimas dan juga Anto ia kemudian menuju ke mobil dan melajukan kecepatan mobilnya dengan sangat tinggi. Keenan pikirannya saat ini kacau setelah mendengar kata sah yang terucap dari para saksi yang membuat hubungan Erva dan Anjar saat ini sudah sah menjadi sepasang suami istri.
Tentu saja Keenan tidak bisa menerima kenyataan kalau Erva sudah resmi menjadi istri dari Anjar.
"Kita kejar dia!!" Ucap Dimas kepada Anto. Dimas tidak ingin terjadi sesuatu kepada Kinan dan mereka berdua memang sudah siap siaga untuk mengatasi masalah ini dan tentunya baik Dimas maupun Anto langsung saja masuk ke dalam mobil masing-masing untuk mengejar mobil Kinan yang sedari tadi sudah melajukan mobilnya sangat kencang.
"Brengssekkkk kamu Anjar!! Aku akan merebut erfa kembali!!"
Keenan melajukan mobilnya sangat kencang ia bahkan tidak perlu lagi dengan hidupnya saat ini yang pasti ucapan kalimat ijab qobul yang dikatakan oleh Anjar tadi masih terngiang ngiang di pikirannya hingga saat ini yang membuat hati Keenan kacau dan pikirannya tidak bisa berkonsentrasi lagi.
Bahkan Keenan kembali ingin membuat ulah lagi yaitu ingin menculik Erva, ia tidak perduli meskipun Erva sudah menjadi istri Anjar tetapi ia tidak rela.
Berbeda dengan kondisi Keenan saat ini yang kacau dan sedih, pasangan pengantin baru yang baru saja resmi menyandang sebagai status suami istri itu terlihat tersenyum malu-malu.
__ADS_1
Mereka sudah keluar dari ruangan khusus tempat berlangsungnya ijab qabul dan saat ini sedang berada di sebuah pelaminan yang sudah didesain apik seperti apa yang diinginkan oleh Erva.
Memang Anjar sengaja untuk melaksanakan acara resepsi pernikahan itu satu hari saja dimulai dari pagi sampai nanti sore dan tentu saja semua undangan sudah tersebar ke mana-mana yang pastinya ia tidak akan melewatkan malam panjang nantinya.
Ucapan selamat dari tamu undangan yang datang mewarnai acara pernikahan besar yang dilangsungkan hari ini.
Dan tentu saja bukan hanya hanya dari kalangan Sultan saja yang datang tetapi seperti yang dikatakan oleh Erva kemarin ia ingin mengundang beberapa orang dari panti asuhan yang ikut memeriahkan acara tersebut.
Semua undangan menghadiri pesta pernikahan Erva dengan Anjar dan tentunya pernikahannya diadakan secara mendadak itu membuat semuanya kagum terlebih lagi sosok pengantin laki-lakinya yang bisa dikatakan tidak pernah dekat dengan perempuan manapun juga.
Mereka yang melihat kemesraan Anjar dan Erva iri mengapa Dokter Anjar yang terkenal dingin itu bisa mendapatkan perempuan seperti Erva dan tentunya mereka juga iri mengapa Erva bisa meluluhkan hati dari seorang Dokter dingin itu.
Sama sekali di dalam pikiran Erva tidak terbesit lagi untuk memikirkan bagaimana nasib Keenan saat ini dan tentu saja Erva tahu kalau Keenan tadi datang dan menyaksikan acara ijab klqabulnya tetapi sekali lagi Erva memang sudah memutuskan untuk menerima Anjar baik dan buruknya Anjar ia akan terima dan akan melupakan semua kenangan dengan Dokter Keenan tentunya.
Dan Erva juga tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh Dokter Keenan nantinya setelah melihat dirinya bersanding dengan Anjar saat ini.
"Kamu mau mencari Dokter Keenan?"
Pertanyaan yang membuat Erva melototkan matanya, kenapa suaminya malah menanyakan seseorang yang sama sekali sebenarnya tidak Erva harapkan.
"Kalau aku jawabnya iya pasti Mas cemburu?"
Bukan menjawab pertanyaan tetapi Erva malah memberikan pertanyaan kepada Dokter Anjar, dan tentu saja laki-laki yang kini sudah menyandang sebagai suami Erva itu mencebikkan bibirnya kesal.
Jelas saja Anjar sebenarnya hanya basi-basi menanyakan tentang itu padahal dirinya juga tidak melihat kalau Erva sedang mencari seseorang.
"Jelas saja aku cemburu, kamu sekarang adalah istriku tetapi tidak mengapa baguslah kalau memang kemungkinan Keenan datang dan itu berarti dia sudah melihat kalau aku dan kamu tidak bisa dipisahkan lagi."
"Jangan kuatir, aku tidak mencarinya mungkin saja tadi dia datang tetapi langsung pergi lagi.."
"Kamu tahu kalau dia datang?"
"Mungkin Mas, mungkin.... Tetapi sepertinya memang dia datang dan itu seperti kejadian yang pernah aku alami satu tahun yang lalu."
Erva seperti diingatkan lagi dengan kejadian 1 tahun yang lalu di mana ia berada di posisi Keenan saat ini. Dimana pada saat pernikahan Keenan dulunya, ia tidak masuk dan hanya melihat dari jarak jauh saja dan tentu saja dari acara ijab kabul Keenan dengan Amira, Erva sudah menyaksikan bagaimana dengan lantangnya Keenan mengucapkan nama Amira di depan penghulu.
Dan tentu saja tidak perlu ditanya lagi bagaimana hancurnya perasaan Erva saat itu,.mungkin saat ini keadaan sudah berbalik hingga Keenan memutuskan untuk meninggalkan acara ini.
"Kamu tidak perlu mengingatnya yang kamu ingat adalah aku, Aku sekarang sudah menjadi suamimu."
"Aku tidak mengingatnya Mas, aku hanya menebak saja dan mungkin apa yang dilakukan oleh Dokter Keenan itu seperti yang aku lakukan dulunya..."
"Menangis, hingga kamu bertemu dengan aku lagi..."
"Oh iya itu adalah pertemuan kedua kita setelah berada di Indonesia..."
"Dan bodohnya aku kenapa dulu menganggap kamu adalah salah satu fans Dokter Keenan padahal tidak tahu saja kalau kamu adalah mantan tunangan yang tersakiti dan terhianati bahkan dicampakkan begitu saja oleh Dokter Keenan hahaha..."
"Haaa....."
"Aw....sakit dek.."
Erva mencubit pelan perut Anjar yang membuat laki-laki itu berteriak karena merasa kesakitan.
"Awas saja kamu , nanti malam akan Aku pastikan kamu tidak bisa berjalan besok paginya."
"Mas!!!"
Tentunya Erva merinding ketika mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh Dokter Anjar. Ia memang tidak tahu menahui tentang malam pertama tetapi seperti yang diceritakan oleh Kakak sepupunya Mona kalau yang pertama itu rasanya sakit.
"Apa? mau menolak? aku sudah berikan apa yang kamu mau, lihatlah semuanya ini desainnya ini kamu yang buat dan aku sudah menyulapnya dua hari saja bisa selesai."
"Aku tidak menolak hanya saja jangan mengatakan itu aku takut.."
"Jangan takut aku sudah jinak dan kamu bisa merasakan bagaimana jinaknya aku nanti malam..."
__ADS_1
"Mas!!!"
Hingga akhirnya obrolan kecil mereka terhenti manakala tamu-tamu sudah naik ke atas pelaminan dan ingin memberikan selamat kepada mereka berdua.