
Pagi pagi sekali Erva sudah bangun, ia memang memakai seragam sekolah, tetapi. . tidak berniat untuk sekolah..
Entahlah, tidak tau lagi harus gimana, tetapi...ia memang tidak berniat untuk ke sekolah, entah nanti bagaimana hubungan nya dengan Dokter Keenan, baik atau buruk....tidak ada niatan untuk masuk hari ini.
Lagipula, Erva sudah selesai ujian kenaikan kelasnya, masuk sekolah hanya menunggu remidi saja, itu kalau ada.
Tidak ingin banyak orang yang bertanya, terlebih Mamah dan Papah, Erva yang sudah rapi langsung saja meninggalkan kamar.
Tidak juga berkeinginan untuk sarapan. Gadis cantik itu berlalu pergi begitu saja, tetapi sempat pamitan dengan asisten rumah tangga nya.
"Huffhhh....."
Erva menghela nafas nya panjang. Ia sudah mempersiapkan kemungkinan yang terburuk untuk dirinya. Ia sudah siap kalau Keenan membawa seseorang untuk diperebutkan dengan nya, Dan Erva juga sudah siap jika Keenan membatalkan rencana pernikahan yang akan di gelas tiga Minggu lagi.
Tidak ingin melibatkan banyak orang, Erva pergi mengendarai mobil nya sendiri menuju ke bandara. Jarak bandara yang lumayan jauh dari rumah nya, membuat gadis cantik itu harus rela bangun pagi.
Satu jam kemudian, Erva sudah sampai di bandara. Ia melihat ke arah jam yang melingkar di tangannya, kalau masih ada waktu tiga puluh menit lagi pesawat yang membawa Keenan akan mendarat.
Sembari menunggu, gadis itu memesan sebuah susu hangat dan roti, untuk mengganjal perut nya yang tiba tiba melilit.
"Tenang Erva, jangan grogi. Bukan kah ini yang kamu inginkan?? bertemu dengan Dokter Keenan??"
Erva menggeleng, tetapi ia juga tersenyum dengan tingkah nya sendiri. Sejujurnya....ia kangen dengan Keeenan, tetapi....ia juga kecewa dengan laki laki itu.
Setelah menghabiskan makanan dan minuman nya, Erva menunggu di tempat yang telah di sediakan, tentu saja dengan perasaan yang sangat cemas.
Mendengar pesawat dari jurusan Jerman sebentar lagi akan mendarat, hati Erva berbunga bunga. Ada rasa deg deg an di dalam dadanya. Satu Minggu lebih tidak bertemu Keenan, membuat nya kangen setengah mati.
Sejenak Erva melupakan apa yang telah terjadi dengan Keenan , yang sudah di balut dengan rasa rindu dan juga cinta dan kasih sayang nya yang begitu besar.
Padahal, jelas jelas saja ...Keenan sudah membuat nya bersedih bahkan jarang sekali menghubungi nya.
...****...
__ADS_1
"Aku ke toilet sebentar ya??"
Ucap Amira yang baru saja turun dari pesawat, ia sudah ingin pipis, dan saat turun langsung saja mencari toilet.
"Iya, hati hati yank....aku tunggu di depan...."
Entahlah, mengapa sebesar itu cinta Keenan pada Amira, jelas jelas saja kalau Amira sudah menghianati cinta nya meskipun dengan cara yang tidak seharusnya dan bukan keinginan Amira sendiri.
Amira mengangguk, ia lalu menuju ke toilet. Dan bukan karena ia tidak ingin bertemu dengan Erva, tunangan Keenan yang sebentar lagi akan menjadi mantan.
Setelah memastikan Amira menuju ke toilet, Keenan segera melangkahkan kakinya saat melihat Erva sudah berdiri untuk menyambut nya.
Senyuman Erva yang sangat menawan, membuat Keenan lagi lagi terpesona dengan wajah cantik dan manis Erva.
"Mas......"
"Beby...."
Keenan langsung memeluk tubuh Erva, jujur...ia juga kangen dengan gadis kecil yang mampu mengalihkan dunia nya meskipun sesaat, dan gadis kecil yang mampu membuat ia melupakan Amira, meskipun juga tidak bisa menghapus sampai ke akar-akarnya.
"Aku kangen banget sama kamu, Mas....", ucap Erva yang masih memeluk Keenan, seperti nya gadis itu tidak mau melepaskan pelukan nya, bahkan saat ini matanya terpejam...takut kalau ia membuka mata, kenyataan tidak seperti dengan apa yang ia rasakan
"Mas juga sama Beb...kangen kamu...."
Keenan tidak sampai hati untuk melukai hati Erva, ia yang memang sangat merindukanmu gadis kecilnya saat ini, entahlah.. bagaimana kalau Erva tau semuanya, apa akan tetap semanis ini dengan nya
Ya Tuhan, kenapa aku jadi tidak tega untuk melukai hati kamu sayank, dan bagaimana aku harus mengatakan nya??? kamu terlalu baik, dan tidak sepantasnya aku menyakiti kamu... Tetapi, mau tidak mau....aku harus memilih, karena tidak mungkin aku memiliki Kalina berdua...maafkan aku Er, jika keputusan ku sangat menyakiti kamu...
Mendekati ucapan Keenan, Erva tersenyum bahagia...ia langsung saja membuka matanya dan merasakan kalau ini semua tidak lah mimpi.
Masih berada di dalam pelukan Keenan, Erva mengedarkan pandangan matanya ke segala arah, bukan untuk mencari Dimas yang nyatanya memang sudah ada di belakang Keenan, tetapi...mencari seorang wanita yang seperti nya saat berarti untuk Keenan
Tetapi, Erva kembali tersenyum lega. Karena ia tidak menemukan seseorang yang dicari nya, dan berarti semua yang dipikirkan tentang Keenan selama ini salah....Dan Erva ingin segera meminta maaf.
__ADS_1
Erva melepaskan pelukan nya, ia ingin meminta maaf kepada Keenan karena telah menuduh yang bukan bukan, bahkan Erva juga lupa kalau memang Keenan sudah membohongi nya, jelas jelas Keenan tidak bisa pulang karena ada saudara nya yang meninggal, bukan karena ada pekerjaan yang belum selesai.
Tetapi, karena cinta buta Erva ke Keenan, gadis kecil itu seakan akan menutup mata dan pikiran nya yang buruk tentang Keenan.
"Ma......"
"Sayank, aku sudah selesai...."
Deg
Hati Erva seakan akan tercabik cabik, baru saja ia ingin meminta maaf dengan pikiran buruknya untuk Keenan, tetapi...ia sudah tertampar kenyataan yang sebenarnya...
Erva melihat ke arah wanita yang baru saja mendekat Keenan, dan mengucapkan kata sayank. Jujur, di dalam hatinya. .ia sangat sakit dan terluka, yang ia pikir Keenan akan datang sendiri, tetapi.... kenyataan nya tidak.....bahkan ucapan dari wanita itu membuat airmata nya tumpah seketika, tetapi.... dengan cepat Erva langsung menghapus nya.
Apa dia yang namanya Amira??? sangat cantik, bahkan lebih cantik di bandingkan dengan fotonya.. yah....aku batu ingat, kalau dia adalah wanita yang ada di foto Keenan...
Dan lagi, aku tidak boleh lemah...aku tidak boleh terlihat bersedih meskipun hatiku hancur sehancur hancur nya, aku harus kuat...harus ....
"Bisa Mas jelaskan??"
Tidak tahan, Erva akhirnya membuka suaranya. Meskipun sejati nya berat bibir nya untuk berkata, dan juga berat matanya untuk melihat. Tapi, inilah kenyataan yang sesungguhnya...
"Aku dan Amira....."
Keenan tidak mampu untuk meneruskan ucapannya, ia tidak tega membuat Erva hancur dan menangis di tempat ini.
Yah, bukan di sini.... karena Keenan akan mengatakan nanti setelah Erva pulang sekolah, di tempat yang biasa mereka datangi sewaktu bertemu dan melepas rindu..
"Apa Mas??"
Erva menggeleng, air matanya mengalir deras manakala ia malahan melihat tangan Keenan dan Amira saling bertaut., memang gila rasanya...
"Nanti Mas akan jelaskan, pulang sekolah Mas jemput. Tidak bisa sekarang karena Mas akan mengantarkan Amira ke apartemen dulu...."
__ADS_1
"Ayok yank....."
Deg....