Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Sulit Ditebak


__ADS_3

Jalanin saja dulu? maksudnya apa?


Pertanyaan itu selalu berada di benak Erva , bahkan ia ingin menanyakan langung dengan Anjar, apa maksud dari ucapan nya. Tetapi sayang sekali, Erva hanya diam dan bertanya tanya dalam hati saja., dan tidak berani mengatakan apapun juga.


Erva dan Anjar saling melepaskan tangan yang sedari tadi memang saling mendekap tubuh mereka, dan keadaan kini menjadi canggung dan berbeda.


"Di bibir nya kalau sudah sah.", ucap Anjar tiba tiba, dan entah darimana laki laki itu mempunyai pikiran ke arah sana.


Erva melongo lagi, ia berpikir apakah ekspresi wajahnya terlihat kalau dirinya menginginkan dicium di bibir??? kalau iya, betapa malunya Erva saat ini.


"Eh...Mas , apa apaan!!"


Mencoba mengelak, meskipun sebenarnya iya. Dengan Anjar mendekatkan wajahnya ke wajah Erva, membuat Erva jadi geer dan langsung saja menutup matanya, dan mungkin juga berharap untuk dicium oleh Anjar di bibir nya, tetapi... ternyata malahan berbeda.


"Kalau sudah sah, aku akan lakukan lebih dari itu "


"Hah?"


Ucapan Anjar membuat Erva menggelengkan kepala nya, lagi lagi ia bertanya... maksudnya apa? sudah sah?? kalau memang suka dan cinta dan berniat serius sebaiknya kan diutarakan, diucapkan bahkan harus katakan cinta, ini yang membuat Erva tambah bingung.


Anjar hanya diam saja, dan lebih tepatnya hanya segelintir sikap nya yang kadang kadang an, kadang lembut dan terkesan romantis dan menginginkan tetapi kadang juga cuek seakan akan tidak butuh sama sekali.


"Jangan bingung dan jangan banyak nanyak...fokus saja dengan kuliah kamu."


Tau apa yang dipikirkan oleh Erva, tetapi untuk sekedar mengucapkan kata sayang dan cinta...rasanya Anjar belum berani, bukan tidak mau... tetapi ada banyak faktor yang membuat Anjar hanya diam dan menunjukkan dengan kata katanya saja. Apalagi laki laki itu terkenal dingin bahkan mungkin sulit untuk digapai hatinya.


"Oh ..."


Hanya itu yang diucapkan Erva, tidak tau lagi harus bagaimana. Kalau dipikir pikir, ia yang akan gila jika meladeni Anjar yang sikap nya berubah ubah.


"Jadi pergi kan?? kamu sudah menghubungi teman mu, dek??", tanya Anjar yang melihat Erva hanya bengong saja., mungkin masih memikirkan apa yang terjadi barusan.

__ADS_1


"Jadi Mas, sudah otewe malahan.....", jawab Erva pasti, bahkan terlihat malu dengan apa yang dilakukan oleh Mona, yang nyatanya setelah diberikan kabar langsung saja pergi ke tempat tujuan.


"Dasar memang ulah bocil.. langsung gas saja.", gumam Anjar.


"Eh....Mas ngomong apa?? lagian kalau Mona bocil, aku juga bocil loh...dan kenapa masih mau dengan bo_...."


Cup


Erva mematung seketika, manakala ia tidak bisa meneruskan ucapan nya lagi ketika bibirnya sudah di bungkam dengan bibir Anjar. Gadis itu langsung diam, tidak bergerak sama sekali. Padahal , hanya sekedar ciuman saja, lebih tepatnya Anjar hanya menempelkan bibirnya ke bibir Erva, tidak lebih.... tetapi bisa membuat Erva melongo dan tidak bisa berbuat apa apa lagi.


"Kalau cerewet lagi, bukan hany sekedar ciuman saja, tetapi lebih dari itu...."


Erva menggeleng pelan, yang katanya Anjar akan mencium nya nanti kalau sudah sah saja , tetapi saat ini tidak..bahkan ucapan nya belum ada satu jam tetapi sudah berubah....dan Erva harus waspada.


"Maaf, aku khilaf dan kamu terlalu menggemaskan...."


Tidak perlu di tegur, Anjar sudah paham dan menyadari kesalahannya, meskipun itu bukan suatu kesalahan.... tetapi tetap saja...karena ia tadi sudah mengatakan yang tidak sesuai dengan apa yang dilakukan.


Erva tersenyum, ia bukannya marah tetapi kaget saja. Seorang Dokter yang terkenal dingin dan tidak mudah tersentuh hatinya bahkan tersenyum pun tidak...kini malahan melakukan hal yang diluar pikiran Erva.


Erva keluar duluan, jujur saja...ia bingung dan takut berhadapan dengan laki laki seperti Anjar, yang memang sikap nya itu tidak mudah di tebak .


Sedangkan, Anjar.... mengambil kunci dan segel menyusul Erva. Ia tidak ingin gadis kecilnya itu berpikiran buruk bahkan menjauhi nya.


"Kamu marah dek?? maaf, aku hanya gemes sama kamu, dan aku akan bertanggung untuk itu "


Erva menghentikan langkahnya, dan menatap ke arah Anjar. Ingin rasanya tertawa dan menertawakan laki laki yang kini ada di hadapannya, tetapi tidak tega.


Anjar memang belum pernah mengenal cinta, bahkan tidak pernah pacaran sampai usianya hampir menginjak kepala tiga, tetapi bukan berarti harus sepolos itu


Dan apa tadi?? tanggung jawab?. tanggung jawab yang bagaimana?? kalau mungkin bukan Erva, pastinya akan senang mendengar ucapan Anjar barusan, bahkan memanfaatkan keadaan.

__ADS_1


"Aku enggak marah Mas, tapi bukan berarti aku murahan dan gampangan ya....cuma kaget saja... tidak nyangka kalau laki laki seperti Mas, yang dinginnya melebihi es batu..bisa melakukan itu juga HAhahahaha......"


Kalimat terakhir di akhiri aneh-aneh tertawa.... tidak ingin terlalu serius menanggapi hal ini, apalagi ekspresi wajah Anjar yang terlihat sangat serius dan menakutkan.


"Hei....ngarang!! aku bisa melakukan lebih dari itu..jangan ngeledek aku, Dek...", ucap Anjar dengan berteriak karena Erva sudah lanjut dulu lari dari hadapannya. Untung saja, mereka masih berada di lorong sehingga tidak ada yang melihat ataupun mendengar kemesraan Dokter Anjar.


"Takut Mas!!"


Erva mendengar dan malahan semakin menambah kecepatan nya karena kini Anjar sudah mengejarnya.


"Tunggu, awas saja kalau sampai dapat!!"


Beruntung sekali, tidak ada satu karyawan ruang sakit pun yang tau kejadian ini, bisa bisa kalau ada yang tau...mereka akan pingsan, karena tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh pemilik Rumah Sakit yang sudah terkenal tidak banyak bicara, apalagi dengan perempuan..


Greppp...


Memang benar, kekuatan laki laki itu lebih besar daripada perempuan, dengan cepat Anjar bisa menarik tangan Erva dan memeluk nya. Kalau dipikir pikir, hari ini Anjar seperti orang gila, yang mana memang sangat tergila gila dengan tubuh Erva dan ingin memeluk nya.


"Mas mau apa?? ini di Rumah Sakit, jangan mesum!!"


Meskipun ada sedikit rasa, tetapi Erva tidak mau bernasib yang tidak baik dengan melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan nya.


"Kenapa takut?? makanya..jangan meledek...atau kamu akan berakhir satu ranjang yang sama dengan aku...."


"Eh ..."


Setelah mengucapkan itu, Anjar melepaskan pelukan tubuh Erva dan meninggalkan Erva yang masih mematung karena ucapannya.


Nah, benar sekali kalau sikap laki laki itu memang susah untuk dicerna...baru saja bersikap romantis dan bikin cemas, eh akhirnya meninggalkan nya seorang diri. Memang benar benar gila Dokter es itu.


Tidak mau ditinggal sendirian ditempat yang tergolong sepi, Erva juga langung berlari dan mengejar Anjar....hingga mereka berdua masuk ke dalam lift dengan tangan Anjar yang sudah memegang tangan Erva.

__ADS_1


__ADS_2