Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Kepikiran


__ADS_3

"Beb.....", sapa Mona yang kini sudah sampai di kantin. Gadis itu langsung saja menarik kursi dan duduk di depan Erva, dengan pandangan matanya mengarah ke Erva yang saat ini jari jemarinya masih berkutat di laptop.


"Bab...beb..bab...beb...", ujar Erva sedikit sinis.


Entah mengapa ia tidak menyukai panggilan itu, padahal nama tengahnya juga Beby, jadi wajar saja kalau ada yang manggil beb....


"Sadis amat Mak....Mak Lo aja enggak kayak gini....Napa?? teringat Dokter Keenan yang ganteng nya enggak ketulungan itu???"


Mona tau betul kenapa Erva jadi sensi, yah...memang panggilan itu adalah panggilan kesayangan nya untuk Erva... tetapi... semua sudah berlalu...jadi... mungkin, itu hanya mengingatkan Erva saja dengan apa yang sudah pernah terjadi antara Erva dengan Dokter Keenan.


"Sialan!!!"


Erva melempar tatapan tajam ke arah Mona, meksipun sebenarnya apa yang dikatakan oleh Mona ada benarnya, memang Dokter Keenan itu ganteng dan lebih ganteng dari Dokter Anjar, Erva akui itu.


"Hahahaha...marah, malahan ketahuan kalau Lo masih cinta dia..."


"Eh mulut Lo ya, jangan sebut nama dia pagi ini, gue males dengerin nya."


"Kenapa?? dan tumben Lo sudah ada di sini, enggak sarapan dirumah??"


Mona tidak menanggapi apa yang barusan di ucapkan oleh Erva, memang kadang kadang mulut Erva tidak bisa dikontrol kalau sudah bicara dan tidak ada rem nya sama sekali.


"Cerita nya panjang, sepanjang kisah cinta gue yang endingnya enggak banget...."


Erva menghela nafas panjang, kenapa kalau sudah menyangkut Keenan hatinya jadi porak poranda begini...bukan masih cinta banget... meksipun rasa itu masih ada walaupun hanya sedikit... tetapi....untuk kembali lagi pada Keenan , Erva tidak akan pernah mau dan tidak mungkin.


"Bentar, gue ambil makan dulu..sudah lo pesenin kan??", Ayka mengangguk dan membuat Nona tertawa hingga langsung berdiri untuk mengambil makanan yang masih ada di penjual kantin itu.


Melihat tingkah Mona, Erva hany menggelengkan kepala nya, ia sedari tadi masih fokus ke laptop dan jug ponsel nya, entah mengapa pikir Erva terpecah dengan Keenan.


Kenapa tidak nelpon?? kenapa tidak ada kabar?? apa tidak jadi jemput aku??


Tidak mungkin Keenan seperti ini. Selama Erva mengenalnya....Keenan adalah laki laki yang tidak pernah ingkar janji, selalu tepat waktu jika berucap.... terkecuali kejadian yang ada hubungan nya dengan Amira ..itu beda kasus


Tetapi nyatanya , kenapa sampai saat ini...laki laki itu tidak ada kabarnya sama sekali...apa dia sakit atau kenapa kenapa?? pikir Erva.


Kamu memang bodoh Erva fokus fokus..ngapain masih memikirkan laki laki brengssekkkk seperti Keenan.


Erva menghela nafas panjang, ia kali ini aku fokus dengan dunianya sendiri dan tidak mau memikirkan apa apa lagi, terutama Keenan.

__ADS_1


"Fokus dan jangan memikirkan laki laki itu Er.."., gumam Erva.


"Siapa?? Keenan atau Anjar??", tanya Mona yang sudah duduk lagi didepan Erva dan tidak sengaja mendengar apa yang dikatakan oleh Erva barusan.


"Makan dulu ..gue ceritain...dua duanya bikin gue pusing...", ujar Erva.


"What?? dua duanya?? bagi satu kalau pusing....", ledek Mona.


"Sok..ambil lah ..."


Dua laki laki yang datang hampir diwaktu bersamaan itu, membuat Erva pusing dan juga galau. Bukan masalah cinta, tetapi kelakuan nya yang bisa dikatakan kelau sudah tidak wajar lagi.


"Ogah....tapi kalau Dokter Anjar, boleh lah...."


Erva menggeleng, sejenak ia memikirkan tentang Dokter Anjar, yang mana malahan mengingatkan pada pertemuan nya kemarin. Dan juga Erva teringat dengan permintaan Dokter Anjar yang rada rada nyebelin tapi Erva selalu di buat tersenyum jika mengingat nya.


"Jangan yang itu, dia tidak cocok dengan Lo... seleranya tinggi.", ucap Erva menegaskan, seolah olah ia tau bagaimana selera Dokter Anjar, padahal ada maksud yang tersembunyi.


"Jangan yang itu??? hayo? gue malahan tambah curiga dengan Lo!!!"


Astaga..ngomong apa aku barusan.....


Tanpa sadar, ucapan Erva membuat Mona tau bagaimana perasaan sahabatnya itu dengan Dokter Anjar, dan dari ucapan Erva barusan..sudah membuktikan kalau Erva memang mempunyai perasaan khusus dengan Dokter ganteng tetapi dingin itu.


"Astaghfirullah...gue alim sayank....."


Mona tertawa, melihat ekspresi wajah Erva sudah kentara sekali, kalau sesungguhnya Erva tidak rela jika Dokter Anjar menjadi miliknya....


"Ya sudah makan kalau gitu, habiskan dulu nanti gue cerita...karena cerita nya panjang..."


Mona mengangguk, selain lapar .. ia juga ingin mendengar cerita dari Erva yang nampaknya sangat serius sekali , lagipula ia juga ingin cerita dengan Erva yang mungkin juga tidak kalah serius nya dengan apa yang akan Erva ceritakan.


...*****...


"Kemarin kan gue ketemu dia...", ujar Erva yang memang tidak langsung ke inti cerita nya.


"Pagi itu sebelum masuk kuliah kan??", Erva mengangguk.


"Pulangnya gue juga dianterin sama dia lagi, dan dia bilang kalau malam nya mau ke rumah..katanya mau minta maaf sama Papah Mamah, mau melamar dan nikahin gue dan bla bla bla banyak banget yang intinya mengarah ke sana....."

__ADS_1


"What?? seriusan???"


Erva memang kemarin bilang ke Mona kalau ketemuan dengan Keenan, tetapi tidak cerita tentang hal itu, lebih tepatnya mungkin Erva lupa.


"Iya, dan ternyata..Sore nya dia datang....*


"Astaga!!!"


Mona menutup mulut nya, ia tau kalau Keenan itu nekad tetapi.. tidak pernah berpikir sampai sejauh itu mau ke rumah dan nemuin Papahnya Erva, mengingat perbuatan nya yang dulu...yang membuat keluarga Erva sakit hati dan marah besar...apa masih punya malu laki laki itu datang ke sana? pikir Mona seperti itu.


"Sore?... sebentar...bukan nya Lo telpon gue berulang kali?? dan sorry enggak gue angkat....ada urgen..dan ini yang mau gue bilang, tetapi Lo dulu ya cerita...."


"No problem.....dan akhirnya dia datang...awalnya gue biarin aja kan...sudah gue usir dan gue suruh pulang tetapi...dia enggak mau ..gue kesal, akhirnya gue masuk lagi ke kamar...dan... hujan sore itu....gue ingat dia, hingga ...."


"Nekad banget tuh orang , gila!!!!"


Mona sendiri kaget dengan apa yang dikatakan oleh Erva, apalagi Erva ceritanya sangat mendetail dan lengkap, termasuk ancaman Keenan kepada Erva.


"Jadi, Lo berangkat pagi hanya demi menghindari dia??"


"Iya, gue semalam kepikiran, bukan karena masih cinta sama dia..tapi takut saja dengan dia saat ini...."


"Sebaiknya, Lo memang enggak jaga jarak sama dia... takut nya kalau Lo semakin menghindar....dia nya tambah nekad saja."


"Lo benar, gue juga mikirnya begitu...tapi sumpah.. enggak banget dia sekarang... mengerikan....."


Erva teringat kembali apa yang akan dilakukan oleh Keenan dan juga ucapan ucapan Keenan yang seakan akan mengancam nya... meskipun ia tidak takut, tetapi...Erva harus waspada.


"Dan Lo tadi ke rumah ,apa enggak ketemu sama dia???", tanya Erva lagi penasaran.


"Enggak... Satpam, bibik bahkan kedua orang tua Lo enggak bilang apa apa padahal mereka kalau ada temen kita yang datang pasti sudah ngomong duluan.",


Jawaban dari Mona membuat Erva berpikir lagi, ke mana Keenan sebenarnya....kenapa dia tidak menjemput Erva, padahal semalam sudah bilang kalau ingin ke rumah.


"Atau jangan jangan dia sakit say???"


"Sakit???"


Tambah berpikir lagi lagi Erva....semuanya tidak ada yang tidak mungkin..apalagi semalam ia menyaksikan sendiri kalau Keenan kedinginan, yah meskipun sudah berganti baju.

__ADS_1


Apa mungkin dia memang sakit?? Ya Tuhan..kenapa aku jadi segalau ini?? dan lagi ...dia juga terluka dibagian wajah dan juga perut nya karena pukulan Papah ..


Pikiran Erva sudah ke mana mana, ia bahkan sudah berpikir yang buruk tentang Keenan saat ini, yang mana memang Keenan tidak pernah seperti ini...


__ADS_2