Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Semoga


__ADS_3

"Er ikut Mamah ya?",


Mama Hana menghampiri Erva yang saat ini sedang berada di ruang tengah hanya duduk-duduk saja sembari menonton televisi.


Erva menoleh ke arah mamahnya, "Ikut ke mana Mah?"


"Arisan, anterin Mamah arisan dari pada kamu berdiam diri di sini tidak ngapa-ngapain. Lagian apa tidak bosan sudah seminggu ini kamu hanya di rumah , kuliah... rumah ... kuliah saja."


Ya sejak kejadian itu Erva lebih banyak diam di rumah. Ia hanya keluar kalau kuliah dan jalan sebentar dengan Mona.


Perihal persoalannya dengan dokter Keenan, selama satu minggu ini mereka masih baik-baik saja tetapi Erva sudah membatasi diri. Ia tidak gampang menerima ajakan keluar dari dokter Keenan dan lebih memilih untuk diam di rumah saja.


"Males ah mah enak di rumah nonton TV."


Mama Hana mendekati Erva lalu duduk di samping Erva yang saat ini memang lagi asik menonton film kartun kesukaannya.


"Ayolah Er, temenin Mamah, Lagian tidak baik loh di rumah terus nanti kamu bisa jamuran kalau lama-lama nggak keluar rumah."


Diam sebentar, nampaknya Erva berpikir apakah ajakan mamahnya perlu dipertimbangkan atau tidak.


"Baiklah aku mandi dulu Mah setelah itu aku langsung turun."


Setelah dipikir-pikir Erva menerima ajakan Mama Hana untuk ikut ke arisan lagi pula ia juga tidak ngapa-ngapain di rumah dan sepertinya Mona juga hari ini ada acara sehingga mereka tidak bisa bertemu untuk sekedar ngobrol.


Lagi pula juga tidak ada salahnya sekali-sekali keluar tidak angkrem terus di rumah , ya meskipun nanti keluarnya juga bertemu dengan emak-emak yang sangat rempong seperti mamahnya.


Tidak lama setelah Erva mandi dan juga dandan gadis itu turun ke bawah menghampiri Mama Hana yang sudah siap untuk pergi arisan.


"Kamu aja yang bawa mobil, Pak Ujang lagi nggak enak badan."

__ADS_1


Tanpa membantah Erva langsung mengambil kunci mobil kemudian bergegas keluar untuk segera melajukan mobilnya ke tempat arisan yang sudah diberikan alamatnya oleh Mama Hana.


Tempat di mana Mama Hana mengadakan arisan hari ini bukan di sebuah mall ataupun di restoran tetapi di sebuah rumah mewah yang tentunya Erva juga baru pertama kali ini datang ke sana.


"Lama nggak Ma?kalau nggak aku tunggu di mobil saja."


Mama Hana menggeleng,kemudian beliau tersenyum lalu melihat arah Erva.


Mana ada arisan cuma sebentar, kamu tau sendiri kan kalau mama pergi arisan itu bisa sampai 2 atau 3 jam , lagian ngapain tunggu di mobil... ikut mama masuk , di sana juga banyak anak-anak seumuran kamu yang juga ikut mengantarkan mamanya."


Oke tidak membantah lagi Erva menuruti saja apa yang dikatakan Mama Hana lagi pula untuk apa dia hanya berdiam diri di dalam mobil lebih baik juga ikut masuk ke dalam meskipun nanti di sana Erva harus tutup telinga karena mendengar obrolan-obrolan dari mama mama temennya Mama Hana yang selalu membuat telinganya panas, tetapi tidak masalah ia sudah menyiapkan headset untuk menyumpal telinganya.


Dan juga lumayan pasti makanan di sana enak-enak dan tentunya ada yang yang pedas juga, kapan lagi mau makan sambel kalau tidak di tempat seperti ini.


"Mama ke teman mama dulu kamu bisa jalan-jalan di sekitar sini atau langsung makan saja, tempatnya ada di sana.", tunjuk Mama Hana ke sebuah ruangan yang memang di sana sudah banyak anak-anak muda yang berkumpul dan pastinya sudah disediakan makanan di sana.


"Iya mah"


Beberapa menit kemudian, setelah Erva bosan ngobrol-ngobrol dengan teman sebayanya perutnya pun terasa lapar, ia melihat makanan yang berwarna merah di atas meja langsung saja menelan salivanya.


"Akuu ambil makan dulu, kalian sudah makan belum?", ucap Erva kepada salah satu gadis yang saat ini berada di sampingnya.


"Boleh yuk , kita makan dulu."


Dan benar saja setelah berada di depan meja yang di atasnya sudah terdapat beberapa macam makanan, Erva tersenyum senang.


Bukan karena ia tidak pernah makan makanan seperti itu tetapi melihat warnanya yang merah sudah bisa pastikan kalau rasanya juga sangat pedas.


...****************...

__ADS_1


Sedangkan di tempat lain, seorang laki-laki saat ini sedang berada di kamarnya dan ditarik paksa oleh mamahnya untuk beranjak dari tempat tidur.


"An bangun!!"


"Mah aku libur , males bangunnya nanti saja."


Sama seperti yang dilakukan oleh Erva, sudah satu minggu ini Anjar juga mengurung diri di kamar, kalau tidak ada pekerjaan di rumah sakit ia lebih memilih untuk langsung pulang.


Apa yang ia rasakan saat ini, hatinya bergejolak ... ingin sekali menghubungi Erva tetapi rasa gengsinya melebihi segalanya dan yang dilakukan Anjar selama ini hanya diam sambil memandangi wajah cantik yang ada di fotonya.


"Anterin Mama arisan kebetulan sopir sedang menemani papa untuk keluar kota."


Arisan??


Anjar menggeleng, ia tidak mungkin menemani mamanya arisan terlebih di sana pasti mamanya akan menjodohkan dirinya dengan anak dari teman-teman arisan.


Dan itu yang membuat Anjar lebih memilih mengurung diri di dalam kamar saja daripada ikut mamahnya kemanapun, bukan hanya ke tempat arisan saja.


"Ayolah An, kamu sudah satu minggu ini di rumah terus apa tidak bosan??"


Mama Risa begitu prihatin dengan Anjar ia sedikit banyak sudah tahu tentang apa yang dialami oleh putranya itu.


Sama seperti dokter Riko, Mama Risa juga sudah menyarankan untuk menghubungi Erva dan menemui gadis itu juga menanyakan apakah berita itu benar atau tidak tetapi sayang sekali Anjar tidak mengutusnya dan hanya diam saja di rumah.


Mengajak Anjar arisan bukan karena ingin menjodohkan lagi putranya dengan teman-teman mama Risaa tetapi ia tau di sana ada Mama Hana mamanya Erva dan siapa tahu juga Mama Hana membawa Erva untuk ikut bersamanya ke tempat arisan karena ini adalah hari Minggu pastinya Erva juga libur kuliah.


Siapa tahu di sana Erva dan Anjar akan bertemu dan mereka berdua bisa ngobrol dari hati ke hati.


"Oke aku siap-siap dulu, mama tunggu di bawah."

__ADS_1


Tidak tega melihat mamahnya memohon dan lagi tidak mungkin juga mama Risa pergi sendirian, Anjar akhirnya memutuskan untuk menerima ajakan dari Mamah Risa dan pergi ke acara arisan.


Semoga yang aku rasakan memang benar kalau di sana nanti kamu bisa bertemu dengan Erva, batin Mamah Risa.


__ADS_2