Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Sudah Tidak....


__ADS_3

Kembali lagi Keenan merenungkan apa yang diucapkan oleh Anjar. Kalau Anjar tidak mendekati Erva maka ada laki-laki lain yang akan mendekati Erva dan tentu saja bukan hanya dirinya juga yang ingin memperistri Erva.


Sejenak Keenan berpikir, bagaimana caranya supaya Dokter Anjar yang di depannya ini bisa menjauhi Erva tanpa ia melakukan cara-cara yang tidak wajar.


"Bagaimana Dokter Keenan, apa yang mau Anda bicarakan lagi?"


Sepertinya sudah cukup lama Anjar dan Keenan berada di sana tentunya tidak ingin Erva nanti curiga apalagi sampai menyusul ke sini.


Bukannya Anjar takut kalau Erva nanti akan memihak kepada Keenan ataupun Keenan akan berkata yang bukan-bukan tentang dirinya kepada Erva tetapi ia tidak mau kalau kondisi fisik Erva terganggu gara-gara ulah Keenan saat ini.


"Kalau tidak ada yang dibicarakan lagi, aku permisi dulu kasihan Erva menunggu di sana."


Tidak ada jawaban dari Dokter Keenan yang membuat Anjar memutuskan untuk pergi saja dari sana toh juga tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, semuanya sudah jelas.


Karena kesimpulannya Erva adalah gadis bebas yang belum terikat oleh siapapun juga sehingga Anjar berhak untuk mendekati bahkan memiliki gadis itu.


"Erva sudah tidak perawan."


Jlebb...


Anjar yang sudah pergi meninggalkan Keenan dan baru saja melangkahkan kakinya beberapa langkah langsung saja menghentikan langkahnya sesaat ketika ia mendengar ucapan dari Dokter Keenan.


Laki-laki itu berbalik kemudian menghampiri Dokter Keenan karena ingin mendengar lebih jelas lagi apa yang baru saja dikatakan oleh Keean.


Sementara Keenan tersenyum, entah mengapa tiba-tiba ide itu muncul di kepalanya dan mengatakan langsung kepada Anjar. Tanpa pertimbangan matang-matang dan bahkan kalau ucapan ucapannya ini terdengar oleh Erva maka sudah bisa dipastikan kalau Erva akan membenci dirinya karena sudah mengatakan yang tidak tidak.


"Erva sudah tidak perawan,.dia sudah tidur denganku saat kami masih berhubungan bukan hanya sekali tetapi sudah beberapa kali." ucap Keenan lagi.

__ADS_1


Sepertinya laki-laki itu ingin menjelaskan secara detail tentang kebohongan yang baru saja diucapkan bahkan ekspresinya sangat meyakinkan dan tidak ada salah sedikitpun karena merasa telah memfitnah Erva.


"Dan pastinya kamu tidak mau kan dengan barang bekas." lanjut Kenan lagi yang melihat ekspresi Anjar begitu kecewa mendengar ucapannya bahkan laki-laki itu kini hanya diam saja tanpa berbicara sepatah kata pun.


Anjar tersenyum kecut, ia menatap tajam ke arah Dokter Keenan. Meskipun hatinya saat ini sedang bergejolak tetapi ia tidak mau untuk langsung percaya dengan ucapan Dokter Keenan.


Lagi lagi apa yang diucapkan oleh Dokter Keenan tidak masuk akal di pikiran Anjar. Ia tahu siapa dan bagaimana Erva, gadis itu tidak mungkin menyerahkan dirinya begitu saja kepada laki-laki lain meskipun status hubungan mereka dulunya adalah tunangan.


Apalagi beberapa waktu yang lalu Keenan juga sudah memberikan kabar palsu kepada dirinya, bukan hanya kepada dirinya saja tetapi pada masyarakat luas dengan mengatakan kalau dia sudah bertunangan dengan Erva dan akan melangsungkan pernikahannya, tetapi sampai saat ini berita itu tidak benar.


Untuk masalah ini Anjar tidak akan percaya begitu saja dengan Dokter Keenan, terlebih lagi laki-laki itu memang sengaja ingin membuat dirinya mundur untuk mendapatkan Erva.


"Aku tidak peduli bagaimana masa lalu Erva, mau dia sudah perawan atau pun tidak yang jelas aku sangat mencintainya dan aku yang akan menikahinya."


"Aku harap kamu harus menjauhi Erva dan biarkan Erva memilih, dia memilih aku atau kamu dan pastinya aku sangat yakin kalau Erva saat ini akan memilih aku."


Deg


Tapi kenyataannya tidak, bahkan Dokter Anjar malah mengancamnya dan meminta untuk dirinya tidak mengusik Erva lagi apalagi merebut Erva dari tangannya.


Tangan Dokter Keenan kembali terkepal, ini rasanya ia memukul wajah Dokter Anjar dan juga mulutnya yang berbicara akan menusuk ke dalam hatinya.


Tidak terima kalau Erva lebih memilih Dokter Anjar daripada dirinya. dan ia akan melakukan segala cara supaya Erva bisa kembali lagi dengan dirinya saat ini.


Sedangkan Dokter Anjar menggeleng pelan, ia sudah meninggalkan tempat di mana pertemuannya dengan Dokter Keenan.


Tidak sama sekali percaya dengan apa yang dikatakan oleh Dokter Keenan dan sebisa mungkin ia tidak akan menyampaikannya kepada Erva takut kalau gadis itu malahan marah-marah dan berbuat nekad kepada Keenan.

__ADS_1


"Maaf lama, bagaimana mau nambah atau mau pulang saja?"


"Tidak Mas, pulang saja ya aku ngantuk."


Meskipun ia tidak tahu bagaimana pola tidur gadis itu tetapi ia senang jika memang Erva hanya ingin tidur, berarti tidak sempat keluyuran kemana-mana yang pastinya ia juga tahu bagaimana pertemanan dari gadisnya itu yang tidak jauh-jauh hanya bersama dengan Mona, sahabatnya dan juga mainnya juga tidak kemana-mana, paling juga ke cafe dan juga ke mall.


"Oke mau beli sesuatu dulu apa nggak?"


"Nggak usah Mas, perutku sudah kenyang banget. Lagian kalau kemana-mana juga tidak enak apalagi dengan perut yang kekenyangan seperti ini."


"Oke, aku bayar dulu ya."


Erva mengangguk. Ia kemudian memasukkan ponselnya ke dalam tas dan menunggu Dokter Anjar selesai melakukan pembayarannya.


Tiba-tiba arah pandang matanya terhenti ketika melihat Dokter Keenan yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Laki-laki itu juga melihat Erva dan tersenyum manis kepada Erva. Tetapi aneh saja mengapa Dokter Keenan juga keluar dari kamar mandi di mana Dokter Anjar juga baru saja keluar dari sana. Apakah ada sesuatu diantara mereka, pikir Erva seperti itu.


Tidak mau berprasangka buruk, Erva memilih untuk melepas pandangan matanya dari Dokter Keenan yang saat ini sudah dapat dipastikan kalau Dokter Keenan masih melihat arahnya.


Erva juga tidak lupa tersenyum, bukan berarti ia tidak bisa menerima Dokter Keenan lalu ia membenci laki-laki itu, tidak seperti itu.


Karena sejak awal hatinya sudah memaafkan Dokter Keenan tetapi untuk kembali lagi itu tidak akan pernah Erva lakukan.


"Ayo dek."


Erva mengangguk, kemudian berdiri dari tempat duduknya dan langsung saja keluar dari restoran itu untuk segera menuju ke parkiran.

__ADS_1


Dan benar saja, apa yang dilihatnya tadi memang Dokter Keenan, karena ia melihat mobil Dokter Keenan yang masih terparkir tidak jauh dari mobil Dokter Anjar saat ini berada.


Ingin sekali Erva menanyakan perihal Dokter Keenan kepada Dokter Anjar, tetapi ia urutkan... nanti saja mungkin kalau sudah di perjalanan.


__ADS_2