
Sekali lagi Erva tidak bisa berbuat apa-apa sama seperti yang dokter Anjar pikirkan ia ingin menghampiri laki-laki itu tetapi tidak bisa.
Mereka berdua hanya saling pandang saja dan tidak berniat atau berkeinginan untuk menghampiri dan tentu saja pandangan mata mereka sama sekali tidak dilihat oleh Dokter Keenan.
Beberapa menit kemudian, makanan yang ada di depan meja sudah habis, baik Keenan maupun Erva sudah menghabiskan semua menu yang ada di depannya.
Mereka mengobrol-ngobrol sebentar, memang niatnya tidak ingin langsung pulang karena belum malam juga masih ada beberapa menit untuk ia habiskan berdua.
Tetapi tiba-tiba Erva merasa kalau perutnya ada masalah, perih, melilit tetapi ia tidak berani untuk mengatakan kepada dokter Keenan.
"Kak, aku ke toilet sebentar ya pengen pipis", ujar Erva pamit kepada dokter Keenan.
Bukan sepenuhnya berbohong tetapi kenyataannya memang begitu selain ia merasakan perih di dalam perutnya gadis itu juga ingin pipis.
Keenan mengangguk ia juga tersenyum lalu mengusap lembut rambut Erva dan ternyata kejadian itu juga dilihat oleh dokter Anjar yang masih setia untuk memperhatikan gerak-gerik Erva dengan dokter Keenan.
Dengan buru-buru Erva menuju ke toilet, ia sudah tidak tahan lagi rasa perih dan juga ingin pipis melanda dirinya saat ini.
Lega, setelah Erva mengeluarkan pipisnya ia kemudian berdiri di depan cermin membenarkan rambutnya yang sempat diacak oleh dokter Keenan tetapi juga ia sadar kalau saat ini masalahnya bukan hanya sekedar ingin pipis tetapi juga perutnya yang semakin perih dan juga sakit.
"Bagaimana ini aku tidak bawa obat itu?"
Erva tau kalau ini adalah bencana baginya padahal sudah diwanti-wanti oleh dokter Anjar untuk tidak makan makanan yang pedas tetapi nyatanya sore ini ia sendiri yang melanggar.
Tidak tahu harus berbuat apa Eva di depan cermin hanya mengeringis dan memegangi perutnya andai saja ia mengingat pesan yang diberikan oleh dokter Anjar pastinya kejadian ini tidak seperti ini.
Sudah hampir sepuluh menit Erva di dalam kamar mandi, ia tidak ingin Keenan menyusulnya dan mau tidak mau ia memutuskan untuk keluar saja dan juga ingin meminta kepada dokter Keenan untuk pulang tanpa harus melanjutkan obrolan yang mungkin akan semakin lama dan membuat perutnya semakin sakit.
__ADS_1
Deg
Baru saja Erva keluar dari toilet, lagi-lagi dikagetkan dengan penampakan seorang laki-laki yang sangat ia kenali.
"Mas?", sapa Erva.
Anjar r yang disapa seperti itu hanya diam saja, ia kemudian merogoh sesuatu di saku celananya dan memberikannya kepada Erva, begitu juga dengan sebotol air mineral yang ada di tangannya yang baru saja ia beli dari restoran itu.
"Minumlah.", ucap Anjar dengan wajah datar nya.
Ia tidak tahu harus bagaimana, mau menolak tetapi kenyataannya perutnya semakin perih, mau diterima tetapi rasanya canggung. Ia yang salah karena sudah melupakan pesan dari dokter Anjar dan mengakibatkan perutnya jadi sakit seperti ini.
"Cepat minum kalau tidak mau kamu masuk rumah sakit lagi.", ucap Anjar sedikit memaksa dengan tatapan mata yang sangat tajam sehingga membuat Erva mau tidak mau mengambil obat dan juga minuman yang sudah disodorkan kepada nya.
Anjar masih berada di depan Erva, ia melihat gadis itu minum dan memang sengaja tidak akan meninggalkan Erva sebelum gadis itu minum obatnya terlebih dahulu.
Deg
Ucapan Anjar membuat Erva menatap tajam ke arah Anjar hingga membuat kedua pasang mata mereka saling bertemu saling menatap dengan tujuan yang entah.
"Dia buk_..."
"Permisi aku tinggal Jangan lupa minum putih yang banyak dan nanti setelah 4 jam obat yang berwarna kuning yang masih kamu simpan harus kamu minum ingat itu!"
Belum sempat Erva menjelaskan tentang siapa Keenan, ucapannya sudah dipotong oleh Anjar dan setelah itu Anjar sudah pergi meninggalkannya.
Erva a hanya diam, ia tidak tahu harus berkata apa lagi yang jelas perasaannya saat ini lebih baik meskipun pertemuannya dengan dokter Anjar tidak sengaja dan dengan ucapan dokter Anjar yang sangat jelas. Tapi ia yakin, kalau apa yang dikatakan oleh dokter Riko itu adalah benar, kalau dokter Anjar sebenarnya juga sangat mencintainya.
__ADS_1
Dan benar saja setelah ia meminum obat yang diberikan oleh dokter Anjar perutnya sudah agak mendingan. Memang benar seandainya ia tidak memakan makanan itu pasti perutnya tidak akan sesakit ini tetapi dengan ia memakan makanan itu ia malah tahu kalau sebenarnya dokter Anjar memang mencintainya dan juga sangat perhatian dengannya.
Erva menghela nafas, ia kembali menetralkan detak jantungnya yang sadari tadi tidak berhenti dan juga melihat jam yang sedang melingkar di tangannya kalau memang sudah saatnya pulang.
Tidak seperti tadi, saat ini Erva keluar dengan wajah yang berseri-seri entahlah bukan karena ia lega sudah pipis tetapi karena pertemuannya dengan dokter Anjar yang sedikit berkesan meskipun melihat dokter Anjar tetap dingin padanya.
"Kak pulang yuk sudah hampir malam nanti aku dicariin mama."
"Oh ya nanti Mas yang bilang sama Mama kalau kamu makan dulu sama Mas."
Terserahlah, mau Keenan ngomong apa mau cerita sama mama seperti apa Erva sepertinya tidak peduli karena hatinya saat ini lebih lebih senang dan tidak memperdulikan apa yang dikatakan oleh Keenan lagi.
Sedangkan Keenan, laki-laki itu tersenyum ... ia bahagia satu hari ini bisa bersama dengan Erva dan melihat Erva bahagia seperti ini ia yakin kalau Erva mulai luluh dengannya karena berhasil membawa gadis itu untuk makan siang di restoran Jepang tempat mereka pertama dulu makan di sana.
"Mau mampir nggak Beb ke mana gitu, mau beli kue buat mama atau camilan untuk papa?"
Ya, mungkin di dalam pikiran Keenan setelah ia berhasil mendapatkan hatinya, ia juga harus berhasil meluluhkan hati kedua orang tua Erva lagi dan tentu saja malam ini ia tidak akan melewatkan kesempatan dan akan membawakan oleh-oleh untuk kedua orang tua Erva.
"Tidak perlu, Kakak sudah mengantarkan aku pulang dengan selamat saja mereka sudah senang , yuk keburu malam."
Tentu saja Erva tidak ingin mampir-mampir, lagi juga ia harus cepat sampai di rumah sudah tidak tahan dengan perutnya dan yang ingin berbaring saja.
Di sepanjang perjalanan, Erva malah senyum-senyum sendiri yang membuat Keenan merasa aneh kenapa gadisnya tiba-tiba seperti itu.
"Kamu senang sekali Beb, ada apa? apakah senang pergi makan bersama Mas sore ini?"
"Aku senang dan terima kasih ya Kak sudah mengajak aku ke restoran Jepang."
__ADS_1
Ya mau tidak mau Erva harus mengucapkan terima kasih kepada Keenan karena kalau tidak diajak Keenan ke restoran Jepang ia tidak berjumpa dengan Anjar dan juga tidak tahu bagaimana perasaan laki-laki itu sebenarnya kepadanya.