
Dua Minggu Kemudian.
Sudah dua Minggu Erva berada di Jepang, tidak ada orang tua ataupun sahabat yang menemani nya.
Bukan tidak mau, atau mereka tidak perhatian pada Erva, tetapi...Erva memang ingin menyendiri, menenangkan hati dan pikiran nya dari masalah yang saat ini menimpa nya.
Sudah lebih baik? Alhamdulillah...jika di tanya jawab nya seperti itu. Mau bagaimana lagi, memang nyatanya melupakan kenangan manis bersama dengan Keenan itu tidak lah mudah, meskipun hanya beberapa bulan saja ia mencintai laki laki itu.
Hampir dua Minggu Erva tidak membuka sosial media, bahkan ia juga sengaja mengganti nomer ponsel nya, dan hanya kedua orang tuanya, Romi dan Mona saja yang tau, selebihnya.. tidak ada lagi.
Ting...
Erva mengambil ponsel nya, malam ini entah mengapa dadanya kembali terasa sesak dan pikiran nya ke mana mana.
Entah apa yang terjadi, tetapi ..rasanya ada perasaan yang sangat mengganjal hati dan pikiran nya., begitu sesak hingga membuat mata nya berkaca kaca.
[I'm sorry, bukan maksud gue memberitahukan ini sama lo, gue yakin. Lo adalah gadis yang tegar dan kuat, sabar say.....dia bukan laki laki yang terbaik untuk Lo..]
Erva membuka pesan yang baru saja dikirimkan oleh Mona, dan matanya melotot seketika manakala melihat sebuah undangan pernikahan.
Deg
Erva memegangi dadanya, air mata kembali mengalir membasahi pipi, bukan hanya itu... nafasnya sesak, seakan ia tidak mendapatkan pasokan udara lagi ini
Ini...ini yang terjadi, kenapa hati ku dari tadi gelisah dan pikiran nya tidak tenang....astaga...apa yang harus aku lakukan???
Erva membaca setiap kata yang ada di dalam undangan itu, dan ia lalu menggelengkan kepalanya manakala melihat tanggal pernikahan yang tertulis di sana.
Tanggal itu adalah di mana ia dan Keenan akan melangsungkan pernikahan, dan ternyata Keenan mengganti nya dengan wanita yang lainnya.
Tidak dapat dibayangkan bagaimana hancur nya perasaan Erva saat ini, pernikahan yang diimpikannya dan sudah diatur tanggal nya, malahan mempelai wanita nya di ganti.
"Akad nikah besok pagi jam delapan."
Erva membaca lagi tanggal dan jam berapa akad nikah akan dilangsungkan, dan ia segera mengecek aplikasi untuk memesan tiket pesawat jurusan Jakarta malam ini juga
__ADS_1
Dan ia juga menghitung dengan jarinya, jarak tempuh Jepang Jakarta yang harus ia lalui, apakah bisa sampai besok pagi sebelum jam delapan pagi.
Nekad?? memang iya, tetapi...Erva ingin sekali melihat Keenan dan Amira menikah, tidak untuk mengacaukan pernikahan mereka tetapi....untuk menyakinkan diirinya sendiri, kalau memang Keenan bukan lagi milik nya dan ia tidak akan berhenti berharap.
Sedikit lega, karena ia baru saja mendapatkan tiket untuk keberangkatan malam ini, dan tentunya.. baik orang tua maupun sahabat nya tidak ada yang tau kalau Erva besok bakalan pulang.
Bahkan, kedua orang tua Erva sengaja menyembunyikan semua dari Erva.
...***...
Setelah membicarakan kepada Oma dan Opanya, Erva pun segera mengemasi barang barangnya, setelah dua Minggu...ia menyendiri... akhirnya selesai sudah dan ia harus mengakhiri semua nya.
Kuat, dan tegar harus ada di dalam diri Erva saat ini, ia tidak akan bersedih lagi dengan kejadian yang menimpanya. Dan memang benar apa yang dikatakan Mona, kalau Keenan bukan lah laki laki yang baik untuk nya.
Tidak ingin merepotkan Oma dan Opanya, malam ini... Erva memilih untuk menyetop taksi saja dari kompleks perumahan elit milik Oma nya.
"Taksi...."
"Taksi....."
Erva kaget, karena bukan hanya ia saja yang menghentikan taksi itu dan akan masuk ke dalam, tetapi...ada seorang laki laki tampan yang tidak tau darimana asal usul nya tiba-tiba sudah ada di sampingnya.
"I wash the first to call the taxi."
(saya duluan yang memanggilnya taksinya."
Erva menggeleng, melihat laki laki itu dari atas ke bawah dengan mengerucutkan bibirnya.
"No, I was the one who Valles first, you just look for the other."
(Tidak, aku duluan yang manggil, kamu cari saja yang lainnya)
Laki laki itu menggeleng, juga memperhatikan Erva dengan tersenyum yang membuat Erva malahan bergidik ngeri sendiri.
"Astaga... kenapa dia melihat ku seperti itu, dasar menyebalkan!!", gumam Erva lirih tetapi...masih dapat di dengar oleh laki laki itu.
__ADS_1
"Dari Indonesia juga???"
Ucap laki laki itu, yang mana ia mendengarkan Erva dengan lancar mengucapkan bahasa Indonesia.
"Iya, Om??"
"Om?? astaga...apa aku setua itu?? umurku saja belum tiga puluh tahun loh!!", ujar laki laki itu yang seperti nya tidak terima dikatakan Om atau lebih tepat tua.
"Kan memang benar, lebih cocok jadi Om aku, lah ..kalau enggak mau di panggil Om, maunya apa??? dasar menyebalkan..."
"Bisa panggil sayank gitu....ah tapi sayank sekali, aku tidak punya waktu untuk berdebat dengan kamu gadis cantik....aku pakai taksinya ya, keburu telat dan ketinggalan pesawat...", ujar laki-laki itu lagi dan langsung membuka pintu untuk masuk kedalam taksi.
"Eh tunggu om, mau ke bandara...aku juga... bagaimana kalau barengan saja, tapi Om yang bayarin...", ucap Erva nyengir, Lumayan lah ..azas manfaat.
"Boleh lah, masuk cantik...aku tidak banyak waktu lagi..."
Tidak masalah bagi laki laki itu mau membayar ongkos taksi nya, yang paling penting ia harus sampai di bandara secepat nya supaya tidak ketinggalan pesawat.
Di dalam pesawat, kedua nya hanya diam saja...tidak sing tegur sapa atau saling kenalan dan tukar ponsel.
Erva sibuk dengan dunianya sendiri sedangkan laki laki itu juga sama, sibuk dengan ponselnya yang entah menelpon siapa.
"Iya iya Mah, Anjar sudah dapat taksi dan malam ini akan berangkat ke Jakarta. Mamah tenang saja...Anjar akan menetap di sana, seperti keinginan Mamah untuk mengurus Rumah Sakit peninggalan Papah.... sudah ya ...tunggu Anjar besok pagi di rumah...."
Rumah Sakit???
Mendengar kata Rumah Sakit, kembali jati Erva merasakan pilu, entahlah...rasanya ia trauma dengan Rumah Sakit, bukan karena penyakit nya tetapi... dengan orang nya.
Tidak mau bertanya, padahal penasaran juga...padahal laki laki di samping nya juga dengan tujuan yang sama yaitu Jakarta, dan jika dilihat lihat bukan seperti laki laki biasanya, bahkan penampilan nya pun sabat keren.
Beberapa menit kemudian, taksi sudah sampai di depan Bandara, Erva langsung saja bergegas turun dan menuju bandara...
"Makasih Om, aku dulu an!!"
Tanpa basa basi lagi, Erva bergegas meninggalkan laki-laki itu, ia pun hanya mengucapkan kata terimakasih saja, tanpa bertanya lagi walaupun sekedar basa basi.
__ADS_1
"Cantik sih, tapi jutek!! awas saja kalau bertemu lagi!!"