Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Seperti Orang Gila


__ADS_3

Obrolan mereka terhenti manakala hujan sudah reda dan sudah dipastikan kalau keadaan di luar sana juga sudah gelap. Dan Anjar berpikir untuk segera mengantarkan Erva pulang sebelum nanti hujannya kembali deras lagi.


Meskipun belum malam tetapi tidak mungkin kalau Anjar membawa Erva jalan-jalan terlebih dahulu apalagi langit masih mendung dan tentunya kemungkinan besar akan turun hujan lagi.


"Aku antarkan kamu pulang, sudah tidak hujan." ucap Dokter Anjar kepada Erva yang sekarang masih berada di cafe tetapi minuman mereka sudah habis semua.


"Iya Mas, aku ngantuk dan juga gerah ingin cepat sampai di rumah lalu mandi dan tidur." ucap Erva dengan tersenyum rasanya memang badannya sudah lengket semua.


Anjar tidak menjawab lagi, laki-laki itu langsung saja membayar makanan dan minuman yang sudah dipesan tadi kemudian mengajak Erva untuk keluar menghampiri mobil yang masih terparkir di seberang jalan.


"Masuklah nanti keburu hujan lagi."


Sudah sampai di samping mobil tetapi Erva masih saja berdiri di sana sehingga Anjar yang gemas langsung saja meminta gadis itu untuk masuk ke dalam mobil lalu ia sendiri juga langsung masuk dan mencoba menghidupkan mesin mobilnya.


"Ye hidup...." teriak Erva senang sekali ketika Anjar menyalakan mobilnya langsung hidup.


Tidak ada komentar sama sekali dari Anjar, laki-laki itu tersenyum sembari melihat ke arah Erva.


Meskipun ia rasa Erva masih terlalu kecil apalagi dengan sikap nya seperti itu, tetapi ia senang dan merasa tertarik dengan gadis yang saat ini sudah ada di sampingnya.


"Langsung pulang saja ya?"


Tidak seperti laki-laki pada umumnya yang mengantarkan Erva selalu meminta kemana saja dulu sebelum pulang tetapi Anjar, ia menginginkan kalau Erva langsung pulang saja dan tidak boleh mampir ke mana-mana.


"Iya Mas." jawab Erva yakin. Erva juga tidak ingin ke mana-mana, badannya sudah capek semua dan ingin segera beristirahat, lagi pula kasihan juga melihat Anjar yang pakaiannya sudah basah tentunya lebih basah dari dirinya saat ini.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan kedua anak manusia itu saling terdiam tetapi mereka sama-sama saling melirik,.entahlah kenapa keduanya tidak langsung mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya tetapi masih terus memendamnya saja.


Hingga mobil yang dikemudikan oleh Anjar sudah sampai di halaman rumah Erva.


"Mobilnya Mas bawa aja dulu, jam segini tidak ada taksi yang lewat. Lagian sebentar lagi hujan pastinya...."


Belum juga Anjar mengucapkan kata-kata nya untuk Erva, tetapi gadis itu seakan tahu kalau memang sebenarnya Anjar juga ingin mengatakan apa yang dikatakan oleh Erva.


Dan memang kebetulan tidak ada yang menjemput dan tentu saja ini merupakan wadah untuknya bisa mendekati Erva lagi.


"Iya, aku bawa dulu nanti setelah sampai rumah biar sopir yang mengantarkan mobil ini ke sini."


Tidak usah diantar Mas kalau bisa besok jemput aku saja...., ucap Erva yang hanya berani diucapkan di dalam hati saja tanpa harus diucapkan langsung kepada Anjar.


"Iya Mas gampang bisa diatur itu.," jawab Erva.


"Dan ini jaketnya aku cuci saja ya Mas."


Erva mengambil jaketnya Anjar yang diletakkan di sampingnya, ia tidak enak karena jaket itu sudah basah masa' tidak mengembalikan dalam keadaan bersih.


"Kalau repot tidak usah nggak apa-apa hanya kehujanan saja."


Anjar sudah melarang tetapi Erva tetap ngotot ingin mencuci jaket Anjar, akhirnya Anjar pasrah saja jaketnya dibawa oleh Erva.


"Maaf dek, aku langsung saja ya nggak usah masuk sudah hampir malam . Lagian bajuku basah semua nggak enak nanti."

__ADS_1


Belum juga Erva menawarinya untuk masuk ke dalam tetapi Anjar yang tahu diri langsung saja mengatakan seperti itu, di samping sudah malam Anjar juga tidak enak karena bajunya sudah basah dan pastinya tidak sopan juga bertamu dalam keadaan seperti ini.


"Iya mas tidak apa-apa dan terima kasih loh hati-hati di jalan."


Masalah Anjar tidak mampir, tidak masalah...karena juga memang yang dikatakan Anjar benar, tidak sopan... tetapi kasihan juga melihat laki-laki yang sudah membantunya malahan bajunya basah dan harus bertamu dulu di rumahnya.


Erva melambaikan tangan setelah Anjar melajukan mobilnya untuk keluar dari gerbang rumahnya. Erva memeluk erat jaket nya Anjar dan entahlah perasaan Erva jadi nyaman dengan kejadian seperti ini.


Erva masuk ke dalam rumah dan masih dengan memeluk ke jaket Anjar. Untung saja di rumah sepi karena kedua orang tuanya belum pulang, kalau tidak Erva akan diledek habis-habisan oleh kedua orang tuanya.


Sesampainya di dalam kamar, Erva bergegas untuk mandi terlebih dahulu setelah itu ia juga menuju ke tempat cuci pakaian dan bukan memasukkan pakaian Anjar ke dalam mesin cuci tetapi ia cuci sendiri dengan tangannya.


Hingga asisten rumah tangga yang melihatnya jadi menggelengkan kepala karena tidak biasanya Erva mencuci pakaian sendiri terlebih yang asisten rumah tangga lihat itu adalah sebuah jaket, jaket laki-laki tentunya.


Asisten rumah tangga itu tidak banyak berkomentar ia melihat Erva yang senyum-senyum sendiri saja sudah bahagia lalu meninggalkan Erva dan kembali mengerjakan pekerjaannya di dapur.


Sedangkan Anjar, setelah keluar dari gerbang rumahnya Erva, laki-laki itu tersenyum sendiri.


Entah kenapa hari ini ia begitu senang padahal tadi sewaktu diajak berangkat oleh Mamahnya Anjar malas-malasan tetapi setelah pulang mengapa sikapnya berubah.


Sepanjang perjalanan Anjar tersenyum bahkan kalau orang yang melihat akan heran mengapa laki-laki itu bisa tersenyum padahal setiap hari mukanya selalu datar,.tidak ada senyuman sedikitpun.


"Aku bodoh kenapa tidak dari dulu aku tanyakan kejelasan tentang berita itu kenapa baru sekarang Aku berani menanyakannya..... memang cinta... beginikah rasanya jatuh cinta itu..?."


Anjar menggeleng pelan. Entahlah ia saat ini disebut orang gila juga tidak apa-apa karena memang benar-benar yang dirasakannya seperti orang gila senyum-senyum sendiri ketika mengingat pertemuannya dengan Erva dan saat berdua dengan gadis cantik itu.

__ADS_1


Tidak dipungkiri kalau Anjar benar-benar bertekad ingin memiliki Erva bahkan ia sudah berencana dalam waktu dekat ini akan melamar Erva dan langsung menikahinya, tidak tunggu lama lagi keburu nanti ada yang menyerobot untuk bisa memiliki Erva.


Sesampainya di rumah, Anjar langsung saja memasang muka seperti biasa, ia tidak mau Mamahnya tiba-tiba curiga dengan ekspresi wajahnya, yang tentu saja Mama Risa akan meledek Anjar habis-habisan karena terlihat senyum-senyum sendiri.


__ADS_2