Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Setiap Hari


__ADS_3

"Apa? jadi kamu minta uang sama aku, hanya untuk beli siomay dek?"


Anjar menggelengkan kepalanya, ia padahal sudah ketakutan setengah mati, takut kalau memang istrinya ingin mencari laki-laki lain dan pastinya Anjar tidak akan membiarkan itu, tetapi setelah diberikan uang malahan Erva sendiri bilang kalau uangnya untuk membeli siomay di depan dan pastinya Anjar jadi gemas dengan istri kecilnya ini bisa-bisanya sudah membuatnya khawatir tetapi dianya malah biasa-biasa saja.


"Iya dari tadi aku ingin beli siomay tetapi mau minta uang sama Mas uang hasil kerja keras Mas seharian ini,  aku kan juga pengen seperti tetangga sebelahnya setiap hari dikasih uang sama suaminya."


Anjar tersenyum, ia kemudian menarik kembali tubuh Erva ke dalam pelukannya tentunya apa yang dikhawatirkan tadi tidak benar karena ternyata istrinya selain ingin membeli siomay juga ingin seperti tenaga sebelah.


"Dasar bocil sukanya ikut-ikut orang lain saja."


"Bocil bocil begini tapi kan kamu suka Mas."


"Masa sih apa benar aku suka sama kamu?"


Tangan Anjar sudah mulai nakal, ia memang merindukan istrinya ini bahkan hanya dengan melihat wajah Erva saja sesuatu di bawah sana sudah meronta-ronta dan tentu saja melihat pergerakan Anjar seperti itu Erva paham dan ia langsung melepaskan tangan Anjar dan berniat kabur dari pelukan suaminya.


"Mau ke mana?urusan kita belum selesai?"


"Beli siomay Mas, Nanti keburu Abang siomaynya pergi."


Lagi lagan lagi Anjar menggelengkan kepalanya, hari ini memang istrinya harus diberi pelajaran. Bukannya melayani suaminya sendiri terlebih dahulu tetapi malah yang dipikirkan Erva tentang makanan.


"Tidak bisa, kamu sudah aku kasih uang dan kamu juga harus menuruti apa kemauan ku."


Anjar langsung saja mengunci pintunya, tentu supaya Erva tidak jadi pergi membeli siomay dan kuncinya ia taruh disaku celananya,.dan kalau sudah begini Erva pasti sudah tidak bisa kabur dari kamarnya.


"Eh curang, nanti kalau Abang siomaynya sudah pulang bagaimana, aku kan kepengen Mas?"


"Gampang, nanti aku anterin beli siomay, mau beli sama gerobaknya juga boleh."

__ADS_1


Anjar yang memang sudah gemes dengan Erva, sengaja membuka kemejanya,.laki-laki itu sekarang sudah tidak malu-malu lagi untuk bertelanjang dada di depan Erva tentunya bukan hanya sekedar kemeja saja dibuka tetapi anda juga sudah membuka celananya menyisakan boxxxer yang ia pakai saat ini.


Erva yang paham langsung saja menggelengkan kepalanya pelan tentunya ia tahu apa yang diinginkan suaminya terlebih lagi tadi siang mereka tidak bertemu dan juga tidak memadu kasih di rumah sakit pastinya suaminya sudah ingin sekali menerkamnya.


"Eh mas tidak mandi dulu?"


"Nanti saja mandi sama kamu dan kamu jangan banyak bicara dek aku tahu ini cuma akal-akalan kamu saja untuk mengalihkan perhatian aku dan pastinya kamu tidak akan aku lepaskan terserah kamu mau bilang pengen siomay lah mau apalah aku tidak peduli. Kamu memang harus dihukum karena sudah membuat aku ketar ketir dan juga membuat Aku gemes sama kamu."


Sreett...


Anjar langsung saja menarik tubuh Erva, kemudian menggendong tubuh Erva dan membaringkan pelan di atas ranjang,.laki-laki itu tidak perlu berbahasa basi lagi dan ia langsung memberikan beberapa ciuman di wajah Erva dan menaikkan tangan Erva Ke atas tentu saja dengan seperti itu Erva tidak bisa berkutik lagi.


Erva hanya pasrah ketika satu persatu pakaiannya sudah dibuka oleh Anjar tentu saja ia juga menikmati setiap sentuh-sentuhan yang diberikan oleh suaminya.


"Santai Mas, pelan dikit."


"Mana bisa, kamu sudah bikin aku ketar-ketir, gemes banget sama kamu."


Erva memejamkan matanya manakala sesuatu sudah masuk di bawah sana yang membuat ia merem melek dan juga menikmati setiap sensasi yang diberikan oleh suaminya.


Tentu saja yang ada di dalam kamar itu hanyalah suara-suara nyanyian dari Erva dan juga Anjar yang pastinya tidak akan terdengar sampai keluar hanya bisa mereka dengar sendiri.


"Enak dek?"


Bisa-bisanya Anjar menanyakan seperti itu padahal ia sudah tahu bagaimana reaksi Erva saat ini yang pastinya dengan ekspresi wajah Erva agar tidak bisa menebak jika istrinya benar-benar terlena dan keenakan dengan setiap apapun yang Anjar lakukan.


"Iya Mas, bagaimana dengan mas?"


Erva menjawab jujur ia bahkan sudah tidak bisa berkata-kata lagi, sentuhan-sentuhan yang diberikan oleh Anjar membuatnya terbang melayang-layang dan seperti biasanya Anjar selalu memberikan sesuatu yang beda sesuatu yang tidak bisa Erva katakan lagi bagaimana rasanya.

__ADS_1


"Sangat enak dek, kamu selalu membuat aku puas."


Keduanya sama-sama memandang juga tersenyum menatap satu sama lain hingga akhirnya 1 jam kemudian sesuatu yang hangat keluar dari bawah dan yang pasti lancar berharap jika salah satu dari sejuta kecebong yang keluar itu bisa membuahkan hasil yang membahagiakan.


"Aku sayang banget sama kamu, jangan sekali-sekali membuat aku khawatir."


"Aku juga sayang banget sama Mas, maaf tapi bener deh aku maunya dikasih uang tiap hari..."


"Iya mulai besok kamu akan aku kasih uang tiap hari tapi jangan lupa jatahnya juga harus nambah."


Apa nambah? yang seperti biasa saja sudah membuat badan air panas badan apalagi kalau ditambah bisa-bisa ia tidak masuk kuliah.


"Bagaimana dek?"


Anjar masih berada di atas tubuh Erva, ia mengusap lembut wajah Erva yang saat ini berkeringat.


"Iya, tapi alangkah baiknya juga Mas menyingkir dari atas tubuh aku."


"Maaf, habisnya kamu gemesin deh dan aku jadi pengen lagi."


"Eh tidak bisa aku kan sudah bilang mau beli siomay dulu nanti setelah makan siomay bisa dilanjut lagi."


Erva langsung saja mendorong pelan tubuh Anjar bukan karena ia tidak mau melayani suaminya sekali lagi tapi memang benar Erva takut jika sungai yang di depan kompleks itu sudah habis atau malah Abang penjualnya sudah berpindah tempat.


Memang Erva ingin sekali membeli siomay itu bukan karena tidak mempunyai uang tetapi ia yang dari tadi menginginkan pemberian uang dari hasil kerja keras suaminya satu hari ini dan digunakan untuk membeli siomay hingga akhirnya ia membuat Anjar memberikan uangnya.


"Curang, mau ke mana dek?"


"Mandi Mas, sebaiknya di sana saja jangan ikut aku."

__ADS_1


Anjar pastinya tidak mau jika hanya berdiam di atas ranjang terlebih lagi melihat istrinya yang tidak menggunakan apa-apa turun dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi.


Anjar yang masih pengen tentu saja membuat ia semakin kepengen saja dan pastinya ia juga tidak akan tinggal diam laki-laki itu langsung saja turun dari atas ranjang dan menghampiri istrinya seperti biasa Anjar tahu jika Erva tidak pernah mengunci kamar mandi dan ini kesempatan buat Anjar untuk masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan adegan panas lagi bersama istrinya


__ADS_2