Belenggu Cinta Doker Tampan

Belenggu Cinta Doker Tampan
Tanpa Sepengetahuan


__ADS_3

"Kak Aris sudah lama mengenal Dokter Anjar?"


Tidak ingin hanya berdiam diri saja akhirnya Erva membuka suaranya dan bertanya kepada Aris.


Sedari tadi Aris hanya diam saja mungkin Aris canggung dengan dirinya atau memang sifat Aris yang seperti itu sama seperti dokter Kinan yang dingin tetapi lama-kelamaan menghanyutkan.


"Sudah 5 tahun."


"5 tahun? Berarti Kak Aris ikut Mas Anjar pas di Jepang juga ya?"


Erva pasti mengingat kalau sebelum Anjar berada di Jakarta, Anjar berada di Jepang dan tentu saja pertemuan pertamanya dengan Anjar adalah di Jepang waktu itu.


"Iya aku sudah lama ikut dengan Dokter Anjar sebelum Dokter Anjar berangkat ke Jepang malahan."


"Berarti kak Aris tahu banyak dong tentang Mas Anjar? bisalah kasih sedikit bocoran."


Namanya juga Erva, pasti ingin tahu apa yang sebenarnya ada di dalam pikirannya. Yakin kalau Aris itu menyimpan banyak rahasia tentang Anjar dan pastinya sebagai calon istri yang baik Erva juga ingin tahu semua yang berhubungan dengan Dokter Anjar.


"Tahu banyak malahan."


Aris menoleh ke arah Erva, ia tau Kalau gadis yang ada di sampingnya ini ingin mengorek sesuatu tentang Dokter Anjar.


"Bocorin sedikit dong kak gimana sih dokter Anjar itu."


"Nggak gimana-gimana . Ya seperti yang kamu lihat dan kamu ketahui."


Erva melototkan matanya jawaban yang sangat singkat tetapi tidak membuatnya puas. Sama saja berbicara dengan Dokter Anjar dan memang sepertinya mereka cocok antara arus dengan Anjar sama-sama dingin dan sama-sama tidak suka bicara.


"Bukan itu, maksud pertanyaanku adalah..."


"Mau tahu siapa saja wanita yang bersama dengan Dokter Anjar, begitu?"


Tentu saja Aris bisa menebak, karena Erva bukanlah perempuan pertama yang menanyakan tentang apa saja yang ada di dalam Dokter Anjar tetapi sudah banyak perempuan yang bertanya seperti itu.


Perempuan itu tahu kalau Aris adalah tangan kanannya Dokter Anjar dan pastinya lebih mudah mendekati Aris daripada mendekati Dokter Anjar maka dari itu mereka mengorek informasi kepada Aris yang tentunya siapa dan bagaimana Dokter Anjar itu sebenarnya.


Tetapi jangan salah, Aris bukanlah laki-laki yang bocor yang selalu mengatakan apapun kepada orang lain meskipun dengan embel-embelan uang ataupun dengan mengatakan cintanya kepada Aris. 

__ADS_1


Laki-laki itu, tidak tertarik sama sekali dengan perempuan ataupun uang. Ia sudah mendapatkan uang yang banyak dari Dokter Anjar dan tentu saja perempuan adalah prioritas yang kesekian bukan prioritas utamanya.


"Eh kok kak Aris tahu."


"Banyak yang bertanya padaku tentang siapa wanita Dokter Anjar dan bagaimana perempuan yang diidam-idamkan oleh Dokter Anjar."


"Lalu kakak menjawab apq setiap kali ada pertanyaan seperti itu?"


"Tidak aku jawab apa apa, bahkan aku tidak tertarik dengan pertanyaan apapun imbalan yang mereka berikan."


"Kecuali aku dong tentunya, kak Aris harus mau menjawab pertanyaan yang aku tanyakan."


"Sebenarnya tanpa kamu bertanya kamu sendiri sudah tahu bagaimana dan seperti apa perempuan yang diinginkan oleh Dokter Anjar, pastinya itu ada dalam diri kamu."


"Masa'?"


Memang menghadapi Erva itu juga harus punya kekuatan ekstra karena gadis itu pasti tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh orang lain. Terkesan terlalu menyampaikan ucapan dari Aris.


"Kalau perempuan yang dekat dengan Dokter Anjar ada?"


"Yang mendekati Dokter Anjar itu banyak tetapi yang dekat dengan Dokter Anjar tidak ada, aku rasa selama aku bersama dengan Dokter Anjar hanya kamulah satu-satunya perempuan yang dekat dengan Dokter Anjar."


Bahkan tidak ada nama mantan-mantan ataupun nama perempuan lain yang pernah jadi cinta pertama yang Dokter Anjar.


"Serius kak?"


"Untuk apa aku berbohong, dan Kalau kamu tidak percaya kamu bisa langsung tanya saja kepada Dokter Anjar pasti jawabannya sama dengan aku katakan tadi."


"Ogah, bukannya menjawab, Dokter Anjar nanti malahan nanti macam-macam."


"Upss!!"


Aris tersenyum, ia tau maksud yang tidak sengaja diucapkan oleh erva tadi dan pastinya untuk hal itu harus juga tidak akan menanyakan apapun juga kepada Erva 


Mobil yang dikemudikan oleh Aris sudah sampai di parkiran kampus di mana memang Dokter Anjar sudah berpesan Untuk mengantarkan Erva sampai parkiran tidak boleh diturunkan di gerbang utama kampus.


"Ckkk.... Dokter Anjar yang minta supaya nurunin aku di sini?"

__ADS_1


"Takut kalau calon istrinya digondol orang katanya.."


"Hahaha bisa aja. Kak ini nitip untuk Dokter Anjar."


Erva mengambil amplop yang di dalamnya sudah berisi lembaran sketsa gaun pengantin dan juga dekorasi pesta pernikahannya lusa.


Dan langsung memberikannya kepada Aris karena setelah mengantarkan Erva, Aris langsung ke rumah sakit untuk menemui Dokter Anjar.


"Oke nanti aku sampaikan kepada Dokter Anjar, ada yang lain salam atau apa gitu?"


"Tadi sudah ketemu, titip itu aja. Terima kasih aku turun ya kak hati-hati..."


Erva  lalu membuka pintu mobil kemudian bergegas turun.


Ia langsung saja menuju ke kelasnya yang mana pelajaran akar dimulai 10 menit lagi dan tentu saja Mona beserta teman-teman lainnya sudah berada di atas karena kemungkinan besar teman-temannya tadi tidak pulang Tetapi istirahat sebentar di sekitaran kampus.


"Dari mana saja, kenapa lama sampainya?"


Mona yang melihat Erva masuk dan duduk di sampingnya langsung saja bertanya ia juga melihat sahabatnya itu senyum-senyum sendiri sepertinya ada sesuatu yang membuat Erva bahagia.


"Dari apartemen, biasa makan."


"Di apartemen? baru tahu gue kalau makan tuh tidak di restoran, hayo jangan-jangan bukan hanya makan tetapi anu anu dulu sama Dokter Anjar?"


"Apaan? anu anunya itu lusa."


"Lusa? Ada apa dengan lusa?"


Mona penasaran dengan apa yang tidak sengajaan yang Erva katakan tadi padahal lusa bukan ulang tahun Erva  dan juga bukan hari penting atau hari apalah yang patut untuk dirayakan.


Erva tahu kalau sahabatnya itu penasaran, ia langsung saja menceritakan apa yang diinginkan oleh Mona karena ia sendiri tadi sudah kebablasan mengatakan kalau lusa ada sesuatu.


"Gila, apa gue nggak salah dengar?"


"Gue juga nggak percaya tapi tunggu saja undangannya siapa tahu memang benar."


"Seriusan? Kalau iya benar-benar gila , apa dokter Anjar memangnya ada waktu sesingkat itu ngajakin nikah apalagi dengan konsep pernikahan yang kamu impikan."

__ADS_1


"Entahlah, kata dia sih sanggup tapi gue juga nggak tahu sanggup beneran apa pura-pura sanggup saja biar kesannya dia mampu gitu menuruti apa yang aku inginkan."


"Eh jangan begitu, kali aja Dokter Anjar memang serius. Nggak tahu bagaimana kalau Dokter aja tuh lagi serius dan mana mungkin laki-laki seperti Dokter Anjar itu akan berbohong apalagi dengan rencana seperti ini dan aku yakin kalau pastinya Dokter Anjar sudah merencanakan semua ini jauh jauh hari sebelumnya dan tentu saja itu tanpa sepengetahuan lo."


__ADS_2