Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
CBD #Episode 100


__ADS_3

"Sayang katanya kamu mau beliin aku mobil, apa bisa nanti pulang kerja kita cari-cari," tanya Qari yang melihat kalau Alzam masih marah pada dirinya, itu ia bisa lihat karena Alzam yang masih terdiam sepanjang jalan. Padahal Alzam diam bukan karena dia yang masih marah dengan Qari, tetapi karena dirinya yang teringat apa ucapan Doni mengenai Deon. Rasanya akal Alzam melihat ada yang tidak beres dengan Deon. Terlebih dia terlihat kalau seperti orang yang nekad, dan menghalalkan berbagai cara untuk keinginannya.


Pagi ini saja dia rela datang kerumah Alzam, dan menatap Qari dengan berani, sangat kurang ajar dan sangat tidak tahu diri bukan. Seorang laki-laki lanjang dantang menghampiri wanita yang sudah menikah dan dengan beraninya menatap penuh damba.


Alzam sudah memutuskan akan datang kembali kepada Doni, tetapi kali ini bukan sebagai pasien, tetapi sebagai teman.


"Sayang, kamu masih marah yah. Aku minta maaf banget yah. Sumpah demi apapun deh , aku saja tidak tahu kalau Deon dan Jec datang, malah kalau tidak ada kejadian ini tentu aku juga nggak tahu kalau di luar rumah kita ada dua kecoa busuk itu. Aku tidak tahu Sayang, sumpah deh," ujar Qari sangat merasakan berdosa dan dia sendiri juga tidak bisa membayangkan kalau Alzam marah dengan sungguhan pasti  Qari akan merasakan bosan sekali.


Alzam yang justru tidak mendengar apa yang Qari katakan pun mengerjapkan matanya berkali-kali. "Kenapa Sayang, maaf aku tadi sedang fokus dengan jalanan," elak Alzam, tidak mungkin kalau dia jujur dengan Deon yang mungkin saja sedang merencanakan sesuatu yang tidak baik pada dirinya dan Qari.


"Tuh kan kamu tidak mendengar apa ucapan aku tadi," dengus Qari, mengikuti gaya merajuk anak-anak yang sedang marah.


"Tidak Sayang, serius deh aku memang sedang tidak fokus, dan suara kendaraan ganggu pendengaran juga," ucap Alzam. Sementara Qari diam saja, begantian biar gantian Alzam yang berusaha meminta maaf karena dikira kalau Qari marah.


Tidak terasa mereka pun sampai di kantor dan Qari yang sedang berpura-pura marah pun langsung turun, sementara Alzam yang akan membukakan helm untuk istrinya pun kaget ketika Qari sudah lebih dulu masuk ke dalam kantor.


"Sayang... Sayang... Helmnya  dilepas terlebih dulu," jerit Alzam, dan Alzam yang melihat security merespon pun memberikan kode kalau Qari belum melepas helmnya dengan kode tangan yang menunjuk Qari dan kepalanya.


"Nona... Nona..." Security yang paham akan kode Alzam pun menghentikan Qari yang hampir masuk ke dalam kantor.

__ADS_1


"Apa? Kamu tidak liat ini sudah hampir jam delapan, aku bisa telat. Kalau aku dipotong gajian siap-siap aku minta ganti rugi sama kamu," oceh Qari,  sembari kedua mata yang  melebar.


"Anu, itu Nona, helmnya dilepas dulu," balas security dengan menujuk kepala Qari yang ada helmnya. Tangan Qari mengecek kepalanya.


"Astaga, kenapa aku bisa lupa," dengus Qari dan ekor matanya menatap Alzam yang sedang terkekeh, karena dirinya yang lupa melepas herlmnya.


Qari buru-buru melepas helm yang masih menempel di kepalanya dan juga langsung menyodorkan pada security. "Nih, antar sama orang yang sedang menertawakan aku," ucap Qari, sebari berlalu meninggalkan security dan Alzam pun menyusulnya.


"Sayang apa kamu nanti tidak ingin membeli sesuatu, aku nanti ada acara keluar kantor. Bukanya kamu biasanya akan membuar list jajanan kalau aku keluar untuk rapat?" tanya Alzam begitu masuk ke dalam ruangan Qari. Dalam hati Qari tentu berbunga-bunga ketika dirinya di perlakukan selalu manis pada Alzam, siapa yang tidak meleleh di perhatikan dengan begitu baik oleh suaminya.


Yah, Qari tahu kalau ini adalah cara Alzam meminta maaf pada dirinya yang sedang merajuk itu. Laki-laki itu tahu banget gimana cara mengambil hati sang istrinya.


Alzam justru semakin masuk ke dalam ruangan istrinya yang sudah ada Mirna juga di dalam sana, tetapi karena ruangan luas pasti Mirna juga tidak fokus dengan mereka. "Tidak mau SUN?" tanya Alzam dengan menempelkan jari telunjuknya ke pipinya.


Dalam hati Qari sudah bergemuruh luar biasa dengan apa yang ada di hadapanya itu. Bibinya di gigit dan mata terpejam, dalam hatinya mengutuk dirinya sendiri yang terlalu gengsi. Dalam hatinya dia ingin menjawab mau, tapi nanti gengsi masa marahnya sangat sebentar. Dimana-mana biasanya marah itu cukup lama.


"Yah, padahal aku pengin di cium, tapi tidak apa-apa mungkin dedenya lagi marah sama Papahnya." Alzam yang tadinya mencondongkan tubuhnya agar Qari dengan mudah menciumnya, tetapi karena tidak ada kepastian juga Alzam pun hendak beranjak dari dirinya.


"Al..." panggil Qari ketika Alzam sudah mau meninggalkan ruangan istrinya. Alzam tanpa membalikan tubuhnya bibirnya memberikan senyum kemenanganya.

__ADS_1


"Aku mau," lirih Qari, dan hal itu membuat Alzam gemas, sejak kapan istrinya malu-malu seperti itu, dari suaranya Qari malu mengakuinya, bukanya dia kemari-kemarin adalah wanita tidak tahu malu yang pernah Alzam kenal. Tapi kenapa hari ini suara imut sekali.


Alzam pun membalikan tubuh, bibir yang awalnya melengkung ke atas dengan sempurna kini dibiarkan dengan tatapan datar dan tanpa ekspresi, seolah dia juga sedang marah.


"Yang kanan atau yang kiri?" tanya Alzam dengan kembali memunggukkan tubuhnya di hadapan Qari, dan tanpa menjawab Qari memcium suaminya itu yang wajahnya sudah banyak bulu-bulu tipis, di pegangnya dan Cup... Satu kecupan di bibir Alzam. Laki-laki itu yang tadinya mau bersikap macho dan tidak terbawa suasana tidak bisa ia kalah dengan Qari yang sangat iseng itu.


"Udah?" kekeh Alzam, ia tahu Qari tidak akan bisa berlama-lama marah denganya dan dirinya pun sama tidak akan bisa bertahan untuk berlama-lama marah.


Qari mengangguk dengan senyum manisnya. "Terima kasih yah," ucap Qari dengan wajah yang terlihat malu malu itu.


"Untuk?" tanya Alzam dengan heran, terima kasih itu banyak artian bukan?"


"Tidak marah dengan kedatang Deon, aku takut kalau kamu akan marah dengan laki-laki itu yang datang ke rumah kita." Qari masih nampak sangat merasa bersalah.


"Lupakanlah! Lagian benar apa kata kamu kalau kamu itu tidak tahu kalau laki-laki itu akan datang menemui kamu, jadi tidak usah merasa bersalah, mulai besok kita pindah, tapi usahakan jangan terlihat seperti pindah, hanya barang yang penting saja yang dibawa selebihnya diambil mencicil. Usahakan agar mereka tidak tahu kalau kita pindah. Dan soal kendaraan kita akan beli kendaraan biar mereka tidak tahu dan tidak bisa mencari keberadaan kita," ucap Alzam, dia harus tegas membangun benteng yang kuat dan kokoh, agar Deon tidak bisa mengganggu Qari.


Bukanya dia yang memang membuat semuanya seperti ini, dan seharusnya kalau Deon memang mencintai Qari seperti yang dilihat oleh Alzam, harusnya juga Deon bisa mengikhlaskan Qari untuk bahagia dengan pasangan lain, dengan laki-laki lain yang bisa membahagiakanya.


Qari mengangguk dengan kuat, tadinya ia akan mengusulkan memakai mobilnya, tetapi mobil Qari, bukankah Deon sudah tahu, sehingga akan sangat mudah Deon bisa mencari Qari, dan kembali menggangunya. Tersanjung, itu yang Qari rasakan ketika diperhatikan oleh Alzam dengan sangat kuat, tidak hanya itu Alzam juga terlihat sangat mengaguminya, dan berusaha memiliki Qari seutuhnya.

__ADS_1


Wanita itu sempat takut kalau Alzam justru akan mengalah karena Deon tentu bukan tandingan Alzam entah dari harta maupun dari fisik dan tampang, tetapi Alzam mampu menunjukan dan mau bersaing bahwa cinta tidak selalu dengan harta, dan fisik saja tetapi kenyamanan dan kasih sayang serta tanggung jawab dan kesetiaan akan tetap menduduki juaranya, dan Alzam sudah membuktikan.


__ADS_2