Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam


__ADS_3

"Apa kamu sudah siap?" tanya Deon dengan suara setengah berbisik, di balik daun telinga Cucu yang tengah menikmati makanan lezat itu.


"Hist... apa kamu tidak tahu aku sedang menikmati makanan enak ini. Lagi pula kalau aku tidak isi bensin dulu kalau aku jatuh pingsan bagaimana?" balas Cucu, dia baru saja menangis sehingga energinya banyak yang hilang.


Deon terkekeh dengan kelakuan istri barunya. "Ok baiklah istri nakalku. kamu makanlah yang banyak karena setelah ini aku ingin kamu memberikan perlayanan yang terbaik kepada aku, dan juga aku ingin kamu malam ini memberikan aku permainan empat kali agar utang-utang kamu cepat lunas," balas Deon kembali berbisik dengan dengan suara yang di buat seseksi mungkin.


Glekkk!! Cucu menelan makananya yang bahkan belum ia kunyah dengan halus.


"Hutang? Kapan aku berhutang dengan kamu?" tanya Cucu dengan wajah yang terlihat sangat  berbeda.


Deon menunjukan satu map berwarna merah. Cucu yang penasaran langsung  meletakan piring yang masih ada setengah menu makanannya, dan mengambil dengan kasar map itu dan membacanya dengan teliti. Kedua bola mata Cucu semakin melebar dan juga jantungnya seperti berhenti berdetak.


"Jadi ini semua hutang?" tanya Cucu, dengan suara bergetar dan juga rasa laparnya langsung menguai.


"Tentu dong Sayang. Aku tidak mau mengeluarkan uang aku secara cuma-cuma semua harus kamu bayar. Dan cara bayarnya dengan tubuh kamu." Tangan Deon mulai memegang pundak Cucu dengan gerakan yang mengoda membuat bulu kuduk Cucu langsung merinding seketika.


"Kamu memang gila Deon. Aku benar-benar tidak tahu harus bilang apa lagi dengan kamu. Kamu adalah orang paling gila yang pernah aku temui. Kamu gila," racau Cucu sembari tertawa getir.


Bayangkan saja semua mas kawin yang dia sebutkan tadi di masukan kedalam hutang yang harus di bayarkan dengan tubuhnya. Makanan yang segala jenis kebutuhan menikah yang  hanya seperti itu tetapi dari catatannya yang ada dari rincian pengeluaran, bisa habis enam ratus juta, dan itu tentunya harus dia bayar dengan tubuhnya. Kalau dia datang bulan makan Juju akan kena denda yang harus di bayar dua kali lipat dengan permainan tubuhnya setelah selesai datang bulan. Udah gitu di poin paling bawah Deon tidak menginginkan anak dari pernikahan ini. dengan kata lain Cucu harus menggunakan alat penunda kehamilan. Agar hubungan yang mereka jalani tidak membuahkan hasil.


Test... air mata Cucu kembali jatuh. Benar dugaanya bahwa ini adalah awal dari segudang masalah itu benar. Dengan tangan gemetar Cucu menutup map merah tersebut dan kembali memberikan pada Deon.


"Jadi berapa lama kira-kira aku akan menjadi boneka permainan kamu? Untuk melunasi semua hutang-hutang aku yang aku tidak akui itu sebagai hutang?" tanya Cucu dengan tatapan yang sengit.


"Antara lima sampai sepuluh tahun, tergantung kamu setiap hari akan melayani aku berapa kali kalau kamu ingin cepat lunas maka kamu harus semakin sering melayani aku. Dan ingat kamu yang menawarkan tubuh kamu yang akan terhitung dalam pembayaran. Jadi jadilah wanita yang selalu menawarkan tubu kamu agar semuanya kamin cepat lunas." Deon terlalu senang bermain-main dengan Cucu. Apalagi melihat wajah Cucu yang penuh kemarahan, Deon sangat menyukainya.

__ADS_1


Cucu memejamkan matanya dengan kuat dan menghirup nafasnya dengan dalam. Apa dalam pikira kamu hanya ada urusan tentang berhubung badan?" tanya Cucu dengan mengeratkan gigi-giginya hingga bunyi gemelutuk.


"Iyah, dalam pikiran aku hanya bercinta, ber cinta dan ber cinta," aku Deon semakin senang memposisikan Cucu sebagai wanita yang tidak berdaya yang sudah masuk perangkapnya.


"Bagaimana cara agar aku bisa bebas dari kamu?" tanya Cucu dengan serius.


"Tidak ada, selain kamu menjadi istri yang nakal untuk aku. Apa kamu sudah siap untuk percobaan pertama?" tanya Deon dengan suara yang di buat sangat menjijihkan di telinga Cucu.


Cucu diam saja tidak memberikan jawaban pada Deon itu semua  karena Cucu sudah snagt lelah berhubungan dengan laki-laki.


"Kalau gitu, ayok kita pamita dengan kakaek dan nenek kamu. Aku sudah tidak sabar untuk melihat bagaimana tugas pertama kamu." Deon menarik tangan Cucu. Yang bahkan maknan yang dia ambil masih setengah setengah. Dan juga perutnya masih ingin mencicipi makanan yang lain yang tentu lezat-lezat. Bisa kalian bayangkan di rumah neneknya Cucu sekarang seperti sedang ada bazar makanan gratis.


Semua bebas makan dan di bawa pulang siapa pun tidak wajib kasih amplop tapi kalau mau kasih itu lebih baik biar Cucu nggak rugi-rugi banget, karena semua biaya makan di bebankan ke Cucu dan tentu untuk membayarnya dengan tubuh mulus Cucu.


Setelah mengharu biru peroses pamitan kini Deon dan Cucu sudah di dalam mobil mewahnya. Cucu sih yang sedih terutama mendengar nasihat nenek dan kakeknya.


Bagaimana tidak sedih pernikahan yang kakek dan neneknya anggap suatu keberuntungan, nyatanya dia sedang masuk ke dalam kandang singa. Lalu bahagia seperti apa yang akan Cucu dapatkan, dan surga seperti apa yang Cucu akan dapatkan.


Sepanjang perjalanan Cucu hanya diam, menatap ke luar jendela tidak sedikitpun wanita itu  menginginkan berbicara dengan suaminya meskipun Deon selalu memancing agar berbicara dengan Cucu.


Cucu sudah sangat pasrah di bawa kemanapun. Hingga mobil berhenti di sebuah salon yang pastinya bukan salon ecek-ecek. Salon sultan pastinya.


"Ngapain kamu ajak aku ketempat kaya gini?" tanya Cucu dengan ketus. Yah, dia baru sadar kalau dari tadi dia melamun.


"Perawatanlah. Aku nggak mau ber cinta dengan wanita yang bau, kumel, dan dekil. jadi kamu harus perawatan. Luluran dan perawatan rumah baru untuk adikku karena adikku paling anti dengan rumah yang bau," balas Deon dengan gaya yang tengil dan menjijihkan. Bahkan sekarang wajah Deon sudah berada di depan wajah Cucu. Hingga Cucu menahan nafasnya, dan menutup matanya karena ia berpikir kalau Deon akan minta DP.

__ADS_1


"Jangan ke GR-an aku cuma mau bukakan seatbelt kamu." Deon pun semakin senang ketika melihat wajah malu-malu Cucu yang merah hitam hiaju biru kuning jadi satu.


"Udah buruan turun, karena kalau kamu lama-lama nanti tagihan kamu aku masukan ke utang kamu," seru Deon dengan setengah mengancam.


"Kamu itu dulu emaknya waktu ngidam pengin apa sih kenapa bisa punya anak yang sangat menyebalkan sekali," bentak Cucu tidak mau kalah.


"Kayangnya ngidam gula makanya manis," jawab Deon semakin membuat Cucu pengin menendang laki-laki yang saat ini tengah berjalan dengan gaya sok kayanya di depan Cucu. Eh... benaran kaya ding.


"Mbak, bikin wanita ini jadi cantik, seksi, dan tidak bau." Deon menunjuk Cucu seolah dia adalah sampah. Cucu pun melayangkan protesnya dengan melebarkan kedua bola matanya. Tapi justru Deon malah santai-santai saja. Benar saja Cucu langsung dirombak dari rambut tubuh kuku mata dan semuanya bahkan bagian anu-nya di bikin secantik mungkin Cucu sampai merinding karena sekujur tubuhnya tidak lepas dari perawatan termasuk bagian mulutnya, gigi dibikin putih dan juga di bersihkan katanya agar tidak bau saat ciuman. Cucu semakin tidak tau suaminya itu mau bikin dia seperti apa.


Hampir empat jam Cucu di salon, dari tidur, makan hingga tidur lagi. Entahlah wajahnya diapain saja Cucu tidak tahu yang dia tahu lapar makan, ngantuk tidur.


"Mbak yang bener saja kenapa aku harus pake pakaian seperti ini?" tanya Cucu menunjuk pakian yang tidak ada lenganya dadanya terbuka talinya hanya tipis takut putus dan melorot pastinya.


"Udah Mbak pakai saja Tuan Deon pengin Anda memakai itu, nanti malah kami kena marah." Salah satu petugas memaksa Cucu untuk memakainya meskipun Cucu sudah menolak bahkan sempat berdebat. Namun akhirnya Cucu mau memakai juga. Tetu setelah diancam kalau semua tagihan salon yang berjumlah hampir dua ratus juga masuk hutang dia, yang tandanya maka makin lama Cucu terikat dengan pernikahan dengan Deon karena utang-utangnya yang semakin menggunung.


"Mbak, aku nggak biasa, ininya aku masa kelihatan," ucap Cucu sambil menunjukan belakan dada yang aduhai menggoda iman, belum Cucu yang biasa berpakaian tomboy harus pake high heels, belahan gaun yang aduhan menunjukan paha yang mulus.


Seperti ini kira-kira baju yang Cucu pakai



"Cantik Mbak," ucap petuga salon yang memuji semua hingga Cucu keluar dan Deon lanhsung menelan salifanya kasar.


"Gila nih Cucu, cantik banget," gumam Deon yang bener-benar langsung On, begitu melihat tubuh Cucu.

__ADS_1


"Jaga mata, baek-baek nanti loncat," bisik Cucu dengan gaya yang sangat jengah melihat Deon.


"Gak apa-apa loncat paling juga masuk ke lubangnya."


__ADS_2