Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
CBD #Episode 107


__ADS_3

Pagi hari menyapa Qari bangun dengan perasaan yang lebih tenang, di rumah ini ia tidak harus bangun pagi untuk bersiap masak dan sebagainya, karena di sini sudah ada asisten rumah tangga yang siap menggantikan tugas-tugasnya seperti di rumah Alzam yang dulu. Lagi-lagi Tuan Latif yang mempersiapkanya, mereka memang sangat pengertin pada Qari dari hal sekecil apapun. Yah, mungkin karena Qari adalah cucu kesayangan mereka.


Qari menggeliatkan tubuhnya, tanganya meraba-raba tempat tidur suaminya, tetapi dia tidak juga merasakan ada tubuh suaminya. Matanya di buka dan menatap ranjang tempat suaminya tidur. 'Kosong'


Sedetik kemudian kedua matanya diedarkan kelain arah, tetapi ia juga tidak menemukan Alzam. "Sayang... Sayang..." pekik Qari memanggil sang suami yang mana biasa di jam seginia Alzam sedang mandi, tetapi lagi-lagi kamar mandi kosong.


"Astaga..."  gumam Qari ketika dirinya akan membuka pintu tetapi justru bertepatan dengan itu Alzam juga membuka pintu kamarnya.


"Kamu dari mana?" tanya Qari dengan mengawasi  keluar pintu, ia takut seperti novel-novel yang ia baca yang banyak suami lakukan dengan sekertaris, atau bahkan asisten rumah tangganya, tega berselingkuh di belakang istrinya. Itu sebabnya Qari selalu berbuat manja dan melayani suaminya dengan baik, agar suaminya tidak berselingkuh dengan alasan kurang dilayani oleh istrinya.


"Kamu lihatin apa?" tanya Alzam yang penasaran istrinya mengawasi keluar seolah diluar ada hal yang memata-matai.


"Kamu belum jawab pertanyaan aku, kamu dari mana?" tanya Qari ulang, mengabaikan pertanyaan Alzam.


"Aku habis ambil air minum dan kamu kenapa kaya ketakutan gitu," tanya Alzam dengan curiga, bahkan dia membawa botol air minum sepertinya tidak terlihat oleh Qari.


"Oh," jawab Qari singkat yang saking takutnya kalau Alzam selingkuh sampai tidak melihat kalau tangan sang suami menenteng air mineral dalam botol.


"Kenapa, kamu takut aku pergi?" kekeh Alzam sembari merangkul tubuh istrinya yang hanya mengenakan gaun malam berbentuk jaring-jaring (Lingerie).

__ADS_1


"Bukan hanya takut kalau kamu akan pergi, tapi aku juga takut kalau kamu akan selingkuh dari aku, kayak yang difilm dan novel yang istrinya tidur, tetapi justru suaminya main gila dengan asisten rumah tangganya," dengus Qari untuk membayangkanya saja dia sudah emosi tingkat dewa, kalau benar-benar terjadi pada kehidupanya, mungkin wanita itu akan menjadi samsak tinju bagi Qari.


Berbeda dengan Qari yang sedang takut kalau suaminya selingkuh. Alzam justru terkekeh dengan geli, bagaimana mau selingkuh kalau istrinya saja sempurna seperti Qari. Istri yang selalu menawarkan surga lebih dulu, jarang-jarang ada istri yang kayak gitu. Meskipun tidak memungkiri ada wanita seperti itu, tetapi sangat jarang.


"Udah yuk mandi ajah, biar nggak marah-marah terus habis itu jalan-jalan keliling rumah saja muter-muter itu bagus untuk ibu hamil," usul Alzam dan langsung di berikan anggukan dengan semangat oleh Qari.


Qari pun langsung semangat, memang suaminya itu paling pengertian, tidak salah dia memilih Alzam, selain baik tidak ada tandinganya, dia juga selalu pengertian. Contohnya hal sekecil ini dia tahu, dan Alzam juga tidak segan-segan menggunakan waktu kosongnya untuk mencari tahu tentang kehamilan dari internet.


*******


Sementara di tempat lain, berbeda dengan Qari yang bisa tidur dengan nyenyak dan pulas. Deon laki-laki itu justru tidak bisa tidur. Ia masih terfikirkan dengan ucapan Doni itu.


Entah berapa balik ia keluar masuk antara kamar dan juga balkon, hanya untuk memikirkan apa yang Doni katakan. Entah berapa kali juga laki-laki itu melihat jam di dindingnya. Bahkan seolah semenit pun Deon tidak ingin tertinggal.


Tidak sabar ia menunggu dengan hari esok di mana ia akan mendapatkan kejutan yang besar apabila benar-benar Om Dika selaku pengacara keluarganya, orang yang di percaya oleh papahnya untuk memegang semua harta-hartanya, bahkan Deon sendiri tidak tahu di mana saja aset properti milik papahnya, apabila memang bukan Dika yang memberitahukanya.


"Ah tapi mungkin saja ketika aku bertemu dengan Om Dika, aku bisa mengorek informasi mengenai siapa Lysa dan Mamih Dianna," batin Deon, kini dia memiliki semangat untuk menyambut hari esok.


Namun sedetik kemudian dia dilanda ketakutan kalau memang yang dikatan Doni benar adanya. "Siapa Doni ini apa dia adalah anak dari papah juga?" tapi bukanya Papah adalah orang yang setia, bahkan semenjak mamihnya dia meninggal dia tidak menikah lagi sehingga sudah sangat jelas kalau papahnya itu sangat setia itu yang Deon ketahu.

__ADS_1


Laki-laki itu pun kembali masuk ke dalam kamarnya. Ia berharap kalau rasa kantuknya akan datang, tetapi bukan rasa kantung yang datang justru rasa lapar yang datang.


Deon melirik jam di dinding yang sudah menunjukan pukul dua dini hari dan dia merasakan lapar, "Gila yah perut ini kadang-kadang bikin ga tau waktu, sejak tadi aku tidak merasakan lapar, tetapi saat ini justru aku kelaparan," umpat Deon pada perutnya sendiri yang bikin dia kadang kesal dengan moodnya yang kadang berubah rubah.


'Jec, yah pasti Jec mau carikan makan untukku,' batin Deon, laki-laki itu pun langsung merain ponselnya yang ada di atas nakas, dan jari-jarinya mulain menari dengan indah untuk menghubungi Jec.


Di lain tempat Jec yang memang sangat cape sampai tidak mendengar kalau ada panggilan masuk. Dia akhir-akhir ini sering di ganggu tidurnya sehingga begitu dia ada kesempatan untuk tidur Jec sampai pulas, bahkan gempa melanda pun mungkin dia tidak akan merasakanya.


"Apa orang ini sudah tidak bernafas lagi," umpat Deon, ketika panggilanya tidak juga diangkat oleh asistenya itu. "Jec, awas saja besok, kamu nggak usah datang bekerja," geram Deon ketika di pangilan kesepuluh Jec tidak juga mengagkat ponselnya.


Deon pun yang memang sudah sangat lapar turun ke dapur, dan mungkin saja ada makanan yang bisa ia  makan. "Dasar perut ini  tidak ada aturanya jam dua orang pulas tertidur ini malah kelaparan," umpat Deon sepanjang kakinya menyusuri anak tangga ia masih asik mengumpat perutnya.


Mata Deon melihat isi kulkas yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan. Matanya melihat cake yang kemarin dia inginkan slice cake dengan rasa tiramisu dan cake buah.


"Kayaknya ini enak." lirih Deon dengan mengambil cake itu dan di bawa ke meja makan. Bibirnya terus mengunyah makanan itu dari satu suap hingga tidak berasa ia sudah menghabiskan setengah dari masih-masing rasa cake.


Euuuu.... suara sendawa yang menandakan kalau dia sudah kenyang. Laki-laki itu pun kembali naik ke lantai dua dan akan istirahat disisa paginya, dan tidak lupa dia meninggalkan kekacauan di dapur.


"Sudah beberapa hari ini, aku makanya tidak pernah lagi dijaga, dan rasanya sangat malas sekali kalau mau olahraga, gimana kalau nanti perutku buncit," gerundel Deon di depan cermin besar memperhatikan perutnya yang sudah terlihat membucit karena kekenyangan, dan anehnya setiap habis makan kedua matanya langsung mengantuk sedangkan sebelumnya itu adalah yang sangat-sangat Deon benci.

__ADS_1


Sebelum ini Deon akan sangat merasa bersalah sekali kalau asupan kalorinya melebihi  yang sudah ia hitung sesuai dengan aktifitasnya. Dia akan langsung treadmill, untuk membakar kalori yang berlebihan masuk ke tubuhnya, tetapi akhir-akhir ini dirinya paling anti masuk ke ruang GYM yang ada di rumah pribadinya.


"Apa aku nanti bapak jadi bapak-bapak dengan perut buncit.... Oh No"


__ADS_2