Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta berselimut Dendam #episode 127


__ADS_3

"Sudah diduga asal ada yang mencurigakan pasti soal Qari," gumam Jec, begitu ia mendapatkan laporan dari anak buahnya.


"Apalagi yang akan Bos lakukan sebenarnya kenapa  semuanya dibikin masalah terus. Apa harus merasa kehilangan dulu baru ia akan sadar," gerundel Jec.


Sejak tadi laki-laki itu jadi menjadi tidak fokus dengan pekerjaan, karena Jec terfikirkan dengan Deon. Jec sudah curiga kalai Deon itu akan  membuat masalah lagi.


[Kalian terus awasi Bos sampai ada info terbaru!!] Itu adalah pesan yang dikirim dari Jec kuntuk orang suruhanya.


Ia pun kembali fokus pada pekerjaanya. Dari pada memikirkan Deon yang membuat dia semakin berdenyut. Deon selalu membuat masalah.


Kali ini Jec bukan tidak ingin ikut campur, segala cara sudah Jec lakukan dan juga Doni yang sibuk pun masih menyempatkan diri untuk mengawasi Deon, tetapi justru dia memiliki cara lain untuk melakukan kembali rencananya. Mungkin Jec harus punya cara lain salah satunya dia membiarkan Deon melakukan rencananya hingga dia kena batunya, dan hanya penyesalan yang membuat dia sadar.


Mengingat segala cara sudah ia gunakan, tetapi Deon tidak juga sadar. Cara Satu-satunya membiarkan dia hingga kenapa barunya dan baru ia akan sadar.


*********


Di tempat lain....


Begitu Qari beranjak pergi. Pandangan mata Deon tidak lepas dari wanita itu. Dia terus menatap punggung Qari hingga hilang.


"Kalau aku tidak bisa mendapatkan kamu. Maka aku juga tidak bisa membiarkan Alzam bahagia mendapatkan kamu," gumam Deon. Dalam otaknya sudah ada ide yang lain. Yang mungkin saja Qari pun tidak akan menduga kalau Deon akan melakukan cara yang cukup tega.


"Mungkin Qari hanya melihat kalau aku tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh. Tanpa mereka tahu akupun bisa menghancurkan mereka. Cinta akan manis kalau dibalas dengan kasih sayang, tetapi akan menjadi neraka kalau tidak terbalaskan. Bukan seperti itu Qari?" racau Deon.


Deon langsung meninggal cafe selanjutnya ia akan  kembali ke kantor sebelum Jec tahu, dan ia akan menjadi ibu-ibu yang siap menasihatinya dengan dalil-dalil dan juga ancaman dosa.

__ADS_1


[Kamu awasi bocah itu kalau sudah tahu jadwal dia keluar sekolah maka hubungi aku.] Itu pesan Deon untuk anak buahnya. Dia sendiri langsung membawa kendaraanya untuk kembali ke kantor. Ia juga  tidak bisa meninggalkan kantor seenak itu selain dia yang hanya anak buah, Jec juga menjadi ancaman untuk ia melakukan rencananya.


Karena Deon juga sadar betul kalau Jec itu tidak setuju dirinya bersama Qari, Jec selalu berkata kalau Qari itu hanya akan membuat Deon susah, sehingga Jec adalah orang yang sangat menolak Deon mendekati Qari.


Sebelum masuk ke ruangan kerjanya di mana Jec masih ada di dalam sana. Deon lebih dulu merapihkan pakaianya, karena Jec itu selain sebagai asisten dia juga sebagai detektif yang handal, minyak wangi beda bisa tercium oleh Jec, sehingga Deon harus rapih agar semua rencananya tidak berantakan kalau diketahui Jec.


Benar saja begitu Deon masuk keruanganya, kedua mata Jec langsung menatapnya seolah ia tengah mengulitinya. Hingga Deon benar-benar merasa risih.


"Apa ada yang aneh dari ku Jec? Kenapa kamu selalu melihat aku seolah berpengaruh buruk," dengus Deon, kakinya terus melangkah ke tempat duduknya, berusaha tenang dengan apa yang  dia lakukan agar Jec tidak mencurigainya.


"Apa saya juga menatap Anda dengan aneh, perasaan saya tidak melakukan kesalahan apapun. Saya pun menatap Anda dengan biasa. Mungkin karena Anda yang bersalah sehingga merasa seperti itu. Kalau saya sih biasa saja," balas Jec dengan menyunggingkan senyum sinis sebelah bibirnya terangkat dengan sempurna.


Mata Deon langsung melebar sempurna menatap mata Jec, tetapi hal seperti itu sudah biasa Jec alami sehingga dia tidak mungkin langsung takut.


"Bekerjalah yang benar, sebelum kamu menjadi gelandangan," ucap Deon, dia membuka jas kerjanya dan meletakan di atas sofa dan membuka kancing kemejanya hingga dadanya terbuka setengah. Sungguh Jec bagi Deon akhir-akhir ini selain menyebalkan dia juga makin menyerupai wartawan akun gosip.


Kedua mata Deon semakin melebar, ketika mendengar ucapan Jec, padahal itu tidak sungguhan, itu hanyalah pancingan saja, dan benar lagi-lagi Deon  semakin terpancing dengan ucapanya.


"Kamu melapor pada bocah tengil itu?" cecar Deon dengan mata yang hampir loncat. Jec buru-buru menggelengkan kepalanya, bukan takut hanya biar Deon semakin penasaran.


"Tanpa aku melapor Tuan Doni tahu apa yang Anda lakukan. Telpon saja dari  pada nanti beliau marah-marah yang kena imbasnya semua," ucap Jec. Dia sangat yakin sekali kalau sekuat apapun Jec memaksa tetap Deon tidak akan mau menelepon Doni.


"Kenapa tidak kamu saja yang telepon, bukanya Doni adalah CS kamu, kenapa mesti aku yang berurusan dengan bocah tengil itu," dengus Deon.


"Tuan Doni ingin Anda yang telpon. Bahkan sebelum saya sudah berkomunikasi dengan Tuan Doni dan itu semua aku melaporkan hasil laporan pekerjaan kita," balas Jec, benar saja Deon justru lebih memilih berurusan dengaan pekerjaanya.

__ADS_1


"Pekerjaanku lebih penting dari pada aku harus mengurusi anak tengil itu," sungut Deon. Jec pun menyunggingkan senyumnya, sangat senang sekali mengerjai Deon. Andai dia bisa mengerjai Deon sepanjang hari, mungkin berat badan Jec akan kembali lagi setidaknya tidak terlalu kurus. Namun, juga tidak sembarangan mengerjai Deon salah main trik yang ada dia benar-benar di pecat.


"Tuan, apa Anda sudah tidak tertarik untuk memberi hukuman pada Luson? Kasihan Tuan Irwan dan Nona Dena, pasti mereka akan sedih di alam kuburnya, karena Anda tidak lagi mencari keadilan untuk mereka," lirih Jec, pekerjaanya sudah hampir selesai dan itu sebabnya dia bisa mengalihkan pikiran Deon dari Qari, ya meskipun tidak lama setidaknya ia sudah mengalihkan kelain kesibukan.


Benar saja Deon mengangkat wajahnya. "Gimana laki-laki Hyper itu sekarang." Deon mengusap wajahnya dengan kedua tanganya. Ia hampir melupakan Luson yang sudah hampir lima bulan ini ia tidak tahu keberadaanya.


"Dia kembali ketempat dulu, tetapi dia masih bisa merasakan kebebasanya. Orang seperti itu bukanya sangat tidak pantas untuk bebas?" cecar Jec, ingin ia mengambil keputusan sendiri dengan hukuman Luson itu, tetapi ia takut kalau apa yang ia ambil tidak sesuai dengan pemikiran Deon.


Deon menggerakan kepalanya naik turun. "Kalian bikin dia susah saja, biar dia tahu penderitaan hidup itu seperti apa. Dia tidak bisa dibentak, dibikin kasar, cukup bikin dia menderita dalam hidupnya."


"Caranya?" tanya Jec, agar jangan salah langkah.


"Kamu buat dia miskin menderita. Kalau perlu bekerja sama dengan dokter bikin dia lumpuh atau sakit apa gitu. Agar dia tersiksa selama sisa hidupnya. Pasti itu sangat mengasikkan," ucap Deon dengan enteng. Sementara Jec nampak berpikir sejenak.


"Ok, akan saya coba, tetapi kalau rencana saya melenceng gimana?"


"Asal tujuanya untuk membuat dia menderita maka lanjutkanlah," jawab Deon, dia yakin kalau Jec tidak mungkin asal mengerjakan tugasnya. Justru lebih teliti Jec dari pada Deon sendiri. Jec sendiri pun merasa lega ketika di berikan kepercayaan oleh Deon, karena sesungguhnya ia ingin bergerak untuk memberikan pelajaran pada Luson, tetapi ia selalu masih ragu dengan Deon yang ditakutkan marah.


"Baiklah saya tahu tugas saya Tuan," balas Jec. Mereka pun melanjutkan banyak obrolan terutama tentang Luson, dan Jec sangat senang sebenarnya apabila Deon lebih fokus dengan masalah kehidupanya, entah ia membahas pekerjaan, dendamnya pada Lucas ataupun dengan membahas hubungan keluarganya dengan Doni, dari pada mengurusi Qari.


...****************...


Teman-teman sembari menunggu kisah Qari dan kawan-kawan yuk mampir ke novel bestie others, di jamin baper...


Kuy ramaikan...

__ADS_1



__ADS_2