
Gila nih Cucu, cantik banget," gumam Deon yang bener-benar langsung On, begitu melihat tubuh Cucu yang super mulus dan cantik serta seksi.
"Jaga mata, baek-baek nanti loncat," bisik Cucu dengan gaya yang sangat jengah melihat Deon.
"Gak apa-apa loncat paling juga masuk ke lubangnya." Deon semakin senang meledek Cucu. Laki-laki itu mengulurkan tanganya agar Cucu menggandengnya tentu tujuanya agar romantis.
"Apaan sih aku bisa jalan sendiri." Cucu dengan terang-terangan menolak tangan Deon, yang berusaha romantis pada istri barunya.
"Iya kamu memang bisa sendiri tapi, nggak romantis. Kalau kamu nolak aku akan masukan biaya perawatan gaun dan perhiasan yang totalnya sampai lima ratus juta ke dalam catatan map merah," ancam Deon, sontak saja Cucu langsung melebarkan kedua bola matanya.
"Apa kamu tidak ada cara lain, selain mengancam? Misalkan manjakan wanita biar wanitanya nurut bukan malah mengancam, dan mengancam," cicit Cucu dengan menatap jengah pada suami barunya.
"Tidak! Karena aku suka sama orang galak, dan kalau kamu galak kayak gini aku langsung tertantang," balas Deon dengan nada bicara yang dibuat sangat menggoda.
Deon pun kembali mengulurkan tanganya agar Cucu mau menggandengnya, dan dengan terpaksa Cucu pun mau melakukanya, dengan bersungut segala macam dia umpatkan pada Deon, tetapi tentunya di dalam hatinya.
"Ingat aku melakukan ini karena terpaksa," dengus Cucu sembari berjalan dengan dihentakan dengan kuat.
"Ok, tidak masalah, justru aku suka dengan wajah yang terpaksa."
Kini mereka sudah berada di dalam mobil duduk dengan saling membisu terutama Cucu yang masih dongkol setengah mati pada Deon itu.
"Kita sebenarnya mau ke mana?" tanya Cucu dengan suara yang masih dingin dan juga sangat malas, dari tadi diajak ketempat-tempat yang sangat tidak ingin Cucu kunjungi.
"Restoran, kita makam mewah, pasti kamu belum pernah makan mewah, dan anggap saja ini perbaikan gizi, setelah itu kita dansa menghabiskan malam bersama. Lalu kita akan habiskan sisa malam kita untuk menikmati indahnya surga dunia di dalam hotel mewah. Kamu harus mulai membayar hutang-hutang kamu," jawab Deon dengan pandangan mata tetap fokus ke depan.
"Cucu hanya diam saja dongkol sebenarnya apalagi ucapan Deon itu sangat keterlaluan. Meskipun memang benar dia belum pernah makan di restoran yang mewah dan juga makan yang enak-enak tetapi kenapa harus ada embel-embel perbaikan gizi memangnya gizi dia kenapa, kena gizi buru? Itu yang Cucu umpat dalam hatinya.
Hingga wanita itu terkejut ketika Deon memegang tanganya.
__ADS_1
"Cu, depe dulu yuk," ucap Deon sembari nafasnya tersengal.
'DP, apaan aku nggak tau," balas Cucu benar-benar tidak tahu apa yang di maksud DP oleh Deon itu.
Deon memeragakan tanganya yang naik turun seperti wanita sedang melakukan Hand job. Namun Cucu yang memang masih polos sepolos othor. Dia justru tidak tahu apa maksud Deon.
"Apaan sih aku nggak tau," dengus Cucu tetap dalan mode galaknya. Deon yang gemas pun menarik tangan Cucu untuk memegang sang adik kecil yang sudah mengeras dan sesak di bawah sana.
"Deon, apa-apan sih," pekik Cucu dengan menari tanganya kembali. Kaget itu yang Cucu rasakan. Apalagi ini adalah kali pertama dirinya memegang benda keramat itu secara langsung. Meskipun dia dulu pernah sekolah SMK perawat, lalu satu tahun kuliah sebelum di DO karena tidak ada biaya. Sebenarnya sudah bukan hal yang tabu dengan alat-alat reproduksi, tetapi itu semua hanya teori untuk pratek Cucu tetap menjadi orang yang bodoh.
"Kamu jangan pura-pura polos Cucu, bukanya kamu sudah biasa mendapatkan dari para laki-laki yang lain," ucap Deon dengan geram.
"Jaga mulut kamu Deon, kamu kalau tidak tahu seseorang jangan bikin asumsi sendiri tanpa tahu siapa dia sebenarnya. Nanti kalau kamu tahu bahwa apa yang kamu pikirkan salah malu nggak ada obatnya," balas Cucu dengan tatapan yang penuh dengan kebencian.
"Ok kita taruhan, aku atau kamu yang bakal malu." Deon masih tetap yakin kalau seorang Cucu pasti sudah bukan perawan.
"Aku akan bayar kamu satu Milliar kalau kamu masih tersegel." Deon mengekuarkan kartu sakti berwarna gelap yang di dalam sana tidak berseri nominalnya.
Cihh,,,, Cucu mengecap bibir seolah merendahkan tawaran Deon.
"Hutang-hutang aku lunas!" balas Cucu dengan memberikan sarat yang pastinya berat untuk Deon.
"Setengah lunas kalau tidak mau maka nenek dan kakek kamu akan jadi taruhannya." Kembali Deon menggunakan jurus ancamanya untuk membuat Cucu tidak berdaya.
Cucu membalas dengan sinis. "Sudah aku duga kamu hanya berani mengancam. Tapi tidak masalah setidaknya aku tidak jadi wanita yang selamanya terjerat pada laki-laki berengsek macam kamu," balas Cucu dengan menunjukan kebencianya.
"Hati-hati Mbak, kalau bicara jangan sampai kamu nanti bucin dan tidak bisa lepas dari aku," goda Deon, dengan senyum merendahkan.
"Apa tidak kebalik, hati-hati Tuan,jangan terlalu merendahkan aku, nanti kamu bucin malu sendiri." Cucu tidak mau kalah dengan Deon.
__ADS_1
Hahaha... Deon kembali berkelakar. Baiklah Nona, aku suka sekali gaya kamu. Apa kita akan main di atas mobil ini atau kita akan main di kamar hotel?" tantang Deon.
"Aku mau makan dulu, bukanya kamu tadi mengatakan kalau kamu akan mengajakku makan mewah. Bukanya untuk bercinta saja butuh tenaga yang banyak," balas Cucu. Deon pun yang sudah tegang. Kembali melajukan kendaraannya, untuk menuju sebuah restoran yang sudah dia persiapkan.
Kembali Deon menggandeng Cucu dengan sangat mesra, bahkan banyak pengunjung yang menatap pasangan itu. Entahlah mereka kagum atau iri atau justru sedang meperolok Cucu yang berpenampilan sangat terbuka, sehingga banyak yang menatapnya dengan lapar.
Malu? Yah, sebenarnya Cucu sangat malu berpenampilan terbuka seperti itu. Ini adalah bukan pakaian kebiasaan yang Cucu gunakan, tetapi demi laki-laki mesum dihadapanya dia terpaksa mengganti wajahnya dengan muka temboknya. Cucu terpaksa melakukan itu semua demi sang kakek dan nenek yang selalu di jadikan tumbal ancaman oleh Deon kalau Cucu tidak mau menuruti apa kemauan Deon.
Begitu Deon datang, pelayan restoran mewah itu langsung sibuk menyiapkan segala hidangan yang bahkan Deon ataupun Cucu belum memesanya.
Satu meja makanan mewah sudah terhidang terutama makanan khas orang luar, orang sering menyebutnya steak. Yah meskipun Cucu bukan orang kaya banget justru cenderung kismin, tapi untuk makan steak peranah lah yang harganya satu potong lima puluh rebu udah gitu untuk makan kedepanya dia harus menghemat super hemat. Yah, bagi golongan masyarakat sekelas Cucu, sekali makan lima puluh rebu mikir setengah mampus lah, belum minum dan kalau makan steak doang mana kenyang. Coba kalau buat makan mea ayam lima puluh rebu udah dapat empat mangkok kan.
"Silahkan makan yang banyak. Ini namanya steak terbaik di ibu kota dengan daging andalan terbaik dari Jepang Kobe Beef, dan diolak oleh Chef terbaik, beratnya hampir lima ratus gram harganya tiga juta lima ratus," ucap Deon dengan tujuan tentu menyombong.
Uhuk... Uhuk... Cucu langsung tersendak salivanya. "Kaya gini doang tiga juta lima ratus?" tanya Cucu setengah tidak percaya, seenak apa sih sampai harnyanya bisa bikin jantungan.
"Apa kamu mau tahu bill pembayaran untuk satu makanan di meja ini." Deon meraih bill yang diselipkan dibuku dan menyodorkanya pada Cucu.
Uhukkk... Uhuukkk Cucu kembali tersedak ketika dia meliht harga sekali makan lebih dari dua puluh juta.
"Deon kamu gila yah, ngapain makan mahal-mahal begini. Bisa buat beli motor scoopy, mending makan mi ayam saja sisanya buat beli motor atau buat beli baso sama kuahnya kita mandi kuah baso. Makanan kayak gini. Ah elah kenyang kagak," gerundel Cucu tidak henti-hentinya. Menyayangkan kelakuan Deon yang sangat boros itu.
"Udah buruan makan, dari pada aku masukan lagi tagihan itu sama catatan map merah," ancam Deon lagi membuat Cucu semakin tidak bisa menolaknya.
"Yah, mau tidak mau dia akan tetap makan-makanan itu toh sudah di beli masa tidak di nikmati. Mungkin benar saatnya aku perbaikan gizi dengan makanan enak-enak itu.
"Pintar, nah gitu harus nurut satu jam lagi kita akan pulang, dan kamu harus mulai membayar cicilan kamu, aku sudah nggak sabar ingin mencicipi kamu." Deon justru terus menatap Cucu dengan lapar, apalagi pakaian yang digunakan Cucu benar-benar menguras iman, dan juga imin.
Mata Deon pun terus tertuju pada aset Cucu yang kembar itu, tidak terlalu besar tetapi Deon bis membayangkan betapa pas ditangan ukuran aset kembar itu.
__ADS_1