Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam #Episode 207


__ADS_3

Dingin dan sunyinya malam sudah mulai menyapa, bahkan jam di dinding sudah menunjukan hampir tengah malam, tapi Cucu tidak juga memejamkan matanya wanita itu telalu takut akan terjadi sesuatu dengan Deon. Cucu takut kalau Deon itu akan nekad melakukan bunuh diri. Sama seperti sang kakak yang mengalami depresi apalagi sakit yang paling sulit untuk diketahui tanda-tandanya adalah depresi. Bahkan banyak yang terlihat Biasa-biasa saja tetapi nyatanya dia sedang mengalami depresi hebat dan tiba-tiba berpikir pendek. Bunuh diri adalah solusinya.


Lagi, wanita itu pun terpikirkan pad Jec. Ia ingin tahu bagaimana hubungan Jec dan Deon, dan juga apa Jec bisa mengawasi Deon, takut kalau laki-laki yang sudah menjadi suami bunuh diri. Cucu tidak mau dicap buruk oleh orang lain sebagai penyebab Deon bunuh dirii yang artinya dia sama seperti pembunuh.


Cucu memang marah, kesal dan juga tidak ingin terlibat hubungan lagi Deon, tetapi bukan seperti ini carannya. Buka dengan cara Deon meninggal. Dengan lemah Cucu menekan kontak bernama Jec, dan juga tidak menunggu lama Jec pun langsung mengangkat telepon dari Cucu.


[Ada apa lagi Cu, apa kamu ada masalah di rumah Tuan Doni?" ucap Jec dengan suara yang santai. Meskipun dia sendiri sedang merasakan rasa yang sangat sakit luar biasa.


[Jec kamu di mana. Hubungan kamu dan Deon bagaimana?] tanya Cucu tanpa berbasa basi.


[Aku masih di rumah sakit Cu, Qila baru pulang besok rencananya. Emang ada apa dengan suami kamu itu. Dia baru saja pulang, karena habis berkelahi dengan aku? Kenapa sih, kelihatanya kamu cemas banget dengan suami kamu?] tanya Jec, setengah meledek.


[Jujur Jec aku sedikit kefikiran dengan bos kamu itu. Aku tadi sempat diberitahukan oleh Momy Iriana mengenai kakaknya yang bunuh diiri. Kenapa aku jadi takut kalau bos kamu juga akan bunuh dirii juga,] ucap Cucu dengan tersenggal, dan juga suara lirih. Jec bisa tahu dari suara lirih itu bahwa Cucu sedang sangat cemas.


Jec sendiri langsung tersentak ketika dengar ucapan Cucu. [Ya Tuhan Cu, aku malah lupa kalau bos Deon memang dia hanya keras di luar ajah di dalamnya dia ituh rapuh,] balas Jec yang langsung membuat Cucu  jadi tambah bersalah.


[Jec apa kamu bisa lihat bos kamu, pastikan kalau dia baik-baik saja. Aku takut dia melakukan hal bodoh. Aku memang marah, kesal dan juga benci banget, tapi kalau membiarkan dia melewati masa sulit sampai depresi, aku sama saja jadi pembunuh dong,] ucapan Cucu langsung membuat bulu kuduk Jec berdiri.


[Kamu jangan nakut-nakutin aku Cu. Aku juga malah jadi kefikiran kondisi mental suami kamu,] balas Jec yang jadi tidak tenang pikiranya.

__ADS_1


[Kalau gitu kamu bisa datang ke rumahnya untuk mengecek kondisinya Jec. Aku tidak akan bisa tidur kalau belum tahu kondisi Deon." Cucu dengan nada bicara yang memohon meminta agar Jec pergi ke rumah suaminya itu.


Untuk beberpa saat Jec pun hanya diam saja, [Tapi gensi dong Cu, barusan saja aku ngundurin diri jadi asisten rumah tangga Tuan Deon, masa ia kini aku datang menjilat ludah sendiri.]


Kini gantian Cucu yang diam. [Kalau tidak kamu coba cari cara bagaimana Jec untuk sekedar memastikan saja kalau bos kamu itu tidak mati karena bunuh diri. Aku nggak mau Jec jadi pembunuh." Suara Cucu sudah berat dan juga terdengar sangat menyedihkan.


[Kamu santai saja, aku akan coba telpon asisten rumah tangga yang ada di rumah bos Deon. Mudah-mudahan suami kamu memang ada di rumah rasanya aku nggak sanggup kalau harus kelayaban cari dia di luar rumah. Mengingat aku juga sedang merasakan pegal karena ulah suami kamu,] adu Jec.


[Kalian berantem?] tanya Cucu padahal dari tadi Jec sudah bilang kalau dirinya habis beradu kekuatan dengan Jec.


[Yah begitulah. Biasa laki-laki adu kekuatan,] balas Jec dengan santai.


[Lalu siapa yang menang?] tanya Cucu dengan tersenyum santai.


Namun, Jec sesekali menatap Qila yang dia tahu sebenarnya wanita itu belum juga tertidur. Setelah beberapa kali memperhatikan Qila. Kini Jec pun menghubungi asisten rumah tangga di rumah Deon.


Cukup lama Jec menunggu jawaban dari sang asisten rumah tangga untuk mengangkat telpon dari Jec.


[Tuan Deon tadi ada pulang Jec, bahkan kayaknya wajahnya bengkak. Bibi mau tanya tapi nggak enak," ucap wanita paruh baya yang sudah lama bekerja di rumah Deon.

__ADS_1


Jec menghirup nafas lega setidaknya kekhawatiranya tidak terjadi. Deon masih bisa berpikir dengan baik tidak menambah masalah lagi dengan pergi meninggalkan rumah dan mencari kesenangan sesaat.


[Bi, tolong awasi Deon, dan pastikan dia baik-baik saja yah. Dan jangan biarkan dia mengurung diri terus di dalam kamarnya takutnya dia kenapa-kenapa.]


Jec terus memperingatkan asisten rumah tangga agar Deon baik-baik saja. Setelah sang asisten rumah tangga tahu tugasnya dan juga memastikan kalau dia mau  untuk membantu Jec. Kini laki-laki itu juga sedikit lebih tenang dan setidaknya tidak terlalu cemas.


Kini hanya tinggal Jec langsung menghubungi Cucu dan memberitahukan kabar tentang Deon. Jec tidak ingin kalau Cucu juga masih belum bisa tertidur karena wanita itu masih memikikan sang suami.


Sedangkan di lain tempat Deon begitu sampai di rumahnya langsung merendam tubuhnya di bath tube entah sampai berapa jam. Laki-laki itu saat ini dipenuhi penyesalah.


"Kenapa aku selalu tidak bisa menahan emosiku, kenapa aku selalu saja tidak bisa menghormati wanita, kenapa? Kenapa aku sangat buruk prilakunya," racau Deon di tengah tengah kesadaranya yang makin  setengah hilang. Badannya yang merasakan sakit karena perbuatan Jec dan juga dia yang terlalu lama berendam di atas bath tube terlalu lama menambah tubuhnya memberikan  sinyal yang kurang baik.


Dia sedang menghukum tubuhnya yang selalu sulit untuk dia kendalikan. Kadang Deon juga kurang begitu paham dengan sifat aslinya. Dia juga ingin memiliki rumah tangga yang harmonis seperti Qari dan juga Alzam, tetapi kadang emosinya sangat buruk dan sulit dia kendalikan.


Dengan tubuh yang semakin lemah menjelang pagi Deon beranjak dari bath tube karena tubuhnya benar-benar tidak kuat lagi menahan hawa dingin. Menggigil sedirian tanpa siapa pun laki-laki itu kembali terikat kematian dua orang yang sangat berarti untuknya.


"Tuhan ini kah ciri-ciri ajal akan menjemputku," gumam Deon dengan bibir terus menggigir dan tubuh bergetar di bawah selimut tebalnya.


...****************

__ADS_1



...


__ADS_2