
Reisya masih memejamkan kedua manik matanya. Mengenang seluruh kejadian yang singgah dalam hidupnya selama enam tahun ke belakang.
Flashback Off
Dengan linangan air mata yang terus mengalir bebas tanpa hambatan, membuat keskitan Reisya semakin sangat terasa perih menyayat hati.
Orang yang selama ini sangat di sayanginya dengan tulus dan penuh cinta ternyata justru dia yang menancapkan luka yang sangat mendalam tanpa perasaan.
‘Sampai hati Kamu, Kak. Ternyata kasih sayangmu selama ini palsu. Aku nggak tahu kenapa Kamu begitu sangat membenciku,’ batin Reisya mengasihani dirinya seraya mengintip dari lubang kancing di pitu ruang tahanannya.
“Om, Aku ingin Reisya tetap baik – baik saja. Walaubagaimana pun dia masih Aku anggap seperti adikku,” titah Nola pada Hutomo.
“Kamu tidak perlu khawatir Nola. Percayakan semuanya pada Om,” decak Hutomo sambil menyunggingkan senyum miring.
“Bahkan anggota Om juga, jangan sampai menyentuh Reisya sedikit pun!” tandasnya dengan sorot mata yang tajam dan suara penuh penekanan.
Para pengawal Hutomo hanya mengangguk – anggukkan kepalanya sambil melempar pandang satu dengan yang lainnya. Mereka saling menyunggingkan salah satu sudut bibirnya.
“Oke, Om jamin itu!”
“Baiklah. Tapi sebelum Aku pulang boleh Aku melihat Reisya sejenak?!”
“Apa Kamu yakin?”
“Aku hanya ingin melihatnya dari cela yang bisa Aku gunakan,” cetus Nola.
Brrraaaaakkkk!!!
Tiba – tiba terdengar suara ribut dari dalam. Ternyata Reisya terjerembab saat akan kembali ke posisinya semula setelah mendengar Nola ingin melihatnya sejenak.
Semua orang yang berada di luar ruangan seketika masuk ke dalam melihat keributan apa di dalam ruangan.
Tanpa sadar Nola juga ikut berlari masuk ke dalam ruangan. Dan pada saat yang bersamaan manik mata mereka saling beradu. Tatapan mata Reisya begitu marah, namun tak dapat terucap karena mulutnya di disumpal dengan sapu tangan yang tebal.
Saat itu Nola tersadar bahwa persembunyian telah terbongkar. Kini Reisya benar – benar melihat jelas wajah kakaknya.
Jauh di kedalaman hati Nola terasa perih melihat kondisi Reisya yang menyedihkan. Namun rasa dendamnya berhasil mengalahkan itu semua. Kini sisi jahat dalam tubuh Nola yang muncul ke permukaan.
“Baiklah, karena Kamu telah melihatku secara langsung. Aku akan mengatakan yang sejujurnya. Bahwa semua ini adalah campur tanganku dengan Om Hutomo,” terang Nola seraya tersenyum jahat sambil berjalan memutari Reisya yang terduduk di kursi dengan tangan diikat ke belakang.
Nola membuka ikatan saputangan yang menyumpal mulut manisnya agar Reisya dapat berbicara apa yang ada di hatinya.
__ADS_1
“Dan sekarang, Aku adalah istri sah dari Aaric-putra tunggal keluarga Batara. Dan Aku akan mengambil kembali setiap kebahagian yang dirasakan oleh keluarga Widjaya. Orang yang telah tega membunuh seluruh keluargaku hanya demi merebut harta kekayaan orang tuaku,” hardik Nola dengan emosi yang membuncah.
“Enggak!! Itu nggak benar Kak. Kakak salah! Papa bukan orang seperti yang Kak Nola maksud!”
“Cukup, Rei! Kamu tidak perlu menjelaskan apapun padaku. Karena Om Hutomo adalah saksi mata dari kejadian yang merenggut nyawa orang – orang yang ku sayang. Yang di sebabkan oleh Widjaya!” berang Nola penuh dendam.
Sementara Hutomo hanya menjadi penonton. Dia membiarkan Nola meluahkan seluruh emosinya.
Kemudian Reisya teringat akan kejadian yang menimpa Mamanya sebelum Reisya kembali ke Prancis.
“Pak Man! Ayo kita berangkat, saya sudah siap,” ujar Nyonya pemilik rumah kepada supir keluarganya.
“Oh, iya. Baik, Bu,” sahut Pak Man yang sudah menyiapkan mobilnya dengan baik.
“Kak, Rei! Mama pergi dulu, ya. Tolong jaga diri kalian baik – baik, ya,” pamit Bu Widjaya.
“Insya Allah, Ma,” sahut Reisya sambil mengantarkan Mamanya sampai naik ke dalam mobil bersama Pak Man.
Reisya masih berdiri di depan pintu rumahnya sambil memandangi mobil yang membawa Mamanya sampai tak terlihat lagi. Kemudian Reisya tersentak saat Nola mensejajari dirinya di depan pintu.
“Astagfirullah, Kak! Ngejutin Reisya aja,”
“Entahlah, Kak. Reisya rasa seperti tak sedap hati,” cetus Reisya resah.
“Kenapa?” selidik Nola.
Sambil menghelah nafas panjang Reisya menjawab, “nggak tahu. Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal di hati.”
Nola melirik Reisya sekilas lalu kembali memandang lurus ke depan.
“Terkadang, hidup memang seperti ini. Apa yang kita inginkan tidak selamanya sesuai dengan apa yang Kita harapan. Dan seseorang yang terkadang kita anggap baik ternyata justru dia sebagai musuh utama kita,” ungkap Nola dengan senyum smirk.
“Maksud Kak Nola??!!” tanya Reisya sambil melotot mencoba mencerna kata – kata Kakaknya.
Sambil tersenyum tipis Nola berbalik dan meninggalkan Reisya tanpa penjelasan. Membuat Reisya bertanya – tanya, apa maksud ucapan Nola yang menurut Reisya kurang berhubungan.
Lalu terdengar suara dering telepon. Mbok Ana sambil sedikit berlari segera mengangkat teleponnya.
“Hallo, Selamat Pagi, Pak.” Sapa Mbok Ana ramah.
“Benar ini dengan keluarga dari Nyonya Widjaya?” tanya seseorang dari balik teleponnya.
__ADS_1
“Iya, benar, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” sahut Mbok Ana santun.
“Maaf sebelumnya, Bu. Saya dari pihak kepolisian ingin memberitahukan kepada Ibu. Bahwasanya Nyonya Widjaya mengalami kecelakaan dan sekarang sedang berada di rumah sakit,” terang Pak Polisi.
“Innalillahi wa inna illaihi roji’un,” ucap Mbok Ana sambil menangis sesenggukan.
Reisya berlari menghampiri Mbok Ana yang terkulai lemah setelah mendengar berita tersebut. Dengan paniknya Naya bertanya, “Mbok! Mbok kenapa Mbok???”
“Non... Ibu...”
“Iya Mama kenapa??” tanya Reisya khawatir.
“Ibu.. ibu kecelakaan, Non,” ungkap Mbok Ana.
Reisya langsung terjatuh, tubuhnya kulai lemas. Seketika tangisnya pecah maratapi sang Mama.
“Mamaaa.......!!!” jeritnya dengan air mata yang mengalir begitu derasnya.
Dari tangga Nola berdiri memperhatikan kedua orang yang saling berpelukan itu dengan senyum merekah menghias bibirnya. Hatinya sangat – sangat puas sekali. Melihat kesakitan yang perlahan mulai dirasakan oleh Reisya.
Cetarrrrr!!!
Suara pukulan kayu memabngunkan Reisya dari lamunannya. Sorot matanya kembali pada tubuh gadis yang saat ini duduk dihadapannya.
“Apa Kamu mengingat sesuatu kembali adikku yang manis?” tanya Nola dengan Nada mengejek.
“Apa kecelakaan Mama waktu itu juga adalah perbuatan Kakak?!!”
Nola tertawa terbahak – bahak mendengar pertanyaan Reisya. Hingga suara tawanya menggelagar seisi ruangan.
“Kecelakaan Ma-ma,”—Nola kembali berjalan mendekati Reisya sambil membungkukkan tubuhnya,” menurut Kamu?” bisik Nola di telinga Reisya.
“Jahat!! Kak Nola JAHAT!!!!!” peki Reisya sekuat tenaga.
“Sshhhhhuuuuuuuuttttttt! Bukan Aku yang jahat. Justru aku orang yang baik. Aku mengembalikan semuanya, semua yang kalian lakukan terhadap keluargaku. Bukankah itu orang baik namanya?” tandas Nola dengan suara mendayu – dayu.
“Sudahlah, Nola. Om rasa cukup untuk hari ini. Lain waktu Kamu bisa melanjutkannya kembali bersama Steve,” tukas Hutomo.
“Steve..??? Kapan Dia akan tiba, Om?” tanya Nola semakin bersemangat ingin bertemu dan berkenalan dengan Steve secara langsung.
‘Steve???? Apakah Dia adalah orang yang sama?’ batin Reisya.
__ADS_1