Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
CBD #Episode 83


__ADS_3

"Tuan, tunggu!!" Jec langsung tersadar dan buru-buru mengejar Doni yang sudah lebih dulu meninggalkan dirinya. Bahkan makanan yang sengaja di pesan untuk menjamu sang dokter, tidak sama sekali Doni sentuh. Bahkan minuman pun tidak Doni teguknya.


Jec mengikuti langkah Doni, tetapi sesuai perkiraan Jec Doni sudah lebih dulu meninggalkannya dan mungkin saja Doni sudah pergi meninggalkan bangunan restoran itu.


"Sial, kenapa aku bisa telat berpikir sih," lirih  Jec setelah kedua bola matanya  mengawasi kelain penjuru untuk mencari keberadaan Doni, tetapi laki-laki yang berprofesi sebagai dokter itu tidak juga terlihat.


Setelah memastikan Doni tidak ada, Jec pun kembali ke ruangan tempat menjamu Doni. Sedangkan Doni yang bersembunyi di balik lorong yang cukup sepi hanya tersenyum dengan sinis, ketika mengetahui respon dari Jec, ketika dirinya mengetahui siapa sebenarnya Deon.


"Aku tidak tahu Deon kalau kita akan dipertemukan dengan cara seperti ini. Aku bahkan rasanya tidak siap untuk bertemu denganmu. Ternyata  lingkungan dan pola asuh mempengaruhi kamu Deon. Kamu tumbuh menjadi orang yang berambisi, jahat dan tidak berprikemanusiaan. Pasti Bunda sedih ketika mendengar nasib kamu seperti ini," lirih Doni. Laki-laki itu kembali melangkahkan kakinya dengan sedikit tergesa. Sebab takut kalau orang-orang Jec akan mengenalinya.


"Kasihan kamu Alzam, aku tidak tahu permasalahan kalian, sampai Deon mengejar nyawamu. Tapi selama aku hidup tidak akan aku biarkan orang lain mencelakai dirimu. Aku akan melindungi kamu dari orang-orang yang ingin menyingkirkan kamu. Biarpun aku kenal kamu baru dua tahun, dan itupun hanya sekilas aku mengenal kamu, tetapi aku tahu kamu adalah laki-laki yang baik. Sudah sepatutnya aku berdiri di depanmu untuk melindungi kamu. Aku yakin kamu pasti akan bisa melewati masa-masa sulit ini. Sakit ini memang mengerikan, tetapi akan ada muara yang indah apabila kita sabar dan yakin bahwa pertolongan Allah pasti ada," bisik Doni berjanji pada batinya sendiri.


*****


Sepanjang perjalanan dari restoran menuju rumah sakit tempat Deon dirawat, Jec sama sekali tidak bisa berpikir dengan normal. Laki-laki itu masih sangat penasaran kenapa bisa Doni, sang dokter yang merawat Alzam, bisa tahu dengan jati diri bosnya, Deon. Padahal semenjak papahnya meninggal dua tahun silam, jati diri Deon sudah ditutupi dengan sangat rapat. Hanya orang-orang tertentu yang tahu siapa Deon, dan itu pun  hanya orang dekat. Bahkan rekan kerja yang selama ini bekerja sama dengannya masih bertanya-tanya pemimpin perusahaan Bellamy Grup yang mana, dan Deon akan diam saja tidak ingin menunjukkan kepemimpinannya. Dia hanya terkenal sebagai atasan biasa saja, bukan generasi penerus papahnya.

__ADS_1


Karena keamanan menjadi alasan Deon tidak mau mempublikasikan dirinya sebagai pewaris tunggal perusahaan peninggalan papahnya yang terkenal banyak di dalam maupun luar negri.


Namun, Doni laki-laki yang hanya berprofesi sebagai dokter, dan sebelumnya tidak pernah bertemu sama sekali dengan Jec, maupun Deon tiba-tiba bisa mengenali siapa Deon hanya dari kartu nama yang tadi Jec berikan.


"Siapa Doni itu? Aku harus kasih tahu bos agar dia hati-hati dan mungkin saja Doni adalah musuh  yang menyamar sebagai dokter. Tapi kenapa bisa secara kebetulan sekali yah? Kenapa bisa kebetulan sekali dengan momen ini," dengus Jec, kepalanya langsung berdenyut, kala memikirkan siapa Doni.


Jec melangkahkan kakinya dengan lesu, kali ini justru dia yang lesu dan tidak bergairah untuk melewati harinya, tidak seperti biasanya yang selalu bersemangat dan ide-idenya mengalir dengan lancar. Sejak kejadian tadi dia jadi kepikiran dengan sosok dokter Doni.


Ditangan sebelah kirinya, laki-laki itu menjinjing makanan untuk bosnya dan untuk dirinya sendiri. Sedangkan di sebelah kananya koper berisi uang yang ditolak Doni dengan entengnya di jinjingnya, tanpa ada rasa takut bakal ada yang merampoknya.


"Jec... kamu dari mana saja? apa kamu ingin aku pecat, kerja tidak ada  yang benar," bentak Deon, begitu Jec masuk ke dalam ruangannya. Jec terus melangkah ke Deon dengan raut wajah yang datar. Hal itu membuat Deon menjadi heran. Sebab biasanya Jec pasti akan merespon ucapan dia meskipun hanya dengan kata 'Maaf Tuan atau baik Tuan'. Namun, kali ini Jec hanya diam tanpa ekspresi dengan wajah datar dan juga  seperti kebingungan.


"Apa ini artinya dokter bodoh itu menolak tawaran kita? Atau dia ingin kita menambah jumlah uangnya lagi?" cecar Deon dengan kening yang masih mengerut sempurna.


Jec menghempaskan bokongnya dengan kasar di atas kursi di samping Deon. "Dia menolak," jawab Jec dengan lirih.

__ADS_1


"Belaga sekali itu dokter, sekaya apa dia hingga menolak uang sebanyak ini. Dia kerja seumur hidup juga mengumpulkan uang sebanyak ini belum tentu bisa," hina Deon, tangannya kembali menutup koper itu dan menyingkirkannya begitu saja ke atas nakas.


"Cari tahu dokter itu, dan buat perhitungan dengan dia hingga dia menyerah dan mau menerima kerja sama ini," titah Deon, dengan tatapan mengobarkan kebencian karena penolakan yang Doni lakukan. Benar dugaan Doni, kalau Deon pasti akan menerornya hingga dia mau menerima kerja sama gila ini.


Jec menghirup nafas dalam, seolah dalam rongga dadanya telah kehabisan pasokan oksigen.


"Kenapa Jec, apa kamu tidak mau menjalankan perintah ini? Kalau kamu tidak mau lebih baik kamu pergi saja dan biar aku cari pengganti dirimu. Mungkin memang sudah saatnya aku mengganti asisten baru," ancam Deon.


"Ini bukan soal mau atau tidak Tuan, tapi apa Anda kenal dengan dokter Doni?" tanya Jec, laki-laki itu masih penasaran dengan apa yang terjadi diantaranya dengan Doni.


"Lalu apa lagi. Doni? Aku tidak kenal dan baru dengar namanya saja sekarang," akunya masih dengan nada bicara yang kesal karena Jec gagal membuat dokter itu mau bekerja sama dengan dirinya.


"Tapi Doni, dokter yang  menangani Alzam kenal Anda Tuan, bahkan nama lengkap Anda dan juga Anda adalah pewaris tunggal perusahaan almarhum papah Anda," jelas Jec.


Deg!! Jantung Deon seolah langsung berhenti berdetak. "Bagaimana bisa dia kenal aku sedangkan aku saja tidak kenal dia, kalau gitu mungkin dia hanya asal, hanya untuk menggertak kita," sanggah Deon.

__ADS_1


Jec yang tadi sempat merekam pembicaraan mereka sebagai bukti pun langsung menyerahkan bukti agar Deon tidak mengira bahwa dirinya juga hanya mengada ada.


"Anda bisa lihat dan dengar dari rekaman ini, apakah dia terlihat hanya mengada-ada atau memang dia tahu siapa Anda."


__ADS_2