
Reisya terus saja menyesali kebodohannya sambil mendekap erat kedua lututnya, meringkukkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia menangis sesenggukkan, berpikir bahwa harga dirinya telah hancur hanya karena satu kesalahan. Kesalahan telah mempercayai orang yang salah.
Samar terdengar suara orang mengetuk pintu rumahnya dari luar. Namun Reisya tak menghiraukannya. Dia masih saja merutuki dirinya atas kelalaiannya.
Selama ini dia selalu berhati – hati terhadap siapapun, tapi setelah kehadiran Max dalam hidupnya secara perlahan kepercayaan dirinya mulai goyah.
Suara ketukan pintu itu terus saja terdengar sambil sesekali nama Reisya disebut.
Tok.. Tok.. Tok..
“Reisya! Are you there?” tanya Max dari luar rumah. Namun tidak juga ada jawaban dari Reisya.
Max mencobanya lagi, “Rei! Open the door, please! I want to talk something with you.”
Reisya masih tak bergeming bahkan handphone_nya pun di non aktifkan. Max yang merasa bersalah terus berusaha sampai Reisya membukakan pintunya.
“Rei! I want to explain. Open the door, please!” pinta Max.
Akhirnya Reisya beranjak dari tempat tidurnya, menghapus jejak air matanya sebelum menggiring tubuhnya yang terkulai lemah berjalan membukakan pintu, memberi kesempatan pada Maxuntuk menceritakan apa yang ingin ia sampaikan.
Reisya mendapati Max yang masih berdiri mematung di depan pintu rumahnya. Reisya hanya diam membiarkan Max masuk kemudian duduk di sofa ruang tamunya.
Dengan muka kesal sembari menghembuskan nafas keras Reisya melayangkan pandangannya dari Max. Membuat Max semakin merasa bersalah.
“Rei! I’m really sorry for today. This’s my fault!” aku Max.
“Yes of course!! This is your fault!! I hate you so much!” pekik Reisya dengan mata yang sudah memerah dipenuhi dengan genangan bening yang siap terjun bebas dari kelopak matanya.
“I know that. And I’ll do anything to make up for it. Give me a chance,” bujuk Max memelas.
__ADS_1
“Do you know what he did to me?! He has ruined my life, my future!!” sentak Reisya dengan linangan air mata, Max hanya tertunduk diam dan semakin menyalahkan dirinya.
“Is this your plan?” tuduh Reisya dengan sorot mata penuh kebencian.
“No. Not me!! He’s not my friend. He’s a liar, he is a bad guy. And I’ll do what I MUST do,” geram Max sambil mengepalkan kedua tangannya.
“Leave me alone, PLEASE!” titah Reisya mengusir Max secara halus.
Max pun mengerti perasaan Reisya. Tanpa banyak bicara Max mengayunkan langkah kakinya keluar dari rumah Reisya dengan rasa bersalah yang mendalam. Belum lagi dia harus menghadapi kemarahan Aaric nanti jika dia sampai mendengar berita ini.
Reisya menutup kembali pintu rumahnya, kemudian kembali ke tempat tidurnya. Pikirannya kacau, dia tidak dapat berpikir dengan jernih.
Dia kembali meratapi dirinya, “Kenapa aku begitu mudah percaya sama dia, kenapa aku mau mengikuti kata – katanya. Aku benci, aku benci, aku benci..”
Sampai Reisya lelah dengan tangisnya dan akhirnya tertidur.
***
Dengan perasaan bahagia.. Aaric ingin segera menghubungi kekasihnya, menyampaikan kabar penerbangannya setelah subuh esok hari. Namun ternyata dia tidak bisa menghubungi Reisya. Lalu dia mencoba menanyakan keadaan Reisya pada Max.
Pun sama dengan Max, ia tidak menjawab panggilan telepon Aaric karena sibuk dengan komputernya guna melakukan penyelidikannya. Akhirnya Max mendapatkan sedikit gambaran tentang orang yang telah memberikan alamat dan informasi yang salah semalam.
“Ayo.. come on Max, take my call..,” gumam Aaric pelan.
Aaric mendengus kesal, menghempaskan nafasnya dengan kasar, setelah beberapa kali tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.
Aaric melemparkan ponselnya pelan ke atas tempat tidur diiringi tubuhnya yang juga ia hempaskan.
“Max, Rei. Ada apa dengan kalian? Kenapa tidak ada yang bisa di hubungi?” keluh Aaric sambil mengangkat kedua tangannya ke atas kepala.
__ADS_1
Sampai waktunya tiba, Aaric bersama seorang rekan kerjanya terbang ke Prancis tanpa sepengetahuan Reisya juga keluarganya.
Setibanya di Prancis, Aaric menghantarkan rekannya ke sebuah hotel sedang dia langsung menuju ke rumah Reisya yang menjadi tujuan utamanya.
Namun rumah Reisya masih tertutup rapat seperti tak berpenghuni. Sementara Max, dia masih di sibukkan dengan pengintaiannya untuk mencari informasi tentang laki - laki yang telah membohongi Reisya dan dirinya.
Laki – laki yang telah menyebabkan keretakan hubungannya dengan Reisya. Dan akan ada akibat yang lebih besar lagi dari kesalahan itu, kemarahan Aaric.
Aaric sudah berdiri di depan pintu rumah Reisya sambil memanggil namanya melalui ponselnya, namun masih tak mendapatkan jawaban.
Reisya masih menon aktifkan ponselnya, saat ini dia benar – benar merasa sangat depresi atas kejadian yang telah menimpa dirinya. Dia masih meringkuk di atas tempat tidurnya.
Namun samar terdengar suara pintu di ketuk dari luar sambil memanggil namanya. Sekelebat manik matanya melirik pada jam yang selalu setia bertengger pada dinding kamarnya. Di lihatnya jam sudah menunjukkan pukul 15.00 waktu setempat.
“Astaghfirullah, ya Allah ada apa denganku?” tanya Reisya sembari mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya ke arah belakang.
Kemudian Reisya berjalan menuju cermin di kamarnya memandangi dirinya dalam cermin dan berkata pada dirinya sendiri dalam hati, “Rei! Loe nggak bisa seperti ini terus, loe harus kuat! Perjalanan loe masih panjang. Loe harus bangkit, Rei!”
Namun di sisi dirinya yang sebelah lagi seakan ikut berbicara menjatuhkan dirinya bahkan menghinanya, “Loe itu udah hancur! Loe udah rusak dan tidak suci lagi. Aaric tidak akan menerimamu lagi, bahkan dia akan jijik jika melihat loe! Loe hanya dianggap seperti sampah di jalanan.”
Tiba – tiba Reisya menjerit sekuatnya karena perang batin dalam dirinya, “TIDAAAAAAKKKK!!!!!!”
Aaric yang mendengar jeritan itu kembali menoleh dan mengetuk pintu dengan sekuat tenaga sembari berteriak memanggil nama Reisya.
“Reisya! Rei! Buka pintunya! Aku di sini, apa yang telah terjadi? Reisya.. buka pintunya,”seru Aaric sambil terus mengetuk pintu rumah Reisya.
Reisya yang histeris terus menangis meratapi dirinya yang terduduk tak berdaya di depan cermin. Sementara di luar rumah, Aaric merasa sangat cemas dan sangat khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada Reisya.
Aaric terus mengetuk pintunya semakin kuat sembari berteriak menyebut nama Reisya. Pada saat yang bersamaan Reisya tersadar, dan mendengar dengan jelas namanya di sebut – sebut. Segera ia menghapus jejak air matanya kemudian berlari ke luar kamar dan mengintipnya dari balik kain jendela.
__ADS_1
Mata indah Reisya yang sudah membengkak karena menangis tanpa henti seketika itu terbuka lebar saat melihat sosok Aaric yang sudah ada di depan pintu rumahnya.
“Bagaimana bisa Mas Aaric sudah ada di depan rumahku? Bukankah seharusnya baru lusa ia terbang? Kenapa sekarang sudah berada di sini? Apa kejadian yang menimpaku sudah langsung sampai ke telinganya?” monolog Reisya dengan detak jantung yang mulai tidak stabil.