
Alzam berjalan mendekati Tantri, ketika ia melihat bocah kecil itu sudah selesai bercerita dengan kedua orang tuanya serta kakaknya. Tampak beberapa kali bocah kecil itu menyeka air matanya dengan ujung hijab yang ia kenakan.
Ehemzz... suara deheman dari Alzam berhasil membuat Tantri langsung memalingkan pandanganya pada abangnya, dengan mata yang masih merah dan juga wajah yang terlihat sedih Tantri pun tersenyum pada sang kakak.
"Apa sekarang sudah lebih tenang?" tanya Alzam dengan mengusap punggung Tantri, ia ingin memperbaiki apa yang sudah ia lakukan, memperbaiki kepingan luka yang terjadi pada adiknya karena kelalaian yang ia lakukan. Mungkin Tantri akan terus berkata bahwa ia baik-baik saja, tetapi tidak dengan perasaan yang ada di dalam hatinya. Hanya Tantri dan othor yang tahu.
Seperti sebelumnya Tantri hanya menyunggingkan senyumnya dan mengangguk dengan samar. "Udah mau magrib, yuk pulang," ucap Tantri dengan beranjak berdiri dan meninggalkan makam keluarganya.
"Emang apa sih yang kamu ceritakan, kenapa abang lihat kamu itu sangat khusu, sepertinya kamu sedang ngomongin abang," tanya Alzam lagi, masih berusaha mencari tahu kira-kira apa yang adiknya ceritakan. Kini Alzam merangkul pundak adiknya yang saat ini tingginya sebatas dagu Alzam.
"PD banget sih." Tantri mencubit pinggang sang abang.
"Aww... sakit banget cubitan kamu Dek, kayak kepiting saja nyapitnya sampai berasa sampai ulu hati," sungut Alzam, dengan mengusap-usap pinggang bekas cubitan Tantri.
"Lebay banget bang, cuma cubitan kecil juga," bela Tantri dengan kembali menyikut pinggang abangnya. Terlalu seru utuk berantem seperti dulu dan yang menang selalu Tantri. Itu karena Alzam yang terus mengalah.
"Justru De, cubitan yang kecit itu sakit banget tau. " Alzam masih terus mempermainkan peranya hingga terlihat natural, seolah memang ia sangat kesakitan dengan cubitan Tantri, tetapi Tantri bersikap biasa saja.
"Kamu yakin tidak mau tidur di rumah Kakek, di sana ada Nara, pasti ponakan bayi juga pengin kenal dengan kamu." Alzam kembali menawarkan agar Tantri tidur denganya mungkin untuk satu atau dua hari, agar Qari juga tidak merasa bersalah.
Bahkan Qari juga sejak tadi terus menanyakan bagaimana keadaan Tantri, dan apa dia marah dan lain sebagainya. Alzam berharap apabila Tantri menginap di rumah mereka maka Qari akan merasa tenang dan Tantri juga semakin dekat dengan Qari dan tidak merasa bersalah terus.
__ADS_1
Tantri nampak diam untuk beberapa saat, "Maaf Bang, bukan Tantri tidak mau ikut dengan abang, dan menginap di rumah kalian, tetapi Tantri saat ini benar-benar ingin sendiri. Tantri nyaman dengan Bi Sarni, dan juga Tantri seperti ini bukan karena Tantri marah pada Abang ataupun Kakak Qari, Tantri hanya ingin sendiri dan mulai menata hidup Tantri, sesuai apa yang Tantri ingin."
"Jadi kamu tetap tidak mau menginap dengan abang. Padahal abang pengin kenalin kamu dengan ponakan kamu, Nara," balas Alzam.
"Mungkin lain waktu yah Bang." Tantri memberikan senyuman yang manis agar Alzam tidak mengira kalau dirinya masih marah.
Mereka pun kini kembali ke rumah Alzam, dan Tantri tetap dengan pilihanya ia ingin tinggal sendiri dulu di rumah mereka. Bukan karena Tantri kesal dan marah pada mereka, yang seolah menyudutkan Tantri atas kejadian meninggalnya Qinar, hanya saja Tantri benar-benar ingin sendiri dulu, menenangkan pikirannya.
"Terima kasih Bang, atas waktunya, dan sekarang Abang pulang gih, kasihan Kakak Qari dan ponakan bayi, pasti nyariin Abang." Saat ini mereka sudah sampai di rumah mereka.
"Kamu ngusir abang?" Alzam sebenarnya masih merasakan nyeri dengan apa yang terjadi dengan Tantri di mana dia benar-benar saat ini merasa sangat jauh dengan adiknya itu.
"Terus kamu apa tidak kanget, dan bukanya kamu juga ditinggalkan oleh Abang lebih lama, berhari-hari loh," balas Alzam, masih mencoba menatap dengan tajam pada adik kecilnya.
"Bang, tolong jangan buat Tantri semakin bersalah. Bersikaplah seperti biasa. Tantri tahu Abang sedang berusaha menebus kelalaian Abang dalam beberapa hari ke belakang, tetapi jangan keterlaluan. Jangan sampai Abang terlalu sempurna untuk Tantri, dan Abang lalai memberikan perhatian untuk Kakak Qari dan ponakan bayi. Tantri tidak mau bersalah untuk kesekian kalinya. Tantri perlahan tahu kok, apabila kalian para laki-laki ketika sudah menikah yang paling utama seharusnya kalian perhatikan adalah anak dan istri Abang. Tantri tidak apa-apa," ujar Tantri dengan suara yang terlihat sangat tenang.
Alzam pun yang mendengar ucapan Tantri langsung terisak, penyesalanya semakin menjadi. Karena membuat adiknya berubah seperti ini.
"Kenapa kamu bilang seperti itu, kamu adik abang, sampai kapan pun kamu akan jadi tanggung jawab abang. Kenapa sekarang abang merasakan kamu sedang berusaha menjauh dari abang. Apa kurang abang? Dan apa salah abang, tegur dan ingatkan abang. Abang sayang banget sama kamu, kamu keluarga abang satu-satunya, dan kalau abang tidak ada jodoh lagi dengan Kakak Qari, abang akan pulang pada kamu, jadi kamu adalah orang yang akan selalu ada di hati abang, sampai kapan pun."
Tantri hanya menunduk dan menggigit bibir bawahnya, menahan tangisnya agar tidak pecah. "Lain kali Tantri akan menginap di rumah kalian, tetapi tidak saat ini. Tantri ingin bercerita banyak hal dengan Bi Sarni, beri waktu untuk Tantri."
__ADS_1
"Baiklah kalau memang kamu masih butuh waktu. Abang akan berusaha untuk mengerti, tetapi ingat kalau kamu butuh sesuatu jangan sungkan bercerita dengan abang. Sampai kapan pun kamu akan tetap jadi teman, dan adik abang.
Tantri pun mengembangkan senyum terbaiknya, setelah pembahasan selesai gadis kecil itu pun turun dari mobil dan masuk ke rumah, sementara Alzam kembali ke rumah tuan Latif.
Namun baru beberapa meter mobilnya meninggalkan rumah, Alzam kembali menginjak pedal rem-nya.
"Aku penasaran kira-kira apa yang Tantri curhatkan di makam tadi." Alzam meraih ponselnya dari kantong celana, yang tanpa Tantri ketahui sebelum Alzam meninggalkan adiknya di makam dia lebih dulu meletakan ponsel yang sudah siap merekam, di balik keranjang bunga yang Tantri bawa, dan sudah pasti gadis kecil itu tidak tahu apa yang abangnya lalukan. Bukan Alzam tidak menghormati privasi adiknya, dia hanya ingin tahu apa yang ada dalam hati Tantri, dan ia akan berusaha memperbaiki apa yang telah Alzam lakukan, dan masih kurang di mata adiknya.
Indra pendengaran Alzam terus mendengarkan rekaman dari curhatan adik kecilnya. Tanpa terasa air mata Alzam kembali mengalir dengar deras.
Selama ini dia terlalu bahagia, tanpa dia sadari ada adik kecil yang dalam diamnya memendam kesedihan yang tidak dia ketahui oleh siapa pun.
"Apa aku izinkan saja Tantri untuk pergi, dan dia belajar untuk hidup sendiri toh bersama Bi Sarni, aku takut ketika dia tetap bersama aku, tanpa sadar aku kembali melukai hatinya."
#Buat yang sudah kasih masukan Tantri jangan pergi, dan lain sebagainya. Pertama-tama othor ucapkan banyak terima kasih dari pembaca novel JANGAN HINA KEKURANGANKU, dan CINTA BERSELIMUT DENDAM, Tantri masih tetap mempertahankan perannya yang punya daya tarik sendiri, meskipun ada yang tidak suka dengan sifatnya dan ada juga yang paham betul dengan perasaan Tantri. Tapi untuk kali ini Tantri akan othor buat pergi dan menjalani hidup sedndiri, karena othor akan buat novel untuk Tantri dengan genre Teenlit (Remaja) Di mana dia akan berjuang menemukan jati dirinya dengan konflik remaja.
Sejauh ini novel othor banyakan rumah tangga dan percintaan, pengin bikin yang remaja dengan persaingan diantara remaja juga, dan InsyaAllah kalau tidak ada kendala tokoh utamanya othor ambil dari Tantri yang sebagian pembaca sudah tahu perjuanganya dari kecil, jadi othor sudah punya jalan cerita dasarnya tinggal dikembangkan saja ketika Tantri remaja hingga dewasa.
Terima kasih masukanya yah, dan maaf kalau othor tetap bikin Tantri akan pergi diakhirnya. (Spoilers)😂 Pokoknya gitu lah Tantri akan tetap go dan dia memulai kehidupan remaja yang penuh tantangan, tanpa Alzam dan lain-lain.
Mohon dukungannya.... 🙏🙏
__ADS_1