Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam #Episode 156


__ADS_3

Ketika di rumah sakit Qari dan Alzam serta keluarga Qari sendiri sedang berbahagia, karena Qari yang kondisinya semakin membaik dan yang menambah bahagia adalah Nara yang juga semakin sehat. Besar harapan Naqi dan Alzam dengan kehadiran Nara di tengah-tengah keluarga Alzam dan Naqi bisa membawa kebahagiaan baru.


Kejadian yang berbanding terbalik justru terjadi di rumah mewah Alzam, Bi Sarni lari tunggang langgang meminta bantuan untuk Tantri yang jatuh pingsan.


"Pak... Pak... Tolong bantu angkat Neng Tantri, dia pingsan di kamarnya," jerit Bi Sarni begitu sampai di pos satpam depan rumah majikannya


Satpam pun langsung lari memberikan bantuan pada Tantri. Dengan telaten Bi Sarni mengusap-usap tangan Tantri, dan mencoba merespon dengan  minyak kayu putih di area bawah hidung agar Tantri cepat sadar.


"Memang kenapa Bi, tumben Neng Tantri pingsan?" tanya Satpam dengan  heran, pasalnya Tantri adalah orang yang kuat dan tidak lemah, sangat sama dengan Qari.


"Bibi juga tidak tahu Pak, tiba-tiba menangis di balkon, dan waktu bibi tanya Neng Tantri malah jatuh pingsan," balas Bi Sarni, masih dengan perasaan yang cemas, wanita paruh baya itu juga tidak bisa mengabarkan pada Alzam pasalnya pasti hanya akan menambah beban pikiran bosnya. Bi Sarni tidak ingin membuat mereka cemas.


Sebisa mungkin bi Sarni hanya mengurus semuanya seorang diri tidak mau membuat Alzam repot dengan kondisi Tantri.


Hal serupa juga terlihat di kamar mewah, di lain tempat. Deon bukanya tidur seperti yang dikatakan oleh Jec dan Cucu, ketika dua asistenya sudah sibuk dengan alam mimpinya Deon justru sebaliknya ia dilanda perasaan yang semakin bingung dan semakin tambah bersalah.


"Ya Tuhan, apa kira-kira yang terjadi dengan gadis kecil itu. Apa dia baik-baik saja." Deon bolak balik seperti setrikaan dengan mengambil ponselnya. Mencoba menghubungi nomor Tantri ulang, tetapi panggilan mereka saja masih terhubung, mereka masih saling melakukan panggilan terlepon, tetapi ponsel Tantri yang masih berada di balkon, boro-boro Bi Sarni ingat ponsel yang bi Sarni pikirkan adalah bagaimana caranya mencoba melakukan pertolongan pada Tantri.


"Apa aku susul saja yah ke rumah gadis kecil itu, perasaan aku semakin tidak tenang," gumam Deon, dia pun langsung menyambar jaket dan juga konci mobil, dengan mengendap endap Deon pun langsung menuju garasi dan setelah memastikan kalau Jec sedang pulas tertidur dan Cucu pun sama laki-laki itu langsung pergi meninggalkan rumahnya.


Ia berjanji tidak akan lama mengurus semuanya, dan berharap dia pulang Jec dan Cucu pun belum bangun.


Auhh... suara ringisan Dari Tantri setelah bi Sarni dengan telaten memberikan pijatan dan terapi rangsangan bau yang menyengat akhirnya Tantri pun sadar, tanganya memijit kepalanya dengan pelan.

__ADS_1


"Neng, alhamdulillah akhirnya Neng Tantri sadar juga," pekik Bi Sarni dengan perasaan yang terlihat sangat bahagia, berbeda dengan Bi Sarni yang tidak henti-hentinya mengucap hamdalah sedangkan Tantri justru kembali histeris dalam tangisanya.


"Tidak mungkin ponakan bayi meninggal kan Bi?" Tantri menatap dengan iba pada bi Sarni.


"Neng, emang siapa yang bilang kalau ponakan bayi sudah meninggal?" tanya Bi Sarni, ketika Tantri terus menjerit jerit meminta maaf.


"Laki-laki jahat itu Bi, ada laki-laki jahat yang bilang kalau ponakan bayi sudah meninggal," adu Tantri, dengan suara yang tersenggal. Sementara Bi Sarni mengusap dadanya dengan lembut.


"Neng jangan percaya kalau bukan Den Alzam, dan Non Qari yang memberi kabar kalau ponakan bayi sudah meninggal."


Tantri menggeleng, "Mereka semua sengaja tidak memberi tahu Tantri pasti karena takut kalau Tantri akan marah dan akan sedih. Tantri jahat Bi, Tantri jahat, gara-gara Tantri ponakan bayi meninggal dunia, apa nanti Tantri juga akan dipejara Bi?" Tangisan dari bibir Tantri kembali pecah, tidak pernah terbayangkan sedikit pun kalau ia akan menjadi seorang pembunuh.


Kembali Bi Sarni menghela nafasnya dalam, dan membuangnya dengan perlahan. Bingung juga harus menenangkan Tantri bagaimana caranya.


"Bi, ayok kita turun, itu pasti Abang Al." Tantri menggoyang-goyangkan tangan bi Sarni agar membukakan pintunya.


Lagi, suara bel pun kembali terdengar untuk kesekian kalinya, dan Tantri lagi dan lagi merengek pada Bi Sarni agar membukakan pintu rumahnya. Bi Sarni yang penasaran pun akhirnya mau membukakan pintu rumah.


"Ayok Neng, mungkin memang benar kalau yang datang Den Alzam." Tantri dengan wajah yang terlihat sekali bahagianya sehingga Tantri langsung beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan dengan tergesa turun ke bawah, diikuti oleh bi Sarni di belakangnya.


Baik Bi Sarni maupun Tantri sudah yakin kalau yang pulang itu Alzam, Tantri sangat bahagia karena mungkin saja Alzam akan mengatakan yang sebaliknya, ponakan bayinya tidak meninggal yang dikatakan laki-laki yang di panggil om jahat itu adalah hanya akal-akalan semata.


"Abang..." Wajah Tantri langsung berubah pias dengan apa yang dia lihatnya. Laki-laki yang sangat ia benci sedang berdiri di depan pintu rumahnya, dengan wajah yang sangat memprihatinkan.

__ADS_1


"Sedang apa kamu di sini? Sedang apa? Mana ponakan bayi aku? Kamu bohongkan kalau ponakan bayi sudah meninggal?" racau Tantri dengan memukul dada Deon dengan brutal. Tidaak perduli yang di pukul akan marah dan melakukan pemukulan balik, yang jelas saat ini yang Tantri ingin lakukan adalah marah pada laki-laki jahat itu Tantri pengin marah dengan sangat marah tidak perduli kalau ada yang mengatakanya terlalu norak yang terpenting gara-gara Deon semuanya jadi seperti ini.


Bi Sarni yang baru turun pun langsung datang dan menahan Tantri agar jangan memukul laki-laki yang ada di depanya, terlebih wanita paruh baya itu juga tidak tahu siapa gerangan pria yang sedang jadi bulan-bulanan Tantri.


"Neng, tahan emosinya Neng, jangan sampai bikin orang lain terluka," ucap Bi Sarni dengan suara yang tinggi dan bergetar. Mencoba menahan Tantri yang masih dikuasai oleh kemarahan, sedangkan laki-laki yang tengah berdiri dengan santai tetap terlihat tenang dan tidak sekalipun berusaha menghindar atau marah dengan kemarahan Tantri.


Gadis kecil itu yang saat ini sedang di kuasai oleh api amarah pun menjerit dan memaki Deon dengan hebat, dan tangisnya kembali pecah. Laki-laki yang di subut jahat itu hanya mematung, pasrah. Apa yang dilakukan oleh Tantri tidak ada apa-apanya dengan apa yang dia rasakan. Bahkan Deon seperti kehilangan rasa sakit.


Laki-laki itu justru senang ketika ada yang memukul dan memakinya, rasa bersalahnya yang terlalu tinggi sampai tidak lagi tahu bagaimana cara untuk mengurainya.


Cukup lama Tantri menangis di dalam pelukan Bi Sarni, menuangkan rasa sesak di dadanya rasa marah, rasa bersalah, kecewa dan rasa sedihnya.


"Di mana ponakan bayi aku? Apa yang kamu katakan itu tidak benar kan laki-laki jahat?" tanya Tantri, masih dalam dekapan bi Sarni.


"Aku datang ke sini  karena cemas sama kamu, takut terjadi apa-apa dengan kamu, apalagi sambungan telepon kamu tiba-tiba tidak ada ressponya. Aku takut hal buruk terjadi pada kamu, gadis kecil." Deon tidak merespon pertanyaan Tantri.


Sementara Tantri yang mendengarkan apa ucapan dari Deon hanya tertawa dengan renyah dan terkekeh, seperti orang yang kurang waras ketika baru saja dia menangis histeris tetapi setelahnya hanya dalam hitungan menit langsung tertawa dengan renyah.


"Di mana ponakan bayi ku, laki-laki jahat, kamu bohongkan kalau ponakan bayi aku sudah meninggal?" tatapan yang tajam dari gadis usia dua belas tahun itu membuat Deon semakin  diliputi rasa bersalah.


"Apa kamu ingin aku antar ke makam anakku?" tanya Deon, ia pun siap kalau akan di maki dan di hajar oleh gadis kecil itu.


Deh! Tubuh Tantri kembali lemas, hingga bi Sarni harus menahannya karena akan jatuh pingsan kembali. Mendengar apa yang dikatakan Deon. Bukan Tantri saja yang terkejut dengan ucapan Deon, bi Sarni saja ikut merasakan hal yang sama kaget, dan masih berharap bahwa ini semua mimpi.

__ADS_1


__ADS_2