
Benar saja setelah Cucu menutup pintu, di. dalam ruangan Deon membuka matanya perlahan ia merasakan hatinya sesak, bahkan sangat sesak, sehingga ketika ia memastikan Cucu sudah pergi laki-laki itu pun menumpahkan air matanya. Yah, dia menangis seperti anak kecil. Hingga Cucu yang masih berdiri di balik pintu pun ikut merasakan kasihan dengan laki-laki yang sudah menyandang setatus suaminya.
Cucu pun yang ikut sedih mendengar tangisan Deon ikut menangis di balik pintu. Cukup lama Cucu diam di balik pintu hingga suara tangisan sang suami tidak terdengar lagi. Dan setelah itu wanita itu pun menitipkan Deon pada perawat yang berjaga dia akan coba menemui Psikiater di rumah sakit ini, untuk berkonsultasi menghadapi orang yang mengindap depresi sudah cukup berat seperti Deon.
Dokter Milla, setelah Cucu bertanya pada perawat Cucu pun menemui dokter khusus kejiwaan itu.
"Duduk, ada yang bisa saya bantu," sapa Dokter Mila, sembari mengulurkan tanganya pada kursi yang ada di hadapanya, wanita itu mungkin umurnya sekitar empat puluh atau lima puluh tahun.
Cucu pun mengukuti arahan sang dokter duduk di hadapanya. Dan menyampaikan apa yang Cucu maksud tidak lupa juga Cucu menceritakan apa yang dimaksud oleh wanita itu, mengenai sang suami, dari perlakuan Deon yang suka memaksa kadang membuat Cucu kesal dan marah serta pencobaan bunuh dirii dengan menyakiti tubuhnya sendiri.
"Apa yang Anda maksud, dia adalah Deon, yang kemarin mencoba menyiksa tubuhnya dengan berendam di air dingin berjam-jam?" tanya Dokter Mila ketik Cucu terus berserita. Sontak saja Cucu cukup terkejut karena dokter Mila ternyata tahu siapa yang dia maksud.
"Anda tahu Dok?" tanya Cucu, dengan langsung mengambil duduk tegap padahal tadinya duduknya itu sangat lesu dan seperti orang yang tidak memiliki tulang belakang.
Dokter Mila dengan yakin mengangguk pasrah. Yah, saya tahu kalau memang yang Anda maksud adalah Deon, dia memang sebenarnya ada beberapa kali datang menemui saya untuk berkonsultasi mengenai ketakutan di dalam tubuhnya yang berlebih. Sebenarnya kalau yang saya tangkap dari beberaapa kali pertemuan dengan Deon. Dia itu tidak butuh saya Mbak, tapi dia butuh orang yang benar-benar perhatian. Orang yang perlahan mengikis pikiranya kalau orang yang dekat dengan dia itu tidak semata memanfaatkan dia."
Cucu untuk beberapa saat diam, dan mencerna apa yang dikatakan oleh dokter Mila. "Maksud Anda bagaimana Dok, maaf saya kurang bisa menangkap apa yang Anda maksud. Ketakutan orang-orang yang akan memanfaatkanya. Apakah ada trauma yang dialami oleh Tuan Deon?" tanya Cucu memastikan lagi.
__ADS_1
"Yah, apa yang ada katakan benar. Deon itu dulu pernah mengalami guncangan mental yang sangat hebat tepatnya saat papah dan kakaknya meninggal dalam waktu yang bersamaan."
Cucu mengangguk menandakan dia tahu dengan cerita yang sedang dokter Mila ceritakan.
"Yah, sebenarnya sangat masuk akal, ketika dia sendiri tidak ada kesiapan mental untuk mempersiapkan semuanya kejadian buruk itu. Ditambah dia langsung menggantikan posisi sang papah menjadi pemimpin perusahaan besar. Banyak yang datang hanya untuk menumpang hidup dan mencob mengambil sedikit harta miliknya. Sehingga dia dalam dirinya perlahan membangun benteng pertahanan agar tidak dimanfaatkan oleh orang-orang yang ada di sampingnya. Nah benteng pertahanan itu berupa stigma negatif pada orang-orang yang ada di sekitarnya. Sehingga dia berpikir kalau semua yang datang ya akan mengambil untung dari apa yang dia punya. Itulah yang membuat dia sampai sekarang tidak bisa membedakan orang yang di samping dia benar-benar baik, tulus atau hanya memanfaatkan dia." Dokter Mila menjelaskan dengan lebih detail.
Cucu pun sekarang sedikit mengerti kenapa dia selalu bersikap tidak mengenakan sekali pun dengan Jec, mungkin sang suami juga beranggapan kalau Jec juga akan memanfaatkan dirinya.
"Terus, apa yang bisa saya lakukan Dok, karena jujur saya juga kasihan dengan Tuan Deon, saya tahu laki-laki itu memiliki sifat yang baik, maka dari itu saya diam-diam menemui Anda," ucap Cucu dengan berhati-hati.
"Yah, saya tahu Nona, Deon itu sebenarnya baik. Bahkan dia kalau sudah baik apapun akan dilakukan untuk orang yang menurutnya baik dan bisa mengerti dia. Yang Anda bisa lakukan hanya memperhatikan perhatian kecil, seperti makan dan juga cerita-cerita menarik yang membuat dia nyaman berada di samping Anda, tapi ngomong-ngomong Anda siapanya Deon?" tanya Dokter Mila, yang cukup kaget karena sampai detik ini, baru kali ini ada yang perhatian dengan Deon.
"Kamu tidak usah malu-malu, jujur saya suka kalau Deon ada yang memperhatikan, karena memang yang dibutuhkan oleh Deon adalah perhatian. Dan cara Anda sudah sangat baik, saya berharap dengan adanya Anda di samping Deon dia bisa mulai terbuka dengan Anda dan bisa hidup normal dengan berdampingan dengan yang lain, tanpa adanya pikiran buruk," ujar dokter Mila.
"Jujur Dok, sebenarnya hubungan saya dan Tuan Deon adalah suami istri," jawab Cucu dengan suara yang lirih dan wajah menunduk sempurna, karena malu. Padahal tidak perlu malu, karena hubungan suami istri baik ada atau tidaknya cinta tetap lebih mulia dari pada mereka yang hanya menjalani keromantisan tanpa adanya ikatan yang halal.
Uhukkk... Uhukk... dokter Mila pun tersentak kaget.
__ADS_1
"Sejak kapan kalian menikah? Kenapa tidak ada yang tahu?" tanya wanita paruh baya itu yang sangat terlihat terkejut dengan ucapan wanita cantik di hadapanya.
"Tepatnya tiga hari yang lalu Dok, tapi entahlah pernikahan kami pun hanya dilangsungkan dengan sederhana," jawab Cucu, dengan wajah murung, bukan berati dia ingin pernikahan yang mewah seperti yang lainnya dia hanya sedih kalau ingat tujuan Deon menikahi Cucu hanya karena hubungan ranjang semata.
"Alasanaya? Cinta?" tanya dokter Mila yang melihat raut wajah Cucu sedih. Cucu pun langsung menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Tidak Dok, lebih tepatnya hanya sebagai teman ranjang selebuhnya kami tidak ada hubungan apa-apa," jawab Cucu dengan nada yang lemah.
"Kamu atau Deon yang meminta sebelumnya hubungan pernikahan ini?" tanya dokter Mila lagi, meskipun pastinya wanita paruh baya itu sudah tahu bahwa pasti bukan Deon yang meminta hubungan suci itu.
"Saya Dok, saya tidak mau menimbun dosa. Sehingga menawarkan sebuah hubungan suci ikatan pernikahan, selain setiap apa yang kami lakukan ibadah juga saya ingin merubah tabiat buruk Tuan Deon," jawab Cucu, entahlah bibirnya menjawab begitu saja, padahal dari awal dia tidak ada keinginan merubah tabiat buruk laki-laki yang menyandang setatus suami. Namun, sejak dia tahu sisi lain dari suaminya Cucu pun jadi merubah Deon menjadi yang lebih baik lagi Cucu yakin kalau Deon itu bisa berubah.
"Sebenarnya bagus cara kamu membuat Deon berubah, semoga apa yang kamu perjuangkan tidak sia-sia. Nanti saya akan bantu mungkin dengan keberadaan kamu Deon bisa merasa kalau dia tidak sendiri lagi , dan mulailah dari hal-hal kecil beri perhatian pada dia," ucap dokter Mila, yang tahu kalau Cucu itu wanita baik buktinya dia bukan seperti yang lain memilih uang untuk sebuah permainan ranjang, tetapi dia meminta setatus pernikahan yang pastinya untuk mempertimbangkan Deon menjadi suaminya sudah sangat matang, tidak hanya sesaat menikah lalu berakhir perceraian. Apalagi Cucu sampai mau menemuinya pasti wanita cantik itu memang benar-benar merubah Deon.
"Maksudnya hal kecil seperti apa Dok?" tanya Cucu kurang paham, dia adalah jomblo sejati sehingga bagaimana memperhatikan dari hal kecil.
"Mungkin kamu bisa mulai dari membeli makanan terus makan bareng dan juga mengajak komunikasi yang hangat. Deon itu sebenarnya baik kok. mudah-mudahan kamu berhasil merubah dia. Percaya deh kalau dia sudah jatuh cinta bakal jauh lebih setia dari laki-laki yang tidak pernah selingkuh sekali pun, udah gitu biasanya romantis." Dokter Mila sangat mendukung Cucu untuk merubah Deon. Cucu pun setelah diajarkan oleh dokter Mila cara memberikan perhatian kecil dia pun langsung pamit dan mulai mencari makanan yang sekiranya Deon suka.
__ADS_1
Setelah itu dia akan mencoba cara-cara dokter Mila ajarkan.
"Kenapa aku jadi deg-degan banget yah, gimana kalau malah Tuan Deon marah?" batin Cucu sepanjang perjalanan balik ke kamar rawat sang suami dia di penuhi dengan rasa ketakutan yang luar biasa. Takut akan hal-hal yang belum tentu terjadi.