
"Benar Don, apa yang dikatakan oleh Jec, mulai sekarang kamu juga harus mulai perduli dengan perusahaan peninggalan papah kamu. Kasihan kalau Deon dan Cucu bekerja sendirian. Lagian Cucu itu wanita ada masanya nanti dia hamil dan lain sebagainya, apa kamu tega membiarkan Deon mengurus perusahaan itu sendirian. Momy yakin Deon juga sebenarnya pasti malas dan bosan untuk terus bekerja mengurus perusahaan itu. Tetapi Deon itu tanggung jawab, dan tidak mau apa yang susah payah dibangun oleh papahnya hancur karena keserakahan orang-orang tidak bertanggung jawab. Kamu juga harus memiliki sifat seperti itu agar apa yang dibangun papah kalian tidak hancur. Kamu sekarang bantu ajarkan Doni laporan Jec, dia akan membantu Cucu besok. Dan kalau Doni tidak mau membantu Cucu, biar Momy yang melakukanya, Momy rasa masih kuat untuk bekerja kantoran," jawab Iriana yang ternyata mendukung apa yang Jec katakan bahkan wanita itu membuat Doni tidak bisa berkutik.
Yah kalau Iriana sudah berbicara, maka Doni tidak bisa menolak. Seperti saat ini meskipun entah berapa kali Doni mengatakan tidak mau untuk mengurus perusahaan peninggalan sang papah, tetapi setelah Iriana angkat bicara. Laki-laki yang menginjak usia kepala tiga itu langsung tidak bisa berkutik. Meskipun dengan wajah ditekuk akhirnya Doni mau membantu Cucu untuk mengurus perusahaan milik papahnya.
"Buruan Jec kamu ajarkan aku cara-cara mengecek laporan. Tapi kamu jangan kaget kalau aku akan sangat bodoh soal matematika, dan soal laporan-laporan itu. Selain aku memang malas, aku juga sangat buruk soal hitung menghitung," ucap Doni, yang langsung di balas dengan kode OK oleh Jec. Meskipun sebenarnya Jec ingin menertawakan Doni. Ternyata seorang dokter yang sudah banyak penghargaan, Doni juga manusia biasa yang memiliki kelemahan juga.
Entah berapa kali Jec mengatakan kagum pada Doni, karena pada akhirnya Doni mau juga mengurus perusahaan sang papah yang Jec tahu pasti pekerjaannya jauh berbeda dari seorang dokter.
"Tapi ingat Jec, aku melakukan ini selain terpaksa, aku mengerjakan ini juga hanya sampai kamu pulang kampung," balas Doni dengan suara yang dingin dan terlihat sekali kalau laki-laki itu memang terpaksa melakukan semuanya.
"Don, kamu nggak boleh gitu dong. Kalau bukan kamu yang meneruskan perusahaan itu, siapa lagi. Kalau hanya mengandalkan Deon juga kasihan. Dia juga butuh waktu untuk istirahat, untuk berlibur dan untuk bercengkrama dengan keluarganya. Kalau dia hanya bekerja dan bekerja kapan dia bisa berlibur, dan mempunyai keturunan." Kembali Iriana mengingatkan sang putra, yang mana lagi dan lagi Doni akan patuh apabila sang ibu yang mengingatkannya.
"Baiklah Mon, Doni akan berusaha bekerja sebaik mungkin tetapi Doni tidak akan meninggalkan profesi dokter Doni. Pekerjaan kator hanya sebagai sampingan saja," balas Doni Kini dia harus mulai mengatur waktunya agar bisa mengerjakan dua profesi yang sangat berbeda secara bergantian tanpa mengganggu waktunya satu sama lain.
Malam ini Jec dan Doni pun langsung berlatih mengecek laporan. Yah, sesuai dengan yang Doni katakan kalau dirinya memang sangat bodoh dalam urusan mengecek laporan. Padahal Doni hanya tinggal mencocokan setiap laporan yang dia terima hingga sampai akhir laporan sama dan tidak ada selisih setiap bagian yang dilaporkan, setelah itu tanda tangan.
"Jec, apa kamu sedang mengetes kecerdasanku. Sudah aku katakan aku adalah orang paling bodoh soal laporan seperti ini," ucap Doni entah berapa kali juga laki-laki itu mengeluh dan bahkan saking dia pusing memikirkan laporan Doni sampai tidak mandi sore. Untung cakep jadi mandi tidak mandi tetep nggak mempengaruhi wajahnya.
"Tuan, Anda hanya membutuhkan waktu sebentar lagi setelah itu makan Anda sudah bisa mengerjakan laporan dengan sangat baik. Anda akan sangat malu kalau kalah dengan Cucu. Ingat dia adalah bos yang galak, bahkan galaknya melebihi Tuan Deon." Yang Jec katakan bukan asal, tetapi memang seperti itu keadaanya Cucu sangat galak kalau ada orang yang sulit diajak kerja sama.
__ADS_1
"Kamu bahkan bilang sebentar lagi entah ke berapa kalinya, dan aku tidak akan memaafkan kamu kalau kamu akan bilang sebentar lagi terus tetapi pada akhirnya tidak.ada ujungnya," balas Doni meskipun laki-laki itu marah, kesal dan ngantuk, tetapi ia juga tetap nurut dengan Jec.
Akhirnya setelah bekerja hampir tujuh jam kerja, Doni bisa mengerjakan laporan dengan sangat baik. Yah saat ini bahkan sudah pukul satu Jec baru bisa mengatakan Doni sudah bisa membantu Cucu.
"Tuh kan apa kata saya, Tuan Anda pasti bisa mengerjakan pekerjaan ini semua, semoga besok Anda bisa membantu Cucu dengan baik yah, dan tentunya tidak membuat Cucu marah," ucap Jec dengan hati yang bahagia karena itu tandanya Cucu tidak akan terlalu pusing mengerjakan laporan seorang diri.
"Jec, apa kamu tidak akan pulang. Bahkan ini sudah pukul satu dini hari. Kasihan istri kamu dianggarkan. Pulanglah! Aku juga sudah bosan banget dengan ocehan kamu," usir Doni dengan tidak tahu diri. Sudah diajarkan dengan sangat baik nyatanya justru dia malah mengusir Jec.
"Maaf Tuan, saya akan makan dulu, kasihan Nyoya Iriana yang sudah susah payah memasakan makanan untu kau tetapi justru aku tidak menikmatinya." Tanpa menunggu persetujuan dari Doni, Jec pun makan masakan yang sudah sengaja dihidangkan oleh sang nyonyah besar. Yang mana saat ini makanan itu sudah dingin tetapi karena lapar tetap Jec giling juga. Lumayan untuk ganjal perut.
"Ternyata Anda lapar juga Tuan, saya pikir Anda sudah tidak lapar karena mabok laporan," kelakar Jec yang melihat Doni juga pada akhirnya makan juga. Dan Doni pun langsung menatap Jec dengan tatapan yang membunuh, tetapi Jec yang sudah mengetahui sifat Doni tidak jauh dengan Deon pun hanya tertawa dengan renyah.
*********
Di saat Jec dan Doni bekerja keras untuk belajar mengerjakan laporan yang nantinya akan membantu Cucu. Sementara Cucu sendiri pukul sepuluh malam baru juga pulang kerja. Wanita itu pun meraih ponselnya di mana kalau di negara suaminya tinggal saat ini masih pukul lima sore. Cucu mencoba menghubungi sang suami yang ia tahu kalau Deon juga pasti cape itu sebabnya Cucu akan menghubunginya sebentar untuk memberikan semangat.
Yah, ini memang ujian terberat bagi Cucu dan juga Deon. Demi sebuah perusahaan warisan sang papah pasangan suami istri itu kehilangan banyak momen berharga di mana seharusnya pasangan suami istri itu tengah berbahagia dengan bulan madunya.
[Hallo Sayang, kok kamu belum tidur?] tanya Deon, sedangkan dia sebenarnya sangat rindu dengan Cucu cuma ia berpikir kalau di Indonersia sudah cukup malam sehingga Deon mengurungkan niatanya, tetapi justru Cucu yang menghubunginya.
__ADS_1
Cucu membalas dengan senyum manisnya. Untung dirinya sudah sempat mengganti pakaiannya sehingga Deon tidak curiga kalau dia baru pulang kerja. Kalau sang suami tahu kalau dirinya baru pulang kerja pasti akan sangat marah sekali.
[Aku tadi sudah sempat tidur tapi terbangun karena haus, dan ingat kamu yang pasti masih kerja. Aku tidak akan mengganggu kamu dalam waktu yang lama, selain aku masih mengantuk kamu juga pasti sedang banyak kerjaan. Aku hanya ingin agar kamu tetap semangat bekerjanya yah,] ucap Cucu dengan memberikan simbol semangat dengan sikunya.
Deon dari jarak yang jauh pun cukup terenyuh dengan perhatian. Cucu di mana wanita itu dalam keadaan mengantuk tetapi tetap bisa bersikap manis dan memperdulikan dirinya.
[Terima kasih atas perhatian kamu. Aku akan lebih rajin lagi untuk bekerjanya dan aku berjanji dalam waktu dekat aku akan pulang. Rasanya rindu ini sudah sangat menggunung,] balas Deon, ini bukan rayuan semata, tetapi sepanjang ia hidup baru kali ini sang laki-laki baru merasakan rasa yang aneh ini.
[Aku akan tunggu kamu, kalau gitu sudah dulu yah. Aku sudah ngantuk banget,] balas Cucu, yang sebenarnya dia adalah hatinya tengah bergejolak hebat. Entah rasa apa sekarang dia sangat rindu dengan sang suami. Bahkan rasanya sedih sekali di saat dirinya harus mengabarkan rindu melalu sambungan seluler tidak bisa menyentuhnya.
Tanpa terasa Cucu pun terisak sedih ketika sambungan telepon sudah ia matikan. Namun, sebisa mungkin ia tidak menunjukan kesedihan itu dihadapan sang suami.
[Maaf Sayang lain waktu kita akan lanjutkan obrolan ini. Aku tidak kuat ngantuk sekali. Semoga kamu di sana baik-baik saja, dan tetap semangat kerjanya yah. Aku cinta kamu, dan aku sangat rindu kamu.] Itu adalah pesan yang Cucu kirimkan untuk sang suami. Dengan sekuat tenaga Cucu pun mencoba mengetik sebuah pesan untuk sang suami agar bersemangat menyelesaikan tugas-tugasnya.
Meskipun Cucu sendiri sangat berat merasakan menjalani ini semua, apalagi disaat dia cape seperti ini butuh teman untuk berbagi tetapi ia hanya bisa menyapa dari kejauhan. Hingga Cucu pun hanya bisa berdoa agar ini semua segera berakhir.
Namun, tidak bisa pungkiri Cucu pun merasakan arti sebuah perjuangan yang luar biasa untuk sebuah hubungan. Dengan adanya hubungan jarak jauh ini. Cucu semakin mengerti arti kebersamaan. Sehingga berharap ketikan nanti mereka bersama-sama lagi Cucu sudah bisa memperbaiki dirinya. Menjadi istri yang jauh dari kata baik.
Bersambung...
__ADS_1