
"Sah. Alhamdulillaah." Suara hamdalam menggema di ruangan VIP itu terlihat raut wajah bahagia dari tamu undangan dan pengantin, kecuali Qila yang justru merasakan seperti ada tombak yang menghunus dadanya. Sakit, tetapi tidak berdarah. Ia seharusnya senang dengan pernikahan ini, dia bisa menggunakan uang yang Jec berikan untuk merenovasi rumah orang tuanya, cita-cita yang sudah ia impikan sejak lama, tetapi entah mengapa Qila merasakan sakit di dadanya seperti ada yang memukul dengan benda keras, bahkan sepasang perhiasan di hadiahkan Jec secara suka rela, cincin berlian sudah melingkar dijari manis Qila tetapi Qila tidak juga merasakan bahagia. Dia seperti ingin menangis.
"Loh, kenapa Qila, kenapa kamu sepertinya sedih?" tanya Cyra yang menghadiri acara pernikahan temannya itu.
"Entahlah Ra, aku seperti ada yang mengganjal, mungkin karena pernikahan aku tidak direstui oleh orang tua balas Qila dengan asal.
"Iya juga sih pasti kamu sedih banget karena dihari sakral kamu tidak ada orang tua yang menemani," balas Cyra dengan menepuk-nepuk punggungnya. Jec pun yang awalnya curiga kalau Qila menyesal menikah dengan dirinya kini sudah bisa mengerti alasanya yaitu karena tidak hadirnya keluarga yah Jec tahu pasti Qila sangat sedih. Acara pun terus bergulir dari doa-doa pernikahan, sesi foto-foto ala kadarnya untuk kenang-kenangan dan juga acara pun tidak berlansung lama karena Qila harus kembali istirahat untuk melanjutkan acara selanjutnya yaitu operasi, di sore harinya.
Kini di dalam ruangan sudah kembali tinggal Jec dan juga Qila. Seperti sebelumnya wajah Qila di tekuk seolah dia sedang menyesali akan apa yang terjadi denganya barusan.
"Apa kamu menyesal Nur?" tanya Jec dengan duduk di samping Qila.
Qila pun menatap Jec dengan bingung. "Nur... siapa?" tanya Qila pura-pura tidak tahu.
"Kamu lah, emang siapa lagi. Bukanya nama kamu Aqila Nur Binaryah." Jec menujukan wajah yang setengah mengejek.
"Oh, itu. Aku tidak menyesal karena sudah menikah dengan kamu, Jaka." Qila pun membalas dengan menyebut nama asli Jec.
"Ngak sopan masa sama suami panggilnya nama asli," balas Jec degan menunjukan wajah BT-nya.
"Kan kamu yang duluan mulai, panggil Nur segala." Qila tidak mau kalah protes juga dong.
__ADS_1
"Ya kan memang nama kamu Nur. Kalau suami boleh panggil nama asli," balas Jec dengan penuh kemenangan.
"Dih, kamu mah curang banget giliran dirinya saja boleh panggil nama asli, aku saja nggak boleh," balas Qila dengan mencebikan bibirnya yang merah.
"Udah jangan marah. Nih... " Jec memberikan uang senilai seratus juta rupiah.
"Untuk apa?' tanya Qila dengan bingung.
"Mas kawin, kan kamu sudah dibeli tadi dengan uang ini. Lupa apa pura-pura lupa sih."
"Oh bisa kirimkan pada orang tua aku saja tidak, biar buat renovasi rumah. Aku pengin banget renovasi rumah ibu dan bapak, dan akhirnya kesampaian juga," ucap Qila tanpa terasa di mengembangkan senyumnya.
"Bole saja sih, mana nomor rekening Bapak? Tapi emang uang seratus juta cukup untuk renov?" tanya Jec dengan heran.
Qila pun memberikan nomor rekening sang orang tua dan setelah itu dia mengabari orang tuanya bahwa dia telah mengirimkan uang seratus juta untuk renov, tetapi setelah itu ponsel dia matikan kembali karena pasti orang tuanya akan bertanya uang dari mana sebanyak itu . Qila yang belum yakin pun memilih menghindar dulu untuk member tahu faktanya.
"Aku kirim dua ratus juta," ucap Jec dengan menunjukan nominal dua ratus juta dari layar ponselnya. Qila pun langsung melebarkan kedua matanya.
"Kenapa banyak sekali?" tanya Qila, dia saja sedang bingung mau bikin alasan apa uang seratus juta nah ini malah dikirim dua ratus juta lagi.
"Enggak apa-apa biar bisa bangun lebih rapih lagi rumahnya. Lagian kalau di sini renov minimal uang satu miliar ini renov seratus juta beli semennya saja?" ucap Jec dengan santai.
__ADS_1
"Tapi aku bingung nanti bilang apa sama Ibu dan Bapak dong," balas Qila dengan menggaruk-garuk kepalanya.
"Kamu tinggal bilang saja sejujurnya kalau kamu sudah menikah dengan orang kaya, gitu aja kok repot Nur, Nur." Jec kembali membuat Qila tambah cemberut, tetapi Jec suka dari pada sedih terus.
******
"Naqi..."
Sam yang melihat Naqi di lorong rumah sakit pun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia yakin laki-laki yang lewat dengan segerombolan orang adalah sahabatnya.
Benar saja Naqi pun menghentikan langkahnya.
"Sam...ngapain kamu di sini?" Naqi sendiri terkejut ketika melihat sahabatnya itu. Sam pun langsung menghambur pada Naqi dengan senyum riangnya. Berbeda dengan Meta yang nampak menunjukan wajah tidak suka pada Sam.
"Ngapain lagi sih dia datang, awas saja bikin adik gue dalam masalah, gue sunatin dua kali," oceh Meta yang langsung menarik Cyra agar meninggalkan Sam dan Naqi.
"Aku dapat panggilan kerja lagi Qi, aku baru saja mau ke rumah kamu, eh kebetulan banget ketemu di sini, Ngomong-ngomong kamu habis ngapain? Kok kayaknya resmi banget?" tanya Sam kepo.
"Oh, itu ada urusan tadi," ucap Naqi yang bingung mau mengatakan jujur apa tidak. "Oh iya kamu mau ke rumah untuk apa? Apa ada yang penting, aku sekarang tinggalnya masih numpang kadang di rumah Mamih kadang di rumah Cyra." Naqi pun langsung terlihat akrab dengan sahabatnya itu.
"Oh, aku hanya ingin tanya kabar Qila, Qila gimana kabarnya, aku kangen banget. Jujur aku terima tawaran praktek lagi di Indonesia, tujuanya ingin memperbaiki hubungan dengan Qila. Aku masih sayang sama dia," jawab Sam dengan wajah cerianya.
__ADS_1
Degg!! Wajah Naqi langsung berubah pias.