Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam Bab 131


__ADS_3

"Jadi ada urusan apa loe datang ke sini. Sedangkan gue dan loe tidak ada urusanya," cecar Deon dengan nada yang semakin sinis, sudah bisa menggambarkan sekali gimana menyebalkanya laki-laki itu.


Alzam menghirup nafas dalam, baru pembukaan saja Alzam sudah bisa menyimpulkan kalau Deon itu memang laki-laki yang sangat menyebalkan. Pantas saja Qari setiap sehabis bertemu dengan Deon seperti kena sawan gara-gara lihat makhluk goib.


"Saya tidak harus memperkenalkan diri saya kan, dan pasti Anda sudah kenal saya. Saya hanya ingin meminta Anda jangan dekati istri saya lagi," ucap Alzam tidak mau berbasa basi, hanya membuang-buang waktu. Selain ini waktu kerja, Alzam juga takut kalau dirinya nantinya akan terpancing dengan Deon, yang justru akan membuat keributan dan membuat Deon malah lebih marah dengan dirinya, dan ujungnya membahayakan Qari.


Deon terlihat menyunggingkan senyumnya sejak tadi laki-laki itu menatap Alzam seolah tanpa kedip dan terlihat kalau Deon seperti sedang mencari perbandingan dirinya dengan Alzam. Namun, Alzam pura-pura tidak tahu. Biarkan Deon membandingkan dirinya dan merasa ia paling unggul, tetapi juaranya tetap Alzam.


"Kenapa buru-buru sekali Bung, apa tidak ingin berbasa basi dulu? Rasanya tidak akan  enak kalau kita main terlalu terburu-buru. Bukanya Qari juga kalau main tidak pernah buru-buru selalu memulai dengan pemanasan yang terbaik," ujar Deon dengan nada bicara yang menggoda.


Alzam tentu tahu arah bicara Deon mau ke mana. Alzam memejamkan matanya dengan kuat. Dia benar-benar laki-laki yang sangat demen membuat keributan. Cukup lama Alzam memejamkan matanya dengan kuat dan menghirup nafasnya dalam untuk beberapa kali, agar rasa kesal dihatinya menguai seiring hembusan nafas yang ia buang.


"Anda bahkan tahu betul kalau Qari hamil anak Anda, tetapi kenapa Anda justru membuat dia kefikiran dengan Anda dan bisa membuat dia stres dan itu akan membahayakan anak Anda," lirih Alzam tetap bersikap tenang tidak ingin terpancing dengan kemarahan, profokasi Deon yang Alzam tahu betul Deon menginginkan Alzam marah dan bisa mempermainkan dirinya dengan Qari.


"Hahaha... akhirnya loe ngakuin kalau anak itu adalah anak gue. Tapi sayang kemarin Qari tetep kekeh kalau anak itu anak loe. Apa loe nggak mau lihat vidio gue dan Qari saat kita membuat bayi itu," ucap Deon, dan  sumpah hal itu berhasil membuat dada Alzam bergemuruh.


Siapa yang akan diam saja saat istrinya dengan sengaja direndahkan. Meskipun Alzam sendiri tidak tahu benar atau tidaknya laki-laki itu membuat vidio dengan Qari. Namun, tetap saja Alzam merasakan kalau laki-laki itu merendahkan makmumnya.


Yang jadi pikiran Alzam gimana kalau Deon nekad mengancam Qari dengan vidio itu, pasti Qari akan semakin stres, dan itu sangat membahayakan  Qari yang hanya butuh satu bulan lagi ia akan melahirkan anaknya.


"Aku sembunyikan kebenaran anak itu sekalipun, Anda sudah tahu. Saya datang ke sini tidak ada niat lain, saya hanya ingin meminta pada Anda agar jangan mengganggu Qari. dia sebentar lagi akan menjalani persalinan, dan itu anak Anda, kalau Qari stres itu sangat berbahaya untuk Qari dan bayi Anda juga." Alzam benar-benar mencoba tidak terpancing dengan ocehan Deon yang semakin memprofokasi dirinya dan Qari.

__ADS_1


"Sebegitu loe cinta sama Qari," balas Deon dengan senyum mengejek.


"Karena kalau orang yang benar-benar cinta itu akan rela berkorban. Cinta dan obsesi itu beda Tuan. Kalau benar-benar cinta maka kita harus rela menderita demi orang yang di cintainya."


Niat Alzam datang ke sini tidak ada maksud untuk ribut atau memperburuk keadaan sehingga ia sebisa mungkin menekan kemarahanya. Ia ingin memberikan Deon kesadaran. Sehingga tidak mengganggu Qari lagi.


"Kalau begitu kenapa loe tidak serahkan Qari untuk gue, dia hamil anak gue bukan anak loe. Lalu kenapa loe harus tutupi fakta akan kebenaran ini. Gue tidak akan bertindak sejauh ini, kalau kalian sejak awal tidak mempermainkan gue," balas Deon. Di mata laki-laki itu Alzam sudah buruk sebenar apapun yang diucapkan Alzam akan salah di mata Deon.


"Kalau memang Qari yang ingin hidup dengan Anda, saya tidak akan melarangnya, degan catatan Anda benar-benar memuliakan dia, bukan dendam atau cinta sebatas ambisi. Banyak wanita yang baik, kenapa Anda tetap mengganggu Qari wanita yang sudah jelas-jelas risih dengan Anda, biarkan dia memilih jalan hidupnya tanpa Anda memaksanya." Kalau Deon semakin berbicara ngawur makan Alzam pun memiliki cara untuk membalikannya.


Dari dulu Alzam sudah meminta Qari untuk nikah dengan laki-laki yang lebih dari Alzam sendiri, tetapi Deon tidak menunjukan itu malah mencampakan Qari, dan sekarang di saat wanita itu dibahagiakan laki-laki lain Deon datang mengganggu, siapa yang akan diam saja dengan perbuatan Deon?


Alzam begitu mendengar jawaban dari Deon, kembali memejamkan matanya, dan Deon pun menyunggingkan senyumnya. Dalam hati Alzam selalu berusaha kuat dan tidak menanggapi apa yang Deon katakan, karena  mungkin ini adalah watak asli Deon dan atau justru cara laki-laki itu agar Alzam terprofokasi.


"Kalau mau bersaing, bersainglah secara sehat. Kalau cara Anda bersaing seperti ini orang bejad sekalipun tidak akan mau dinikahi oleh Anda. Apalagi Qari wanita yang baik, pasti sudah infil duluan dengan sikap Anda. Sekalipun uang Anda tidak akan habis untuk tujuh turunan, wajah Anda rupawan, tidak akan membuat keputusan Qari berubah. Karena yang dibutuhkan Qari adalah tanggung jawab dan kasih sayang." Kata demi kata yang keluar dari bibir Alzam sangat hati-hati, ia selalu berpikir setiap kali akan mengucapkan sepatah kata pun, itu semua karena Deon yang sikatnya sangat sensitif.


"Jadi loe datang ke sini hanya untuk pamer kalau loe jauh lebih baik dari gue?" sungut Deon, dan Alzam menggeleng dengan pelan.


"Kebaikan tidak harus dipamerkan, karena serapih pun kita tutup, kalau itu kebaikan orang lain akan tahu dengan sendirinya. Kenapa Anda tidak tanggung jawab, ketika Qari hamil dulu, justru Anda membiarkanya menanggung seorang diri, dan sekarang ketika dia sudah bahagia dengan laki-laki lain Anda datang untuk mengakui anak itu? Saya tidak akan melarang Anda kalau Anda mau bertemu dengan anak itu, tetapi data pribadinya akan tetap jadi anakku," jelas Alzam, entah Deon akan sependapat dengan dirinya atau tidak tetapi itu yang ada dalam pikira Alzam, dari pada berdebad dan membahayakan orang lain lebih baik damai dan membesarkan bersama-sama.


"Tidak bisa anak itu anakku, darah dagingku, maka itu akan tetap aku perjuangkan hingga dia jadi miliki seutuhnya. Dan soal Qari hamil, gue tidak tahu kalau dia hamil. Itu sebabnya gue tidak tanggung jawab."

__ADS_1


Alzam hanya menyunggingkan senyum teduhnya dengan santai. "Qari sudah mencari Anda Tuan, bahkan dia menghubungi nomor Anda, dia mencari Anda ke tempat di mana kira-kira Anda bersembunyi, tetapi semuanya tidak ada hasil. Dan juga kalau memang Anda laki-laki sejati, dan baik. Seharusnya ketika Anda sudah pernah melakukan hubungan suami istri Anda tahu resikonya. Tapi itu juga kalau Anda benar-benar peduli pada Qari dan juga anaknya. Anda akan melakukan yang terbaik untuk mereka. Kecuali kalau Anda memang sudah biasa jajan di luar sana, dan bisa jadi di luaran sana ada banyak  korban seperti Qari juga."


Deon yang mendengar ucapan Alzam langsung meradang.


Brakkkkkk... tubuhnya naik sebagian ke atas meja dan menarik kerah kemeja yang Alzam kenakan, hingga tubuh Alzam yang kurang bersiap terangkat beberapa senti dari kursi yang ia duduki.


"Dengar laki-laki miskin, dan cacat seperti kamu, hanya dimanfaatkan oleh Qari dan keluarganya, dan gue akan pastikan dia akan menjadi miliki." Wajah mereka hanya berjarak sekitar satu jengkal saja. Deon pun langsung melepaskan genggaman tanganya di kerah kemeja Alzam, hingga Alzam terduduk kembali dengan keras.


Tangan Alzam merapihkan pakaianya. Lalu kembali menatap Deon dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Kalau yang dikatakan oleh Anda adalah suatu kebenaran. Aku hanya dimanfaatkan oleh Qari dan keluarganya untuk menutupi aib yang Anda buat, dari awal saya sudah ikhlas. Karena sejatinya manusia diciptakan untuk tolong menolong. Setidaknya aku tidak rugi banget. Dia wanita yang bisa melayani suami dengan baik, kebutuhan batinku tercukupi dengan baik, malah dia yang selalu menawarkan surga untuk suaminya, lalu bagian mana yang harus aku sesali?"


Bruukk... Bruuukkk... Deon yang  memang mudah terpancing dan tempramen, langsung meninju pipi Alzam dua kali...


Kontrangg.... Terdengar kegaduhan dari dalam sana. Jec yang memang sejak tadi juga tidak bisa fokus dengan pekerjaanya langsung merangsak masuk ke dalam ruangan Deon.


"Tuan... hentikan! Janagn gila Anda!!" Jec yang melihat kalau ruangan bosnya udah kaya kapal pecah pun langsung menahan tubuh Deon yang akan kembali melayangkan pukulan pada Alzam.


Tapi tenang Alzam sudah membalasnya dia mengayunkan satu buah miniatur berbentuk menara kembar ke kepala Deon sehingga dari pelipisnya keluar darah.


Hanya ada benda itu yang bisa dijangkau tangan Alzam padahal niatnya mencari barbel tapi tidak ada. Digetok pake barbel lebih berasa meskipun yang dua kilo.....

__ADS_1


__ADS_2