Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam #Episode 224


__ADS_3

Pagi hari menyapa, sinar sang mentari pun sudah menghangatkan bumi, tetapi dua anak manusia yang hampir menghabiskan malamnya untuk bercinta pun masih terbenam di bawah selimut tebalnya.


"Deon... bangun udah siang?" ucap Cucu padahal wanita itu juga belum juga beranjak bangun. Bahkan matanya masih rapat saling melekat, menikmati nyamannya kasur.


"Hemz... masih ngantuk Cu," balas Deon dengan mata yang sama dengan Cucu, yaitu terpejam kuat.


"Deon... aku lapar ayo kita bangun," ucap Cucu masih terus meracau.


Mata Deon yang masih berat pun dibuka sebelah. "Kenapa kamu minta aku bangun, sedangkan kamu saja masih belum bangun?" balas Deon dengan santai.


"Itu karena kamu yang harus membangunkan aku. Aku kita bangun, aku ingin siang ini ke rumah kakek dan nenek. Pokoknya siang ini kita akan mengunjungi kakek dan nenekku seharian, aku kangen masakan nenek," ucap Cucu kali ini wanita itu sudah menyenderkan tubuhnya di dasboard ranjang dengan mata yang sebenarnya masih berat.


"Kita mandi bareng," ucap Deon yang masih rebahan.


"Makanya kamu bangun, kalau kamu saja masih malas gimana kita akan mandi bareng," balas Cucu yang masih ngantuk juga, tapi ia tahu harus memaksa agar bisa segera mengunjungi rumah neneknya.


Deon pun yang tahu kalau itu artinya mendapatkan jawaban iya dari sang istri langsung bangun dan siap akan mebopong sang istri ke kamar mandi.


"Tapi ingat aku tidak ingin melayani kamu lagi. Bahkan kamu tidak membiarkan aku untuk tidur," sungut Cucu, yang mana hanya di balas dengan simbol ok dari jari-jarinya, tetapi apakan Deon akan benar-benar patuh mendengar ucapan Cucu?


Detik kian berlalu berganti dengan menit, dan menit pun terus bergulir hingga tanpa terasa hampir dua jam pasangan suami istri itu mandi di kamar mandi. Nah loh mandi apa sampai dua jam. Mungkin mandi sambil sikat kamar mandi makanya lama....


"Deon... lain kali aku nggak akan mau diajak mandi bareng sama kamu. Tukang bohong, tukang ngibul katanya iya hanya mandi, tapi kenapa malah kamu paksa aku melayani kamu lagi, bahkan tidak pernah cukup satu kali," pekik Cucu sembari bersungut-sungut sejak ke luar kamar mandi.


Deon sendiri yang berada di belakang Cucu pun hanya tersenyum dengan keisenganya. Pokoknya laki-laki itu malah semakin suka apabila Cucu marah dan melawan kalau lagi penyatuan hasratnya semakin naik.


"Apa kamu tidak punya pakaian untuk aku?" tanya Cucu dengan ketus.

__ADS_1


"Kamu pakai punya Kak Dena saja, nanti kita begitu pulang dari rumah nenek kamu, kita akan belanja pakaian yang banyak untuk kamu,"  ucap Deon sembari terus memakai pakaianya sedangkan Cucu malah duduk di ranjang dengan tangan di lipat ke bawah.


"Apa Kak Dena adalah kakak kamu yang bunuh diri?" tanya Cucu, dia baru ingat akan cerita Momy Iriana yang mana kalau kakak perempuan dari Deon sudah meninggal dunia karena bunuh diri. Bulu kuduk Cucu langsung meremang. Pantas saja beberapa kali dia tidur di kamar Dena suasanaya serem.


"Kenapa emang kok kamu tanya seperti itu. Apa kamu pikir Kak Dena akan marah kalau pakaianya dipakain oleh kamu? Tidak yah, Kak Dena tidak akan marah karena dia juga suka kalau barangnya dipakai oleh orang lain." Deon pun menangkup pipi Cucu yang mulus itu.


"Tapi beberapa kali aku tidur di kamar Kak Dena itu suasananya beda banget. Aku nggak mau ke kamar Kak Dena sendirian. Atau kalau tidak kamu yang ambilkan pakian di kamar Kak Dena," balas Cucu dengan tahu diri. Ujung-ujungnya meminta sang suami yang mengambilkanya.


"Ayo kita ke kamar Kakak bareng-bareng kamu pilih saja mau pakai yang mana tas, sepatu dan alat make up-nya kamu boleh pake sesuka kamu. Kak Dena pasti suka."


Setelah Deon berpakaian santai yang jauh lebih tanpan kini gantian Cucu yang bersolek. Setelah sarapan sekaligus makan siang kini Cucu dan Deon pun menuju rumah sang nenek.


"Loh, kok berhenti," ucap Cucu dengan santai. Padahal wanita itu sudah tidak sabar kalau dia ingin segera sampai di rumah kakek dan neneknya.


"Kita turun dulu yah, beli buah, kue atau apa buat kakek dan nenek kamu. Masa mau main nggak bawa apa-apa," ucap Deon, entah memang sebenarnya wataknya yang manis. Atau justru dia adalah laki-laki yang perhatian. Sehingga membuat Cucu hampir terbang di buatnya.


Karena akhir-akhir ini Deon memang sangat manis. Contohnya hari ini dia dengan kesadaranya ingin agar Cucu membelikan buah tangan untuk sang kakek dan neneknya. Cucu pun tanpa pikir panjang langsung turun dan masuk ke supermarket untuk membeli apa yang kiranya disukai oleh kakek dan neneknya.


"Apa aku boleh beli apa saja?" tanya Cucu dengan antusias ketika melihat buah-buahan yang segar.


"Ambilah, aku tidak akan jatuh miskin dengan membelanjakan kamu," balas Deon dengan santai. Sontak Cucu pun langsung berjingkrak bahagia. Akhirnya dia bisa melihat Deon manis seperti sekarang ini.


"Terima kasih Sayang, kalau kamu manis kaya gini aku jadi tambah cinta," ujar Cucu dengan mencubit pipi Deon yang mana laki-laki itu tengah memilih buah juga. Deon pun yang tidak menyangka kalau Cucu akan berani mencubit pipinya hanya tersenyum gemas.


"Untung aku udah suka, kalau belum aku bakal marah ada yang pegang pipi aku," guman Deon di balik daun telinga sang istri, Cucu sendiri pun tidak menggubris ucapan Deon dia lebih suka dengan memilih aneka buah segar dan juga aneka cake.


"Udah?" tanya Deon yang bahkan troli saja belum penuh. Deon pikir Cucu akan membeli beberapa troli untuk setok makanan satu tahun.

__ADS_1


Cucu mengagguk. "Udah, ini sudah banyak. Lagian Kakek dan Nenek hanya berdua jadi segini saja sudah lebih dari cukup," balas Cucu dengan mendorong troli ke kasir. Sementara Deon berjalan di belakang Cucu siap  membayar apa yang Cucu beli.


"Kita makan dulu," ucap Deon ketika semua belanjaan sudah masuk ke dalam mobil. Kini lagi dan lagi Cucu melebarkan kedua matanya.


"Bukanya kamu sudah makan tadi?" tanya Cucu dengan heran. Dia saja masih kenyang.


"Aku ingin makan Waffle stroberry tadi lihat di cafe dalam kayaknya ada yang jual, dari pada nanti anak aku ngiler," balas Deon percaya diri banget kalau usahanya akan langsung jadi.


Tanpa pikir panjang Cucu pun mengikuti apa yang Deon ingin. "Tidak lama kan, aku ingin cepat-cepat  tidur. Tubuhku sakit semua. Itu semua gara-gara kamu," balas Cucu sembari melirik tajam pada Deon, tetapi demi menyenangkan sang suami wanita itu pun ikut turun.


"Tidak hanya makan Waffle," balas Deon sembari menunggu pesananya tiba. Cucu pun yang sangat suka dengan penampilan sang suami menyempatkan diri memfoto Deon yang sedang dalam mode tampan. Eh, memang suami Cucu itu sangat tampan.



Kerjaan Cucu yang ambil Foto pacar othor...


Hanya butuh waktu tiga puluh menit Deon dan Cucu sudah menghabiskan satu porse waffle stroberry yang sangat enak. lembut dan juga segar strobberi-nya.


Kini pasangan suami istri itu pun sudah berada di dalam mobil lagi. "Aku jadi tidak sabar, kira-kira kakek dan nenek lagi apa yah," gumam Cucu sepanjang perjalanan wanita itu terus berceloteh. Menceritakan kehidupanya dulu bersama dua pengganti orang tuanya.


Setelah menepuh perjalan hampir setengah jam dari supermarket kini mobil Deon sudah berada di halaman nenek Cucu. Sedangkan Cucu sendiri terharu bahagia ketika melihat rumah sang nenek yang tidak seperti dulu. Sekarang sudah jauh lebih baik, tidak mewah, tetapi cukup untuk kakek dan nenek Cucu tinggal.


"Apa ini kamu yang merapihkaan rumah Nenek dan Kakek?" tanya Cucu dengan mata berkaca-kaca.


"Apa ada orang baik lagi selaian aku?" tanya balik Deon yang sudah pasti sebenarnya itu adalah jawaban yang mengandung menyombongkan dirinya.


"Ckkk... kenapa kalau jawab selalu tidak biasa saja, tanpa adanya kesombongan sih?" dengus Cucu, ada rasa kesal tetapi tidak bisa memungkiri Cucu semakin jatuh hati dengan Deon karena sifatnya yang sebenarnya baik itu.

__ADS_1


Bersambung....


...****************...


__ADS_2