Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam #Episode 148


__ADS_3

Naqi langsung bangun ketika merasakan tangan mamihnya bergerak-gerak.


"Mamih, alhamdulillah akhirnya Mamih sadar juga," ucap Naqi dengan mengusapkan telapak tanganya, menandakan laki-laki itu sangat bahagia dengan kesadaran mamihnya. Meskipun Naqi juga tahu bahwa dengan kesadaran sang mamih itu tandanya masalah akan semakin runyam. Ia harus mengatakan sejujurnya apa yang terjadi. Meskipun Naqi ragu karena kesehatan Qanita yang bisa saja memburuk lagi.


Qanita nampak memijit keningnya yang berdenyut. "Bang, bagaimana kondisi adik kamu dan anaknya sekarang?" tanya Qanita dengan suara lirihnya, dan masih terlihat dengan jelas kesedihan di wajah lelahnya.


Glekk...Naqi menelan salivanya dengan kasar, bingung antara jujur atau ia akan berbohong dengan kenyataan ini. Terlebih kondisi Qanita menjadi pertimbangan Naqi. Untuk hati-hati dalam berucap.


"Qari belum sadar, tetapi kondisinya terus membaik, dan anaknya pun sama. Mamih doakan yah agar Qari cepat sadar, begitupun putrinya. Mereka adalah wanita yang kuat, jadi Mamih jangan khawatir mereka pasti kuat." Naqi mengusap punggung tangan Qanita, wanita itu masih terbaring dengan lemas, selang oksigen terpasang di hidung wanita paruh baya itu. Kondisi Qanita langsung drop melihat kondisi Qari separah itu. Padahal selama ini Qanita adalah orang yang sangat kuat.


"Mamih pengin lihat Qari dan anaknya Bang."


Sontak saja wajah Naqi langsung berubah, karena kalau Qanita melihat Qari maupun anaknya kebohonganya akan ketahuan, ia belum siap melihat kondisi mamihnya semakin parah lagi. Biarkan Qanita sembuh dulu baru Naqi akan mengatakan sesungguhnya apa yang terjadi, terutama pada Qinar.


"Mih, kondisi Mamih masih lemah, Naqi tidak ingin Mamih malah semakin sakit. Untuk saat ini Mamih fokus istirahat dulu yah, sehatkan tubuh Mamih, setelah sehat Mamih boleh melihat Qari dan juga buah hatinya. Yang jaga Qari sudah banyak, ada Alzam, Cyra dan Kakek juga," balas Naqi dengan berhati-hati agar sang mamih tidak tersinggung.


Naqi juga tentunya tidak berani memberitahukan kondisi kakeknya yang drop seperti mamihnya.


"Apa yang kamu katakan tidak bohong kan Bang?" Seolah wanita paruh baya itu tahu  dan bisa membaca bahwa apa yang Naqi katakan adalah sebuah kebohongan. Untuk membuat dirinya tenang.


"Mih, bahkan kadang Mamih itu lebih tahu dari Naqi sendiri, apa Mamih melihat kalau Naqi berbohong. Naqi hanya cemas dengan kondisi Mamih dan Qari serta Qinar, maka dari itu dari tadi Naqi terlihat seperti orang yang kebingungan itu semua karena Naqi takut kalau terjadi apa-apa dengan kalian. Terutama Mamih yang cukup lama pingsan. Naqi bahkan sempat berpikir buruk. Tetapi sekarang Naqi sedikit lebih tenang karena Mamih sudah sadar." Naqi pun mencoba menarik bibirnya membuat garis lengkung, di wajah sedihnya, agar Qanita percaya dengan apa yang ia katakan.


"Terima kasih, sudah jadi anak yang berbakti. Titip jaga Qari dan cucu mamih yah Sayang. Mamih tidak ingin terjadi apa-apa dengan mereka. Mamih ingin mereka semua bahagia. Sampaikan maaf pada mereka karena mamih belum bisa jaga mereka."


Naqi menyeka air mata yang keluar dari sudut mata sang ibu tercinta. "Mamih jangan khawatir Naqi akan menjaga mereka. Naqi tidak akan biarkan sesuatu terjadi pada mereka. Naqi berjanji pada Mamih." Terakhir Naqi mencium punggung tangan wanita yang telah memberi kehiduan untuknya. Sang Ibu yang banyak mengajarkan arti kesabaran, dan kini harus terbaring tanpa daya di atas ranjang pasien. Hancur hati seorang anak yang menyaksikan ini semua.


"Mamih istirahat yah, atau ingin makan sesuatu?" tanya Naqi dengan suara yang sangat lembut, dan yang membuat Qanita menitikan butir kristal dari sudut matanya, bukan hanya kesedihan karena putrinya yang sedang kritis paska lahiran belum juga sadar, dan juga cucu yang masih berjuang karena dilahirkan secara prematur, tetapi juga atas anugrah buah hati yang sangat bisa diandalkan yaitu Naqi. Meski Naqi dan Qari akan terus bertengkar, tetapi ketika Qari ada musibah Naqi adalah orang yang paling cemas dan paling pasangan badan untuk sang adik.


Naqi sebagai abang serta anak sulung sangat bisa dianadalkan. Itu sebabnya Qanita menitikan air mata ada rasa sedih, tetapi juga ada rasa bangga yang tidak terkira ketika ia  memiliki anak yang bertanggung jawab dan sangat menyayanginya.


"Mamih baru bangun, tidak mungkin mamih istirahat lagi. Mamih ingin makan saja. Mamih harus cepat sebuh biar cepat-cepat berkumpul dengan cucu dan anak-anak mamih."


Ser... darah seolah berlomba-lomba naik ke atas kepalanya, dadanya berdesir hebat ketika mendengar ucapan Qanita.


Naqi tersenyum dengan paksa, setelahnya menunduk, menyebunyikan wajah bersalahnya. "Bagaimana kalau Mamih nanti tahu kalau Qinara sudah tidak ada lagi di dunia ini. Qinar sudah bahagia tinggal di surganya Allah."


*****


Naqi berjalan dengan kaki yang berat menuju kursi, di mana di sana ada laki-laki yang sedang duduk melamun, seolah laki-laki itu sejak tadi tidak beranjak dari tempat duduk itu.


Namun, kenyataanya laki-laki itu bukan tidak beranjak, yang dia lakukan hanya berjalan ke jendela kaca melihat sang istri tercinta setelahnya akan duduk memikirkan buah hatinya sekarang sedang apa? Seperti itu seterusnya hingga rasanya tubuhnya tidak tahu harus melakukan apa selain berbuat seperti itu berulang-ulang.


"Mamih sudah sadar, saat ini aku bisa menahan agar Mamih tidak melihat kondisi Qari dan Qinar, aku bisa  membujuknya dan mengatakan kalau semuanya baik-baik saja, kondisi Qinar juga baik-baik saja, tetapi aku tidak tahu setelah bangun nanti Mamih akan mau untuk tetap istirahat di kamarnya, atau memaksa menemui Qari dan Qinar. Apa yang harus kita lakukan." Suara Naqi langsung mengagetkan Alzam yang sedang melamun.


Alzam diam sejenak. "Saya juga tidak tahu, harus mengatakan apa kalau Qari bangun nanti. Bagaimanaa cara saya memberitahukan kalau anaknya sudah tidak ada. Belum Kakak Cyra tadi juga menelepon dia bingung mengatakan apa pada Kakek yang terus bertanya kondisi Qari dan Qinar. Sama halnya Kakak Cyra juga tidak mengatakan kebenaranya. Meskipun kakak ipar sudah tahu fakta tentang Qinar."


Alzam menatap kosong ke depan, pikiranya masih bingung dengan semua ini. Dia juga tidak hanya memikirkan Qari, mamih mertua, dan juga Latif saja, tetapi dalam pikiranya juga mencemaskan mental Tantri yang pasti akan langsung memburuk kalau tahu anak Qari meninggal. Bocah kecil itu akan terus-terusan di hantui oleh perasaan bersalah.


"Al... bagaimana kalau kita adopsi bayi orang yang baru saja melahirkan, untuk di jadikan bayi pengganti. Bukanya di luaran sana banyak bayi yang di buang oleh orang tuanya, atau ada bayi yang kurang beruntung dengan ibu yang tidak terselamatkan, dan kita bisa adopsi salah satu dari mereka." Naqi sedikit bersuara lebih kencang karena ia berpikir baahwa ide ini adalah solusi dari setiap masalah yang dihadapi oleh keluarganya.


Alzam langsung memalingkan wajahnya menatap serius pada Naqi. "Apa hal itu tidak terlalu beresiko mengingat kalau anak itu bukan darah daging Qari. Bagaimana kalau nanti Qari dan yang lainya tahu fakta ini?  Saya terlalu takut akan menambah masalah baru," balas Alzam dengan bingung, meskipun tidak bisa Alzam pungkiri ide abang iparnya termasuk masuk akal, dan memang bisa menjadi solusi yang tepat.


"Kita tutup mulut semua dokter, suster, Doni, Deon dan siapa pun yang tahu akan fakta ini, kita harus bisa memastikan agar semuanya bisa tutup mulus, kalau tidak bisa tutup mulut kita singkirkan. Kita juga bisa bersikap kasar kalau mereka macam-macam, terutama Deon sekali lagi dia berulah aku yang akan maju." Terlihat kemarahan dari kata demi kata yang Naqi ucapkan.


"Tapi apa cari anak yang baru lahir akan mudah, bukanya itu cukup sulit." Alzam akan mengikuti saran dari kakak iparnya semua demi kebaikan bersama.


"Kamu serahkan saja padaku, aku yang akan mencari anak itu dan kamu hanya tinggal mengatakan bahwa bayi itu baik-baik saja." Naqi pun merogoh kantung celananya untuk meraih ponselnya. dan menghubungi berapa dokter yang bekerja di rumah sakit maupun di sebuah klinik bersalin dan bidan-bidan serta panti asuhan. Naqi lebih mencari seorang anak yang tidak ada orang tuanya dan tentu baru lahir agar mengurusnya lebih gampang dan tentunya ketika besar nanti tidak akan jadi masalah.

__ADS_1


Tidak lupa rumah bersalin yang saat ini menjadi tempat untuk Qari melahirkan pun mejadi saran Naqi untuk mencari info bayi-bayi itu.  Sekaligus Naqi meminta dokter suster dan semua pekerja rumah sakit merahasiakan kematian Qinar.


"Semuanya aman, aku berharap secepatnya ada yang mengabarkan soal bayi itu," ucap Naqi sembari kembali duduk di samping Alzam.


Alzam sendiri hanya membalasnya dengan senyum masam, bahagia atau sedihkah yang harus Alzam tunjukan. Mungkin saat ini cara ini akan jadi solusi yang tepat tetapi tidak tahu untuk kedepanya apakah cara ini adalah cara yang terbaik, dan tidak menimbulkan masalah baru? Itu yang sedang hadir dalam pikiran Alzam.


******


Sedangkan di tempat lain.


Cucu yang baru masuk ke kamar Dena pun cukup terkejut dengan kamar yang bernuansa perempuan, rapih dan banyak perlengkapan waniya di kamar itu.


"Kamar siapa ini? Apakah kalau aku nanti sentuh barang-barangnya dan juga meminjam pakaiannya tidak akan kena marah?


Di dalam kamar Dena, Cucu sendiri sedang bingung ada banyak pakaian wanita, sempatan yang bagus sebenarnya untuk dirinya yang pakaianya kotor dan juga bau, sertidaknya ia bisa pinjam, tetapi sedetik kemudian Cucu bingung lagi, ia juga takut kalau nanti akan dimarahi oleh Deon dan Jec, apalagi nanti yang punya pakaian tahu kalau pakaian miliknya di pakai, yang ada ia akan di cincang lagi.


"Mana pasti pakaian ini bukan harga yang murah." Cucu hanya diam mematung kamar yang indah, luas dan pastinya rapih dan harum.


Yah, memang sesuai dengan perintah Deon kalau asisten rumah tangga di rumahnya harus merapihkan kamar Dena setiap hari dan memberikan wangi-wangian, karena Deon meyakini kalau kakaknya masih sering datang untuk tinggal di kamar itu. Dena sang suka ruang yang harum. Itu sebabnya setiap sudut kamar Dena ada pengharum ruang yang sang Dena suka.


"Ah, aku akan coba bertanya pada Jec." Cucu kembali mengayunkan kakinya melangkah menuju kamar bosnya kembali.


"Ada apa Cu?" tanya Jec setelah Cucu yang berkali-kali mengetuk pintu kamar Deon.


"Jec, aku tidak bawa pakaiaan ganti, di dalam kamar itu ada pakaian perempuan, apakah aku boleh memakainya? Nanti aku janji cucu bersih dan kembalikan lagi." Cucu buru-buru mengucapkan janjinya untuk megembalikan, ketika melihat wajah Jec.


"Kamu sebaiknya tunggu di sini, aku akan tanya Tuan Deon. Itu pakaian Dena takutnya nanti Bos akan marah," lirih Jec, kembali menutup pintu kamarnya dan ia masuk untuk bertanya pada Deon yang masih mengurung dirinya di dalam kamar mandi.


"Masuk Jec!!" Suara Deon terdengar dari dalam kamar mandi, dan Jec pun mengikuti kata Deon yang ternyata laki-laki itu justru tengah berendam tanpa membuka pakaianya.


"Cucu ingin meminjam pakaian Kak Dena, dan dia berjanji akan mencuci dan mengembalikanya esok hari. Dia tidak membawa pakaian ganti."


"Pakai saja tidak usah dikembalikan, kalau perlu ambil yang dia suka. Dena pasti suka kalau barang-barangnya dipakai oleh orang lain, dari pada disimpan begitu saja." Deon pun berkata dengan santai. Berbeda dengan Jec yang justru kaget dengan apa yang di ucapkan oleh bosnya.


"Terima kasih Tuan, akan saya sampaikan pada Cucu." Jec langsung beranjak akan mengatakan pada Cucu, tetapi baru juga beberapa langkah Jec kembali lagi menatap Deon yang masih bersantai di atas bathtub dengan kepala menengadah ke atas dan mata terpejam.


"Tuan, mandilah yang benar, karena kalau Anda mandi tidak benar saya yang akan di marahi oleh Cucu, atau Anda ingin saya yang akan memanggil Cucu saat ini juga untuk menasihati Anda?" tanya Jec ia sangat yakin betul kalau  Deon pasti tidak akan mau berurusan dengan Cucu.


"Iya... iya aku akan mandi dengan benar kamu pergilan keluar, aku mau telanjang apa kamu mau melihatnya," dengus Deon dengan menatap tajam pada Jec.


Jec pun langsung berbalik badan dan kembali ke luar tentunya dengan senyum kemenangan.


"Apa sebegitu menyeramkanya Cucu sampai-sampai Tuan Deon sangat takut berurusan dengan wanita itu," gerundel Jec dengan tawa kecil.


Jec kembali membuka pintu, di mana di luar sana ada Cucu yang masih berdiri dengan tegap.


"Gimana Jec?"


"Kamu pakai saja yang mana kamu mau, Dena tidak akan marah, dan kata Tuan Deon juga kamu tidak perlu mengembalikanya."


Sontak saja Cucu langsung melebarkan kedua matanya. "Ini serius, pakaian itu bukan pakaian murah bagaimana tidak usah dikembalikan nanti kalau yang punya pakaian itu marah karena pakaianya aku pakaian dan tidak di kembalikan gimana?" cecar Cucu. Dia diajarkan oleh nenek dan kakeknya untuk tidak memanfaatkan kebaikan orang lain. Wanita itu diajarkan agar hidup mandiri dan tidak ketergantungan dengan orang lain.


"Tidak, Dena tidak akan marah pakaianya di pakai oleh kamu, malah Dena akan suka kalau kamu juga menyukai barang-barangnya. Udah sana mandi udah hampir pagi setelah ini kita makan dan tidur, agar badan besok bangun sudah enak dan segar pasti kamu cape banget," ucap Jec sembari mendotong pundak Cucu agar segera berlalu dari hadapanya.


Cucu pun hanya bisa pasrah ketika Jec memintanya segera membersihkan tubuhnya yang kotor. "Ah yang penting aku sudah izin, dan kalau Jec dan Bos bilang di pakai saja apa salahnya, berati memang itu rezeki aku.


Wanita itu langsung masuk kembali ke kamar Dena. "Kamarnya bagus banget, tapi terasa sepi." Cucu bermonolog dalam batinya setiap memperhatikan desain kamar dan barang yang tertata dengan rapih.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong pemilik kamarnya ke mana? Apa mungkin kerja di tempat lain atau kuliah?" Sembari terus bertanya pada dirinya sendiri Cucu masuk ke dalam kamar mandi. Lagi dan lagi Cucu pun kaget ketika melihat kamar mandi yang sangat besar itu.


"Oh Tuhan kenapa kamar mandinya besar sekali, besar bersih, dan lagi-lagi bau wangi yang sama dengan di dalam kamar tadi," batin Cucu lagi. Ia pun setelah puas berkeliling di dalam kamar mandi, langsung tidak lama mandi mandi dengan bersih dan menggosok tubuhnya yang sangat kotor, dengan air hangat. Cukup lama Cucu berendam dengan air hangat, hingga dia merasakan kini tubuhnya sudah segar, rasa lelahnya sedikit menguai.


Satu setel baju tidur Cucu pinjam dari pemilik pakaian itu. "Nona Dena, saya pinjam pakaianya yah." Setelah berpakaian rapih, Cucu pun turun ke bawah mencari dapur dan akan memasak. Memang tadi Jec meminta agar Cucu membangunkan asisten rumah tangganya, tetapi berhubung Cucu tidak tahu di mana kamar asisten rumah tangga sehingga Cucu memilih memasak yang simpel saja, tidak mau membuat orang lain repot.


"Nasi goreng spesial sudah terhidang di atas meja makan, dan tentu ada telor mata sapi juga, dan Cucu juga menumis sayur sawi dan baso untuk pelengkap makan nasi goreng. Setelah semua siap Cucu kembali naik ke lantai dua dan memanggil Jec dan Deon untuk makan terlebih dahulu sebelum mereka tidur lagi.


"Jec, makanan sudah siap. Ayo kita makan'" pekik Cucu dari depan pintu, dan tidak lama Jec pun keluar dengan wajah yang tidak kalah segar dengan cucu.


"Kamu coba bujuk Tuan Deon, dia berulah lagi." Jec menujuk Deon yang hanya berdiri di depan kaca jendela menatap ke luar sana di mana di luar rumah memang tiba-tiba cuaca kurang bersahabat. Gerimis dan angin yang berhembus cukup kencang.


Cucu menghirup nafas dalam dan menghembuskanya perlahan, ia seperti akan melakukan uji nyali dadanya langsung bergemuruh hebat.


"Tuan..." Cucu menepuk pundak Deon dan benar saja Deon langsung tersadar.


"Cu, di luar sana hujan, apa Qinar tidak menangis kedinginan?" tanya Deon dengan suara yang serak dan berat serta sorot mata yang memerah.


"Tuan, hujan bagi sebagian orang itu berkah dan anugrah, begitupun yang di rasakan Qinar, dia di rumah barunya tidak kedinginan dan juga tidak menangis Qinar sedang bahagia di surga bersama teman-teman barunya." Suara Cucu yang lembut membuat Deon merasakan nyaman.


"Tapi kamu tahu kan Cu, tubuh Qinar di timbun oleh tanah dan itu tandanya Qinar kesakitan." Deon masih enggan beranjak dari tempatnya berdiri.


"Tubuh Qinar mungkin akan rusak, semua tubuh makhluk hidup yang sudah tidak bernyawa pasti akan rusak, tetapi tidak dengan roh atau jiwa Qinar dia langsung naik ke surga untuk bertemu dengan Tuhan. Itulah keistimewaan anak-anak ketika meninggal dunia Tuhan langsung menjanjikanya surga."


Deon masih berdiri, tetapi saat ini tidak melemparkan pertanyaan lagi. Hanya menatap ke luar Jendela yang masih hujan.


"Tuan, makan yuk ini sudah hampir pukul empat subuh dan saya juga sudah masak. Kita makan yah." Cucu kembali menepuk pundak Deon agar tidak melamun lagi.


Deon menatap ke arah Cucu lagi. "Aku tidak lapar Cu."


Cucu memejamkan kedua matanya dengan sempurna. "Tuan Tolong lah saya juga..." Ucapan Cucu terpotong oleh Deon.


"Bawa makananya ke sini Cu, aku sedang malas turun ke bawah!" Deon yang sudah hafal betul kalau Cucu akan marah pun hanya bisa pasrah. Lapar atau tidak harus makan karena Cucu lebih menyeramkan dibanding Jec.


"Tuan, makan dan turun ke bawah tidak akan memakan waktu sampai setengah jam. Turunlah ke bawah, jangan terlalu kebiasaan selalu ingin dilayani," balas Cucu, suara yang sudah mulai terdengar dingin membuat Deon pun akhirnya nurut dengan ucapan Cucu.


"Baiklah aku turun." Meskipun terlihat kalau Deon itu tidak suka dan tentunya berat untuk turun ke bawah, tetapi Deon pun memaksanya dengan malas. Sedangkan Jec sendiri memberikan dua jempol pada Cucu.


"Bulan depan gajih dan bonus aku pastikan masuk ke dalam rekening kamu," bisik Jec,  dan tentungnya di balas senyum mengembang dari Cucu.


 Cucu pun langsung memberikan simbol ok, dan membusung kan dada, ini adalah kabar gembira yang selama ini ia nanti-nantikan.


"Tuan, saya tidak tahu kamar Bibi di mana, dan saya hanya bisa memasak nasi goreng dan ini saja," ucap Cucu begitu melihat raut wajah kecewa dari Deon.


"Apa tidak ada makanan lain, dan kenapa kamu masak ini semua, kalau aku mati dengan makanan ini gimana," dengus Deon, dia menarik kursi dengan kasar dan mendudukinya.


"Kalau Anda mati, saya akan sangat malang, sekaligus bahagia. Malang karena pasti akan masuk penjara, bahagia karena saya tidak dibikin pusing dengan sikap Anda yang kekanakan." Cucu langsung mengambilkan nasi goreng yang di masak dan telor ceplok beserta sayur di mangkok kecil. untuk membuat tenggorokan segar dengan sayur bening dari sawi putih.


Deon mengernyit sempurna ketika Cucu menghidangkan makanan yang sama sekali aneh bagi dia. Namun Deon tidak berani protes.


"Udah makan apa adanya, dan kalau Anda mati Jec dan saya juga akan mati, dan jangan tanya makanan lain, karena tidak ada makanan apa-apa selain ini." Cucu pun sama mengambil nasi untuk dirinya dan untuk Jec.


Baik Deon dan Jec pun tidak ada yang mau banding dengan protes. Pagi ini mereka makan dengan masakan Cucu yang tidak terlalu buruk rasanya. Memang apabila dilihat dari penampilan masakan Cucu sangat tidak menggugah selera, tetapi berbanding dengan rasanya yang juara.


"Katanya makanan aneh, tapi habis juga."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2