Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam #Episode 161


__ADS_3

Siang hari disaat Qari baru saja pulang dari rumah sakit, oh tidak bukan hanya Qari, tetapi Qanita dan juga tuan Latif juga baru saja diizinkan untuk pulang, pada siang ini, dan mereka baru saja menikmati makan siang bersama, kecuali Alzam dan Nara yang mana ayah dan anak itu justru memilih untuk istirahat di dalam kamar mereka.


Tantri dan Qari pun saling pandang bingung, mana yang benar dan mana yang salah. Tantri sendiri dengan mata kepalanya melihat makam yang bertuliskan  bahwa makan itu adalah Qinara dengan nama kakak iparnya sebagai nasabnya.


Lalu Qari pun sama, keluarganya serta suaminya mengatakan bahwa anak yang selama ini berada dengan dirinya dan juga minum air susu dari  dirinya adalah Nara, alias Kinara juga. Lalu mana yang benar?


Apa yang kalian katakan itu benar? Qinara sudah meninggal?" Latif tidak kalah syok dengan kabar yang tiba-tiba datang.


"Naqi, apa ada yang kalian sembunyikan? Apa yang terjadi sebenarnya Bang? Qinara sudah meninggal? Lalu bayi yang diasuh kita anak siapa?" Qanita pun tidak kalah mencecar Naqi yang semakin tersudutkan. Tidak bisa mengelak dan juga tidak bisa menutupi fakta ini lagi. Keluarganya sudah mulai curiga, semakin di tutupi justru semakin jadi bumerang di kemudian hari.


Naqi menatap tajam pada Tantri yang masih terisak samar dengan kebingungan yang sama dengan yang lainnya.


Tap... Tap... Alzam menapaki anak tangga dengan menggendong Nara, mata Tantri  terlalu sedih, ia saat ini berasa tidak memiliki pegangan, apa yang ia takutkan terjadi abangnya lebih memilih keluarga barunya. Bahkan  sejak kejadian na'as yang ia sebabkan Alzam tidak pulang sekalipun, padahal Tantri sebagai orang yang sangat dekat dengan dirinya, menanti momen itu. Menanti Alzam pulang dan dirinya bercerita apa yang mengganggu pikiranya, tetapi ternyata sampai detik ini Alzam tidak pulang juga.


Ternyata justru Alzam memilih pulang ke rumah keluarga istrinya sedangkan dia setiap hari hanya dengan bi Sarni. Padahal Tantri sangat berharap ketika ia terpuruk sang kakak ada di sampingnya untuk menguatkan dirinya, Tanpa terasa air mata Tantri jatuh semakin deras. dadanya sesak, dan tenggorokan yang luar biasa sakit.


"Ada apa ini Sayang?" tanya Alzam menghampiri Qari dengan menatap pada Tntri seoran bertanya hal yang sama.


"Al, apa anak ini bukan anak aku?" tanya Qari balik. "Katkanlah yang sejujurnya, aku tidak suka ada kebohongan dan aku juga tidak suka di bohongi, katakan kalau memang Qinar sudah meninggal kenapa harus ada bayi ini yang bukan darah dagingku?" Suara Qari pun meninggi. Hingga Alzam dan yang lainya terkejut dengan apa yang Qari lakukan.


"Sayang, maksuda kamu apa sih?" Alzam yang belum tahu betul apa yang terjadi hanya bisa menggeleng, menandakan bahwa dirinya tidak paham dengan pertanyaan Qari.


"Biar aku yang jawab Al." Naqi pun maju ke depan. "Lebih baik kalian duduk dulu." Naqi menujuk sofa yang besar, Mereka pun perlahan dengan kebingungan dan isi kepala yang di penuhi sejuta pertanyaan. Mereka pun duduk termasuk Tantri yang duduk berjauhan dari Alzam, yang mana abangnya memilih duduk bersama Qari. Bukan tanpa maksud tentu Alzam duduk bersama Qari.


Alzam hanya terlalu takut akan terjadi sesuatu dengan Qari di mana dia tentu juga sudah tahu apa yang sekiranya akan mereka bahas. Tentu membahas Qinara yang asli.


Bukan juga Alzam mengabaikan Tantri seperti yang saat ini Tantri lakukan, ia hanya tidak ingin Qari yang pasti akan sangat terpukul merasa tidak memiliki pegangan. Andai bisa di belah pasti Alzam akan memilih berdiri di tengah-tengah Qari dan Tantri.


"Naqi apa yang sebenarnya terjadi, apa Qinar sudah meninggal? Lalu anak itu siapa?" Latif lagi-lagi langsung mencecar dengan apa yang terjadi.


Naqi pun menghirup nafas dalam, dan menghebuskanya perlahan, mengurangi rasa geroginya. "Apa yang di katakan Tantri benar."


Jedduuerr... Petir kembali menyambar tepat di tengah-tengah  keluarga itu.


Hahaha... Qari justru tertawa, tetapi sedetik kemudian ia terisak dengan pilu. "Kenapa kalian tega bohongi kami Bang, kenapa Kamu tega sekali membodohi aku, dan mengira anak ini adalah anakku. Aku seperti orang paling bodoh di dunia ini karena percaya saja dengan cerita fiksi kalian. Aku merasa menjadi orang yang paling bodoh. Kalian jahat dan juga tega. Membiarkan aku menganggap anak ini seperti anak kandungku. Kalian orang paling jahat." Qari terisak, bahkan Alzam mau mengusap punggung Qari untuk memberikan kekutan buru-buru di tepis oleh Qari.


Alzam yang tidak mau mengambil resiko pun hanya diam saja, lebih baik menarik lagi tanganya agar Qari tidak marah.


Naqi pun sama hanya bisa diam. Bingung juga mau menjelaskan alasanya pasti Qari tidak akan mau menerimanya, sehingga lebih baik untuk saat ini hanya diam saja. Diam untuk saat ini adalah hal yang paling baik itu menurut Naqi.


"Di mana makam Qirana?" tanya Qari dengan suara yang sangat pelan. Setelah mereka dilanda kebisuan.

__ADS_1


Tidak hanya Qari yang marah, kesal dan merasa di permainkan. Qanita dan Latif pun sama. Dua orang itu sudah sangat bahagia dengan apa yang terjadi dalam keluarganya, mereka mempunyai cucu serta cicit tetapi apa yang terjadi ini semua hanya bohongan.


"Kenapa kamu seperti ini Bang, tega bohongi mamih dan juga Kakek. Apa kalian tidak kasian pada kami, dan juga Qari yang menganggap kalau anak itu adalah keluarga kita?" Qanita pun ikut angkat bicara.


"Kalian dengerin dulu apa yang ada dalam pikiranku. Bukan bermaksud untuk bohongin juga. Siapa yang mau bohongin hal sebesar ini.  Naqi dan Alzam tahu apa yang kami lakukan adalah kesalahan yang cukup fatal. Tapi saat itu pikiran Naqi juga bingung. Qarina meinggal kondisi klian drop semua, Andai saat tu ditambah dengan kabar yang buruk ini, apa kalian akan baik-baik saja. Naqi hanya terlalu takut kalau akan terjadi hal yang lebih buruk lagi dengan kalian." Naqi menjelaskan dengan suara yang bergetar dan pandangan mata menunduk menyesal.


Sementara Tantri pun tidak kalah menyesal. Lagi, kedatanganya dan kejujuranya justru membuat orang-orang jadi salah paham. Andai ada pilihan untuk dirinya maka Tantri memilih untuk kabur saja dari situasi seperti ini.


Latif, laki-laki tua itu lebih banyak diam dan tidak banyak berkata-kata. Kecewa, dan sedih sudah pasti tetapi terutu itu mencoba mengerti dan paham dengan kondisi Naqi yang serba salah itu.


Alzam, laki-laki itu pun hanya diam, sejak awal ia bukan orang yang langsung setuju dengan rencana Naqi , karena ia memikirkan akan hal semacam ini, tetapi situasi yang semakin memojokan dia untuk setuju dengan rencana-rencana Naqi.


Cyra yang pulang dari rumah sakit memilih istirahat pun tidak tahu klau di dalam keluarganya sedang ada masalah. Mimpinya terlalu indah sehingga dia enggan untuk meninggalkanya.


"Alzam, apa kamu tahu apa yang terjadi sebelumnya?" tanya tuan Latif dengan pandangan dialihkan pada Alzam yang sedang menuduk menatap Nara yang ada dalam pangkuanya.


"Alzam tidak tahu apa-apa, semua ide keluar dari otak Naqi, Dan anak itu juga Naqi yang membawanya. Alzam hanya memuluskan rencana Naqi dengan cara menutup fakta meninggalnya Qinar.


Semakin Naqi menjelaskan semakin sesak dada Qari.


"Di mana makam Qinar? Aku ingin menemuinya," seru Qari memecah obrongan de\=iantara mereka. Mengakhiri obrolan karena apabila di ladeni terus menerus maka tidak akan pernah ada habisnya."Di mana makam Qinar, aku ingin ke makam anak aku sekarang juga," ucap Qari tidak mau memperpanjang obrolan yang tidak penting itu. Qari tidak ingin menyalahkan siapa yang salah dan siapa yang benar. Yang ingin dia tahu saat ini adalah makam anaknya. Tatapan Qari tertuju pada Alzam, tetapi kemudian beralih pada Naqi setelah Alzam menggelengkan kepalanya sebagai tanda bahwa dirinya tidak tahu di mana makam Qinara.


"Tunggu aku akan titipkan Nara ke pengasuhnya dulu." Alzam pun kembali ke kamarnya dengan menggendong anak angkatnya sementara yang lain sudah bersiap untuk pergi ke makam Qinar.


Tantri sendiri hanya berdiri tanpa tahu apa yang akan ia lakukan, dia terlalu takut dengan kejadian demi kejadian yang ia buat. Tidak ada niat sedikit pun Tantri ingin membuat semuanya kacau. Ia hanya ingin meminta maaf dan siap menerima hukuman apapun itu, agar ia bisa tenang.


"Abang..." Tantri memanggil Alzam, begitu Alzam turun kembali dari kamar pribadinya, Alzam adalah orang yang dia lihat selama ini selalu ada di belakangnya kini juga seolah berbeda sifatnya, Tantri lihat abangnya sedang menunjukan kekecewaanya pada dirinya, padahal Tantri datang ke sini ingin meminta maaf atas kesalahnya.


Alzam yang sudah berjalan mendekati pintu pun menghentikan langkahnya. "Kamu pulanglah dulu bersama sopir, nanti kalau abang sudah selesai urusanya abang akan ke rumah. Abang tidak marah dengan kamu. Pulanglah!!" Alzam kembali mengayunkan kakinyanya menuju kendaraan roda empat yang sudah bersiap akan membawa keluarganya ke makam putrinya.


Tangis Tantri pun kembali pecah. Memang abangnya berkata tidak marah, tetapi yang Tantri tangkap berbeda. Alzam sedang mengatakan kalau dia marah dengan serangkaian yang terjadi karena dirinya.


"Ibu, Bapak, kenapa abang jadi berbeda." Dengan langkah kaki yang terseok Tantri kembali ke mobilnya dan kembali untuk pulang. Sepanjang perjalanan yang tidak terlalu jauh Tantri terus tersisa.


"Bahkan rumah ini sudah tidak nyaman untuk dikatakan hunian, Bahagia yang terlukis dalam rumah ini tidaklah lebih dari sebuah keangan yang pahit." Tantri berjalan dengan pandangan yang melamun menuju ke kamarnya.


Dia membayangkan kalau Alzam akan membela dirinya, dan tetap menjadi sayap pelindungnya, tetapi rupanya tidak Alzam perlahan pun mundur menjauh dari dirinya.


"Lalu bagaimana kalau memang Abang juga akan pergi meninggalkan aku? Siapa orang yang akan melindungi aku, siapa orang yang akan menjadi teman curhat aku?" Tantri kembal memutar memorinya pada saat ia masih menjadi adik kesayangan abangnya. Hanya ini kenangan yang ia punya, hanya ini sedikit menghibur dirinya.


"Neng... Kenapa Neng seperti ini? Neng ke mana saja bibi cemas takut kalau Neng Tantri kenapa-napa." Bi Sarni terus berceloteh, mengungkapkan apa yang ia cemaskan.

__ADS_1


"Bi, maaf untuk sementara waktu bisa tidak tinggalkan Tantri dulu, Tantri ingin sendiri, Tantri sedang tidak ingin dinasihati, Tantri hanya ingin tidur yang panjang, dan ketika bangun Tantri sudah tidak ada masalah-masalah yang membelit Tantri lagi. Tantri lelah,Tantri ingin tidur," racau gadis kecil itu dengan meletakan tubuhnya di kasur dan memeluk boneka kesayanganya. Boneka pemberian abangnya.


"Maafkan bibi, Neng. Maaf kalau bibi seolah menyudutkan Neng. Apa Neng ingin liburan ke kampung halaman bibi untuk melupakan kejadian buruk ini?" Bi Sarni sedikit mencemaskan mental gadis kecil itu.


Namun, bocah kecil itu kembali menggelengkan kepalanya. "Tantri hanya ingin istirahaat dalam ketenangan Bi, tenang seperti dulu lagi." Tantri pun memejamkan matanya dengan tenang, meskipun hatinya tidak ada ketenangan.


Bi Sarni yang tahu kalau mental Tantri tidak baik-baik saja pun tidak berani meninggalkanya barang sedetik pun, Tidak perduli pekerjaan rumah tangga yang menumpuk. Wanita itu terlalu takut Tantri berpikiran pendek sehingga ia selalu mengawasinya. Harapanya tentu gadis kecil itu memang hanya ingin istirahat, karena tubuhnya terlalu lelah, bukan istirahat yang lain.


Wanita paruh baya itu mengambil ponselnya, dengan lentik tanganya memejat-mijat layar pintar itu.


[Tuan, maaf kalau bibi terlalu ikut campur dengan urusan Anda, tapi kalau bibi boleh memberikan masukan. Luangkan waktu sebentar untuk Tantri. Dia  butuh teman untuk bercerita. Bibi takut Neng Tantri berbuat nekat. Jangan sampai ada penyesalan yang lain lagi.] Meskipun ragu akhirnya bi Sarni mengirimkan pesan itu.


Sebenarnya sudah lama bi Sarni ingin menasihati Alzam, agar membagi waktunya untuk Tantri karena gadis kecil itu hanya mau berbicara dengan Alzam, tetapi selama ini Alzam sibuk dengan dunianya sehingga Tantri banyak mengalami perubahan dan cenderung pendiam dan sulit di tebak jalan pikiranya.


Alzam lupa akan janjinya yang akan terus membagi kasih sayangnya, dan memprioritaskan salah satu, sehingga yang satunya merasakan tersisih.


"Semoga Den Alzam, mau membagi waktunya sedit saja untuk Tantri."


Bi Sarni mengusap-usap pucuk kepala Tantri yang tertidur dengan damai. "Bibi pertama kenal Neng, itu lucu, ceria, suka bantu bibi masak dan rajin, kenapa sekarang bibi lihat Neng beda sekali. Neng kalau ada apa-apa cerita yah. Maaf kalau selama ini bibi sedikit tegas pada Neng, bibi tidak ingin kalau Neng itu terus-terusan marah dan egois, tapi bibi janji akan berusaha ngertiin Neng perasaan Neng."


Bi Sarni berusaha tahu bagaimana perasaan Tantri dan juga mengerti bagaimana sulitnya berada di posisi dia selama ini, ia wanita yang sudah memiliki anak pun terketuk hatinya dengan sosok gadis kecil itu. Kadang dia bersikap tegas dan kuat kadang manja dan cengeng dan minta di perhatikan, setelah mendengar ceritanya bi Sarni pun tahu, bagaimana gadis itu kurang kasih sayang dari orang tuanya.


Abangnya yang selama ini jadi tempat untuk berkeluh kesah dan juga tempat untuk mengadu segala masalah dan meminta solusi, perlahan juga seolah tidak perduali denganya Tantri hanya butuh sosok yang mengerti dirinya. Usia dua belas tahu tidak selalu dewasa dia masih anak-anak yang kadang berpikir benar dalam otaknya, tetapi tidak dinilai oleh orang dewasa, figur orang tua yang ia dapat dari Alzam, dan Alzam yang selama ini menjadi rumahnya untuk pulang dan membagi lelahnya perlahan Tantri merasakan hilang rasa itu. Sehingga gadis kecil itu seperti anak kucing yang tengah tersesat. Bingung di mana sebenarnya rumahnya tinggal.


Bi Sarni terus memperhatikan Tantri yang tertidur tetapi menangis. "Menangislah Neng, kalau itu buat Neng lega, jangan di pendam karena itu akan menyakiti Neng."


**********


Sementara di lain tempat, jantung Qari semakin tidak menentu ketika perlahan mobil mereka masuk ke dalam kawasan pemakaman. Qari langsung bersimpuh di atas pusaran buah hatinya. Sebenarnya dia sudah berusaha untuk kuat dan tidak lemah. Namun jiwa seorang ibu akhirnya kalah juga ketika melihat makan putrinya.


"Sayang, katakan apa salah bunda, kenapa kamu tinggalkan bunda. Kenapa kamu tidak izinkan kita bertemu walau hanya sebentar. Qinar, apa kamu di sana bahagia Sayang? Kenapa kamu tidak izinkan bunda memeluk kamu walau hanya sebenar." Qari terus terisak air matanya banjir saat mengetahui fakta sesungguhnya.


"Nak, sesuai janji papah, sekarang papah dan Bunda datang untuk menjenguk kamu apa kamu di dalam sana bahagia? Apa kamu senang dengan rumah baru kamu? Maaf kalau Bunda dan papah baru bisa jenguk kamu sekarang, semoga kamu bahagia di dalam sana yah. Doakan agar Bunda dan papah sehat selalu agar bisa menjenguk kamu setiap kita rindu pada kamu." Alzam memeluk Qari yang terisak di dalam pelukanya.


Setelah Alzam dan Qari menyapa Qinar, kini gantian Qanita dan Latif yang mendoakan Qinar. setelah lebih dari satu jam mereka berdoa untuk Qinara kini rombongan keluarga itu pun kembali lagi ke rumah mereka. Naqi sedikit merasakan lega karena ternyata apa yang ia takutkan tidak terjadi padahal dia sangat takut kalau akan ada yang jatuh pingsan, tetapi ketakutanya tidak terjadi baik Qari, mamihnya maaupun sang kakek yang sempat terkena serangan jantung ringan, mereka semua kuat, dan bisa menerima takdir yang menimpa Qinar.


"Naqi, kamu masih hutang penjelasan pada kami, siapa Nara, dan dari mana kamu dapatkan anak itu?" Latif pun menatap cucunya tajam.


Sementara Naqi langsung terkejut dengan ucapan kakeknya, satu lagi rahasia yang ia simpan tentang sil-silah Nara. Sementara wanita yang melahirkan Nara tidak mau kalau identitasnya diketahui.


"Oh ya Tuhan apa yang harus aku perbuat, apakah aku harus berbohong tentang sil-silah bayi itu atau aku harus jujur tentang bayi itu, tapi kalau aku jujur tandanya aku menghianati perjanjian kita, perjanjian aku dan wanita bernama sulit itu." Naqi pun kembali di hadapkan dengan masalah yang cukup serius. Dan kali ini dia harus benar-benar teliti karena menyangkut janjinya pada orang lain.

__ADS_1


__ADS_2