Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam #Bab 142


__ADS_3

Doni mendengarkan apa yang di ceritakan Alzam dengan serius, sama halnya dengan Alzam, Doni juga marah dan kesal ketika tahu bahwa dibalik musibah semua ini adalah atas kesalah Deon,  bukan-bukan ini bukan kesalahan tetapi kesengajaan Deon. Yah, laki-laki itu dengan sengaja membuat merencanakan ini semua.


"Jadi ini semua ulah Deon? Aku tidak tahu apa isi kepala laki-laki itu." Seketika Doni langsung mendidih isi kepalanya.


'Kenapa Alzam saja yang tidak ada ikatan darah dengan anak itu, bisa seperduli ini dengan kondisinya sedangkaan Deon? Laki-laki itu justru selalu membahayakan anaknya sendiri, ' batin Doni, marah dan sangat kecewa.


"Kamu tenang aja Al, tidak akan aku biarkan Deon mengusik kehidupan kalian lagi." Doni pun langsung bangkit mengikuti Alzam, ketika salah seorang perawat memanggil Alzam. Doni ingin tahu bagaimana kondisi Qari dan buah haatinya.


"Al... " Doni langsung menahan tubuh Alzam ketika laki-laki itu hampir terjatuh karena tubuhnya yang lemas dan bergemetar.


"Dok, apa itu tandanya aku akan kehilangan Qari?" isak Alzam dengan hati yang sakit, air matanya jatuh, tidak ada kesedihan yang begitu dalam selain melihat kalau wanita yang dicintainya terbaring di atas ranjang pasien dengan banyak alat medis menempel di tubuh wanita yang kuat itu. Bahkan di mulutnya ada selang yang membuat Alzam semakin sesak.


"Al, yang terjadi pada Qari itu wajar, dia baru selesai operasi, dengan kondisi yang sudah cukup parah, jadi alat-alat yang menempel di tubuhnya itu untuk membantu organ-organ yang belum berfuksi dengan normal agar berkerja dengan sebagai mana mestinya berkat bantuan alat-alat itu. Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak, dan juga kamu jangan perpikiran jelek. Kamu harus yakin kalau Qari akan sembuh." Doni memberikan semangat untuk Alzam, meskipun dia sendiri tidak tahu bahwa Qari kembali sehat atau tidak, tetapi yang Doni tahu Qari wanita kuat, dia tidak akan menyerah begitu saja dengan apa yang ia alami.


'Qari, ayo kamu bangun, dan balaskan apa yang Deon lakukan pada kamu dan anak kamu," gumam Doni dalam batinnya.


Alzam sediri setelah mendengar apa yang Doni katakan sedikit lebih tenang, kini ia bisa berdiri kembali, meskipun tidak di pungkiri bahwa tubuhnya sangat lemas.


"Sayang, kamu harus kuat yah. Bukanya kamu yang selalu bilang pada aku, kalau kamu pasti akan melawan apa yang Deon lakukan pada kamu, jadi kamu harus kuat dan kamu harus bisa melawan Deon. setelah itu kita akan bahagia bersama." Alzam berbicara di balik kaca dengan mata menatap Qari dan tangan menempel ke kaca seolah laki-laki itu tengah memegang Qari untuk memberikan kekuatan.


Cukup lama baik Alzam maupun Doni  melihat kondisi Qari. Setelah melihat Qari kini melihat kondisi putrinya. Lagi, tubuh Alzam terasa hancur dan lemas ketika melihat anaknya, putri cantik dengan banyaknya peralatan di tubuhnya. Sama dengan Alzam Doni pun merasakan sesak. Terlebih Doni tahu dia bisa menyimpulkan bayi itu sangat kecil kemungkinan  untuk hidup, dari nafasnya saja sangat lemah, deyut jantung pun tidak lebih baik dari Qari.


"Dokter tadi berkata, bahwa kesempatan anak ku tidak lebih dari tiga per empat, hal itu sangat kecil untuk sembuh, apakah, bayi cantik itu tidak akan memberikan warna kehidupan untuk kami?" Suara bergetar dari Alzam berhasil mengagetkan Doni.


Mungkin karena ada ikatan batin sehingga Doni merasakan hatinya sangat sakit ketika melihat bayi tanpa dosa itu, justru menjadi korban dari orang yang tidak memiliki belas kasih.


"Al, aku akan menemui Deon, setidaknya ia harus tahu apa yang telah ia perbuat. Atau setidaknya ia harus tahu buah hatinya sebelum Tuhan mengambilnya kembali."


Test... air mata Doni dan Alzam pun berjatuhan.


"Jadi benar Dok, kalau anak itu tidak akan bertahan lama, anak itu tidak akan menjadi teman anggota keluarga ku?" Alzam kembari terisak, mungkin kalau tidak malu ia akan menjerit, dia akan marah pada takdir, marah pada Deon, marah pada adiknya sendiri, dan juga pasti marah pada dirinya sendiri yang tidak peka dengan pertanda yang Qari berikan padahan wanita itu sudah meminta Alzam tidak mengikuti meeting itu, tetapi karena sikap keras kepalanya sehingga  Alzam justru tetap mengikuti meeting itu. Hasilnya adalah sebuah penyesalan yang tiada ujung.

__ADS_1


"Kamu percayalah, semuanya akan baik-baik saja yah," aku berharap kamu akan kuat menghadapi ini semua, dan dua bidadari kamu juga akan kuat. "Aku pergi dulu dan kamu juga hubungi keluarga Qari mereka harus tahu kondisi anaknya."


Tanpa menunggu jawaban dari Alzam kini Doni sudah berjalan meninggaalkan Alzam kembali seorang diri. Alzam sendiri tersentak kaget dengan pesan Doni.


"Ya Allah kenapa aku lupa sampai tidak memberi kabar untuk mereka?" Alzam buru-buru meraih ponselnya dan menekan nomor Naqi, yah Alzam memilih menghubungi Naqi pasalnya Alzam yakin Naqi tidak akan langsung panik, biarkan nanti Naqi memberitahukan pada Qanita dan Latif. Serta pada keluarga yang lainya.


Alzam kembali menatap buah hati Qari dan Deon. "Sayang, maafkan papah yah, gara-gara papah yang tidak bisa menjaga ibu kamu, kamu jadi seperti ini. Papah minta kamu harus kuat demi kami semua. Papah sangat mencintai kamu."


Entah berapa lama Alzam berada di depan ruangan putrinya.


"Kamu kuat yah Sayang!"


#Teman-teman bantu othur mampir di karya baru othur yah judulnya (Dinikahi Anak Konglomerat) bantu fav, like dan komentar. Terimakasih buat yang sudah berkenan mampir 🙏


******


Sementara Doni sendiri langsung menemui Deon di rumahnya. Apabila selama ini Doni hanya mengancam, tetapi rasanya laki-laki yang menyandang abang itu tidak ada perubahanya.  Semakin gila dan gila.


Brakkk... Doni mendorong pintu rumah Deon dengan kencang. Bahkan Jec yang sedang memeriksa pekerjaan sampai terkejut dengan kedatangan Doni, yang tanpa diundang, dan tanpa kabar lebih dulu.


"Cepat katakan di mana bos loe!! waktu gue nggak banyak." Suara yang menggelegar kembali keluar dari bibir Doni.


Jec hanya menujuk kamar Deon dengan jari telunjuknya, ia seperti melihat orang lain, bukan Doni yang biasa Jec ketahui.


'Apa yang terjadi dengan Tuan Doni, kenapa kelihatan marah sekali,' lirih Jec, tetapi tidak lama berselang terdengar suara gaduh dari kamar bosnya. Jec pun langsung berlari menuju kamar sang bos.


*****


Sementara itu Doni langsung meninggalkan Jec, dengan langkah panjang dia menapaki satu per satu anak tangga. Sama dengan sebelumnya Doni membuka pintu Deon dengan kasar. Mata Doni tercemari dengan adanya sosok wanita di kamar Deon. Hingga laki-laki itu berpikir kalau abang tirinya melakukan hal yang tidak senonoh.


Deon terkejut dengan kedatangan Doni yang kurang sopan. "Apa loe tidak punya sopan santun?"

__ADS_1


Bruggg... Brugggg... Bruuuggg.  Doni langsung memberikan pelajaran pada laki-laki itu tidak perduli ini perbuatan pidana atau apalah nantinya berurusan dengan polisi pun Doni tidak perduli, yang terpenting kemarahanya tersalurkan.


Baru saja Deon bersungut dengan perbuatan Doni. Namun, Doni sudah menghajarnya. Bahkan Doni tidak hanya sekali memberikan tinjuan di pipi Deon, tetapi sampai tiga kali, Bibir dan hidung keluar darah. Cucu yang ada di dalam kamar itu pun langsung berlari menghampiri  Deon, dan menahan Doni agar tidak memukul lagi.


Mungkin kalau Cucu tidak melarangnya kini Deon  sudah semakin bonyok kena tendangan dari Doni.


"Tuan, tolong hentikan!! Semuanya bisa di bicarakan dengan baik-baik," racau Cucu dengan suara yang panik dan bingung. Jec yang baru datang pun langsung menolong Deon.


"Ini ada apa Tuan?" tanya Jec, tanpa melihat Doni, tetapi sudah jelas kalau Jec itu bertanya pada Doni.


"Cihh... asisten dan bos sama ajah, loe tanya apa yang baji-ngan itu lakukan pada Qari! Tanya pada si berengs*k itu dia bilang apa sama Tantri, apa sekarang puas kamu. Qari koma, dan anaknya sekarat, loe senang kan baji-ngan!!" Doni bahkan kembali akan memukul Deon, untung ada Cucu yang langsung memeluk Doni dengan kencang sehingga Doni tidak jadi memukul Deon.


#Dih, si Cucu enak banget peluk-peluk bambang Doni. Itu punya othor Cu!!!


Deon sendiri terkejut ketika mendengar apa yang Doni katakan. "Qa...Qari? Kenapa Qari?" tanya Deon dengan suara terbata.


"Jadi loe belum tahu kenapa Qari? dia koma, anak loe sekarat, itu semua karena loe dasar Da-jal. Apa yang loe katakan pada Tantri, gara-gara yang loe katakan sama bocah kecil itu semuanya jadi seperti ini, dan loe senang kan?" cecar Doni tetapi tidak sedikit pun matanya berkedip, terus menatap Deon dengan sengit.


Laki-laki itu terus menatap marah pada Deon, bukan hanya Deon yang terkejut dengan ucapan Doni, Jec pun terkejut. Jec merasa gagal telah menjaga Deon, marah pada dirinya sendiri dan juga kecewa pada dirinya sendiri yang tidak bisa mengawasi Deon.


"Loe bohong kan?" Deon masih coba mengelak bahwa apa yang dikatakan Doni itu bohong.


"Loe bisa lihat sediri, ngapain cuma bertanya, lihat di Rumah Bersalin Kasih Bunda. Apakah di sana ada Qari yang sedang berjuang antara hidup dan mati, dan buah hatinya yang kondisinya bahkan hanya  tiga per empat untuk hidup. Semuanya karena loe Deon, Loe orang paling jahat di dunia ini." Doni langsung menepis tangan Cucu yang melingkar di pinggangnya dan kembali meninggalkan rumah Deon.


Deon sendiri langsung berlari menyusul Doni.


"Don, tunggu gue ikut loe." Tanpa menunggu persetujuan Deon mengekor di belakang Doni, tetapi Doni yang masih marah dan kesal pun menolak Deon satu mobil denganya.


"Loe punya mobil, punya kendaraan sendiri dan punya asisten, pergi sendiri. Gue jijik satu mobil dengan loe." Doni pun langsung masuk ke dalam mobilnya membiarkan Deon mematung.


********

__ADS_1


Teman-teman semua mohon dukukangan novel baru othor yah, ketik Fav, komen dan like, pokoknya ikutin novel baru yah ramaikan 🙏🙏🙏



__ADS_2