
"Tuan, Neng Cucu belum ketemu juga?" tanya Bi Sarni ketika dia melihat sang majikan kembali lagi ke rumahnya tanpa bersama dengan Cucu. Bahkan Deon terlihat sangat cemas.
"Aduh Bi, gimana mau bersama dengan Cucu, ponsel ajah ketinggalan," eluh Deon sembari mengayunkan kakinya untuk mengambil ponselnya. Dan begitu ponsel dinyalakan betapa kagetnya dia banyak sekali panggilan dari Jec dan juga Doni. Tangan Deon terus menggulir layar pintarnya, mencari nama Cucu, tetapi Deon kembali sedih ketika nama Cucu tidak menghubunginya, jangankan menghubungi berkirim pesan pun tidak.
"Cu, kamu sebenarnya di mana?" Deon sangat bingung dengan keberadaan Cucu yang tidak ada di mana-mana.
"Deon lu dari mana aja? Gue pikir lu udah mati," bentak Doni begitu teleponnya yang entah ke berapa kali akhirnya diangkat oleh Deon. Bahkan Doni hampir semalaman tidak tidur hanya gara-gara mencoba menghubungi abang tirinya. Sehingga begitu laporan pesannya masuk ke ponsel Deon, Doni tidak mau menyia-nyiakan waktu yang ada langsung memaki sang abang tiri yang berhasil bikin dia cemas seperti. sekarang ini. Rasa cemas yang sebelumnya tidak pernah Doni rasakan, apalagi dengan abang tirinya. Namun, di malam ini dia benar-benar di bikin kaya orang bodoh.
"Lu kenapa sih, telpon gue banyak banget, nggak ada angin nggak ada hujan, spam tau nggak," bentak Deon dengan tidak tahu diri sehingga Doni yang sedang emosi pun tambah emosi.
"Kalau gue nggak peduli sama Cucu juga ogah banget gue telpon lu sampai sebanyak itu, dan najis banget gue buang-buang waktu buat mikirin lu, tapi lu-nya nggak tahu diri. Noh Cucu sakit ada di rumah sakit makanya gue telponin lu, tapi lu kayaknya memang tabiat buruknya nggak bakal berubah, kasihan Cucu punya suami juga nggak ada perubahannya," balas Doni dengan langsung mematikan ponselnya. Doni yang punya kesabaran setipis tisu pun langsung malas banget kalau harus berhubungan dengan Deon lagi.
"Don... Doni..." Deon langsung memanggil-manggil sang adik tiri begitu ponsel di matikan.
"Sial anak itu baperan banget lagi, kaya cewek lagi PMS, belum juga ngomong Cucu ada di rumah sakit mana sudah di matikan saja," rutuk Deon dengan memaki Doni yang di sebrang sana sedang bersiap untuk mulai praktek di hari pertama setelah satu minggu lamanya cuti kerja.
Deon pun nampaknya terus menghubungi nomor ponsel Doni, tetapi adik tirinya yang sedang baperan pun sudah mematikan nomor ponselnya. "Bener-bener si Doni ingin cari gara-gara." Tidak henti-hentinya kini Deon yang dibikin pusing dengan kelakuan saudara tirinya. Dia menghubungi Cucu pun nomornya sama mati.
Namun, di saat Deon bingung dengan mencari tahu di mana Cucu berada, kini pun Jec bergantian menghubungi dirinya.
"Tuan, Anda ke mana saja semalaman ini, kita sampai hampir gila mencari informasi Anda," cecar Jec hampir sama laki-laki itu pun dalam tenggorokannya sudah sangat gondok dengan kelakuan Deon yang sangat membagongkan banget.
"Jec, Cucu saat ini dirawat di rumah sakit mana? Doni sialan itu bukanya memberitahu Cucu di rawat di rumah sakit mana malah sengaja mematikan ponselnya," adu Deon pada Jec yang masih terdengar dari nafasnya kalau laki-laki itu sangat kesal dengan bosnya itu.
__ADS_1
"Cucu dirawat di rumah sakit tempat Tuan Doni bekerja, segeralah temui Cucu karena di jatuh sakit itu juga karena Anda, jadi Anda harus bertanggung jawab," ucap Jec, yang semakin membuat Deon bingung sedangkan dirinya selama ini tidak pernah mendapatkan laporan dari Cucu kalau sang istri sedang sakit.
Namun, dengan sigap Deon pun langsung mematikan ponselnya, dan kembali menyambar kunci mobil dan langsung menuju ke rumah sakit di mana Cucu di rawat, dalam batinnya sudah banyak sekali pertanyaan di mana Jec mengatakan kalau Cucu itu sakit gara-gara dirinya.
"Ya Tuhan kenapa aku ceroboh sekali, andai saja aku tahu kalau Cucu selama ini sakit, aku pasti tidak akan meninggalkan Cucu selama ini." Tidak henti-hentinya Deon sepanjang perjalanan mengutuk keteledorannya. Yah, memang selama ini dia yang selalu teledor bahkan untuk memastikan kalau sang istri baik-baik saja pun tidak bisa alhasil dirinya ke colongan tidak tahu kalau Cucu sakit.
Setelah menempuh perjalanan yang bahkan seharusnya bisa ditempuh satu jam, karena Deon yang sedang panik perjalanan dipangkas jadi hanya memakan waktu setengah jam saja, hal itu karena Deon yang sangat panik. Langkah kaki Deon pun langsung diayunkan menuju ruangan rawat Cucu, tentu sebelumnya laki-laki itu sudah menanyakan pada resepsionis di mana Cucu di rawat.
Brak... pintu ruangan di dorong dengan keras oleh Deon, tetapi lagi-lagi Deon mengernyitkan keningnya karena ternyata Cucu tidak ada di dalam kamarnya.
Kembali Deon langsung mencoba mencari Cucu. "Sus pasien ruangan VIP atas nama Cucu di mana yah, kenapa tidak ada di ruangannya?" cecar Deon pada perawat yang berjaga tidak jauh dari ruangan rawat Cucu.
"Oh Nona Cucu sedang menjalani pemeriksaan, silahkan Anda lurus, nanti ada ruangan Dokter Mila, dan kalau tidak ada di luar bisa langsung masuk mungkin sedang jatah pemeriksaanya. Benar saja, begitu Deon mendengar penjelasan dari perawat itu laki-laki yang saat ini baru saja tiba di tanah air langsung kembali mengayunkan kakinya setengah berlari, rasa cape dan juga rasa lelahnya karena melakukan perjalanan udara yang memakan waktu hingga belasan jam tidak lagi ia rasakan, bahkan rencananya untuk memberi kejutan pada Cucu sudah hilang dari pikirannya, dan rencana ia akan bermanja-manjaan dengan Cucu rupanya juga sudah tidak lagi ada dalam pikirannya, yang tersisa saat ini justru Deon bingung dengan keadaan Cucu, sakit apa yang dialami oleh sang istri.
Begitu di depan ruangan yang bernamakan dokter Mila, Deon berusaha mencari sang istri tetapi tidak ada, sesuai dengan yang disarankan oleh sang perawat yang barusan berjaga tadi Deon pun mengetuk pintu sang dokter, laki-laki yang berpenampilan kece itu pun langsung masuk ke dalam ruangan begitu mendapatkan sahutan 'Masuk' dari dalam sana.
Tanpa banyak nuna nunu Deon pun langsung masuk dan betapa terkejutnya ketika melihat Cucu sedang terisak menangis.
"Cu... kamu kenapa?" tanya Deon laki-laki itu mungkin di depan tidak membaca dokter Mila adalah dokter SPOG yang artinya dia sedang mengecek rahimnya.
"Deon... kamu kenapa ada di sini?" tanya Cucu balik dengan bingung dan bahkan wanita itu entah berapa kali mencubit tangannya agar ia bisa membedakan mimpi ataukah kenyataan. Yah, Cucu seolah takut sekali bahwa apa yang ada di hadapannya adalah sebuah mimpi di mana ia yang terlalu merindukan Deon sehingga dia pun menghalukan Deon datang di hadapannya.
__ADS_1
"Apa Anda adalah suami Cucu?" tanya dokter Mila pada Deon yang langsung memeluk Cucu tanpa peduli di dalam runagan itu ada dokter Mila dan juga ada Momy Iriana. Mungkin saking Deon kangennya sama Cucu hingga laki-laki itu pun tidak melihat ada orang lain di dalam ruangan itu.
Deon menyeka air mata yang menetes di pipinya, yah laki-laki itu pun menangis saking cemasnya dengan keadaan Cucu.
"Iya betul Dokter saya suami dari Cucu, ngomong-ngomong Cucu sakit apa yah Dok?" tanya Deon dengan suara yang parau, sama seperti Deon Cucu juga terisak saking bahagianya karena apa yang ada di hadapannya bukanlah sebuah mimpi sang suami pulang.
"Anda bisa lihat ke layar itu!" Dokter Mila menunjuk ke layar monitor yang menunjukkan kalau ada calon Deon junior.
Seperti yang diminta dokter Mila, Deon pun mengikuti telunjuk dokter Mila dan menatap monitor, tetapi Deon masih terlalu bodoh untuk mengartikan apa yang ada di hadapannya.
"Maksudnya Dok?" tanya Deon dengan bingung.
"Kamu akan menjadi Papah," ucap Iriana sembari mengusap punggung sang anak tiri.
Kembali Deon seperti mendapat kejutan yang benar-benar spesial.
"Maksudnya Cucu, Ha... hamil..." ucap Deon dengan terbata.
"Kenapa apa kamu nggak yakin kalau aku bisa hamil," balas Cucu dengan mencebikan bibirnya.
"Bu... Bukan itu Sayang, aku terlalu suka..." Deon pun beberapa kali kembali menciumi sang istri dan juga mencium tangan Iriana, entah sadar atau tidak laki-laki itu melakukanya. Iriana pun hanya tersenyum bahagia. Akhirnya Deon yang keras kepala dan juga Deon yang sangat kaku dan arogan pada akhirnya bisa berubah menjadi Deon yang hangat dan perhatian.
"Yah, laki-laki memang akan berubah apabila mendapatkan wanita yang mengerti apa kemauannya. Semoga kalian berbahagia selalu," batin Iriana sangat senang melihat perubahan Deon.
__ADS_1
Bersambung....
...****************...