
Qila menatap tajam pada Jec ketika di bawah sana wanita itu merasakan sesuatu yang hangat. "Apa kamu mengeluarkanya di dalam?" tanya Qila dengan suara yang tersengal karena sisa bercinta.
Jec hanya membalas dengan senyum jahilnya. "Tentu dong apa kamu tidak ingin punya anak?" tanya Jec dengan memeluk tubuh polos Qila.
Brugghh... Qila memukul dada bidang suaminya yang masih basah oleh keringat dan dada naik turun dengan cepat menandakan dia terlalu cape dalam permainan ini.
"Kamu jahat, nanti kalau aku hamil bagaimana, bahkan aku saja baru selesai operasi? Luka bekas operasi juga belum sepenuhnya sembuh," dengus Qila masih degan wajah yang merah dan nafas yang tersengal, dia juga terlalu lelah untuk permainan malam ini.
"Oh ya Tuhan, Qila aku lupa? Apakah bisa dikeluarkan lagi? Besok kita ke dokter bertanya akan hal ini apakah akan menyakiti kamu atau tidak. Kalau memang berbahaya kita pakai alat penundaan kehamilan dulu. Hingga tubuh kamu siapa untuk hamil calon anak-anakku," balas Jec, dengan wajah yang sangat bersalah.
Ini semua karena keenakan hingga ia lupa kalau Qila baru saja operasi dirahimnya.
Malam ini pun Qila dan Jec terus mengulang kegiatan panas itu. Bahkan Jec seolah tidak rela sedikit pun membiarkan Qila pulas tertidur. Jec akan meminta mengulang kenikmatan surga dunia itu.
Dan Qila sebagai wanita yang baik pun terus melayani Sam meskipun rasa lelah melanda.
Pagi hari sudah menyapa. Suara Alarm sudah menjerit meminta agar Jec segera bangun karena ia harus tetap bekerja. Meskipun malas melanda, tetapi Jec harus tetap bangun dan tetap melakukan tugasnya sebagai pemimpin perusahaan menggantikan Deon. Seperti pada pasangan pengantin baru pada umumnya. Jec pun menggila bersama, seolah tidak dibiarkan tubuh sang istri istirahat barang sebentar. Bahkan Qila pun yang awalnya terus mengeluh sakit setelah beberapa permainan dia justru selalu terlihat sangat menikmati permainan sang suami.
Langkah awal adalah Jec menghubungi Meta untuk mengatakan kalau Qila tidak bisa masuk kerja.
[Ada apa tumben kamu telpon I'm,] jawab Meta dari balik telepon dengan ketusnya, yah siapa yang tidak ketus kalau dia ditelpon masih pukul enak pagi. Sedang ribet dengan anak dan juga Fifah yang di hamil kedua juga masih tetap mabok.
[Aku hanya mau mengabarkan kalau Qila tidak bisa masuk kerja,] balas Jec, tetap dengan santai kaya di pantai, meskipun lawan bicaranya tidak tahu diri.
[Gila you yah, di kantor kerjaan lagi numpuk, tidak bisa dia harus masuk kerja,] jawab Meta bukan sebenarnya urusan kantor hanya saja sebagai suami yang sudah melewati ribuan bercinta tahu lah Meta kenapa sang adik tidak masuk kerja, sedangkan kemari saja dia baik-baik saja kondisinya.
__ADS_1
[Luka operasinya terasa sakit lagi, dia harus istirahat total. Nanti aku akan carikan pengganti dia. Mulai hari ini dia tidak bisa kerja," ucap Jec yang justru kesal dengan jawaban Meta yang mengira kalau laki-laki gemulai itu serius dalam ucapannya.
[Emang you apain adik I'm sampai Qila luka bekas operasinya sakit lagi,] tanya Meta. Ah, itu hanya pancingan saja, sudah jelas atuh Metta tahu apa yang dilakukan oleh Jec sampai luka operasi yang Qila lakukan terasa sakit lagi. Sedangkan Qila di dalam kamar Jec masih pulas tertidur, dan Jec sendiri saat ini beda di luar kamar yaitu di balkon sehingga dia sangat bebas untuk melakukan ucapan apapun karena Qila tidak akan mendengar.
Meskipun malas dan sangat tidak penting menceritakan apa yang terjadi semalam, tetapi demi sebuah izin untuk meliburkan sang istri Jec pun harus mengatakan apa yang semalam dia lakukan dengan Qila. [Kami hanya berusaha melestarikan keturunan,] jawab Jec dengan santai.
[Pantas lah Qila sakit lagi, you mainnya berapa kali dan pasti main dengan kasar] balas Metta, seolah menyalahkan Jec sedangkan dia sendiri apakah main dengan Fifah bisa dengan lembut?" Tidak akan karena dia juga hanya manusia biasa yang tidak bisa kalau tetap manis sedangkan nafsu lebih mendominasi.
[Udah sekarang aku mau kembali menyiapkan sarapan untuk Qila karena dia butuh asupan yang bergizi.] Tanpa menunggu jawaban dari Meta. Jec pun memilih untuk mengakhiri sambungan telpon dari Meta. Memang terkesan kurang ajar dan banyak nggak sopan, tetapi itu jauh lebih baik dari pada menghabiskan waktu untuk berlama-lama bercerita pada Meta yang hanya membuang waktu.
Kini Jec pun kembali masuk ke dalam kamar di mana sang istri masih tertidur dengan pulas dan tidak sedikit pun terlihat kalau wanita itu akan bangun untuk sarapan atau apapun itu. Qila sangat pulas tidurnya, rasanya sangat berat meninggalkan sang istri yang masih pulas tidur, dan Jec juga masih sangat ngantuk.
Namun, Jec sadar kalau dia juga punya kewajiban yang jauh lebih baik lagi yaitu dia sebagai pemimpin harus menunjukan sifat yang baik dan juga sifat yang tidak gemar membolos. Cukup Deon yang apa-apa meninggalkan pekerjaannya Jec tidak mau dinilai seperti itu.
Pandangan mata Jec tertuju pada ponsel sang istri yang tiba-tiba menyala. Pandangan Jec semakin tajam ketika kedua matanya bisa membaca siapa kira-kira yang telpon.
[Qila, kamu nanti berangkat kerja jam berapa. Aku akan menjemput kamu,] Itu adalah kata yang Sam ucapkan padahal Jec sudah membuka mulutnya untuk menyapa Sam, tetapi rupanya laki-laki tidak tahu diri itu lebih tertarik dengan berbicara lebih tahu, tanpa ingin memastikan dulu siapa yang mengangkat teleponnya.
Jec pun yang merasa gemas dengan kelakuan Sam, hanya terkekeh dengan renyah. Waktunya kini ia gunakan untuk meledek Sam. Sedangkan Sam di tempat berbeda sudah jelas pake banget kalau dia tidak bisa berpura-pura kalem dan tidak marah. Gigi-gigi Sam sudah saling beradu ketika tahu kalau yang mengangkat teleponya adalah Jec sang suami dari Qila.
[Ke... kenapa kamu yang mengangkat telpon Qila?" tanya Sam dengan suara yang bergetar dan berat jelas dari nada bicaranya kalau laki-laki yang saat ini berada di tempat yang berbeda dengan Sam sedang marah, yah bahkan sangat marah.
[Kenapa? Anda tanya kenapa Tuan Dokter yang terhormat. Itu semua karena aku dan Aqila adalah pasangan suami istri. Terus Anda bertanya kenapa itu maksudnya apa? Apakah Anda tidak tahu berkat ucapan Anda semalam, Qila datang ke saya dan menyerahkan mahkota kegadisannya dengan suka rela apada saya. Jadi bukan saya yang mengemis cinta Qila bukan. Tapi wanita itu yang datang ke saya dan menawarkan surga. Manis sekali kan istri saya,] balas Jec dengan nada bicara yang jauh dari Sam yang mana dia malah terlihat santai dan tidak terpancing dengan ucapan-ucapan Sam yang sudah jelas kalau itu ditunjukan agar Jec marah pada Qila dan menceraikan wanita itu.
Di tempat yang berbeda Sam pun kembali mengeratkan gigi-giginya yang semakin dikuasai oleh kemarahan. [Kamu memang laki-laki berengsek, menjerat Qila semakin dalam agar dia semakin sulit bebas dari kamu. Akan aku buktikan kalau Qila itu hanya terpaksa melakukan itu semua kareana dia tertekan dengan sikap kamu.] Sam yang tidak terima dengan ucapan Jec pun dalam otaknya terus terpikirkan bagaimana caranya menyingkirkan Jec dari Qila di mana Qila sekarang juga sudah semakin sulit untuk di hubungi dan diajak berbicara oleh Sam sendiri.
__ADS_1
[Yah, lakukanlah Tuan dokter yang terhormat. Maklum Anda adalah dokter yang tidak ada pekerjaan sehingga lebih memilih bekerja untuk mengurusi kehidupan orang. Kalau Anda adalah dokter yang sibuk dan banyak di percaya oleh pasien, pasti Anda tidak punya waktu untuk mengurusi hidup orang lain. Andai saya jadi kepala rumah sakit Anda bekerja saat ini. Sudah jelas saya akan memecat Anda dan mengganti dengan dokter yang bisa meningkatkan kepercayaan pasien dan mendatangkan pasien berobat ke rumah sakitnya. Bukan dokter yang hanya makan gaji buta.]
Nuttt... Nutt... Jec sendiri yang sudah kesal dengan kelakuan Sam lebih memilih mengakhiri obrolannya. Tidak akan ada habisnya dia ngobrol dengan Sam. Jec pun kembali berjalan ke sisi ranjang Qila yang mana sang istri justru semakin pulas dalam buaian tidurnya hingga Jec pun memiliki otak jahil.
Cekrekkk... cekkrekkk... Jec mengabadikan gambar Qila yang hanya tertutup selimut tebal dan kondisi kasur yang acak-acakan berserakan dengan pakaian Jec dan juga Qila. Lalu mengirimkannya pada Sam.
[Kalau kamu tetap penasaran Qila sedang apa? Dia baru saja tertidur di akhir permainan ke tiga kami dia sudah tidak kuat ingin segera beristirahat. Terima kasih sudah menjaga Qila, bahkan dia masih perawan. Rasanya aku tidak akan membiarkan siapapun mengambil wanitaku. Apalagi permainan dia sangat handal dan bisa dia andalkan.] Itu adalah pesan yang dengan sengaja di kirimkan oleh Jec pada Sam, yah tidak ada lain dan tidak bukan Jec ingin mengerjai Sam yang sudah pasti marah besar.
Sesuai yang di pikirkan oleh Jec, begitu Sam di tempat yang berbeda melihat foto yang dikirimkan Jec beserta pesan singkat yang Jec kirimkan api kemarahan langsung menguasai Sam.
"Kurang ajar laki-laki berengsek itu. Dia yang mendapatkan keperawanan Qila," makin Sam dari tempat yang berbeda. Ada segudang penyesalan yang mengelilingi Sam yang mana dia dulu berkhianat dari Qila sedangkan saat ini dia mengejar cinta Qila tidak bisa mendapatkannya lagi. Sudah ada laki-laki yang jauh lebih menyayangi Qila.
Testt... tanpa terasa air mata Sam pun menetes mengingat perbuatanya dulu di belakang Qila. Selalu menyakiti Qila meskipun Qila sendiri tidak tahu perbuatanya. Kini justru dia sendiri yang terhukum oleh perasaan bersalah itu.
Kembali Sam teringat akan wanita yang bernama Nisa. Sam akui hatinya jatuh hati dengan Nisa, tetapi penampilan Nisa yang tertutup membuat Sam kurang menyukainya Apalagi keluarga laki-laki itu sendiri mayoritas bukan muslim, dan mereka kurang menyukai wanita yang berpakaian seperti Nisa.
Belum Sam memiliki anggapan buruk juga dengan wanita yang memiliki kebiasaan seperti Nisa. Apalagi mengatakan anti pacaran dan lain sebagainya bagi Sam dia tidak percaya ada wanita atau muda mudi yang bisa tahan dengan tidak berpacaran.
Kedekatanya dengan Nisa yang dilakukan kemarin itu hanya iseng seperti yang dia lakukan apabila menemukan wanita berpakaian seksi, cantik dan menggoda.
"Ahhh... kenapa cari pasangan sulit sekali," jerit Sam masih dengan kesedihannya karena Qila ternyata sudah dimiliki sepenuhnya oleh Jec.
Bersambung....
__ADS_1
...****************...