
Aaric masih terus memikirkan siapa pria yang berani mendekati Reisya. Bagaimana bisa Reisya lebih memilih pria lain ketimbang dirinya yang sudah jelas – jelas menyatakan cinta di depan kedua orang tuanya.
Pikirannya masih kacau. Namun dia tetap mencoba mencari pria asing itu. Seketika dia teringat kembali pada seseorang yang pernah di temui beberapa waktu lalu.
Flashback On
“Tapi, kan Mas. Loe kan cinta banget nih sama Reisya--,” Dimas mengangguk, “seandainya saat ini Reisya sudah punya pria lain, gimana?” selidik Aaric lebih jauh.
“Gue akan terus berjuang, sebelum janur kuning melengkung, gue masih punya kesempatan untuk mendapatkannya..,”
“Meskipun pria itu temen loe sendiri?!”
“Yah! Gue akan bersaing secara sehat dengan dia untuk memenangkan hati Reisya kembali,” tandas Dimas dengan semangat membara dan mata yang berapi – api.
Flashback Off
“Apa jangan – jangan si Dimas?” batin Aaric.
Aaric segera bergegas ke kamar mandi merendam dirinya yang lelah di dalam bathup.
Mencoba menelepon Reisya namun tak pernah ada jawaban.
Aaric masih membenamkan dirinya dalam bathtub sembari memejamkan matanya. Lagi dan lagi, Reisya memenuhi suluruh pikiran dalam pria tampan itu.
Nada dering ponsel Aaric terdengar nyaring sampai beberapa kali. Membuat Aaric segera mengakhiri kegiatannya, berharap bahwa yang meneleponnya adalah Reisya.
“Mommy..,” gumam Aaric lirih.
[“Hallo, Assalammualaikum, Mom.”]
[“Waalaikumsalam, Kamu sehat?”]
[“Y – ya, Aaric sehat. Tumben Mommy telpon malam – malam gini,”]
[“Mommy harap Kamu segera ke sini, besok.”]
[“Besok?! Memangnya ada hal penting yang ingin Mommy sampaikan?”]
[“Sangat penting, menyangkut masa depan kamu sayang,”]
[M- Maksud Mommy, Aaric nggak paham,”]
[“Makanya besok Mommy tunggu kedatangan Kamu,”]
[“Baiklah My, akan Aaric temui Mommy segera.”]
__ADS_1
[“Oke. Ya sudah kalau begitu, bye. Assalammualaikum,”]
[“Waalaikumslam”]
Aaric yang masih mengenakan bathrobe (handuk baju) mendudukkan bokongnya pada salah satu ujung tempat tidur. Dengan tatapannya yang tajam, dahinya mengerut dan handphone yang masih dalam genggaman, Aaric bermonolog dalam hatinya, “Ada apa sebenarnya ini? Apa yang ingin di katakan Mommy?”
Aaric pun menunggu kabar dari Max yang tak kunjung datang. Resah menanti dan memikirkan semuanya tidak seperti apa yang di harapkannya.
Namun di satu sisi Aaric menyadari bahwa tidak semua hal yang kita inginkan di dunia ini akan kita raih. Ada yang harus melalui proses panjang, ada yang harus penuh perjuangan, bahkan ada yang harus berkorban demi sesuatu itu tercapai.
Aaric beranjak dari duduknya untuk segera mengganti pakaiannya, mananti informasi terupdate dari Max.
***
Sementara di tempat lain sedang berpesta pora menikmati keberhasilan mereka menyelesaikan misi tugas mereka dengan sempurna. Hanya tinggal melihat reaksi sang korban seperti apa.
Beberapa botol bir dan gelas kecil tampak sebagai penghias meja, dengan musik yang luar biasa kerasnya. Steve sedang berpesta di kediamannya di dekat kolam dengan beberapa teman – temannya. Turut Dona dan Melinda memeriahkan pesta yang boleh dibilang sering di lakukan Steve.
Mereka sangat menikmati sekali suasana pesta malam ini. Tiba – tiba posel Steve berbunyi, membuatnya menjauh dari keramaian teman – temannya setelah dia melihat siapa yang meneleponnya.
[“Hello, honey! How are you?”]
[“Hello, Steve. Mission completed?”] wanita asing.
[“YES! Of course. Don’t worry beb. Pokoknya semua berjalan sesuai rencana. Bahkan aku bisa dapat bonus dari pekerjaan ini.”]
[“Whatever! Yang penting tugas dari aku selesai dengan baik,”]
[“Oke,”]
Dia tersenyum lebar setelah puas dengan hasil pekerjaannya, bahkan dia dapat double.
Ternyata Dona memperhatikan Steve dari jauh dan merasa penasaran dengan siapa Steve berbicara. Rasa cemburu pun timbul, dia segera menggiring tubuhnya melangkah menuju tempat Steve berdiri saat ini.
“Kamu terlihat begitu gembira, kamu berbicara dengan siapa, Beb?” selidik Dona.
“Bukan siapa – siapa sayang, so, kamu tidak perlu cemburu seperti ini, ya,” rayu Steve sambil melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Dona sembari menghujani beberapa kecupan di sekeliling leher Dona.
Masih dengan posisi yang sama, Steve menagih janji Dona jika dia berhasil menyelesaikan tugasnya.
“Mm, sayang. Apa Kamu masih ingat dengan janji Kamu?” tanya Steve.
“Janji? Janji yang mana?” balas Dona kerena dia merasa tidak pernah berjanji apapun.
“Kan sudah Aku katakan, Aku akan meminta bonus setelah aku berhasil menyelesaikan tugasku,” tandas Steve masih dengan posisi yang seperti tadi.
__ADS_1
“Bukankah kita sudah melakukannya? Bahkan berkali – kali,” terang Dona.
“Oh No! Itu memang tugas Kamu sebagai kekasihku, namun untuk bonusnya aku minta lebih,” lanjut Steve.
“Aku tidak mengerti, bonus seperti apalagi yang kamu inginkan dariku?” tanya Dona.
“Meli,” lontar Daniel.
Sontak Dona melepaskan tangan Steve yang melingkari tubuhnya, kemudian berbalik menatap wajah Steve yang mengulas senyum liciknya.
“Melinda?! M-maksud kamu?” ketus Dona.
“Ya, Aku mau Melinda! Sebagai bonus dari apa yang sudah aku kerjakan,” jelas Steve.
“NO!! Tidak Aku tidak setuju! Kamu gila apa! Melinda itu adik sepupu Aku, dan Kamu.. Kamu adalah pacar Aku,” pekik Dona.
“Hanya pacar dan bukan suami, Aku punya kebebasan atas diriku, tidak ada siapapun yang dapat menghalangi keinginanku, jadi aku harap kamu dapat memenuhinya, jika kamu tidak ingin menyesal nanti,” ancam Steve sambil melangkah meninggalkan Dona yang sudah berderai linangan air mata.
“Kamu jahat Steve, Aku tidak pernah menyangka bahwa Kamu akan mempermainkanku seperti ini, kamu jahat!” teriak Dona sambil terus menangis.
Namun suara musik pesta mereka mengalahkan segalanya membuat tangisan Dona tidak ada yang mendengar.
Sementara Steve sudah bergabung kembali dengan teman – temannya, menikmati setiap tegukan bir sambil menikmati musik yang membuat mereka lupa diri.
Steve sengaja mengambil posisi duduk di sebelah Melinda, sambil sesekali mereka berkelakar, tertawa bersama. Kesempatan ini tidak akan dilewatkan begitu saja oleh Steve untuk menggoda Melinda.
Steve melontarkan pujian – pujiannya karena keindahan tubuh ramping nan ideal milik Melinda. Merayu Melinda dengan menawarkan kemewahan yang akan di milikinya. Melinda yang sudah kehilangan setengah kesadarannya karena terlalu banyaknya bir yang sudah di minum.
Steve semakin tersenyum lebar karena peluangnya semakin terbuka lebar, kenikmatan besar sudah ada di depan mata.
Akhirnya Steve membimbing tubuh Melinda yang sudah setengah mabuk ke dalam kamar mewah miliknya. Mata Dona yang menyaksikannya tak kuasa menahan cairan bening yang sudah mengalir bebas tanpa halangan.
“Kamu Jahat Steve! Kamu Jahat!!” teriak Dona kembali.
Akhirnya Dona semakin menenggelamkan dirinya dengan banyak minum bir sampai ia tak sadarkan diri. Dan akhirnya tidur di atas sofa tempat ia duduk.
Sementara Steve dengan lancar tanpa halangan apapun melampiaskan nafsu birahinya pada perempuan yang setengah mabuk namun tergoda dengan rayuan dan janji – jani manis Steve. Kini keduanya sama – sama saling menikmati keindahan masing – masing. Sampai keduanya lelah dan tidur dalam pelukan.
Di tempat lain Aaric masih terus menunggu kabar dari Max, Namun waktu yang di sepakati pun berlalu karena Max belum menemukan kabar apapun dari laki – laki yang berhasil menipu dirinya dan juga Reisya.
Aaric sedikit geram, namun dia juga memahami keadaan yang di terangkan oleh Max.
Aaric mendengus kesal, menghempaskan nafasnya dengan kasar, setelah beberapa kali tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.
Aaric melemparkan ponselnya pelan ke atas tempat tidur diiringi tubuhnya yang juga ia hempaskan.
__ADS_1
"Semoga saja semuanya akan baik - baik saja" gumam Aaric.
Dia pun memejamkan manik matanya dalam tidur yang kurang nyenyak dirasakan Aaric karena pikirannya selalu pada Reisya sang kekasih. Begitu juga Reisya, dia masih tidak habis pikir dengan kelalaiannya yang selama ini selalu ia jaga.