Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
CBD #Episode 85


__ADS_3

Jec menyodorkan hasil pembicaraan antara dirinya dan Doni saat melakukan pertemuan tadi. Sementara itu Deon dengan sangat serius terus mendengarkan apa yang ada dalam rekaman itu.


Deg!!! jantungnya seolah berhenti berdetak saat itu juga begitu Deon dengan jelas mendengar bahwa laki-laki yang di sebut dengan nama Doni dengan lancar menyebut namanya dan juga menyebut perusahaan papahnya.


Padahal laki-laki itu sudah membuat aturan pada siapapun untuk merahasiakan jati dirinya, dan juga kematian kakak dan papahnya dua tahun lalu sengaja ia rahasiakan dengan tujuan agar jati dirinya aman dan tidak menjadi sasaran  perebutan harta warisan milik keluarganya dan juga keamanan dirinya sendiri yang  paling utaman.


"Jec siapa Doni itu?" tanya Deon, mungkin laki-laki itu lupa bahwa Jec saja beberapa menit yang lalu menanyakan pada dirinya siapa Doni itu, tetapi Deon justru menuduh Jec mengada-ngada alasan untuk penolakan dokter itu.


Jec menghirup nafas dalam, laki-laki itu juga bingung mau mengatakan apa pada Deon di mana kenyataanya dia  juga tidak sama sekali mengenal Doni.


"Jec..." lirih Deon, seolah laki-laki itu tidak sabar ingin mendengar jawaban dari Jec.


"Tuan, saya saja baru pertama kali kenal Doni siang ini, dan bukan hanya Anda yang bingung kenapa Doni bisa kenal Anda, saya juga bingung Tuan," ucap Jec mulai kesulitan menjelaskan bagaimana lagi caranya agar Deon percaya pada dirinya.


"Ini bukan akal-akalan kamu ajah kan Jec, biar aku tidak melanjutkan rencana ini," tuduh Deon, sembari meletakan ponselnya.


"Astaga Tuan, Andai ini rencana saya, lalu untuk apa saya menjalankan perintah Anda? Dan lagi, laki-laki yang bernama Doni itu sudah mengenali saya. Lalu untuk apa saya melakukanya, bahkan saat ini laki-laki itu sudah tahu kalau saya dan Anda sedang melakukan pembunuhan berencana, dan itu bisa saja dia menekan saya karena dia sudah tahu rencana kita," lirih Jec, cukup kecewa dengan tuduhan Deon yang tidak mendasar itu. Apalagi sampai dia menuduh dirinya bekerja sama dengan laki-laki itu.


"Kalau gitu kamu cari tahu siapa dokter sialan itu, kalau perlu singkirkan dia, biar dia tahu rasa berani menolak kerja sama dengan Deon, Kalian fokus sama Doni. Biarkan Luson mati membusuk," bentak Deon tatapan matanya mengobarkan kemarahan.

__ADS_1


"Baik Tuan. Ini saya bawakan makanan untuk Anda, mungkin Anda mau makan dengan pilihan saya lagi." Jec akhirnya memilih mengakhiri obrolan mengenai Doni yang tidak akan pernah ada akhirnya apabila dilanjutkan.


"Deon meletakan laptopnya. "Kamu bawa makanan apa, kebetulan perutku sudah lapar," dengus Deon dengan nada bicara yang terdengar dingin itu. Jec mengulurkan dua buah kotak nasi yang satu tetap dengan menu kesukaan Deon yang dulu dan yang satu lagi dengan menu yang Jec inginkan.


"Ini menu apa Jec?" tanya Deon, nada bicara tidak seketus tadi, sudah berubah menjadi lebih hangat. Bahkan sepertinya laki-laki itu lupa kalau dia tadi sempat marah-marah dan juga bentak-bentak sang asisten.


"Yang ini kesukaan Anda Tuan ada Ikan ba..."


"Singkirkan itu Jec baunya sangat tidak enak, bikin mual." Deon mengibas-ngibaskan tangannya  agar Jec menyingkirkan menu yang di buka pertama kalinya. Dan Jec pun segera mengikuti apa kata bosnya itu. Menyingkirkan menu makanan yang pertama.


"Lalu yang itu menunya sama? Atau beda?" tanya Deon, wajahnya sedikit kecewa karena ternyata Jec memilihkan makanan yang dia tidak bisa memakannya padahal perutnya sudah terasa perih menandakan ingin segera diisi.


"Aku mau ini aja Jec, aromanya enak sekali," desis Deon dengan tatapan berbinar sekali. Lagi, Jec menatapnya dengan keheranan kenapa bosnya mau makan jengkol. Padahal seumur Jec bekerja dengan keluarga Irwan (Papah Deon) Tidak pernah sekalipun di atas meja makan terhidang jengkol.


"A... Anda yakin Tuan, ini makanan bau, apa Anda mau memakannya?" tanya Jec memastikan Deon.


"Tenang ajah kamu Jec, hidung aku tidak mencium bau itu, dan  kelihatanya ini makanan memang sangat lezat." Deon langsung menyuapkan satu sendok makanan yang Jec pilihkan.


Sementara Jec yang melihatnya makin panik dan tegang takut kalau Deon akan memakinya dan membuat keributan dengan makanan itu.

__ADS_1


Kedua bola mata Deon melebar, dan Jec pun  sama mengikuti reaksi Deon dan jantungnya berdesir tidak menentu seperti ia tengah uji nyali.


"Jec, kenapa kamu sangat pandai memilih menu makanan, apapun yang kamu pilih adalah makanan yang enak. Ini enak sekali," cicit Deon dengan mulut terus mengunyah menu makanan yang sama sekali Jec tidak menduga kalau Deon akan mau memakannya.


"Apa itu enak Tuan?" tanya Jec dengan  jakun naik turun menelan Saliva. Bahkan lagi-lagi dia harus memakan makanan yang tidak ia sukai yaitu kesukaan bosnya dulu.


"Asli ini enak sekali Jec." Bibir Deon sampai monyong-monyong saking enaknya. Jec hanya menatap Deon dengan sangat aneh, pikirannya kembali teringat akan kata dokter di mana saat ini laki-laki yang berada di hadapannya sedang mengalami kehamilan simpatik dan hal itu sangat aneh Jec rasakan.


Jec juga kembali teringat akan  dirinya yang kemarin sempat membaca beberapa artikel yang mengatakan tentang kehamilan terutama kehamilan simpatik. Di mana dalam artikel itu bisa saja mengalami ngidam, minta yang aneh-ange dan dalam waktu yang kurang masuk akal. Misalkan meminta pepes kereta cepat di malam hari.


Jec menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja terasa gatal, membayangkan bosnya ngidam di malam hari dan tentu yang akan d direpotkan adalah dirinya.


"Wahai calon majikan kecil yan ada di dalam perut ibumu, tolong jangan minta yang macam-macam yah. Jadi anak yang baik yah anak manis," batin Jec dengan  mulut komat-kamit. Ia takut akan hal itu, ia kalau mintanya yang gampang nah kalau minta yang aneh-aneh kan bikin kepala tambah pening.


"Jec, besok kamu pilihkan menu makanan untuk aku, pokoknya aku mau tiap hari kamu siapkan menu yang enak-enak seperti ini buat aku, dan aku tidak akan mau makan kalau kamu belum pilihkan menu yang terbaik untuk aku," ujar Deon, sembari mengelap sisi bibirnya.


Sama seperti kemarin makanan yang Jec beli untuk dirinya justru habis karena Deon. Itu tandanya ia harus makana dengan menu yang tidak begitu ia sukai. "Nasib-nasib, Qari yang hamil, bos yang ngidam, dan aku yang repot," gerundel Jec, tetapi ia juga tidak bisa menolak kemauan Deon. Mau tidak mau Jec harus memakanya kalau tidak mau dia kelaparan.


"Besok-besok aku akan  beli dua porsi yang sama, awas aja kalau aku udah beli porsi yang sama tapi malah tidak mau makan atau malah dihabiskan secara sekaligus. Itu tandanya anak itu memang sengaja ngerjain kita-kita disini,"gumam Jec dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2