
Tantri berjingkrak gembira bersama Qanita, karena kemenangan mereka. Memang pantas dua orang ini menjadi juara, karena mereka kompak dan tidak terpecah fokusnya dengan keributan Qari dan Naqi yang saling ejek tidak ada hentinya.
"Abang Tantri dapat hadiah," pekik Tantri bocah usia sebelas tahun itu tidak henti-hentinya bersorak dan bersyukur, karena mendapat hadiah yang bagi dia adalah sangat besar, bahkan anak kelas lima Sekolah Dasar itu sampai berkaca-kaca saking senangnya.
"Ini uang pertama yang Tantri dapatkan karena kerja keras Tantri," lirihnya sembari terus mencium uang senilai sepuluh juta sebagai hadiah perlombaannya. Qari yang melihat sampai tidak tega. Padahal tadinya berniat meminta pajak hadiah dari adik iparnya, tetapi setelah melihat kebahagiaan Tantri dengan uang hasil kerja kerasnya Qari tidak tega.
"Kamu tabung uang itu yah," ucap tuan Latif dan langsung di balas anggukan oleh Tantri. Sebenarnya uang tabungan Tantri juga banyak. Bahkan Alzam sendiri sudah menyiapkan semuanya dari sekolah dasar, menengah pertama, menengah atas, kuliah, sudah Alzam persiapkan semuanya, tetapi Tantri belum di beritahukan. Alzam takutnya kalau di beritahukan Tantri jadi merasa malas untuk berjuang, toh semuanya sudah di persiapkan, itu alasannya Alzam lebih merahasiakan tabungan adiknya secara diam-diam agar Tantri tetapi berusaha untuk menggapai impianya dengan perjuangan.
Terlebih Alzam saat ini tubuhnya sudah sering kelelahan, ketakutannya kembali menghantui dirinya, takut tidak bisa melindungi orang-orang tercintanya, takut kepergiannya hanya akan meninggalkan masalah yang tidak ada hentinya. Sehingga Alzam menyiapkan semuanya dari saat ini.
Setelah seru seharian bermain pantai dan kini saatnya mereka menikmati makan malam bersama, dan setelah itu mereka akan pulang kembali ke Jakarta, besok sudah hari senin, di mana Tantri harus sekolah dan yang lainya juga harus kembali melakukan aktifitasnya ke kantor. Mencari sesuap nasi, dan sebongkah berlian.
"Ayok kalian makan sepuasnya biar kakek yang traktir," ucap tuan Latif.
"Yeh, kita makan pilih yang paling mahal boleh yah Kek, lobster, kepiting rajungan yang paling mahal?" oceh Qari, jangan sampai menyia-nyiakan kesempatan emas kakeknya memanjakan mereka.
"Ambil..." balas tuan Latif dengan sangat santai. Kekayaan yang memiliki perusahaan kosmetik terkenal di negara ini tidak akan langsung bangkrut hanya karena menelaktir cucu-cucunya makan enak dan mahal.
"Kalau gitu Naqi juga mau beli dan buat bawa bekel di jalan deh, takut lapar lagi," balas sang Abang tidak mau kalah dengan adiknya, Qari. Sang adik sudah mau protes lagi, tapi semuanya di batalkan, karena permintaan abangnya justru di tolak oleh tuan Latif.
"Kalau gitu nggak bisa, boleh makan sepuasnya tapi di makan di tempat," tolak tuan Latif. Dan sontak saja Qari langsung tertawa memenuhi seisi restoran mewah itu. Bahkan yang lain sampai kaget, karena kepuasan Qari melihat permintaan abangnya di tolak.
__ADS_1
"Wleee... sukurin," cibir Qari, sembari menjulurkan lidahnya meledek Naqi. Naqi pun menatapnya dengan sengit sama Qari.
"Awas ajah, nanti aku akan makan yang banyak, kapan lagi makan enak sampai kenyang. aku mau cari makanan yang paling mahal," bisik Naqi pada Qari. Lagi, dua adik kakak itu bukanya sibuk memilih menu makanan malah masih asik berebut saja. Memang iya akan sangat rugi kalau mereka berdamai.
"Tantri kamu makan yang banyak," ujar Latif. Dan Tantri yang sedang makan lahap pun hanya nyengir kuda.
Alzam pun senang melihat Tantri sekarang tidak lagi malu-malu dan sudah bisa menyesuaikan dengan keluarga Qari, bahkan Tantri sangat dekat dengan Qanita, dan mamih mertuanya itu sangat menyayangi Tantri. Mungkin beliau menganggap Tantri adalah anak bungsunya, terlebih Qari saat ini sudah menikah.
Makan malam enak, mewah dan sudah pasti harganya mahal pun sudah selesai dan setelah mengistirahatkan tubuhnya dan bersiap mereka akan kembali menempuh perjalanan yang cukup panjang. formasi dalam mobil pun masih sama yaitu Tantri dan Qanita berserta kakek dan sopir, sedangkan Naqi, dan Qari beserta pasangannya masing-masing.
Acara liburan telah berakhir dan juga orang-orang suruhan Deon juga pastinya sudah bersiap untuk pulang ke Jakarta dan memberikan laporannya. Akankah Deon terima dengan laporan dari orang yang diminta mengawasi Qari?
*****
"Lepas, loe mau apakan gue," berontak luson ketika mencoba melepaskan diri dari ikatan tangganya. Laki-laki itu baru sadar setelah ia terpingsan, terakhir yang ia masih ingat adalah ketika ia menghabiskan malam berlumur dosa dengan anak usia remaja yang kekurangan uang jajan. Mereka rela membohongi orang tuanya demi mendapatkan uang untuk membeli kuota dan juga skin care dan barang-barang murahan lainya yang di berikan Luson untuk pengganti satu malam penuh gai-rah yang berbeda.
Seolah menjadi kepuasan tersendiri. Luson justru lebih senang bermain dengan anak-anak seperti ini, mereka justru bangga kalau bisa menguras uang para sugar dadynya. Tidak jarang anak-anak muda ini memposting sisa-sia bercinta mereka untuk di jadikan kenang-kenangan di dalam laman sosial medianya. Seolah mereka bangga perbuatan dosanya dijadikan konsumsi publik.
Memang para gadis ABG ini tidak secara terang benderang menceritakan dan menunjukan pekerjaan yang ia tekuni tetapi dari caption dan unggahan mereka menggiring pemikiran yang melihatnya semakin teracuni dengan pikiran yang negatif.
[Biar nggak SAH tapi dinafkahi terus.]
__ADS_1
[Yang SAH akan kalah sama yang bikin mende-SAH.]
[Biar dipake semalam nafkahnya SATU BULAN.]
caption seperti ini mereka sengaja tunjukan agar yang sah merasa minder, padahal sebagai orang merasa jijik melihatnya, dan justru ABG ini tahu bahwa yang mengajaknya berkencan memiliki keluarga meskipun keluarganya pasti tidak baik dan mereka akan menyerang sang istri sah dengan embel- embel nggak bisa menjaga, dan nggak bisa memberikan kepuas-an.
Tanpa dia tahu laki-laki seperti yang ia manfaatkan materinya, biarpun istrinya berubah menjadi sang penggoda di atas kasur pikiran liar mereka akan membayangkan penyatuan dengan wanita yang lain. Jadi bukan salah istrinya, tapi suaminya yang memang memiliki kelainan.
Luson terus memberontak, apalagi ketika ia sudah sadar kalau dia saat ini dalam pandangan mata tertutup tangan terikat dan juga tubuhnya yang masih telanjang. Yah, laki-laki itu bisa merasakan bahwa tubuhnya telanjang dingin, dan gatal hampir di sekujur tubuhnya.
Luson terus berontak, dan juga terus mengerang meminta di lepaskan , ia sudah memikirkan siapa gerangan yang melakukanya, karena seingat laki-laki itu ia tidak ada lagi musuh. Semua hutang-hutangnya sudah dilunasi oleh tante yang menjadikanya simpanan, dengan ia mendapatkan satu miliar Luson sudah bisa membebaskan dirinya dari sang depkoletor, lintah darat.
Polisi? Laki-laki itu juga sudah memberikan uang keamanan, lalu siapa?
Laki-laki yang tubuhnya makin merasakan kedinginan terus berpikir siapa kira-kira yang tega menculiknya dan menjadikan dia sandra.
"Siapa pun kamu yang membuat aku seperti ini, aku pastikan akan menyesal dan akan mati oleh ku," lirih Luson dengan mengeratkan gigi-giginya.
...****************...
Hai para readers othor tercinta sembari nunggu kelanjutan kisah Qari, Alzam, dan Deon. Mampir yuk ke novel bestie othor, dijamin bikin baper dan geremet-gremet...
__ADS_1
kuy ramaikan...