Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
CBD #Episode 113


__ADS_3

Di tempat lain Luson yang selama hampir satu minggu disekap, dia memang diam saja seolah laki-laki itu pasrah dengan keadaan dirinya yang disekap itu, tetapi diam-diam Luson juga mengamati kebiasaan orang-orang yang menyekapnya. Bahkan sampai detik ini dia tidak tahu menahu bagaimana orang yang memerintahkan hingga dirinya disekap bak tahanan.


Mata Luson mengawasi keadaan gudang yang dijadikan sebagai tempat menyekapnya. Laki-laki itu meamang tidak lagi diikat, tetapi rumah yang dijadikan penyekan dirinya cukup rapat, dan hanya ada satu akses keluar dan masuk, serta jendela dan angin-angin yang sangat kecil sehingga sulit untuk dirinya keluar.


Senyum mengembang di bibir Lucas, dan laki-laki itu membuka genggaman tanganya. "Aku sudah dapat kunci gudang ini, dan mereka sepertinya tidak menyadari, apalagi mereka juga sedang pergi cari makan. Jadi aku harus buru-buru keluar dari rumah ini. Lagian aku penasaran siapa yang berani kurang ajar menyekapku, di gudang pengap seperti ini," gerundel Luson. Laki-laki itu barusan mendengar kedaraan roda dua pergi meninggalkan rumah itu, dan itu tandanya Luson harus segera beraksi.


Ceklekkk... Cekkkklekk... pintu dengan perlahan dibuka oleh laki-laki yang saat ini terlihat lebih kurus dan sangat menyedihkan. Baju lusuh, rambut gonderong, kumel, dan wajah juga terlihat kusam. Sebelum ia meninggalkan rumah itu Luson lebih dulu mengunci rumah itu kembali dan kakinya langsung melangkah meninggalkan rumah itu dengan menyusuri semak-semak agar ia tidak bertemu dua orang yang bertugas menjaganya. Kalau lewat jalan setapak ia ada kemungkinan untuk bertemu dengan orang yang menyekapnya.


"Ah... lega." Luson mengusap dadanya dan pandangan matanya menatap rumah yang berada di tengah-tengah kebun itu. Laki-laki itu baru tahu kalau tempat penyekapanya ada di tengah-tengah hutan, di mana kanan kiri semak-semak belukar yang tinggi-tinggi.


Luson menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bahkan ia bingung mau melangkah ke mana lagi. Sejauh mata memandang ia hanya melihat semak-semak yang tinggi di sana. Sama sekali ia tidak menemukan adanya  rumah penduduk bukan hanya itu dia juga tidak menemukan adanya jalan setapak. Bulu kuduk Luson langsung berdiri ketika ia memikirkan bahwa ia akan bertemu dengan binatang buas. Harimau, ular atau mungkin binatang berbahaya lainya.


Pandangan mata Luson kembali menatap rumah yang tadi menjadi tempat penyekapanya, bahkan saking jauhnya ia berjala tempat itu hanya terlihat atap rumah itu dari tempatnya berdiri. "Kenapa aku memilih jalan ini yang entah tembusnya kemana? Apakan akan ada jalan di ujung rerumputan yang tinggi ini, atau justru aku akan semakin jauh tersesat?" gumam Luson, semakin bimbang, tetapi ia juga tidak bisa kembali ke tempat penyekapan tadi, sama saja dia akan menyerahkan diri pada orang-orang itu yang mungkin mereka akan kembali berutal  menyiksanya. Melebihi siksaan yang ia dapatkan dalam beberpa hari ini. Ia diperlakukan tidak manusiawi.

__ADS_1


Yah, Luson sangat yakin kalau dua orang yang bertugas menjaganya mungkin saja saat ini sudah kembali dan mengetahui kalau tahananya sudah kabur.


"Tuhan, tolonglah aku, untuk kali ini saja tunjukan jalan menuju jalan raya atau setidaknya pemukiman penduduk." Doa Luson, kakinya yang sudah mulai lemas diayunkan kembali, dalam hatinya ia tetap berdoa agar tidak ketemu binatang buas. Laki-laki itu sendiri tidak tahu di mana ia berada dan entah di kota mana ia disekap.


"Siapa pun kalian yang sudah berani menculik dan menyekapku aku pastikan kalian akan hidup menderita," umpat Luson sepanjang kakinya melangkah ia  terus berpikir dengan keras siapa kira-kira yang telah membuatnya sampai terdampar di semak belukar seperti ini.


Pikiranya menyusuri satu persatu rekan bisnisnya yang bisa saja melakukan ini semua, ia juga berpikir kalau yang melakukan ini semua adalah para suami dari wanita yang ia poroti uangnya.


Yah, Luson tentu tahu kalau dia sebenarnya banyak sekali musuhnya. Ia selama ini sadar kalau kelakuanya memang sudah salah, sangat-sangat salah ia selalu berurusan dengan wanita-wanita dari orang berduit, yang apabila ketahuan selingkuh kapan saja mereka akan mencelakainya.


Latif sendiri sudah beberapa kali mengatakan kalau dirinya telah dicoret dari kartu keluarganya, dan tidak lagi menjadi anak dan keluarga Ralf. Namun laki-laki itu bukanya sadar diri ia justru semakin menggila. Ia semakin berbuat sesukanya. Selama ini ia tidak sekali  pun menyesal dengan apa yang ia lakukan. Karena ia juga bisa hidup dengan mewah dan uang selalu mengalir, sehingga dia tidak keberatan didepak dari keluarganya.


Justru Luson selalu berkata baik dengan teman atau dalam batinya sendiri kalau dia itu lebih suka dan nyaman hidup seperti selama ini, dia selalu berkata bekerja dengan keluarganya sangat melelahkaan. Memikirkan perusahaan dan gajih yang ia dapatkan sangat kecil sangat kurang untuk kehidupanya yang selalu menjajankan para wanita-wanitanya, maka dari itu ia memilih keluar dari rumah ini.

__ADS_1


Anak, dan istri sudah lama Luson tidak menganggap adanya istri. Kalu dia tidak bercerai itu karena Latif yang melarangnya.


Hahh... Hahhhhh... Nafas Lucas tersengal entah berapa jauh laki-laki itu berjalan, saat ini ia sudah melihat ada perkebunan warga, setidaknya ada tempat berteduh. Yah itu adalah tempat berteduh yang warga bangun untuk istrirahat ketika mereka bekerja di kebun.


Mata Lucas mengawasi tempat itu dengan jeli. Di depan matanya terlihat kebun jagung yang luas dan ada juga pohon songkok di sisi-sisinya. Luson berdoa kembali dalam batinya agar ia dipertemukan dengan orang satu atau dua orang. Setidaknya malam ini ia bisa berteduh di rumah warga setelah itu ia akan kembali ke ibukota dengan menumpang-numpang mobil, atau bahkan Luson akan meminjam uang atau apapun itu ia akan lakukan agar ia bisa kembali ke tempat tinggalnya.


Saat ini laki-laki itu tidak memiliki harta benda sepeserpun. Hanya pakaian yang melekat di tubuhnya yang ia miliki, pakaian pun lusuh entah orang-orang yang menyekapnya mendapkan pakaian ini dari mana.


Haus... lapar itu yang Luson rasakan.  Meskipun ia sangat-sangat lapar dan tubuhnya sudah lemas Luson berusaha tetap melangkahkan kakinya menuju gubug yang ada di tengah-tengah ladang. Ia berharap ada orang di sana, apa mungkin ada minum atau makanan yang bisa ia makan.


Kuping dan mata Luson di tajamkan, mungkin saja bisa mendengar obrolan dari seseorang. Ia dari tadi diam tidak birucap, karena terlalu lelah. Mungkin laki-laki itu akan berpikir kalau ia menggunakan energinya untuk mengeluarkan suara ia akan benar-benar pingsan karena kelelahan.


"Ya Tuhan kenapa rasanya hidup ini tidak adil," gumam Luson. ketika ia sampai di gubung itu, tetapi tidak ada orang, bahkan makanan pun tidak ada. Air minum pun tidak ada.

__ADS_1


'Apa aku akan mati karena kelaparan dan kehausan?"


__ADS_2