
Aaric berhasil membawa Reisya pulang ke rumahnya. Dengan perasaan sedih bercampur bahagia, Reisya disambut hangat oleh sang Mama.
“Assalamu’alaikum,” salam Aaric saat melangkah masuk ke dalam rumah.
“Wa’alaikumsalam,” sambut Mbok Ana yang langsung histeris melihat Reisya bersama Aaric.
“Bu… Ibu…! Non Reisya Bu.., Non Rei,” teriak Mbok Ana sambil memeluk erat tubuh Reisya lalu menuntunnya duduk di sofa panjang di ruang tamu.
Bu Widjaya segera mendatangi sumber suara dengan tergesa – gesa karena mendengar nama Reisya disebut.
Langkah Bu Widjaya terhenti saat netranya melihat tubuh gadis yang terlihat lemah menyandar pada sandaran sofa yang didudukinya.
Dengan menahan isak tangisnya, langkah yang terkulai lemah, Bu Widjaya mendekati Reisya.
“R-Rei… Ini Kamu Sayang? Mama sangat mengkhawatirkanmu, Nak,” lirih Bu Widjaya dengan suara dan tangan yang bergetar.
Tangisnya pecah sembari menciumi dan memeluk erat tubuh Reisya. Reisya masih tidak bersuara, namun air matanya tidak dapat terbendung. Tak lama kemudian Reisya pun tak sadarkan diri.
Bu Widjaya panik. Dia mengguncang – guncangkan tubuh Reisya yang sangat lemah.
“Rei, bangun Sayang, Mama disini.., Rei.. Reisya!” pekik Bu Widjaya.
Aaric pun panik dan tanpa pikir panjang ia menggendong Reisya segera membawanya ke dokter.
“Mama ikut,” pinta Bu Widjaya.
Aaric melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membawanya ke rumah sakit terdekat. Setibanya di lokasi Reisya segera mendapatkan perawatan yang intensif.
Aaric dan Bu Widya sangat mencemaskan kondisi Reisya. Keduanya hanya saling diam menunggu dokter selesai memeriksa Reisya.
Beberapa menit kemudian, dokter yang menangani Reisya keluar dari dalam ruang pemeriksaan.
“Dok, bagaimana kondisi anak Saya? Dia baik – baik saja ‘kan, dok?” cemas Bu Widjaya.
“Ibu tidak perlu khawatir, anak Ibu baik – baik saja. Hanya saja perlu waktu yang cukup untuk memulihkannya kembali. Pencernaannya terganggu, sepertinya jadwal makannya tidak teratur bahkan dengan gizi yang sangat buruk.”
“Dia korban penculikan, dok,” sela Aaric menjelaskan.
Sang dokter tertegun mendengar ucapan Aaric.
“Bararti ini tindak kejahatan. Apa sudah lapor pihak kepolisian?”
Mereka menggelengkan kepalanya.
“Kenapa?”
“Kami baru menemukannya dan belum sempat menanyakan apapun padanya. Tapi Dia keburu pingsan tadi,” timpal Aaric.
“Apa tidak ada niat pihak keluarga untuk melaporkannya? Agar tidak terulang pada orang lain jika penjahatnya sudah tertangkap,” imbuh sang dokter.
Bu Widjaya dan Aaric saling melempar pandangan.
“Ric, apa Kamu tahu siapa dalang dibalik semua ini?” telisik Bu Widjaya.
Aaric mengangguk pelan dan berkata, “Nola.”
__ADS_1
Bu Widjaya langsung memegang dada kirinya, seakan tak percaya dengan ucapan Aaric.
“No-La,” ucap Bu Widjaya dengan bibir bergetar. Aaric kembali mengangguk.
“Apa Kamu punya buktinya?”
Aaric menunjukkan rekaman di ponselnya pada Bu Widjaya. Bu Widjaya langsung melotot saat melihat rekaman atas perlakuan sadis Nola pada Reisya. Nafasnya memburu, hatinya bergemuruh.
“Jika kalian sudah memiliki bukti kenapa tidak langsung bertindak? Saya siap membantu untuk memberikan bukti visum saudara Reisya,” pungkas sang dokter.
“Kejam, Kamu Nola! Dan Aku tidak akan pernah memaafkan Kamu, sampai kapanpun!!” geram Bu Widjaya sambil mengeratkan giginya.
Aaric segera bergegas menemui Pak Widjaya untuk segera membuat laporan.
“Aarrghh!!” pekik salah satu penjaga yang baru sadarkan diri.
Sambil memegangi tengkuknya yang terasa sakit, ia berusaha melebarkan kelopak matanya dan melihat sekelilingnya , melihat temannya yang bertubuh lebih kekar darinya masih tergeletak tak berdaya.
“Bangun!!” bentak Hutomo setelah melihat anak buahnya sadar.
Pengawal itu langsung berdiri tegak, meskipun masih sempoyongan.
“Katakan, apa yang telah terjadi?” tanya Hutomo dengan mata memerah.
“Ma-maaf, Tuan. Saya tidak tahu, tiba – tiba ada yang memukul kepala Saya dan akhirnya pingsan,” terang sang pengawal.
“Siapa yang melakukannya?”
“NOLA!!”
Hutomo sangat terkejut melihat Nola yang bertukar posisi dengan Reisya. Akhirnya Hutomo membuka kain yang menyumbat mulut Nola. Tapi tidak dengan ikatan tangannya.
“Om, tolong lepaskan ikatan ini, Om,” rengek Nola memohon pada Hutomo.
“Bagaimana Kamu bisa ada diposisi ini?” selidik Hutomo dengan tatapan yang sangat membunuh.
“Aku juga tidak tahu, saat Aku masuk menemui Reisya. Tiba – tiba Aaric juga ikut masuk dan menyelamatkan Reisya lalu menukarnya denganku, Om.”
“Dasar bodoh! Kamu tidak hati – hati masuk ke dalam wilayahku. Jika nanti terjadi sesuatu, Aku tidak akan ikut bertanggung jawab atas kelalaian yang Kau buat. Kau harus tanggung sendiri,” pungkas Hutomo menggeram.
Nola hanya bisa menangis. Kini ketakutan menyelimuti hatinya.
“Tidak Om. Aku tidak mau sendirian, Om juga harus ikut bersamaku. Karena ini semua adalah ide Om,” sanggah Nola dengan suara lantang.
Hutomo hanya tersenyum mengejek.
“Aku akan ikut bersamamu jika.. Aku sudah mendapatkan apa yang Aku mau. Tapi kenyataannya berbeda, Sayang. Kau belum berhasil mengambil alih perusahaan peninggalan Papamu. Dan karena kebodohanmu, Kau sendiri yang masuk ke dalam perangkapmu. Gadis malang,” cerca Hutomo sembari berjalan memutari Nola yang masih terikat.
“Om, jahat! Om hanya memikirkan diri Om sendiri,” protes Nola.
Hutomo pun tertawa terbahak – bahak mendengar ocehan Nola yang tidak penting baginya.
“Dasar gadis bodoh! Dengan mudahnya Kau percaya begitu saja. Asal Kau tahu, Keluarga Widjaya tidak pernah berbuat curang sedikitpun pada keluargamu. Justru Aku, Aku yang menginginkan seluruh harta keluargamu dan juga keluarga Widjaya. Karena mereka berdua yang selalu menghalangi jalanku. Berkali – kali Aku mencoba menghabisi keluargamu, tapi Widjaya selalu saja menggagalkannya. Sampai akhirnya kematian itu datang, dan Aku berhasil melenyapkan keluargamu.”
__ADS_1
Tawa Hutomo kembali menggelegar.
“Seharusnya Kau pun ikut waktu itu, tapi Tuhan masih sayang padamu. Dan Kau selamat,” tukas Hutomo sambil berjalan kesana kesini dengan kebencian yang sangat terlihat di kedua matanya.
Nola terdiam, satu persatu ucapan Hutomo coba dicernanya. Dan penyesalan pun datang menghampirinya.
‘Jadi, selama ini Hutomo hanya memanfaatkanku? Dan keluarga Widjaya… mereka sama sekali tidak bersalah! Oh, apa yang sudah Aku lakukan? Aku rela mengkhianati kepercayaan dan kasih sayang keluarga yang sudah dengan tulus memberikan cintanya padaku, tapi apa balasanku! Dasar bodoh!! Kau sangat bodoh Nola!!” cacinya pada diri sendiri dengan derai air mata.
Tiba – tiba…
“Jangan bergerak! Semua sisi telah dikepung. Angkat tangan kalian!”
Pasukan penyergapan dari pihak kepolisian telah berhasil melumpuhkan kekuatan Hutomo dan berhasil membekuk seluruh anggotanya. Kini tinggal Nola dan Hutomo yang ada di dalam ruangan itu.
Dengan perlahan dan hati – hati dua orang polisi mendekati posisi mereka berdiri. Namun tiba – tiba Hutomo mengeluarkan pistolnya dan membekap leher Nola untuk dijadikan sandera.
“Tangkap pria jahat ini, Pak!” pinta Nola sambil berteriak.
“Diam! Atau Aku akan menarik platuknya dan mengarahkannya tepat dikepalamu!”ancam Hutomo.
“Aku tidak perduli. Bahkan itu akan lebih baik, sebagai penebus rasa bersalahku pada keluarga yang telah merawatku!” ucap Nola tanpa rasa takut.
Polisi pun semakin mendekat, Hutomo yang semakin panik akhirnya benar – benar menarik platuk pistolnya yang diarahkannya tepat dikepala Nola.
Dooorrrrr!!!
Tembakan pun tak dapat dielakkan. Nola menghembuskan nafas terakhirnya ditangan Hutomo. Karena tidak ingin masuk dalam sel tahanan yang akan mengungkap semua kasusnya, Hutomo pun ikut menembakkan peluru terakhirnya di kepalanya.
Penguburan Nola pun dilakukan oleh keluarga Widjaya penuh khidmat. Meskipun ada rasa marah, namun kasih sayang itu tak dapat ditepis. Bu Widjaya merasa sangat kehilangan seseorang yang sudah di anggapnya seperti anaknya sendiri.
Selesai penguburan, mereka kembali ke rumah sakit tempat Reisya dirawat. Mereka masih mengkhawatirkan Reisya. Kodisinya semakin hari semakin memburuk meski sudah berbagai cara dokter melakukan pengobatan.
“Dokter, kenapa kondisi Reisya tidak ada perubahan?” tanya Bu Widjaya sangat sedih.
“Bu, sabar ya, kami sudah berusaha, Kita sama – sama berdo’a agar Reisya segera membaik,” ucap sang dokter.
“Dok.. dokter! Pasien Reisya mengalami kejang, dok!” teriak perawat memanggil sang dokter.
Dokter kembali keruangan Reisya. Mereka berjibaku melakukan beberapa alternatif pengobatan, namun sayang usaha mereka tidak membuahkan hasil yang baik, Reisya pun menghembuskan nafas terakhirnya secara perlahan.
Jeritan histeris pun terdengar sangat lantang menggema seisi ruangan. Bu Widjaya tak dapat menahan tangisnya. Baru saja dia kehilangan putri angkatnya, kini dia harus kehilangan seorang putri lagi yang lahir dari rahimnya.
Bukan hanya Bu Widjaya dan Pak Widjaya yang sangat kehilangan. Tapi Aaric, Dia adalah satu – satunya orang yang paling merasakan kehilangan orang yang sangat dicintainya. Apalagi dia sempat melihat penyiksaan yang dilakukan kepada Reisya.
“Rei, kenapa Kamu tega meninggalkan Aku. Aku nggak bisa hidup tanpa Kamu Rei. Aku sangat mencintai Kamu.”
Aaric menangis tersedu – sedu, merasakan sakit yang teramat sangat. Dia harus kehilangan cintanya untuk selama – lamanya hanya karena sebuah dendam.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ ~~~~ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"Balas dendam adalah api yang mengamuk dan menghanguskan si pembakar." - Max Lucado
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~THE END~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
__ADS_1