Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
CBD #Episode 109


__ADS_3

Jec pulang kerja lebih siang dan dia langsung menuju ke rumah sakit, di mana Qila dirawat, dia tadi sudah berjanji pada wanita itu kalau dia akan datang lagi untuk memastikan semuanya baik-baik saja, sehingga dia harus datang untuk menepati janjinya. Laki-laki itu juga seperti biasa sebelum meninggalkan perkerjaanya, lebih dulu dia memastikan semuanya beres, termasuk bosnya pulang dengan sopir yang sudah dia percaya, yaitu Gatot.


Jec berjalan dengan lebih cepat, dia sebenarnya merasakan tidak tega ketika meninggalkan Qila sendirian di rumah sakit, tetapi dia juga harus bekerja. Kasihan apabila Deon mengurus pekerjaanya seorang diri.


"Hah, kenapa kosong," guman Jec, bahkan dia sampai keluar ruangan untuk memastikan kalau ruangan yang ia masuki memang benar ruangan yang tadi pagi merawat Qila. Jec kembali masuk, ke dalam sana yang sudah kosong dan tidak ada barang apapun yang tertinggal.


"Apa mungkin gadis itu sudah pulang? Dasar keras kepala," lirih Jec, dan laki-laki itu mengayunkan langkahnya kembali untuk menuju resepsionis guna bertanya kepastianya di mana Qila, apakah pulang benaran atau ada pindah ruangan. Lalu kalau pulang kenapa bisa diizinkan, padahal kondisi Qila cukup parah.


"Sore Mba, apa pasien yang bernama Aqila sudah pulang atau kemana yah, kenapa saya datang ke ruanganya sudah kosong?" tanya Jec dengan suara yang lembut, pada resepsionis.


"Aqila? Nanti saya cek dulu yah Pak." Sang resepsionis pun mengecek pasien dengan nama Aqila.


"Nona Aqila denga luka cidera di lengan sebelah kiri dan sebelumnya dirawat di ruang VIP sudah pulang dari pukul satu siang Pak," jawab resepsionis denganĀ  membacakan riwayat terakhir kondisi pasien.


"Kenapa bisa pulang Mba? Kan dia tanganya cidera dan Dokter mengatakan harus menunggu sampai kondisi benar-benar sembuh," ujar Jec, dengan nada yang kecewa.


"Nona Aqila yang meminta pulang Pak, dan dia yang bilang, bahkan temanya memberikan surat pernyataan kalau mereka tidak akan menutut apapun apabila terjadi sesuatu dengan Nona Aqila." resepsionis itu pun menunjukan surat pernyataan yang ditanda tangani oleh orang yang bernama Wawan.


'Siapa Wawan? Apa dia kekasih wanita itu?' batin Jec, sedikit ada rasa kecewa dan tidak nyaman ketika mendengar kata Wawan.


"Apa ada nomor ponsel atau apapun Mba, yang bisa dihubungi, alamat rumah mungkin?" tanya Jec, dia hanya ingin memastikan bagaimana kondisi Qila, dan mungkin ini adalah bentuk pertanggung jawaban atau justru ini hanya akal akalan Jec saja agar terus berkomunikasi dengan wanita itu.


"Mohon maaf Pak, Wanita itu memberikan amanah, kalau data pribadinya tidak boleh di berikan pada siapa pun, termasuk Anda," jawab resepsionis dan hal itu membuat Jec sangat bingung, baru kali ini ada korban yang tadinya ngotot minta tanggung jawab dan justru kali ini data pribadinya tidak boleh diketahui oleh orang yang ditunjuk untuk bertanggung jawab.


"Apa semua biaya adminitrasi juga sudah dibayarkan?" tanya Jec.

__ADS_1


"Sudah Pak sudah di bayar semuanya," jawab resepsionis.


"Aneh." Jec pun langsung undur diri, dia semakin bingung dengan wanita itu bukanya dia yang meminta kalau dirinya yang ingin diobati dengan Jec bertanggung jawab, tetapi semua biaya ditanggung mereka.


Jec menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi, kedua tanganya menjambak rambutnya, laki-laki itu sedang berpikir dengan keras, dari mana ia tahu alamat rumah gadis aneh itu. Sedangkan pihak rumah sakit tidak mengizinkan siapapun untuk mengetahui data diri gadis malang itu.


"Apa aku minta info gadis itu sama Qari yah? Ah, tapi mana mungkin Qari mau mengatakan, mana dia galak banget," dengus Jec.


"Ah biarkanlah, paling juga merek yang repot, toh bukan aku yang tidak mau bertanggung jawab melainkan gadis itu yang tidak mau kalau aku tanggung jawab," gumam Jec, laki-laki itu pun kembali memutar kunci mobilnya, menyalakan mesin mobil dan kakinya dengan lihat menginjak pedal gasnya.


Mobil pun kembali melaju dengan anggun di jalanan ibukota. "Alhamdulillah deh,akhirnya aku bisa pulang siang, dan aku akan langsung pulang ke apartemen saja. Jarang-jarang dapat rezeki seperti ini. Mana akhir-akhir ini calon anak Tuan Deon selalu ganggu jam tidur saja," gerundel Jec seorangdiri.


Begitu ia pulang ke apartemenya langsung membersihkan tubuhnya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur, yang mungkin sudah satu minggu ia tidak tidur di apartemenya, selain menunggu Deon di rumah sakit dua malam terakhir dia juga tidur di rumah bosnya Deon.


#Siap-siap kamu kena masalah Jec.


********


Di lain tempat Qila yang menceritakan kalau kondisinya dirawat dan Jec pamit bekerja sehingga dia di rumah sakit seorang diri, mengatkan kalau dia sudah sembuh dan tidak mau untuk dirawat, dan gadis itu merengek pada Meta untuk membuatnya keluar dari rumah sakit itu.


Sementara Meta yang saat itu sedang bekerja, dan mendapatkan kabar kalau Qila hanya seorang diri pun tanpa pikir panjang langsung mendatangi adiknya itu, (Adik angkat yah, anaknya Mpok mia yang paling bontot).


Meta langsung mengayunkan langkahnya dengan tergesa ke ruangan yang Qila berikan. Dengan sedikit kasar Meta membuka pintu ruangan VIP itu, yang sengaja Jec pilihkan agar Qila merasa nyaman, tetapi lagi-lagi gadis itu justru merasa terbebani, ia tidak tega kalau Jec membayarkan semua tagihan rumah sakit. Wanita itu tetap berpikiran kasihan karena Jec juga bekerja untuk keluarganya juga.


"Apa laki-laki itu menelantarkan kamu begitu saja?" tanya Meta dengan kedua mata akan keluar.

__ADS_1


Qila meletakan jari telunjuknya di bibirnya agar Meta tidak membuat ke gaduhan. "Dia tidak menelantarkan aku, dia menitipkan aku pada perawat khusus. Dia juga harus kerja, makanya meninggalkan aku sendirian di sini, Meta. Tapi aku pengin pulang, tidak betah, aku sudah sembuh kok," lirih Qila memonhon dengan wajah yang sangat mengiba.


Meta mengecek seluruh tubuh Qila dari penampilanya sangat tidak meyakinkan kalau dirinya baik-baik saja. "Kamu tidak sedang bohong kan?" tanya Meta, menatap mata Qila dengan tajam.


"Aku serius Met, aku tidak betah. Tolong aku biarkan aku pulang aku akan cepat sembuh kalau dirawat di rumah," mohon Qila dengan wajah sangat mengiba. Ia tahu biarpun Meta itu bawel dan berisik, tetapi dia paling tidak tegaan, termasuk pada Qila yang saat ini sedang menahan sakit dan dia bilang akan cepat sembuh kalau dirawat di rumah.


"Kamu tunggulah di sini, aku akan berbicara pada dokter penanggung jawab, tapi kalau ada apa-apa, aku tidak tanggung jawab yah, rasa sakit dan lain sebagainya kamu rasakan sendiri," ucap Meta, setengah mengancam.


Qila hanya memberikan anggukan, dan senyum samar sebagai jawabanya.


Meta pun setelah mendapat jawaban dari Qila, ia langsung menemui tim medis


"Semoga Meta bisa meyakinkan Dokter," gumam Qila ada sedikit rasa lega setidaknya Meta memang selalu mengerti apa yang Qila butuhkan, dia benar-benar setres di rawat di rumah sakit ini, selain ia jadi kefikiran akan biayanya dia juga tidak bisa tidur karena rumah sakit baginya sangat horor, dia bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana kalau malam ini akan melewatinya di rumah sakit ini.


Setelah cukup lama Qila menunggu akhirnya Meta pun masuk ke dalam ruangan Qila, dengan wajah yang merah, dan seolah menahan kesal yang teramat. Hingga wajahnya seperti kepiting rebus.


"Gimana Met?" tanya Qila, gadis itu pun deg-degan takut kalau Meta gagal meyakinkan dokter.


"Beres, tapi harus debat dulu, ribet banget," degus Meta, dengan menyambar botol air mineral dan meneguknya dengan tegukan besar, dan botol itu pun kosong seketika.


Setelah melewati banyak pemeriksaan, dan syarat-syarat yang merepotkan akhirnya Qila diperbolehkan setelah Meta melunasi semua biaya pengobatan Qila. Pada akhirnya Meta yang menanggung, laki-laki itu tidak tega juga merepotkan laki-laki lain, sedangkan seharusnya yang bertanggung jawab adalah dirinya. Karena Qila terjatuh juga karena Fifah yang memaksanya. Andai bukan Fifah yang ingin mengidam bakmi dengan Qila yang membawa motornya mungkin Qila tidak seperti ini.


Meta meminta Jec untuk bertanggung jawab hanya karena ingin melihat laki-laki itu tanggung jawab atau tidak, tetapi setelah mendengar jawaban dari Qila, laki-laki itu cukup tanggung jawab, meskipun pada akhirnya meninggalkan Qila di rumah sakit sendirian.


"Semoga saja aku tidak di pertemukan lagi dengan laki-laki itu, kalau dipertemukan bisa-bisa aku buat dia seperti perkedel burung perkututnya," gumam Meta yang melihat cara jalan Qila seperti robot, karena luka di kedua lututnya sudah mulai berasa pegal.

__ADS_1


__ADS_2