Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam #Episode 150


__ADS_3

"Masuk Dok, Mas." Seorang wanita paruh baya menyambut kedatangan Naqi dan dokter Herman dengan ramah.


Kedua mata Naqi sudah tertuju pada bayi yang sedang tertidur di atas alas seadanya. Kedua kelompok mata Naqi langsung memanas. Rasanya ingin menangis dengan kuat. "Apakah ini adalah anak yang di bicarakan tadi?"


"Iya Mas. Ini anaknya dan itu ibunya." Bidan Dira menujuk seorang wanita yang sedang tertidur dengan meringkuk terlihat sangat menyedihkan.


Naqi pun meneteskan air mata ketika melihat bayi yang masih merah. Bahkan bibirnya gerak-gerak karena haus. "Hai Kinara, semoga kamu adalah jawaban atas doa yang kami langitkan. Kamu adalah penolong dari setiap masalah yang terjadi pada keluarga kami." Jari telunjuk Naqi mengusap pipi yang merah.


Anak bayi itu pun seolah tahu bahwa laki-laki yang ada di hadapanya sedang mengajaknya ngobrol. Kinara membuka matanya. Sejak saat itu juga Naqi langsung yakin bahwa Kinara adalah anak Qari. Yah, Naqi yakin bayi itu bisa menjadi  Qinar yang sesungguhnya.


"Ngomog-ngomong wanita itu kenapa mau menyerahkan bayi mungil ini Bu?" tanya Naqi, pandangan matanya kini terfokus pada wanita berhijab  yang sedang tertidur dengan meringkuk menyedihkan.


"Menurut pengakuanya, dia adalah salah satu asisten rumah tangga yang bekerja disalah satu komplek perumahan di ujung sana, dan anak itu hasil pemer-kosaan anak majikanya. Nasib dia cukup menyedihkan, bahkan di sekujur tubuhnya banyak terdapat luka-luka." Bidan Dira berbicara setengah berbisik, takut kalau Sulis bangun dan akan mendengarnya.


Naqi dan Herman pun cukup terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Bidan Dira. "Lalu anak majikanya tidak mau bertanggung jawabab." Naqi sudah tahu permasalahnya, dan bisa menarik garis kesimpulanya.


"Bidan Dira mengangguk dengan kuat. "Bukan hanya itu, malah menurut pengakuan Sulis, orang tua dari pelaku tahu kelakuan bejad anaknya tetapi mereka tidak melarangnya, dan bukan hanya itu dia juga masih memaksan melakukan hubungan intim meskipun Sulis sedang hamil, itu sebabnya tadi saya tawarkan bantuan untuk tidak kembali lagi wanita itu terlihat sangat senang."


Bidan Dira pun terus bercerita mengenai siapa Sulis, dari yang dia ketahui bahwa wanita itu adalah anak yatim piatu dan juga, teman-teman asisten rumah tangga yang lain yang  mengetahui aksi pernbuatan majikanya tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.


Naqi menatap dokter Herman, untuk meminta solusinya.


"Sepertinya yang dia butuhkan adalah pekerjaan yang nyaman dan tentunya tabungan." Dokter Hendra seolah tahu arti dari tatapan Naqi.


"Apa dokter ada kenalan untuk mempekerjakan dia. Biar nanti saya yang akan menggaji dia, yang peting dia mendapatkan tempat yang aman," jelas Naqi.


"Dira mungkin solusi." Dokter Hendra menatap bidan Dira.


"Selain gajih seumur hidup untuk dia, saya juga pasti akan memberikan uang atas pengorbananya. Dengan catatan dia tidak boleh mengambil anaknya sampai kapan pun. Terlihat kejam memang, tetapi semua demi kebaikan bersama." Naqi tidak mau suatu saat nanti tiba-tiba wanita yang bernama Dulis itu datang dan akan menghancurkan keharmonisan keluarganya adiknya.


"Kita bikin surat perjanjin yang sah secara hukum," imbuh dokter Hendra dan Naqi pun dengan senang hati menyanggupinya.

__ADS_1


"Apa Sulis mau dibangunkan, atau tunggu sampai bangun sendiri?" tanya bidan Dita.


"Sepertinya bangunkan saja Bu, karena kami harus buru-buru bawa anak ini, sebelum Qari atau Mamih sadar," balas Naqi, dan Bidan Dira pun langsung beranjak dari duduknya untuk membangunkan wanita malang itu.


"Sulis... Lis..." Bidan Dira dengan perlahan membangunkan Sulis dengan mengusap-usap punggung tanganya.


Wanita itu pun membuka matanya perlahan, dan menatap bidan Dira dengan aneh. "Kenapa Bu?" Suara serak dan berat keluar dari bibir Sulis.


"Orang yang akan mengasuh anak kamu ingin bertemu dengan kamu, apa kamu bisa menemuinya?"


Sulis pun mengangguk dengan lemah, dengan dibantu oleh bidan Dira, Sulis bangun dan berjalan dengan perlahan menghampiri Naqi dan dokter Hendra.


Baik Naqi dan dokter Hendra menatap dengan serius wanita yang ada dihadapanya, kesan pertama pasti cantik, dan itu menurun pada bayi yang ada di samping Naqi.


"Apa Anda tidak akan menyesal kalau anak ini saya bawa Nona?" Naqi langsung menanyakan  apa yang mengganjal dalam batinya.


Wanita berhijab itu menggeleng dengan pandangan menunduk.


"Yakin? Coba Anda pikir baik-baik ditakutkan nanti kamu malah menyesal, lalu tiba-tiba mencarinya." Kini dokter Hendra yang meyakinkan lagi.


"Baiklah, kalau Anda sudah yakin tetapi sebagai penguat kami memikin surat perjanjian mohon Anda tanda tangani." Naqi mengulurkan selembar surat perjanjian yang sah secara hukum. Lagi, Sulis tanpa berpikir dua kali langsung menanda tanganinya.


"Apa Anda ada tabungan, dan nomor rekening?" tanya Naqi, sembari terus mengawasi wanita yang sejak tadi terus menunduk.


Wanita berhijab itu menggeleng dengan lemah. "Bahkan untuk membayar persalinan ini saya hanya memiliki uang lima ratus ribu," jawab Sulis dengan jujur.


Naqi mengangguk mengerti kondisinya. "Tolong tuliskan nama Anda dan biodata lengkap beserta nama orang tua Anda terutama nama ibu Anda apabila ada. Besok orang suruhan saya akan datang ke sini, untuk memberikan nomor tabungan untuk hidup Anda dan nanti setiap bulan saya akan transfer untuk gajih Anda, dan pekerjaan nanti bidan Dira yang akan menentukanya."


"Terima kasih banyak," ucap Sulis dengan mata berkaca-kaca.


"Tapi ingat dalam perjanjian itu apabila Anda  melanggar perjanjian maka Anda akan masuk penjara." Naqi mengingatkan kembali apa yang ada dalam perjanjian-perjanjian itu.

__ADS_1


"Saya tahu Tuan." Sulis pun sejenak menatap pada buah hatinya yang sedang membuka matanya seolah bayi itu tahu apa yang sedang mereka bicarakan.


"Maafkan ibu, Nak. Ibu memang wanita paling jahat di dunia ini yang tega menjual kamu untuk kehidupan yng lebih layak." Mata Sulis terus tertuju pada buah hatinya yang saat ini sudah berpindah ke dalam gendongan Naqi.


"Dira kami ucapkan banyak terima kasih yah," ucap dokter Hendra, begitupun Naqi yang entah bearap kali mengucapkan terima kasih atas bantuan bidan Dira. Tanpa bidan Dira mungkin saat ini Naqi masih bingung harus mencari kemana anak perempuan pengganti Qinar.


Langkah kaki ringan meninggalkan klinik bersalin itu. "Terima kasih Tuhan, sudah bukakan solusi atas masalah kami." Tidak henti-hentinya Naqi mengucapkan syukur.


Bayi mungil itu pun terus menatap Naqi, seolah ia sedang mengenali siapa kira-kira yang sedang menggendongnya.


"Dok, Anda yang menyetir apa tidak masalah?" ucap Naqi sembari memberikan kunci mobilnya.


"Santai saja." Herman pun mengambil konci mobil dan mulai melajukan mobil mewah itu perlahan meninggalkan klinik di mana di dalam sana pandangan mata Sulis menatap pada bayinya yang perlahan meninggalkanya.


"Apa kamu menyesalinya?"


Suara bidan Dira berhasil mengagetkan Sulis. Wanita yang sedang berdiri di depan jendela pun membalikan badan dengan lemah. Lalu wanita itu menggelengkan kepalanya dengan yakin.


"Justru hati saya merasa lega Bu. Sangat lega." Sulis pun mengembangkan senyum terbaiknya.


"Tapi apa nanti majikan kamu tidak mencari kamu?" tanya bidan Dira, hanya memastikan, tidak mau juga kan niat dia membantu Sulis malah nanti dia dapat masalah.


"Mereka tidak akan perduli denganku." Kembali Sulis mengingat kejadian sebelum dia memohon untuk mengantarkan pada majikannya ke rumah sakit karena ia yang merasa akan segera melahirkan, tetapi bukanya dibantu malah Sulis dibiarkan begitu saja pergi seorang diri hingga kakinya terhenti di depan klinik yang saat ini menjadi tempatnya bersembunyi.


"Kamu yakin tidak ada yang tahu majikan atau teman-teman kamu kalau kamu ada di klinik saya?"


Sulis menggeleng. "Mereka tidak perduli pada saya." Jawab Jova sekali lagi dan hal itu berhasil meembuat Dira lebih lega.


"Tapi kamu tidak bisa lama-lama tinggal di klinik ini, nanti begitu kamu sudah bisa beraktifitas lagi, saya akan kirim kamu ke tempat di mana kamu bekerja, dan tentu tempatnya cukup jauh dari sini. Semua demi kebaikan aku dan juga kamu. Aku tidak mau kalau niat baikku membantu kamu jadi mala petaka untuk aku dan karyawanku yang lain."


Tentu Sulis tahu apa maksudnya dari bidan Dira. "Baik Bu, saya  akan ikuti apa keputusan Anda." Sekali lagi Sulis mengembangkan senyum terbaiknya.

__ADS_1


"Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan yah Nak."


...****************...


__ADS_2