Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
CBD #Episode 103


__ADS_3

Bruukkkk... Brukkkk... kaca mobil yang ditaiki oleh Deon di ketuk dari luar. Deon langsung membuka pintu mobilnya dan buru-buru Gatot masuk.


"Kali ini aku maafkan karena waktu yang kamu gunakan sangat pas, tidak kurang dan tidak lebih satu detik pun," ucap Deon, berhasil mengagetkan apa yang dikatakan oleh Deon.


"Gila yah, laki-laki ini perihal waktu sampe dia itung setiap detiknya, amit-amit jauh-jauh dikasih tugas kaya gini lagi," gumam Gatot dalam hatinya.


Wanita itu pun tidak memperdulikan ucapan Deon, dia lebih fokus dengan apa yang ada dihadapanya buru-buru melajukan mobilnya agar cepat sampai di kantor.


Sepanjang perjalanan yang cukup lama, di dalam mobil tidak ada suara apapun. "Tuan, apa aku boleh menyalan musik untuk mengurangi rasa dingin di dalam mobil?" tanya Gatot dengan sopan, dan itu adalah obrolan pertama yang dibuka oleh Gatot. Mungkin saja atasanya itu mau memberikan izin itu.


Deon menatap tubuh Gatot dari atas sampai bawah. "Mata loe buta atau gimana aku sedang bekerja loe bilang mau dengerin musik, udah bosan kerja yah?" tanya Deon dengan kedua mata yang melebar sempurna.


Gatot pun tidak berani lagi  mencoba meminta izin apapun itu. Pekerjaan ini lebih penting dari pada suara musik. Wanita itu pun mengamati Deon dari kaca spion tengah, di mana dia sedang duduk di bagian belakang dengan gawai di tanganya.


"Ah, mungkin memang Pak Deon sedang bekerja benaran, semoga saja, bukan sedang scroll media sosial ajah," dengus Gatot dalam batinya.


Bahkan gadis tu karena terlalu nyaman dengan nama Gatot hingga setiap berkenalan pun ia kan menyebutkan nama panggilanya dari pada nama aslinya, padahal dia memiliki nama yang bagus. Grizella Zil Helianthi, itu adalaha nama yang di berikan kedua oang tuanya, pada Gadis itu, tetapi karena ia yang memiliki tubuh berotot, sejak sekolah dasar dia di panggil Gatot (Gadis berotot) alih-alih Griz marah justru dia senang dengan pangilan itu, dia semakin giat untuk olahraga, segala ilmu bela diri ia kuasain dan bukan hanya itu dia juga banyak meraih mendali emas dari hobbynya yang berolahraga dan berlatih ilmu bela diri.


Tidak lama  mereka pun sampai di kantor dan Gatot kembali melanjutkan pekerjaanya yaitu sebagai tim marketing yang ruanganya berada di samping ruangan Jec, itu sebabnya Jec cukup akrab dengan Gatot dia juga asik orangnya, tidak pernah diskriminasi dengan karyawan lain baik kulit putih, hitam, tinggi pendek, gendut kurus, diam dan bawel, hampir semua karyawan mengenal Gatot.


"Nanti pulang loe antarkan gue lagi, tapi jangan besar kepala gue memakai jasa loe karena terpaksa, Jec yang merekomendasikan loe dan itu  tandanya loe kerjanya bagus jangan kecewakan kepercayaan gue," terang Deon, sebelum dirinya benar-benar masuk ke dalam ruanganya, dan Gatot yang ada di belakangnya pun langsung menunduk dengan hormat.

__ADS_1


"Baik Tuan," balas Gatot dengan singat dan pelan.


Sementara itu Deon yang baru masuk ke dalam ruanganya, langsung bergidik agar aura Gatot pergi. "Laki-laki itu sangat tidak menyukai gaya gadis itu yang menurutnya sama dengan laki-laki.


"Pantas saja orang-orang menganggapnya dia Gatot, tubuhnya keker gitu, dan jangan-jangan gosip di kantor ini benar adanya kalau dia adalah penyuka sesama jenis," lirih Deon masih terbayang tubuh mengerikan itu dan juga tampang yang menyerupai laki-laki.


Deon pun kembali bekerja dengan fokus, sikap yang gila bekerja sudah kembali lagi mengusainya, dan itu adalah sifat asli Deon, bukan yang sibuk mengurusi wanita dan urusan orang. Sejak kenal Qari dan misi balas dendamnya dia menjadi orang yang gampang berubah rubah kebiasaanya.


"Siang Tuan, maaf saya datangnya telat, karena ternyata gadis bodoh itu harus diopnam," lirih Jec ketika dirinya baru datang ke kantor di jam makan siang. Deon yang menganggap kalau Jec tidak masuk karena mengurus gadis menyebalkan itu pun langsung mengangkat wajahnya.


"Kamu datang juga Jec, aku pikir kamu akan seharian mengurus gadis bodoh itu, apa  dia baik-baik saja?" tanya Deon dengan pandangan mata kembali mengawasi laporan kerjanya.


"Dia baik-baik saja Tuan hanya saja tanganya cidera sehingga perlu digips, selebihnya aman," jawab Jec dengan sopan.


Lagi, Jec hanya diam tidak lagi menanggapi Deon. "Kalau begitu saya akan kembali bekerja Tuan. Pekerjaan kita sudah sangat menumpuk dan kita juga harus mulai gencar promosi setelah hampir tiga tahun gedung banyak yang kosong, karena wabah virus yang membuat perkantoran banyak berhenti. Mulai tahun ini perkantoran mulai aktif kembali, sehingga kita harus mulai gencar promosi agar gedung-gedung yang kosong bisa tersewa semua," ucap Jec yang lebih memilih fokus dengan pekerjaanya, dan laki-laki itu berdoa apabila Deon akan kembali berpikir dengan gedung-gedung yang kosong, dan mulai sibuk membangun bisnisnya yang sempat meredup, dan itu tandanya rekening mereka bisa gendut seketika apabila tim marketing mereka bisa bekerja dengan baik.


"Benar juga apa yang dikatakan Jec, aku harus mulai fokus dengan pekerjaan-pekerjaanku, kasihan Papah kalau sampai bisnis yang dia bangun harus tumbang, hanya karena wanita murahan itu," ucap Deon pada dirinya yang mulai kosentrasinya terpecah-pecah hanya karena satu wanita, dan dendam yang tidak berunjung.


********


Sesuai yang direncanakan Doni, pulang kerja laki-laki itu pun menyambangi kantor tempatnya Deon bekerja, cukup lama Doni tidak menemukan Deon, padahal seharusnya jam kerja sudah selesai dari satu jam yang lalu.

__ADS_1


"Atau jangan-jangan laki-laki itu sudah pulang kerja, mentang-mentang dia adalah pemimpin sementara dia bisa pulang seenaknya," dengus Doni, sembari beranjak dari duduknya untuk menghampiri security yang sedang berjaga.


"Pak, maaf ganggu. Apa Pak Deon sudah pulang bekerja?" tanya Doni untuk memastikan kalau kakak tirinya itu belum atau sudah pulang dari kantor mewah itu.


"Tuan Deon belum ada keluar, dan mungkin sedang meeting," ucap sang security, dan dada Doni pun kembali lega ketika dirinya masih ada kesempatan untuk bertemu dengan Deon.


Laki-laki itu kembali duduk dengan santai, menunggu Deon yang kemungkinan belum pulang. Benar saja tidak lama  Deon pun datang dengan jalan yang cukup tergesa, dan tidak lama Gatot mengekor di belakangnya, Doni pun langsung mengikutinya di belakang laki-laki itu, dan Deon yang tidak tahu kalau laki-laki yang ada di belakangnya adalah Doni orang yang pernah diajak kerja sama untuk melakukan pembunuhan berencana.


Doni menyusup masuk ke dalam mobil Deon, ketika Gatot membuka konci mobilnya.


"Selamat malam Deon," sapa Doni dengan senyum ketika Deon masuk kedalam mobil miliknya.


"Kamu siapa?" tanya Deon dengan panik, dan akan memanggil security.


"Bukanya kamu ingin tahu siapa Lysa? Lalu kalau kamu panggil security kamu tidak akan tahu siapa Lysa dan Dianna," ucap Doni dengan santai, tanganya di lipat di depan dadanya dan tubuhnya di sandarkan pada Hendrest, serta kaki yang disilangkan menambah kesan kesantaian dirinya.


Deon yang mendengar nama Lysa pun langsung meletakan kembali bokongnya, dan juga tanganya memberikan kode pada Gatot agar tidak panik.


"Santai saja Nona, saya tidak jahat, justru orang yang jahat adalah orang yang saat ini ada di sebelah saya," ucap Doni, yang melihat kalau wanita yang ada di balik kemudi beberapa kali melirik seolah mencari kelemahan Doni, dia tahu kalau wanita itu sedang mencoba mengamankan dirinya dan bosnya itu.


Glekkkk... Deon menelan salivanya dengan kasar.

__ADS_1


"Kurang ajar sekali laki-laki ini."


__ADS_2