Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam #Episode 128


__ADS_3

"Tantri apa tadi ada yang iseng atau tanya-tanya sesuatu kekamu?" tanya Qaqi, ketika mereka menikmati makan malam bersama. Tantri menghentikan kunyahanya, dan mencoba berpikir. Sedetik kemudian Tantri menggeleng dengan kuat dan yakin.


"Enggak, seperti biasa Tantri diterima dengan baik di sekolah baru Tantri." Memang setelah mereka pindah rumah, Tantri juga pindah sekolah. Selain cari yang lebih dekat, alasan keamanan tentu menjadi keputusan Alzam dan Qari memindahkan Tantri ke sekolah yang baru.


"Syukurlah, dan biarkan kalau ada yang ngomong apapun mereka diamkan saja yah, jangan tanggapin," pesan Qari, ia masih terus terfikirkan ucapan Deon, meskipun Alzam sudah beberapa kali mengatakan pada Qari kalau Deon itu hanya sedang mencari perhatian. Alzam sangat yakin kalau Deon tidak akan mau menyakiti Qari. Deon hanya mencari perhatian Qari. Apabila Qari menanggapi berati Deon berhasil.


Tantri pun menatap Qari dan bergantian dengan Alzam. "Kakak dan Abang kenapa sih kenapa seperti orang aneh?" tanya Tantri dengan kembali memperhatikan Qari dan Alzam.


"Tidak ada apa-apa hanya Kakak Qari sudah mau lahiran dan itu membuat dia cemas, dia cemas memikirkan ini dan itu, kamu maklumin saja, nanti juga biasa lagi," lirih Alzam, dan Qari pun hanya ikut mengangguk membenarkan apa yang Alzam maksud. Ia bahkan lupa kalau Tantri itu anak yang terlalu pandai dan bisa menebak apa yang orang lain rasakan.


Mereka kembali fokus dengan makananya dan Qari sendiri sudah dari siang tidak selera makan, itu karena wanita dengan perut buncit itu terus-terusan berpikir kalau Deon akan menghancurkan rumah tangganya.


Rencana Deon memang bisa dikatakan berhasil, ia saat ini sudah bisa bernafas lega, karena rencananya kini Qari benar-benar terfikirkan lagi ucapan Deon yang ingin memberi tahu fakta tentang anak yang ia kandung kalau itu bukan anak Alzam.


"Tantri kalau sudah selesai makan masuk ke kamar yah! Abang ada yang mau dibahas dengan Kakak Qari," lirih Alzam.


Sementara Tantri saat ini tidak pernah cemburu lagi sama Qari, selain Qari yang semakin care dengan dirinya. Alzam juga meskipun sudah memiliki istri dan calon anak, tetapi laki-laki itu masih menunjukan rasa perdulinya dengan dirinya.


Bahkan sekarang Alzam sering menyempatkan waktunya untuk ngobrol soal pelajaran dan lain sebagainya, sehingga Tantri merasa kalau Alzam lebih peduli dengan dirinya juga, sehingga ia tidak ada alasan untuk cemburu.


"Baik Bang, lagian Tantri juga banyak kerjaan," balas Tantri, dia yang sudah diajarkan untuk bisa menghormati perasaan orang lain, tidak ada keinginan bertanya kenapa dan ada apa? Karena gadis kecil itu tahu urusan orang dewasa itu sangat banyak. Tugasnya hanya belajar dan belajar.

__ADS_1


"Apa makananya tidak enak?" tanya Alzam yang melihat Qari hanya mengaduk-aduk makakananya, dan pas ngunyah pun terlihat sangat tidak menikmati.


Qari menatap Alzam, tetapi sedetik kemudian menggeleng dengan kuat. "Bukan makanannya yang tidak enak, tetapi memang pikiranya yang sedang kurang tenang," balas Qari, dia dari dulu selalu jujur soal apapun, bahkan soal penusukan yang ia lakukan pun ia mencoba jujur dengan Alzam, tanpa ingin menutupi apapun dari suaminya termasuk urusan Deon, Qari sangat terbuka dengan Alzam.


"Kamu harus percaya sama aku, Deon itu tidak mungkin dia menyakiti kamu, karena di dalam tubuh kamu ada anak dia. Laki-laki itu tidak akan berbuat gila, dia tidak mungkin menyakiti kamu, karena kalau dia menyakiti kamu, itu tandanya anaknya juga tersakiti. Masa iya dia mau menyakiti anaknya," lirih Alzam sembari mengambil alih  menyuapi istrinya kalau tidak seperti itu ia tidak akan mau makan  selalu saja alasan tidak enak dan segala macam. Tetapi kalau Alzam yang ambil alih mau tidak mau Qari makan apalagi sembari ngobrol tidak akan berasa satu piring sudah berpindah ke perutnya.


"Semoga saja yang kamu katakan itu benar adanya Sayang, tapi kalau dilihat dari sifatnya aku kembali ragu. Dia itu cara berpikirnya tidak seperti kita yang akan berpikir untuk ke dua kali untuk memilih yang kita lakukan benar atau tidak, kalau Deon itu agak aneh. Dia tidak akan memikirkan tidak tega, selagi itu demi obsesinya dia akan melakukanya. Aku takutnya dia justru menggunakan anak ini untuk menekan aku," lirih Qari, tanganya meraih air minum yang Alzam sodorkan.


Yah, saking ia terlalu fokus mengobrol hingga tanpa ia sadari makanan dipirinya sudah habis itu karena Alzam yang pandai untuk mengalihkan fokus Qari sehingga tanpa ia sadari sudah kenyang. Kalau tidak seperti itu pasti wanita itu akan mengatakan tidak lapar dan lain sebagainya.


"Yah, aku juga takutnya dia nekad juga, tapi jangan terlalu diambil pusing yah, biarkan dia berpikir kalau kita takut, tetapi kita tetap waspada. Ingat Dokter berkata kalau kamu itu satu bulan lagi akan melahirkan. Kamu tidak boleh setres, makan dan istrirahat kamu harus tetap terjaga dengan baik, jangan pikirkan Deon. Biar Deon jadi urusan aku. Kamu istri aku sudah seharusnya aku juga ikut campur, karena yang dia ganggu itu anak dan istri aku," ucap Alzam dengan mengusap punggung Qari, memberikan ketenangan.


Qari mengangguk dan memberikan senyuman terbaiknya. "Aku biasanya tidak pernah mau ambil pusing dengan urusn Deon, dia mau ancam aku seperti apa aku tidak pernah ambil pusing. Justru biasanya hatiku malah senang untuk mermpermainkan dia, tetapi entah kenapa aku melihat sekarang ini aku benar-benar ketakutan yang luar biasa. Aku sudah berusaha acuh tidak perduli apa yang laki-laki itu katakan, tetapi aku juga tidak mendapatkan ketenangan. Aku masih takut kalau dia akan nekad."


Marah? Yah, Alzam sangat ingin marah pada Deon, kenapa dia sebagai laki-laki, justru menambahkan beban pada wanita yang sedang hamil anaknya. Seharusnya dia berpikir kalau Qari setres dan juga sakit, anaknya juga yang akan merasakan sakit. Tidak habis pikir memang Deon itu laki-laki atau bukan, itu yang ada dalam pikiran Alzam.


Qari langsung menatap Alzam dengan tatapan yang tajam. "Kamu sakit?" tanya Qari, dengan wajah yang cemas. Bagi  Qari dan Tantri yang paling menakutkan dari hidupnya adalah mengetahui kalau Alzam sakit.


"Tidak, hanya kecapean seperti biasa kamu harus tahu kalau aku itu sudah tua, jadi asal kecapean sedikit tubuh ini rasanya sangat lemas sekali," kelakar Alzam, dan Qari pun menyunggingkan senyumnya meskipun dalam hatinya masih ada yang mengganjal.


"Kamu tidak tua Sayang. Kalau kamu tua, aku juga tua dong," dengus Qari. Sembari beranjak dari duduknya untuk mengikuti Alzam.

__ADS_1


"Iya kita tua, tapi dua puluh tahu yang mendatang. Kamu tahu kan kalau akhir-akhir ini kita kerjaan terus datang silih berganti, rasanya pengin istirahat yang cukup, biar besok kalau bangun sudah fresh lagi," lirih Alzam, tanganya menggenggam tangan Qari dengan kuat.


"Ok, aku percaya, tetapi kalau kamu sakit, kamu juga harus bilang yah, Jangan sampai kayak dulu kamu diam-diam saja dan tahu-tahu aku datang kamu udah ada di dalam ruang operasi. Pokoknya aku akan marah berat sama kamu kalau kamu itu sampai bikin kejutan kaya gitu untuk kami," ancam Qari.


"Siap Sayang kamu jangan kawatir, yang akan marah kalau aku tidak jujur dengan sakit ini bukan hanya kamu tetapi Tantri juga sama," balas Alzam, mencoba tetap santai.


Sebelum tidur Alzam lebih dulu mengirim pesan pada dokter Doni.


[Dok, bukanya Anda dan Deon ternyata adalah sodara apa aku boleh tahu alamat rumah ataupun alamat kantornya?] Itu adalah  pesan yang dikirimkan oleh Alzam pada Doni.


Alzam akan coba berbicara dari hati ke hati, ia  yakin Deon masih bisa diajak berkomunikasi dengan baik, Kalau dia benci Qari setidaknya dia memikir nasib anaknya, jangan egois, kalau terjadi apa-apa dengan Qari maupun anaknya, menyesal pun tidak akan ada gunanya.


"Sayang katanya mau tidur malah main HP," protes Qari.


Alzam pun buru-buru meletakan ponselnya dari pada Qari curiga. "Biasa Kakak ipar, baru juga nggak ketemu beberapa jam, udah kangen ajah," balas Alzam, Qari paling tahu kalau Alzam sibuk dengan ponselnya itu tandanya Alzam  sedang diganggu oleh abangnya, Naqi.


"Biar kalau dia ganggu kamu terus, besok aku pecat dia."


...****************...


Teman-teman sembari nunggu kisah Qari mampir yuk ke novel bestie othor. Di jamin bikin baper, kuyy ramaikan....

__ADS_1



__ADS_2