
"Tuan... hentikan! Jangan gila Anda!!" Jec yang melihat kalau ruangan bosnya udah kaya kapal pecah pun langsung menahan tubuh Deon yang akan kembali melayangkan pukulan pada Alzam. Deon menyeka darahnya yang mengalir dari pelipisnya, sementara Alzam menyeka darah dari sudut bibirnya.
"Kalian kenapa sih, udah gede masih saja berantem, apa tidak malu sama umur," bentak Jec yang saat ini ada di tengah-tengah mereka dengan kemarahan yang sudah di ujung kepalanya. Terlebih melihat ruangan Deon yang acak-acakan, alhasil dia yang lagi harus menyusun kerjaan dari ulang.
"Singkirkan laki-laki gila ini dari kantorku. Sebelum aku mencincangnya," bentak Deon menunjuk Alzam yang masih mencoba mengatur emosinya.
"Kenapa Anda jadi sewot Tuan, bahkan saya berbicara dengan nada yang sopan tanpa merendahkan Anda. Saya berbicara sesuai fakta, kenapa Anda marah? Apa ada kalimat sayang yang menyinggung Anda? Saya datang ke sini hanya ingin memberitahu Anda agar jangan mengganggu Qari, demi kesehatan dia dan anakku, tapi kenapa Anda keras kepala," ulang Alzam dan dia hanya ingin memastikan, kalau Deon tidak akan melakukan kegilaan yang lain dengan ide-idenya yang konyol.
Jec mentap Deon dengan tatapan yang sengit. Dia sebenarnya sudah tidak aneh ketika Alzam mengatakan itu, karena asistenya sudah memberi tahukan apa yang Deon lakukan, tetapi cukup kecewa kenapa Deon marah sedang yang di katakan oleh Alzam ada benarnya.
"Kenapa jadi kamu yang menatap seperti itu pada ku Jec," dengus Deon, ia bahkan sudah membayangkan kalau Jec akan marah karena ia yang usil dengan Qari.
"Anda pulanglah Tuan, biarkan urusan Tuan Deon saya yang akan nasihati," lirih Jec mengalihkan pandangan matanya pada Alzam.
"Baik, saya mohon bantuanya Tuan, karena saya melakukan ini semuanya demi kebaikan Qari dan anaknya. Saya tidak akan datang ke sini apalagi niatnya hanya untuk membuat keributan seperti ini. Qari saat ini sedang fokus dengan persalinanya jangan dibikin stres dengan ancaman-ancaman dari Tuan Deon. Jangan sampai ada penyesalan apabila semuanya terjadi apa-apa dengan Qari dan anaknya."Alzam yang melihaat kalau Jec lebih bisa diajak berbicara dengan baik, ia pun kembali menyampaikan niatanya datang dan tentunya ada harapan kalau Deon akan nurut dengan Jec.
Jec menghirup nafas dalam, dan sesak mendengarnya, meskipun seharusnya ia tidak kaget lagi, mengingatJec sudah tahu rencana Deon. Namun yang membuat Jec sesak adalah, ketika Alzam yang bukan ayah dari bayi yang Qari kandung saja bisa seperduli ini, tetapi kenapa Alzam justru seolah bodo amat dan tidak mau perduali dengan keadaan Qari dan bayinya.
__ADS_1
"Baiklah, saya meminta maaf atas nama atasan saya Tuan, silahkan Anda pulang, dan saya akan mencoba menasihati tuan Deon," lirih Jec, sembari mengantarkan Alzam hingga pintu ruangan Deon perasaan bersalah dan wajah yang menyesali perbuatan atas kesalahn bosnya.
Alzam pun sedikitnya bisa lega dengan adanya Jec yang mau menasihati Deon, agar laki-laki itu tidak mengganggu Qari terus. Meskipun hasilnya mungkin tidak akan terlalu memuaskan.
Auh... Alzam mengaduh ketika bibirny ia gunakan tersenyum. "Gila memang Deon itu, baru dipancing dikit dia sudah kepanasan gimana kalau Qari berjodoh dengan dia, dan anak itu jatuh hak asuhnya dengan laki-laki gila itu, apa nanti dia kan melakukan KDRT juga. Kasihan mereka kalau sampai Deon melakukan kekerasan dalam rumah tangga," gumam Alzam, kakinya melangkah ke dalam toilet. Ia ingin melihat luka yang di sebabkan oleh Deon.
Cermin adalah tujuan utama Alzam masuk ke dalam kamar mandi. "Gila tinjuanya, gimana aku bilang dan alasan apa agar Qari tidak menanyakan luka lebam ini," lirih Alzam sembari mengusap darah yang sudah setengah mengering di sudut bibirnya.
Jec begitu Alzam meninggalkan ruangan Deon lngsung membalikan badan dan menatap pada Deon yang sedang duduk santai dengan darah yang sudah setengah mengering di wajah dan punggung tanganya. Sepertinya pukulan Alzam juga tak kalah kencang sehingga luka yang ditinggalkan cukup dalam, dan mengakibatkan darah keluar cukup banyak.
"Apa yang sebenarnya Anda mau dari kejadian ini semua Tuan? Saya kadang tidak bisa menebak jalan pikiran Anda," lirih Jec bahkan suaranya sangat lirih, bukan karena ia sabar tetapi karena ia menahan rasa kesalnya.
"Pantaslah laki-laki itu marah, itu semua karena Anda yang selalu mencari gara-gara. Saya setuju dengan ucapanya. Hentikan cara gila ini sebelum Anda menyesali semuanya," balas Jec, bahkan untuk membantu mengobati luka Deon rasanya hati Jec sangat berat.
'Itulah akibatnya menganggap orang lain yang selalu terlihat rendah dan dianggap posisinya dibawah, padahal ketika dia marah binatang buas sekali pun akan kalah,' batin Jec menatap luka Deon. Kasihan sih, tapi kalau ingat perbuatanya kesal juga.
"Dasar laki-laki itu saja yang baperan, aku tidak mengganggu Qari dan anakku, tapi dia saja cari gara-gara, dia cari perhatian agar di perhatikan oleh Qari dan aku," sungut Deon.
__ADS_1
Jec hanya diam dan menekan ponselnya menghubungi nomor cleaning service, [Kirimkan satu orang ke ruangan Tuan Deon dan bawakan P3K!!] ucap Jec pada seseorang yang ada di sebrang sambungan teleponya.
"Sekarang Anda sudah tahu gimana watak Alzam sesungguhnya, dia kurang lebih sifatnya sama seperti Qari akan melawan kalau sudah dipermainkan, sehingga berhati-hatilah jangan sampai apa yang Anda lakukan justru berbalik pada Anda Tuan, penyesalan itu datangnya belakangan." Jec sebenarnya kalau bukan karena tanggung jawabnya pada Irwan, sangat lelah menasihati Deon yang super sulit dan keras kepala.
Deon sendiri hanya diam dan memalingkan pandanganya, sama seperti Jec, Deon sendiri juga lelah dan bosan dengan apa yang Jec katakan, dia selalu lebih tahu dengan apa yang terjadi dengan Deon, padahal pada kenyataanya apa yang Jec tahu bukan karena benar-benar tahu, tetapi karen laki-laki itu yang selalu sok tahu dan sok ikut campur.
Tokkk... Tokkkk... Satu wanita berparas cukup manis masuk dengan membawa alat-alat P3K sesuai dengan apa yang Jec katakan.
"Maaf Tuan, saya di minta kepala bagian untuk ke ruangan ini apa ada yang bisa saya bantu," lirih wanita itu dengan suara pelan dan santun.
"Heh, kamu buta yah, kamu bisa liatkan kalau aku luka seperti ini, masih bertanya perlu di bantu?" Suara Deon langsung menggelegar, hingga wanita itu tubuhnya langsung bergetar.
Ini adalah hari pertama wanita itu bekerja di kantor megah ini, tetapi nasibnya sudah mengerikan. Dengan sisa tubuh yang bergetar wanita itu perlahan mendekati Deon, dan segera mengobatinya, tetntu setelah Jec meminta secara baik-baik agar ia mengobati Deon.
"Nama kamu siapa Mba, Kayaknya aku baru lihat?" tanya Jec dengan nada yang ramah, berbeda dengan Deon dari tatapanya saja mengandung kebencian.
"Nama saya Cucu, Tuan," jawab gadis itu dengan menunduk santun.
__ADS_1
"Hah... namanya Cucu, apa nanti akan ada nama anak, adik, kaka, bapak, dan mamah?" gumam Jec tentu masih bisa di dengar oleh yang lain.
Cucu sendiri hanya bisa diam dan menunduk sudah biasa namanya jadi bahan olok-olok.